
Titi bangkit dari tidurnya, bermaksud akan membuka pintu dan melihat siapa yang datang dan mengetuk pintu.
Belum sempat Titi menginjakkan kaki dilantai kamar, ia mendengar ada yang membuka kunci pintu dan menjawab salam yang diucapkan seseorang.
Setelah mendengar ada yang membuka pintu, Titi tidak jadi turun dari tempat tidur dan melanjutkan rebahannya.
***
" Assalamualaikum.." ucap salam seseorang.
" Waalaikumsalam warahmatullah..
Siapa ya? mau cari siapa?"
tanya ibu, ternyata ibu yang membuka pintu depan.
Saat ibu keluar dari kamar dan hendak.ke dapur, ada yang mengetuk pintu depan, dan ibu membukanya.
" Saya Ari, bu, temannya Titi.
Titi nya ada, bu?" Ari memperkenalkan diri pada ibu, dan bertanya tentang Titi.
" Oh..temannya Titi.
Titi ada, silahkan masuk. Tunggu sebentar, ibu panggilkan Titi dulu!" jawab ibu, dan meminta Ari untuk masuk ke rumahnya.
Setelah Ari masuk dan dipersilahkan duduk, ibu mengetuk kamar Titi lalu membuka pintu kamar yang tidak terkinci.
Krreekk...
Ibu masuk ke kamar Titi dan melihat Titi yang sedang rebahan.
Melihat ibu membuka pintu kamar, Titi bangun dari rebahannya dan bertanya pada ibu.
" Ada apa, bu?" tanya Titi
" Ada Ari didepan, dia mencari mu!" jawab ibu.
" Ari??" tanya Titi heran, ia merasa tidak punya janji dengan Ari, dan tak menyangka Ari akan datang ke rumahnya.
" Iya, sana temui dulu, kasihan kalau nunggu lama!" kata ibu pula.
Setelah ibu keluar dari kamar, Titi merapikan bajunya yang sedikit kusut karena rebahan, ia juga menyisir rambutnya.
Setelah merasa rapi, Titi keluar dari kamar.
Ia menghampiri Ari dan duduk di kursi tak jauh dari Ari.
" Hai...apa kabar? tumben main kesini?" tanya Titi pada Ari.
" Alhamdulillah kabar baik.
Iya mbak, sengaja pengen main kesini!" jawab Ari.
" Mau minum apa? sebentar, saya kedapur dulu!" Titi menawari Ari minum, lalu hendak beranjak ke dapur.
" Teh aja, mbak!" jawab Ari.
Titi menuju ke dapur untuk membuatkan teh buat Ari.
Setelah selesai, Titi membawa dua gelas teh dan setoples kripik pisang diatas nampan.
Ia meletakkan satu gelas teh dimeja depan Ari dan satu lagi untuk dirinya sendiri.
" Minum tehnya, Ri..!" tawar Titi
" Iya mbak, terima kasih!"
jawab Ari.
Ari pun meminum tehnya.
__ADS_1
Titi hanya duduk memperhatikan Ari.
Setelah kejadian di pesta kemarin malam, Titi merasa canggung, masih ada rasa malu dihatinya saat ingat ia yang selalu memperhatikan Ari di pesta itu.
Untuk mengusir rasa canggung, Titi mencoba memulai obrolannya.
" Dari mana, tadi sengaja main kesini atau sekedar mampir?" tanya Titi.
" Sengaja main, mbak! Mbak tadi lagi apa?
Aku kesini ganggu mbak nggak?" jawab dan tanya Ari.
" Lagi santai aja sih dikamar.
Ga kok, ga ganggu..kebetulan memang lagi nggak ngapa-ngapain!" jawab Titi.
" Kalau hari libur, apa kegiatan mbak Titi?" tanya Ari lagi.
" Cuma istirahat aja, paling bebersih rumah.
Kalau lagi santai, dengerin musik atau baca novel." jawab Titi lagi.
" Mbak suka dengar musik dan baca novel?" Ari bertanya, seolah tak percaya dengan jawaban Titi.
Tak menyangka jika Titi suka mendengar musik dan membaca novel.
" Iya, sekedar untuk hiburan dan mengisi waktu luang disaat libur atau saat ga ada kegiatan dirumah." Titi menjelaskan pada Ari.
" Berarti, mbak Titi punya banyak koleksi kaset sama novel dong?"
" Kalau banyak sih nggak, tapi adalah beberapa koleksi kaset dan novel!"
" Wah..boleh lihat koleksi novelnya nggak, mbak?"
" Sebentar, saya ambil dulu!"
Titi bangkit dari duduknya, lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Saat Titi kembali, Ari tengah meminum tehnya.
Titi meletakkan novel diatas meja, Ari sedikit menggeser gelas dan toples agar Titi bisa menaruh novelnya.
" Ini sebagian novelnya, lihat aja!" kata Titi pada Ari.
Ari pun melihat-lihat novel yang ada diatas meja.
Ia melihat sampul dan judul novel-novel tersebut, lalu membaca sinopsis yang ada dibelakang novel.
Ia melihat-lihat semua novel, hingga ia menemukan novel karya Bastian Tito.
Ari tersenyum, lalu bertanya pada Titi,
" Mbak suka juga baca novel ini?
Ini kan novel yang ceritanya lucu mbak, cerita pendekar sableng yang kocak.
Saya kalau baca novel ini suka senyum-senyum sendiri, bahkan suka tertawa sendiri."
" Iya, ceritanya sangat lucu.
Saya juga suka tertawa sendiri kalau lagi baca cerita Wiro Sableng.
Tapi dibalik ceritanya yang lucu, ada hal positif yang bisa diambil dari kisah Wiro Sableng.
Di balik angka 212 yang ada di dada Wiro itu menunjukkan angka satu sebagai Allah yang maha satu, yang maha pencipta.
Angka dua menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan.
Misalnya, ada siang ada malam, ada panas ada hujan, ada hidup ada mati."
" Wah..mbak terkesan juga ya dengan cerita Wiro Sableng.
__ADS_1
Tapi sepertinya, mbak suka semua jenis novel ya? Ini banyak jenis novel punya mbak, ada horor, ada romantis, juga cerita humor."
" Iya, saya suka baca novel jenis apa aja, asal ceritanya seru dan menarik pasti saya baca. Kan banyak juga kisah dalam suatu cerita bisa dijadikan pelajaran."
" Mbak, hoby membaca ya?
Dimana tempat pavorit mbak kalau lagi membaca?"
" Sebenarnya bukan hoby, hanya sekedar suka membaca aja, mengisi waktu saat ga ada kegiatan.
Saya lebih senang baca didalam kamar, bisa sambil rebahan, atau sambil medengarkan musik."
" Saat libur, mbak ga suka jalan-jalan? atau nonton di bioskop mungkin?"
" Nggak, saya lebih senang diam dirumah, kalau ga ada pekerjaan dirumah, ya rebahan dikamar."
" Mbak, aku boleh pinjam novelnya?"
" Boleh, bawa aja..mana yang mau dibaca. Tapi jangan dirobek atau dicoret-coret ya?"
" Iya mbak, terima kasih.
Ga mungkin saya robek atau saya coret novel mbak, nanti saya ga dipinjami lagi!" βΊοΈ
" Kalau musik, mbak suka musik apa?"
" Saya suka dengar musik dangdut, pop, atau slow rock.
Saya ga pilih-pilih, yang penting syair dan irama lagunya enak didengar".
" Saya suka salah satu lagu Haji Rhoma Irama, yang judul nya istri saleha,
π΅ Setiap keindahan
π΅ Perhiasan dunia
π΅ Hanya istri saleha
π΅ Perhiasan terindah
" Dari lagu itu saya terinspirasi untuk jadi seorang istri yang baik, yang bisa menyenangkan dan membahagiakan suami, yang pasti akan ada ujian untuk bisa melakukan semua itu."
" Wah..mbak nih, suka mengambil hikmah dari apa yang dibaca dan didengar ya?"
Ari tersenyum mendengar Titi menyanyikan satu bait lagu Rhoma Irama.
" Ya, sekedar mengambil hal-hal yang positif yang bisa diterapkan dalam kehidupan.
Belajar kan ga mesti di sekolah, dari kejadian yang ada disekitar kita juga bisa kita jadikan pelajaran."
"Mbak suka nonton konser?"
" Tidak, saya ga suka berdesak-desakan, ikut berteriak mengikuti lagu yang dinyanyikan, apalagi ikut berjoget.
Saya ga suka melakukan semua itu!"
" Kelihatan sih kalau mbak ga suka nonton konser.
Mbak kan kalem, ga mungkin menyukai hal-hal yang kaya gitu!"
Ari tertawa membayangkan Titi jika nonton konser, ia akan jadi patung ditengah-tengah penonton yang riuh.ππ
Obrolan Titi dan Ari sangat seru.
Mereka membahas apa yang suka Titi ambil dari mendengar musik dan membaca novel.
Ari merasa kagum pada Titi, ia bisa mengambil hikmah yang baik dari apa yang dibaca dan didengarnya.
Dengan obrolan-obrolan itu, mereka jadi tidak merasa canggung lagi, dan bisa ngobrol tanpa rasa malu akan sikap mereka pada saat di acara pesta.
Mereka sengaja tidak membahas masalah pertemuan mereka malam itu, karena mereka sama-sama tidak ingin merasa canggung saat membahasnya.
__ADS_1