
Pov Ari
Malam ini, aku coba memberanikan diri untuk main ke rumah mbak Titi.
Aku ingin bertemu dan ngobrol dengan mbak Titi.
Aku merasa ga enak saat melihatnya di pesta dan aku tidak menghampiri nya, bukan tak mau..tapi aku merasa malu untuk datang menghampirinya.
Mbak Titi juga hanya memperhatikan, tidak mendekati aku.
Mungkin, ia juga sama seperti aku, merasa malu untuk menghampiri.
Saat aku datang, ibu nya yang membukakan pintu, lalu memanggil mbak Titi di kamarnya.
Awalnya, ia terkejut saat melihat aku, mungkin tak menyangka bila aku akan datang ke rumahnya.
Ia juga terlihat sedikit malu, mungkin ingat dengan kejadian di pesta itu.
Tapi mbak Titi bisa menguasai keadaan, dan akhirnya kami bisa ngobrol santai.
" Kalau hari libur, apa kegiatan mbak Titi?" Aku mencoba bertanya.
" Cuma istirahat aja, paling beberes rumah.
Kalau lagi santai, dengerin musik atau baca novel!" jawab nya.
" Mbak suka dengar musik dan baca novel?" tanya ku lagi
" Iya, sekedar untuk hiburan dan mengisi waktu luang disaat libur atau saat ga ada kegiatan dirumah.!" jawabnya lagi.
Aku berfikir, sepertinya mbak Titi anak rumahan, ga suka keluyuran.
Mengisi waktu libur dengan mencari hiburan diluar rumah.
Aku senang bisa mengobrol dengannya, dari obrolan kami, aku jadi tahu kalau mbak Titi suka mendengar musik dan membaca novel.
Dari hoby nya mendengar musik, ada salah satu lagu yang menjadi inspirasi nya untuk menjadi istri yang shalehah.
Aku hanya tersenyum saat mbak Titi menyanyikan bait lagu itu dan mengaminkan apa yang menjadi keinginan mbak Titi nantinya.
Semoga mbak Titi benar-benar menjadi seorang istri yang shalehah.
Puas ngobrol dengan mbak Titi, membahas mengenai hoby nya, hingga tak terasa hari telah larut malam.
Pukul sembilan tiga puluh, aku pamit pulang.
Tak lupa, aku meminjam beberapa novel mbak Titi untuk aku bawa pulang dan dibaca dirumah.
Setelah berpamitan dan mengucapkan salam, aku pun kembali kerumah.
Sungguh, malam ini aku sangat bahagia bisa berkunjung ke rumah mbak Titi dan mengobrol dengannya.
Dengan meminjam novel ini, akan ada alasan bagiku untuk datang lagi kerumah mbak Titi. ☺
*****
Setelah Ari pamit pulang, Titi menyimpan gelas dan toples kripik ke dapur, lalu ia kembali ke kamarnya.
Ia merebahkan tubuhnya dikasur, lalu memeluk guling.
Titi belum bisa tidur walaupun ia sudah merasa mengantuk.
Ia teringat dengan semua kejadian hari ini.
Tadi sore, Huda yang datang bertamu ke rumahnya dan mengajak nya untuk jalan-jalan sore.
Lalu malam ini, Ari yang datang dan mengobrol bersama membahas apa yang disukai Titi.
__ADS_1
"Ah.. hari ini, sepertinya hari keberuntungan bagi ku, entah kenapa dua cowok yang rasanya sedikit memiliki tempat khusus dihati ku bisa datang pada hari ini.
Untung mereka tidak datang bersamaan, jadi aku bisa menikmati momen kebersamaan dengan mereka di waktu yang berbeda. "
Titi bermonolog dalam hatinya, tak sengaja bibir nya pun menyunggingkan sebuah senyuman. 🙂
Bahagia, itu yang Titi rasakan saat ini.
Karena tak bisa tidur, Titi bangun dari rebahan, lalu membuka bufet nya dan ia mengambil buku diary nya.
Titi membuka lembar terakhir diary yang tadi dia tulis.
Lalu, ia telungkup diatas kasur, berfikir apa yang akan dia tulis kali ini.
Saat sesuatu terlintas dihati dan fikiran nya, Titi mulai menggerakkan penanya, mengisi lembar diary berikutnya.
Dear diary,...
Dy...
Tadi, aku sudah bercerita padamu tentang kebersamaan ku sore tadi dengan mas Huda.
Tapi, di lembar mu yang ini, aku ingin menuliskan tentang kebersamaan ku dengan Ari.
Dy,..
Aku tak menyangka bila seseorang yang mengetuk pintu rumah ku tadi adalah Ari.
Karena kami tak ada janji untuk bertemu atau Ari yang mengatakan akan datang ke rumah.
Saat kami bertemu di pesta itu, kami. bahkan tidak saling menyapa.
Ia bersama teman-temannya dan aku bersama Feni.
Tapi malam ini, ia datang dan kami mengobrol lumayan lama.
Dy...
Dari cara Ari menatap ku, cara ia tersenyum, hati ku mengatakan bahwa ia menyukai ku.
Ia memiliki rasa tertarik pada ku.
Tapi entahlah, mungkin ini hanya perasaan ku saja.
Dy..
Bagaimana jika Ari benar-benar menyukai ku?
Aku merasa tak pantas untuk dia, dy..
Usia kami terpaut tiga tahun, lebih tua aku.
Ia masih sangat muda, dan tentunya banyak gadis yang suka pada nya.
Aku pun sadar diri, tak mungkin mendekatinya.
Mungkin, aku hanya GR ya, dy?? 🤭
Belum tentu apa yang aku fikirkan dan aku rasakan seperti apa yang Ari rasakan.
Dy...
Aku merasa tak pantas untuk bersamanya.
Walau kata Feni beda usia tak masalah, yang penting sama-sama merasa nyaman.
Dy...
__ADS_1
Aku hanya berdoa, semoga Ari bisa menemukan gadis yang lebih baik dari ku.
Yang bisa menerima nya dan sepadan dengan nya.
Aku akan selalu berdoa untuk kebaikan nya.
Ah... aku aneh ya, dy..?? mengapa aku harus berfikir sejauh ini?
Ari saja tak mengatakan apapun pada ku, aku hanya mengira-ngira perasaan ku saja.
Tapi dy.. biasanya perasaan ku tak pernah meleset, apa yang aku rasakan itu lah sebenarnya yang terjadi.
Kau tahu kan dy?? aku tidak mudah untuk merasa nyaman dengan seseorang.
Jika hati ku mengatakan tak nyaman, maka aku akan menjauh, tapi jika aku merasa nyaman, maka orang yang akan mendekati ku.
Dy...
Aku hanya ingin yang terbaik buat Ari.
Semoga ia bertemu dengan gadis yang baik dan cantik yang bisa membuat nya bahagia.
*****
Titi mengakhiri menulis diary nya.
Ia membaca ulang apa yang ia tulis, lalu menutup buku diary nya.
Setelah membaca apa yang ia tulis, Titi duduk diatas kasur sambil memegang diary nya.
Lalu Titi bermonolog dalam hati nya.
" Aku ingin yang terbaik buat teman-teman ku.
Buat mas Huda, semoga mas Huda langgeng dengan tunangan nya hingga mereka bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan dan membina keluarga yang samawa."
" Buat Ari, aku berdoa yang terbaik aja.
Bisa mendapatkan pasangan yang sesuai harapan nya, bisa mendapatkan gadis yang cantik, baik dan sepadan dengan Ari. "
*****
Lama Titi duduk diatas kasur hingga jam sudah menunjukkan jam sebelas lewat.
Entah apa yang membuatnya menjadi susah tidur.
Titi hanya membolak balik diary nya, membaca sepintas apa yang pernah ia tulis.
Kenangan yang pernah ia lewati dan tercatat dalam buku diary nya.
Disana juga masih ada tulisan Toni yang mengisi bio data nya, dan masih ada foto setengah badan yang diambil dari sebelah kanan.
Titi hanya tersenyum saat ingat kenangan nya bersama Toni.
Ingat saat Toni menantinya pulang sekolah dibawah pohon cemara.
Lama membolak balik diary, akhirnya Titi mulai merasa ngantuk.
Ia menutup diary nya dan menyimpan kembali ke dalam bufet.
Setelah berulang kali menguap, Titi pun merebahkan badannya dan mulai menjemput mimpi. 😴😴
****❤****
Note : Buat pembaca setia Nastiti, maaf ya bila othor terlambat update karena ada kesibukan merayakan17 an.
Othor usahakan untuk bisa update setiap hari.🙏🙏
__ADS_1