Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Operasi


__ADS_3

Ketegangan terjadi di sebuah ruangan operasi yang penuh dengan alat medis. Jolie terbaring lemah di atas brankar, ke empat dokter mengelilinginya, ada Indra, Arman dan dua dokter lainnya juga ada seorang perawat yang terus memantau monitor di sampingnya.


"Dokter denyut nadinya melemah."


"Detak jantungnya menurun." ujar seorang perawat yang terus memantau monitor.


"Kita harus segera lakukan operasi dokter." ucap seorang dokter wanita.


"Tapi darahnya sangat rendah, pasien kekurangan darah kita tidak bisa melakukannya." ucap dokter Arman.


"Lalu bagaimana?" tanya dokter wantita.


"Ambil stok darah yang masih tersedia, bagaimanapun kita harus melakukannya." titah Indra, dokter wanita itu pun mengangguk lalu berlari keluar untuk mengambil stok darah yang ada di BDRS (Bank darah rumah sakit).


"Kita harus berusaha menyelamatkannya." ujar Indra yang wajah nya sudah dipenuhi keringat.


****


Sedangkan di luar ruangan Elang berdiri sambil mondar-mandir tak tentu, hatinya kini sedang gelisah memikirkan keadaan istrinya di dalam ruangan operasi yang sedang berjuang untuk hidupnya.


Joy duduk sambil menunduk di atas kursi tunggu, Kedua jari tangannya saling ditautkan. Hatinya kini juga sama gelisahnya dengan Elang, sampai dia lupa memberikan kabar pada Stella.


"Aku belum mengabari Stella." ucap Joy yang langsung merogoh ponselnya. Dilihatnya banyak panggilan tak terjawab dari Stella. Joy menghela nafas sejenak, lalu kembali menghubungi Stella.


"Joy, apa kau baik-baik saja?" tanya Stella panik.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir."


"Kau tidak terluka, kan?"


"Aku tidak apa-apa, tidak terluka sama sekali." jawab Joy yang tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan Jolie? Apa dia baik-baik saja?"


"Keadaan Jolie tidak baik-baik saja, sekarang aku dan Elang sedang berada di rumah sakit, kami sedang menunggu Jolie yang sedang di operasi." ujar Joy dengan suara berat.


"Ya tuhan, apa dia terluka parah? Joy aku akan segera datang."


"Stella tunggu, jangan beritahu mami dan papi."


"Kenapa? Mereka harus tahu Joy, mami Shila pasti marah kalau kita merahasiakan ini."


"Jangan dulu, kita akan memberitahunya saat Jolie sudah sadar. Ini pinta Elang dia tidak mau buat orang tua terutama ibunya khawatir."


"Baiklah, aku tidak akan memberitahu siapapun."


"Terima kasih, oh iya bawakan pakaian ganti ku."


"Apa kau mau ganti baju?"

__ADS_1


"Bukan untukku, tapi untuk Elang pakaiannya penuh darah."


"Mm ... baiklah, aku tutup dulu."


"Ya, hati-hati di jalan."


"Iya." Tut. Sambungan telepon pun di tutup.


****


Stella sudah sampai di rumah sakit, dia berlari menuju ruang operasi. Dengan membawa dua paper bag di tangannya.


"Joy." Panggil Stella, Joy pun menoleh lalu bangun dari duduknya.


"Apa kau membawa bajunya?" tanya


"Ini." ujar Stella yang memberikan satu paper bag nya. Joy mengambil paper bag itu dan berjalan menghampiri Elang yang mematung di depan pintu ruang operasi.


"Gantilah bajumu." titah Joy Elang hanya melihat bajunya yang penuh darah.


"Pergilah ganti bajumu, aku sudah membawanya untukmu, jangan khawatir ada aku dan Stella yang menjaga Jolie." ujar Joy yang memberikan paper bag yang dia bawa. Elang sempat ragu dan tidak ingin melangkah pergi walaupun satu langkah sebelum dokter keluar dari ruangan itu. Sampai Joy berhasil meyakinkannya bahwa Jolie baik-baik saja.


Elang pergi untuk mengganti pakaiannya, Joy kembali duduk di samping Stella.


"Aku juga membawa makanan untukmu, dan juga untuk Elang, kalian pasti belum makan apa pun. Makanlah dulu." titah Stella yang membuka kotak makanan.


"Aku belum lapar." ujar Joy.


"Aaaa ... ayolah Joy, buka mulutmu sedikit saja." Namun Joy tidak membuka mulutnya. Stella mencoba untuk mencari akal agar Joy mau membuka mulutnya.


"Joy mami dan papi datang."


"Apa! Am ...." Stella berhasil memasukan makanan pada mulut Joy, saat mulut Joy mulai terbuka.


"Sudah makan saja, aku sudah membelinya susah payah, aku mengantri satu jam, untuk mendapat makanan ini, jadi sekarang kau makan dulu ya." ucap Stella sambil terus menyuapi Joy sampai mulut dan pipinya kembung karena penuh makanan.


Stella yang melihat itu tertawa, karena teringat Joy saat kecil dulu, pipi kembung, kaya bapau.


"Kenapa tertawa?" tanya Joy dengan suara yang tak jelas karena penuh dengan makanan.


"Tidak, tidak apa-apa."


"Kamu menertawakanku."


"Jawab iya gak ya! ... iya aja deh haha ...." ucap Stella tertawa.


"Kualat lo ngetawain suami."


"Ngga ngetawain, aku cuma ingat aja saat kamu kecil, pipi tembem kaya bapau, lucu tahu."

__ADS_1


"Itu ngeledek namanya, bukan lucu." Joy menggelitik perut Stella, sampai Stella tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba Joy mendapat telepon.


"Siapa?" tanya Stella saat Joy menatap layar ponselnya.


"Sharoon, aku angkat dulu." ujar Joy yang bangun dari duduknya untuk mengangkat teleponnya.


Stella terdiam,


"Kenapa wanita itu selalu saja, mengganggu ku saat bersama Joy. Tidak Stella, kamu tidak boleh begini, kamu harus bersikap profesional. Kamu tidak boleh cemburu, mungkin saja mereka membicarakan pekerjaan." batin Stella yang menunduk sedih


"Apa dokter sudah keluar?."Pertanyaan Elang membuat Jolie terkejut.


"Belum." jawab Stella singkat


"Dimana Joy?"


"Joy sedang mengangkat telepon."


"Duduklah," titah Stella yang menggeser duduknya, Elang pun duduk di samping Stella.


"Oh iya aku membawakan makanan untukmu, kau makan saja dulu , jangan khawatirkan Jolie dia pasti baik-baik saja."


"Bagaimana bisa baik-baik saja, tubuhnya penuh darah, dan luka, psikopat itu hampir saja membunuhnya, ini salahku ... aku tidak bisa menjaga Jolie."


"Aku tahu kamu pasti sangat khawatir, aku pun sama tapi ... kita harus yakin Jolie pasti baik-baik saja, dokter Indra sedang menanganinya."


Saat Stella sedang berbincang dengan Elang, Joy pun kembali dan duduk di samping Stella.


"Apa yang Joy bicarakan ya dengan Sharoon?"


batin Stella yang menatap Joy penasaran. Stella ingin bertanya tapi ... dia urungkan. Stella tidak mau nanti Joy salah paham, dan berpikir bahwa Stella tidak percaya padanya, Stella masih ingat perkataan Joy 'harus propfesional, aku tidak suka kalau kamu seperti ini' perkataan itu masih terngiang di telinganya, Stella tidak ingin Joy marah karena cemburu.


Disaat Stella bergulat dengan pikirannya, dokter Indra keluar dari ruang operasi. Joy dan Elang langsung berlari menghampiri dokter Indra.


Stella yang baru menyadari ingin bangun dan akan menghampiri dokter Indra, namun langkahnya terhenti karena Stella melihat ponsel di samping tempat duduknya.


Joy meninggalkan ponselnya, saat Stella mengambil ponsel itu tiba-tiba ada satu pesan masuk dari Sharoon.


"Joy, bagaimana tentang ajakan ku saat itu, aku yang mengajak mu makan malam. Kapan kau ada waktu?" isi pesan dari Sharoon.


Stella yang tak sengaja membaca pesan itu karena muncul dari layar notifikasi. Stella terdiam, namun dia kembali teringat Jolie, bagaimana keadaan Jolie sekarang. Stella menghampiri dokter Indra yang bersama Elang juga Joy, Stella meninggalkan ponsel Joy di atas kursi.


Banyak yang ingin Stella tanyakan, apa maksud pesan dari Sharoon tadi? Apa itu yang mereka bicarakan? Tentang makan malam? Apa hanya makan malam berdua saja? Pertanyaan itu terus bermunculan di pikirannya. Namun ini bukan saat yang tepat, untuk membahas itu.


"Apa operasinya sudah selesai?" tanya Stella yang baru saja datang. Walaupun pikirannya sedang berkecamuk namun Stella harus tetap tenang.


"Dokter bagaimana Jolie? Operasinya sudah selesaikan?" tanya Elang yang harap-harap cemas


"Dokter ada apa kenapa diam? Bagaimana keadaan Jolie?" tanya Joy pada Dokter Arman.

__ADS_1


Dokter Arman tidak berbicara sepatah kata pun. Arman terlihat lemah, sedih, dan hanya menunduk tidak berani menatap ketiga orang di depannya.


"Maaf, pasien tidak bisa di selamatkan."


__ADS_2