Nastiti

Nastiti
Bab 111. Sebuah Mitos Atau Fakta


__ADS_3

Titi dan ibunya mengantar para ibu-ibu yang melihat Tuti sampai ke depan rumah Tuti.


Mereka berpamitan setelah puas mengobrol bersama Titi dan ibunya.


" Anak-anak mana bu, kok tidak. kelihatan? " tanya Titi pada ibu sambil mereka berjalan kedalam rumah Tuti.


" Tadi habis mandi anak-anak pada diam dikamar Tuti, mereka senang melihat bayi Tuti, lucu katanya. "


Ibu mengatakan jika anak-anak sedang berada dikamar Tuti karena mereka senang melihat bayi Tuti yang baru lahir.


" Masuklah, Ti, anak-anak ada dikamar Tuti. " kata ibu pada Titi.


Ibu langsung menuju kearah dapur sambil membawa piring bekas tempat wajit yang ibu suguhkan buat ibu-ibu yang datang tadi.


Titi masuk ke kamar Tuti dan melihat ketiga anak-anak itu tengah memperhatikan bayi Tuti yang sedang tertidur pulas.


Mereka duduk dengan tenang sambil sesekali menoel pipi bayi itu.


Kedua anak Titi tidak melihat kedatangan Titi karena mereka membelakangi pintu kamar dan Titi masih berdiri di sana.


Saat Tuti melihat Titi, Titi menaruh jari telunjuknya di atas bibir, meminta Tuti untuk tidak bersuara.


Saat Titi ada dibelakang kedua anaknya, Titi menepuk bahu mereka pelan sehingga Nanda dan Andi menoleh kebelakang, melihat siapa yang sudah menepuk bahu mereka.


" Mama, bibi Ntik ada adek. " kata Andi pada mamanya sambil menunjuk anak Tuti.


" Iya ma, adek bayinya lucu, masih kecil.


Lihat ma, tangan sama kaki adek bayinya kecil. " kata Nanda dengan senang, lalu menekan tangan dan kaki bayi yang sedang di bedong.


" Eh, jangan kuat-kuat nekan adek bayinya, nanti nangis. " kata Titi pada Nanda.


" Bang Nanda sama bang Dik-dik, mau adek bayi nggak? " tanya Tuti pada kedua anak Titi.


" Nggak lah, abang sudah punya adek Dik-dik, adek bayinya berdua aja sama dek Iman. " jawab Nanda.


" Adek mau, adek bayi. " jawab Andi pada bibinya.


" Adek bayinya mau dibawa pulang ga, bang? " tanya Tuti lagi pada Nanda dan Andi.


" Mau bi, nanti boleh abang bawa pulang? " tanya Nanda.


" Jangan! adek bayi tidak boleh dibawa pulang sama bang Nanda, ini adek bayi punya Iman! " kata Iman marah.

__ADS_1


Iman tidak mengizinkan jika adiknya dibawa pulang oleh Nanda.


" Bibi, adek nya ga boleh dibawa sama dek Iman. " kata Nanda mengadu pada bibinya.


Tuti hanya tertawa melihat Nanda mengadu padanya.


" Pokoknya adek tidak boleh dibawa pulang sama bang Nanda, kalau bang Nanda mau adik bayi minta aja sama uwak.! " kata Iman yang menyuruh Nanda meminta adik bayi pada mamanya.


Iman memang memanggil Titi uwak, karena Titi kakak dari Tuti, ibunya Iman.


Akhirnya Iman dan Nanda bertengkar karena masalah adik bayi, sehingga bayi itu menangis karena mendengar suara ribut-ribut dari Iman dan Nanda


" Sudah, kalian main dulu diluar, karena kalian bertengkar adik bayinya jadi menangis. Kalian jangan ribut lagi ya? Kasihan kan kalau adiknya menangis? "


Kata Titi pada Iman dan Nanda


Titi membawa ketiga anak kecil itu keluar agar tidak mengganggu bayi kecil yang sedang menangis dan akan disusui oleh Tuti.


Setelah ketiga anak itu bermain diruang tamu, Titi kembali ke kamar Tuti.


" Selamat ya bibi Ntik, akhirnya sudah punya anak sepasang, siapa namanya? sudah ada namanya belum? " tanya Titi beruntun pada Tuti.


" Terima kasih ya, mbak, Alhamdulillah Tuti sudah punya anak sepasang sekarang, nama adik bayinya NUR AISYAH, dan dipanggilnya AIS. " jawab Tuti pada kakaknya.


" Sini bi, biar mbak gendong sebentar adek Ais nya. " kata Titi pada Tuti saat Tuti selesai memberikan asi pada bayinya.


Tuti menyerahkan Ais pada Titi untuk digendong.


Di timang nya bayi mungil yang sedang tertidur setelah menyusu pada ibunya.


" Tuti, ini ada cemilan manis, dimakan ya biar asinya banyak. " kata ibu pada Tuti.


" Iya. bu, terima kasih. " seloroh Tuti pada ibunya.


" Ti, kalau bayinya tidur jangan digendong, letakkan saja ditempat tidur biar ga bau tangan, kalau sudah bau tangan nanti repot, ga mau diletakkan, maunya digendong terus. "


Kata ibu yang meminta agar Titi menidurkan Ais di tempat tidurnya.


Ibu memang masih terbilang kolot dan masih mempercayai mitos.


Masih banyak pantangan yang ibu berikan pada anak-anak perempuannya saat mereka hamil dan melahirkan.


Setiap hari saat Titi dan Tuti hamil, mereka membawa bangle dan bawang putih yang ditusukkan pada peniti, lalu peniti itu dipakai setiap hari oleh mereka.

__ADS_1


Saat Titi bertanya untuk apa benda itu, ibu hanya bilang jika perempuan hamil itu wangi dan sering didekati oleh makhluk lain, jadi selain harus selalu membaca doa setiap akan keluar rumah, mereka diminta untuk membawa potongan bangle dan bawang putih sebagai penangkal agar tidak didekati oleh makhluk halus.


Selain itu ada juga yang lain yang bisa dibawa, seperti sisir, gunting kecil atau paku yang diselipkan di rambut.


Titi dan Tuti lebih nyaman membawa irisan bangle dan bawang putih yang ditusuk dengan peniti karena lebih simpel dan bisa dijepit kan di bagian dalam pakaian agar tidak terlihat.


Semua yang dilakukan oleh ibu entah itu sekedar mitos ataupun benar adanya, Titi dan Tuti tetap mengikuti apa yang dikatakan oleh ibu selama itu baik dan tidak bertentangan dengan ajaran agama.


Karena semua itu untuk menjaga keselamatan, toh ibu juga selalu mengingatkan untuk berdoa saat akan berpergian, juga saat dalam perjalanan.


Mungkin di jaman ibu dulu, jaman belum modern sehingga hal-hal berbau mitos masih sangat dipercaya, berbeda dengan jaman sekarang yang hal-hal yang unik hanya dianggap sebagai mitos.


" Jam berapa tadi lahiran? kok cepat ya? perasaan tadi pagi waktu ngantar anak-anak masih belum terlihat tanda-tanda mau lahiran? " tanya Titi karena tadi pagi ia melihat Tuti masih memandikan Iman dan masih bebersih rumah.


" Sebenarnya tadi pagi sudah terasa ada kontraksi, bahkan dari sebelum subuh.


Tapi karena belum terlalu sakit dan masih bisa dibawa kerja beresin rumah ya bebersih dulu. Tuti sangka mau lahiran sore, eh Alhamdulillah jam sebelas siang malah sudah lahiran."


Kata Tuti menjelaskan kondisinya sebelum melahirkan.


" Alhamdulillah mudah ya lahirannya. Siapa yang jemput bu bidan? " kata dan tanya Titi yang bersyukur atas kelancaran lahiran Tuti.


" Jam sembilan saat sudah mulai terasa sakit, ayah Iman langsung jemput bu bidan. " jawab Tuti pada Titi.


Setelah puas mengobrol dengan Tuti, Titi berpamitan untuk pulang karena hari sudah menjelang magrib.


" Bu, bi Ntik, Titi pulang dulu ya, sudah mau maghrib, kasihan ayah juga sendirian di rumah. " kata Titi berpamitan pada ibu dan Tuti.


" Iya kalau mau pulang sekarang buruan sebelum maghrib, atau nanti sekalian sehabis maghrib. " kata ibu pada Titi.


" Pulang sekarang aja bu, nanti maghrib sudah sampai rumah. " kata Titi lagi.


" Ya sudah kalau begitu, ini bawa lauk untuk makan malam di rumah. " kata ibu sambil menyerahkan rantang berisi lauk pada Titi.


" Kasih tahu sama ayah kalau Tuti sudah melahirkan. " pinta ibu pada Titi.


" Iya bu, nanti pasti Titi kasih tahu ayah kalau Tuti sudah melahirkan. " kata Titi pada ibu.


Titi membawa tas berisi pakaian kotor anak-anaknya dan rantang makanan pemberian ibunya.


Setelah berpamitan pada ibu dan Tuti serta suami Tuti, akhirnya Ari dan Titi pulang ke rumah karena mereka tidak ingin kemalaman dijalan.


🦂🦂🦂

__ADS_1


🦂🦂 Berjalanlah di atas kebenaran dan kebaikan agar hidupmu selalu berkah dan bisa menjunjung tinggi kejujuran. 🦂🦂


__ADS_2