Nastiti

Nastiti
Bab 54. Si Cewek Jutek.


__ADS_3

Setelah membantu ibu beberes barang-barang, Titi dan Ari beristirahat di kamar.


" Lumayan juga ya beberes barang, pinggang rada pegal karena kelamaan duduk! " ujar Titi pada Ari.


" Sini telungkup, biar abang pijat pinggang nya! " pinta Ari pada Titi.


" Ga usah bang, abang juga capek habis bantu ayah membersihkan pekarangan.


Tadi juga abang membantu merapikan barang-barang. " tolak Titi.


Titi juga tahu kalau Ari juga lelah karena sudah membantu ayah dan juga membantunya tadi.


" Ga papa, abang ga capek.


Cepat sini abang pijat, mungkin karena lagi pms juga, jadi pinggangnya pegal.! "


Ari meminta Titi untuk berbaring ditempat tidur, lalu ia pergi mengambil obat gosok dikotak obat yang ada dikamar Titi.


Titi menuruti permintaan Ari untuk telungkup diatas kasur, karena pinggangnya terasa pegal.


Ari menaikkan baju yang dikenakan Titi, lalu mengoleskan minyak gosok di pinggang Titi dengan lembut.


Ia juga memijat pelan pinggang Titi hingga ke punggungnya.


" Sudah bang, sudah enakan.


Tangan abang lembut banget ya, terasa enak saat dipijat tangan abang.! "


Titi meminta Ari menghentikan memijat pinggang dan punggungnya.


Titi sudah merasa nyaman.


" Bener sudah enakan? Kalau masih pegal biar abang pijat lagi.! "


Ujar Ari lalu menghentikan memijat pinggang Titi, lalu menyimpan obat gosok dikotak obat kembali.


" Bener kok bang, ini sudah enakan."


Titi bangun lalu merapikan kembali bajunya.


Lalu Titi duduk dipinggir tempat tidur.


" Emang tangan abang terasa enak ya saat memijat pinggang adek? " tanya Ari.


Ari mendekati Titi, lalu duduk disampingnya.


" Iya bang, enak banget.. Bisa-bisa nanti Titi ketagihan pengen dipijat sama abang lagi.


Terima kasih ya, bang? " ujar Titi sambil mencium pipi Ari sekilas sebagai ungkapan rasa terima kasih.


" Sudah mulai genit ya, berani cium diam-diam.


Kalau adek ketagihan sama pijatan abang, nanti ga gratis lho. " Ari tersenyum senang saat mendapatkan sebuah kecupan di pipinya, lalu menggoda Titi.


Titi tersenyum malu saat Ari mengatakan kalau ia mulai genit.


" Genit juga sama kekasih halal kok, bukan sama orang lain.


Lagian itu juga sebagai ungkapan terima kasih Titi karena abang sudah memijat pinggang dan punggung Titi.


Kalau nanti ga gratis, ga lagi lah Titi minta pijat sama abang." kata Titi lagi.


" Kekasih halal atau mantan kekasih?

__ADS_1


Iya, abang senang.. Terima kasih atas hadiah ciumannya.


Tapi ada yang iri nih, ga terima kalau cuma sebelah yang dicium.


Ga mahal kok dek bayar pijatan abang, cukup pake.. " Ari tidak melanjutkan ucapannya.


Ia bermaksud untuk menggoda Titi, ia juga menunjukkan sebelah pipinya yang tadi tidak dicium oleh Titi.


" Sini Titi cium yang sebelah lagi, tapi abang merem ya? Titi malu!


Kalau bayarnya pakai ciuman sih, Titi ga nolak! "


Titi bersedia mencium pipi Ari dan memintanya untuk menutup mata.


Ari menuruti permintaan Titi untuk memejamkan matanya.


Setelah Ari memejamkan mata, Titi mencium pipi Ari kiri dan kanan lalu mencium bibir Ari sekelas.


Setelah melakukan nya, Titi menjauh dari Ari.


Saat merasa Titi menggeser duduknya, Ari membuka mata dan melihat Titi duduk menjauh darinya.


" Kenapa duduknya jadi menjauh? " tanya Ari heran.


" Ga papa! " jawab Titi tersenyum malu.


Ia malu karena telah berani mencium bibir Ari walau hanya sekilas.


" Sini, ga usah malu-malu.. kenapa harus malu karena sudah menyenangkan suami.


Bukankah menggoda dan menyenangkan hati suami juga merupakan suatu ibadah dan bisa mendapat pahala. " tanya Ari yang tahu kalau Titi merasa malu karena telah mencium bibirnya.


" Iya, tadi Titi sengaja mencium bibir abang, kalau tidak nanti abang bilang ada yang iri karena tidak mendapat ciuman! " kata Titi menjelaskan tindakannya tadi.


" Iya sayang, ga papa.. sini duduk sini, jangan jauh-jauh! " pinta Ari pada Titi.


" Adek sekarang merasa bahagia ga? " tanya Ari.


" Iyalah bang, Titi merasa sangat bahagia.


Kita sudah menikah, sudah halal.


Tiap hari bisa bersama abang.! "


Jawab Titi sambil tersenyum bahagia.


" Apa abang merasa bahagia juga? " tanya Titi balik.


" Jelas abang merasa bahagia, bisa menikah dengan adek, gadis yang abang taksir saat pertama melihat adek dipinggir jalan depan rumah. " jawab Ari.


" Apa benar abang jatuh cinta pada pandangan pertama? " tanya Titi lagi.


" Mungkin bukan jatuh cinta pada pandangan pertama.


Saat pertama melihat adek, ada rasa penasaran karena adek terlihat terlalu acuh, menyapa hanya sekedarnya.


Selain itu, abang juga sering mendengar teman-teman di base camp yang mengatakan kalau adek cewek jutek.! "


Ari memberi penjelasan pada pertanyaan Titi, Titi menyimak apa yang Ari sampaikan.


" Sekarang, cewek yang katanya jutek sudah bisa abang taklukkan dan sudah jadi kekasih halal.


Abang bisa mengalahkan beberapa rival yang menjadi pengagum seorang Nastiti,

__ADS_1


dan ga nyangka ternyata si jutek adalah jodoh abang! " Ari menggoda Titi lalu menjawil hidung Titi dengan jarinya.


" Siapa yang bilang Titi jutek, bang?


Perasaan Titi ga pernah bersikap jutek.


Emang sih, Titi suka acuh sama cowok yang suka menggoda Titi."


"Titi fikir untuk apa dilayani cowok-cowok iseng itu? hanya membuang waktu dan merekapun tidak serius mau sama Titi.


Mereka sekedar penasaran aja!"


"Titi bisa dekat sama orang sesuai feeling yang Titi rasakan.


Kalau hati Titi merasa nyaman, maka bisa dekat dan berteman, kalau hati Titi ga nyaman ya Titi menjauh agar tidak ada yang merasa dipermainkan."


"Sudah dekat tapi diacuhkan! "


Titi menjelaskan sikapnya selama ini terhadap laki-laki yang memang tidak mudah akrab selain dengan teman-teman nya saat di pengajian.


" Iya, orang mungkin menganggap adek jutek, tapi bagi abang adek hanya berusaha membatasi diri dari orang-orang yang adek anggap hanya sekedar iseng."


"Adek juga ga ingin orang salah menafsirkan sikap adek bila terlalu open pada kaum lelaki.


Intinya, adek hanya tak ingin memberi harapan palsu! "


" Yang abang dengar kalau kata-kata adek suka nyelekit.


Jarang bicara, tapi sekali bicara bikin hati keseleo.! "


Ari mengungkapkan pendapatnya tentang kepribadian Titi yang sering dianggap jutek dan cuek.


Sebenarnya, bila telah mengenal Titi, Titi asik untuk diajak ngobrol, dan tidak ada kesan jutek.


" Terima kasih bang atas penilaian abang yang positif pada Titi.


Titi tahu, abang selalu berusaha untuk mengerti siapa dan bagaimana Titi. "


" Jika ada orang yang bilang kata-kata Titi suka nyelekit, menurut Titi sebenarnya itu karena salah cara penyampaian aja.


Titi ga bermaksud seperti itu, makanya Titi lebih banyak diam dari pada ada yang tersinggung sama kata-kata Titi. "


Titi merasa terharu karena selama ini Ari tidak pernah terpengaruh dengan pandangan negatif orang terhadap Titi.


Bukan karena Ari telah jatuh cinta pada Titi, tapi memang Ari berusaha mencari tahu siapa Titi dengan bertanya pada teman-temannya.


Hanya orang-orang yang merasa kecewa dan sakit hati atas penolakan Titi yang menilai Titi ga baik.


Titi juga bersyukur karena Ari tak terpengaruh dengan penilaian orang yang kurang baik pada Titi, karena dilingkungan rumahnya Titi lebih banyak berteman dengan laki-laki.


Kita memang tidak bisa meminta orang untuk menilai diri kita baik.


Tapi kita bisa membuktikan dengan sikap dan tingkah laku bahwa kita memiliki kepribadian yang baik.


Kita juga ga perlu menganggap orang lain ga baik walaupun mungkin terlihat tidak baik, karena setiap orang punya sikap dan kepribadian sendiri yang merasa dirinya lebih baik.


Jangan menilai buruk orang lain jika kita tak ingin dinilai buruk oleh orang lain.


Akhirnya, Ari dan Titi hanya bertukar pendapat tentang diri masing-masing.


Obrolan yang membuat mereka semakin merasa dekat, merasa saling dihargai dan mengerti kekurangan masing-masing.


༶•┈┈⛧┈♛♛┈⛧┈┈•༶

__ADS_1


Bersambung dulu ya gaes..


Jangan lupa kasih dukungan dengan memberi Like, komen dan vote. 🙏🙏


__ADS_2