Nastiti

Nastiti
Bab 45. Ari Pulang, Titi Senang.


__ADS_3

Malam ini, Titi dan Tuti berjalan-jalan dijalan depan rumah.


Didepan rumah Titi ada jalan raya tapi jalanan itu sepi, karena hanya jalan kecil, jarang kendaraan berlalu lalang.


Titi sedang merasa bete, tak lama lagi ia akan melangsungkan pernikahannya dengan Ari.


Titi mengajak Tuti untuk bertukar fikiran.


" Gimana ya Tut kira-kira acara pernikahan mbak nanti? Mbak merasa khawatir dan merasa deg-degan nih menjelang pernikahan mbak." Titi mengungkapkan rasa khawatirnya pada Tuti.


" Apa yang mbak khawatirkan? Kan semua sudah diurus sama ayah dan ibu, mbak nanti tinggal menjalankan aja. " tanya Tuti pada Titi.


" Ga tahu juga Tut, entah apa yang mbak khawatirkan! "


" Kemarin saat kumpul keluarga kita, semua sudah ditentukan.


Pakaian pengantin, pelaminan, organ tunggal, makanan, semua sudah dibicarakan.


Tinggal rapat panitia aja nanti untuk menentukan siapa-siapa yang menjadi petugas yang membantu kelancaran acara! "


" Iya ya Tut, apa yang harus mbak khawatirkan. Persyaratan untuk ke KUA semua sudah siap, tinggal nunggu jadwal untuk penataran pra nikah.


Mungkin hanya perasaan nervous aja ya?"


Titi dan Tuti berjalan sambil terus mengobrol, membicarakan acara pernikahan Titi.


Saat Titi dan Tuti sedang asik mengobrol sambil berjalan menuju pulang, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti disamping mereka.


Seorang laki-laki menurunkan kaca mobil, lalu menyapa Titi dan Tuti,


" Hai dek, ikut abang yuk! kita jalan-jalan naik mobil! " ujar seorang lelaki yang duduk didepan kemudi mobil.


Saat mobil itu berhenti dan seseorang menurunkan kaca mobil, Titi dan Tuti ikut berhenti berjalan, mereka fikir orang tersebut berhenti karena akan menanyakan alamat.


Saat mendengar ajakan orang tak dikenal tersebut, Titi dan Tuti sontak tertawa, lalu melanjutkan perjalanan pulang.


" Ha.. ha.. ha.. ada-ada aja mbak, disangka kita jalan berdua sedang mencari mangsa. " kata Tuti pada Titi.


" Dia salah sasaran, Tut! Ha.. ha.. ha.. " jawab Titi pula.


Melihat dua gadis itu berlalu sambil tertawa, sang pemilik mobil melajukan kembali mobilnya dengan perasaan malu.


Ia mengira bahwa Titi dan Tuti adalah gadis-gadis yang bisa diajak berkencan.


Setelah merasa tenang, Titi dan Tuti pun pulang ke rumah dan beristirahat.


*****


Hari Jum'at ini, Ari dapat jatah libur dari lokasi.


Pagi hari, ia pulang dengan menumpang mobil pak Supri yang biasa digunakan mengangkut keperluan proyek.


Mumpung pak Supri pulang ke kota untuk mengambil keperluan di lokasi, Ari yang mendapat jatah libur menggunakan kesempatan ini untuk pulang.


Hari senin, ia akan kembali ke lokasi bersama pak Supri sambil membawa kebutuhan proyek.

__ADS_1


Ari sudah sangat rindu pada Titi, lebih dari satu bulan mereka tidak bertemu karena Ari sibuk menjalankan tugasnya di lokasi proyek.


Tiba dirumah, Ari membersihkan diri.


Sore ini, ia akan ikut Titi pulang bareng ke rumah Titi.


Tak sabar Ari menunggu jam pulang kerja Titi karena ia benar-benar sudah merindukan kekasih yang sekarang sudah menjadi calon istrinya.


Pukul empat sore, Titi bersiap untuk pulang.


Ia membereskan meja kerjanya, memasukkan barang pribadinya kedalam tas, lalu Titi meninggalkan mejanya.


Diluar, Titi berpapasan dengan mbak Dewi yang telah dijemput oleh suaminya dan pak Beri yang sudah berada dibelakang kemudi mobilnya.


" Ti, mbak duluan ya?" pamit mbak Dewi pada Titi.


Setelah mbak Dewi masuk kedalam mobil dan duduk disamping suaminya, suami mbak Dewi membunyikan klakson mobilnya tanda ia berpamitan pada Titi dan pak Beri yang masih ada dihalaman kantor.


" Baik mbak! hati-hati dijalan!" jawab Titi dan melambaikan tangannya pada mbak Dewi.


Setelah itu, suami mbak Dewi pun melajukan mobilnya meninggalkan halaman kantor.


" Ti..mau pulang bareng ga?" tanya pak Beri, menawari Titi untuk pulang bersamanya.


" Nggak pak! terima kasih!" jawab Titi.


" Kalau begitu, bapak duluan ya Ti?" pamit pak Beri pada Titi.


" Baik pak! hati-hati dijalan!" jawab Titi.


Titi tidak tahu jika Ari hari ini ikut pak Supri pulang.


Selama ini mereka memang tidak berkomunikasi karena memang tidak ada sarana untuk berkomunikasi.


Saat hampir keluar pagar kantor, tiba-tiba dari belakang Feni memanggilnya.


" Ti..tunggu! sombong amat ga mau nungguin aku!" panggil Feni pada Titi sambil setengah berlari menghampiri Titi.


Titi menghentikan langkahnya, ia menunggu Feni menghampirinya.


" Mana aku tahu kalau kamu mau ngajak aku pulang bareng!" kata Titi pada Feni yang berada disampingnya.


" Iya, aku tadi nyiapin tagihan cleaning service untuk di DPPU!" kata Feni pada Titi.


" Iya, sudah akhir bulan ya, pasti sibuk dengan urusan tagihan.


Aku juga sudah menyiapkan berkas untuk tagihan, nanti awal bulan ga ribet lagi!" sahut Titi.


" Kerjaan aku sih ga seberapa dibanding sama kerjaan kamu, Ti.


Kalau kamu kan kerjanya borongan, semua kamu kerjakan, dari surat menyurat, laporan, tagihan, belum lagi kalau ada urusan luar!" Feni menegaskan pekerjaan Titi.


" Ga masalah Fen, namanya juga kerja, jalani aja dengan senang hati, pasti enjoy.


Bila pekerjaan dijadikan beban, akan membuat kepala pusing dan jadi stres!" jelas Titi pada Feni.

__ADS_1


" Iya ya, Ti..yang penting dinikmati dan disyukuri aja.


Kalau dikerjakan dengan senang hati, ga kerasa tahu-tahu sudah terima gaji!"


Ha..ha..ha...


Feni tertawa dengan apa yang dikatakannya.


" Iya Fen, kalau dibawa pusing, terasa lama nunggu awal bulan dan terima gaji."


Titi menimpali kata-kata Feni.


Saat berada didepan rumah Ari, ternyata Ari sudah berdiri didepan rumahnya dalam keadaan sudah rapi.


Ari menghampiri Titi dan Feni yang berhenti didepan rumahnya, menunggu Ari yang menghampiri mereka.


" Assalamualaikum, dek? selamat sore, Fen?" sapa Ari pada Titi dan Feni.


Sejak Ari dan Titi resmi menjalin hubungan, Feni tidak mau dipanggil mbak oleh Ari, ia meminta Ari memanggil namanya saja, karena Feni dan Titi seumuran dan umur Ari lebih muda dari mereka.


" Waalaikumsalam warahmatullah" jawab Titi.


" Selamat sore, Ri..wah dah kelihatan ganteng kamu Ri.


Gaya banget Ri, rambut disisir rapi, baju rapi, pake sepatu sepasang kiri kanan, naga-naganya ada yang mau ngapel sekalian kangen-kangenan nih!


Ada yang sedang berbunga-bunga juga karena sang arjuna ada didepan mata!"


Feni menjawab salam Ari


Ia juga menggoda Ari yang sudah terlihat rapi dan Titi yang merasa bahagia saat bertemu Ari.


Ari dan Titi tertawa mendengar godaan Feni.


" Iya lah, Fen! kalau pakai sepatu ya sepasang, kiri kanan, masa cuma pakai sepatu cuma sebelah!


Jangan sirik ya sama aku yang lagi bahagia, sirik tanda tak mampu lho?" jawab Titi sambil tertawa membalas godaan Feni.


Lalu mereka tertawa karena candaan dan godaan Feni.


" Mau jalan kemana, Ri? boleh ikut ga?


Anggap aja aku bodyguard bagi kalian." kata Feni masih menggoda Ari.


" Boleh kalau mau ikut, tapi nanti jangan marah ya kalau cuma jadi racun nyamuk bagi kami!" jawab Ari membalas godaan Feni.


" Wah, maaf ya kalau cuma jadi racun nyamuk, mending aku pulang dan santai dirumah, nunggu ayang aku datang. Ayang aku juga mau ngapelin kok!" jawab Feni ga mau kalah.


Mereka bercanda sambil melanjutkan perjalanan untuk menuju jalan raya guna mencari angkot untuk pulang.


( Bahagianya hati Titi saat melihat orang yang dirindukannya ada dihadapannya.


Akhirnya, akhir pekannya tidak kelabu lagiπŸ’žπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ)


(◍‒ᴗ‒◍)❀

__ADS_1


__ADS_2