
"Ghala, aku sudah memikirkannya. Sudah cukup kita pertahankan hubungan ini, Ibumu tidak akan pernah merestui hubungan ini, dan kita juga tidak mungkin menentang ibumu. Aku sudah memutuskannya lebih baik kita akhiri hubungan ini, saat ini juga. Maaf, jika aku tidak bisa lagi bertahan karena bagiku hanya akan menyakitkan."
"Aku menyerah Ghala, lebih baik kita putus demi kebaikan kita juga ibumu."
"Maafkan aku Ghala, maaf."
Bagaikan tersambar petir, baru saia Ghala menghidupkan gawainya hatinya di kejutkan dengan sebuah pesan yang di kirim Kanza. Saat itu juga Ghala, melangkah pergi meninggalkan kampusnya. Dengan cepat Ghala, melajukan mobilnya membelah padatnya jalanan ibu kota.
Di tempat lain Kanza, berjalan melamun memikirkan setiap ucapan yang di tulisnya dalam sebuah pesan. Apa Kanza, sudah melakukan hal yang benar atau malah sebaliknya. Kanza, masih bimbang dengan keputusannya.
"Lusi," ucap Kanza, yang tak sengaja melihat Lusi.
"Lusi," panggil Kanza, yang berlari menghampiri Lusi.
"Kau, memanggilku?" tanya Lusi, yang menoleh ke arah Kanza.
"Iya, aku ingin bicara sebentar denganmu," ujar Kanza.
"Bicara apa?"
"Bisa kita duduk disana!" tunjuk Kanza, pada sebuah kursi yang ada di pekarangan kampus. Kanza, dan Lusi, pun duduk di kursi itu.
"Lusi, apa kau ingat aku? Kanza, kita berteman sejak kecil, kita selalu pergi bersama, apa kau tidak mengingatnya?" Lusi, hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Lusi, benar-benar tidak mengingat apapun.
"Lihat ini," Kanza, menunjukan beberapa foto padanya, foto-foto lamanya. Kanza, berharap Lusi, akan mengingat semuanya jika melihat foto-foto dirinya yang penuh kenangan.
"Ini, aku dan kamu," tunjuk Kanza, pada sebuah foto yang memperlihatkan dirinya dan juga Lusi, saat pernikahan kembar kakaknya.
"Foto ini kita ambil saat pesta pernikahan kakakku, kak Anna, dan kak, Jolie. Kita berdua menjadi ..... kita berjalan di atas altar mengiringi kedua pengantin. Hari itu, semua orang terlihat bahagia termasuk kita." Kanza, terus mencoba mengingatkan Lusi, akan masalalunya. Tetapi Lusi, belum juga memberikan respon.
"Baiklah, kalau kau tidak ingat. Dengan foto ini kamu pasti ingat." Kanza, menunjukan foto ke dua. "Ini Kenzie, dan ini Kenzo, ini aku dan ini kamu. Kita pergi berlibur bersama, di villa keluargaku, kau ingat! Saat kita mengikuti lomba sepeda, kau bersama Kenzo, dan aku bersama Kenzie. Itu sangat menyenangkan." ujar Kanza, namun tidak ada tanggapan dari Lusi.
Huuff, Kanza membuang nafasnya kasar. "Lusi, apa kau benar-benar tidak ingat!" Kanza, merasa sedih karen Lusi, tidak mengingatnya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kau tidak ingat aku, tapi kau pasti ingat orang ini, orang yang selalu ada dalam hidupmu." Ucap Kanza, yang memberikan foto Kenzo, pada Lusi. Kanza, memberikan beberapa foto Kenzo yang bersama Lusi. Kanza, ingin Lusi, segera mengingat Kenzo.
"Laki-laki ini, dia sudah berani menciumku, aku tidak suka padanya." Ucap Lusi, yang memalingkan wajahnya dari foto itu.
"Kenzo, tidak salah. Wajar saja dia melakukan itu pada kekasihnya," ucap Kanza, membuat Lusi, menoleh ke arahnya.
"Kekasih? Apa maksudmu?"
"Kamu dan Kenzo, adalah sepasang kekasih. Kalian saling mencintai, Kenzo, sangat menyayangimu. Lusi, kamu dan Kenzo, tidak pernah berpisah. Kemana pun kamu pergi, pasti ada Kenzo, bersamamu. Lihat ini." Kanza, kembali memperlihatkan sebuah foto yang saat itu Kenzo dan Lusi sedang merayakan 1th anniversary hubungan keduanya, sebuah dinner romantis yang Kenzo, siapkan untuk dirinya.
"Lihatlah foto ini Lusi, wajahmu terlihat bahagia, begitu pun dengan Kenzo. Lusi, kamu satu-satunya wanita yang di liriknya. Selain aku Kenzo, hanya menyayangimu. Aku tidak pernah melihat wajahnya sebahagia ini, foto ini aku ambil saat perayaan anniversary kalian, Kenzo, menyiapkan semua ini untukmu."
"Sesaat sebelum kamu kecelakaan, Kenzo, ingin memberikan hadiah yang spesial untukmu, Kenzo, sudah siap, kan sebuket bunga mawar dan sebuah cincin berlian untukmu, untuk melamarmu. Tapi sayang, sebelum itu terjadi kamu sudah tidak mengingatnya lagi." Kanza, menunduk sedih merasakan bagaimana sakitnya perasaan Kenzo, seperti harinya yang tersakiti saat ini.
"Sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu begitu yakin dan tahu semua hal tentang dirinya."
"Percuma aku jelaskan, jika kamu tidak mengingat apa pun. Lebih baik kau ingat-ingat saja, bawalah semua foto ini, aku yakin kamu akan mengingat siapa kamu sebenarnya." ujar Kanza.
****
Kanza, mengendarai mobilnya dengan sangat pelan, pikirannya saat ini sedang tidak fokus, yang ada di pikirannya hanyalah Ghala, Kanza, masih memikirkan tentang ucapan putusnya pada Ghala. Dan sampai sekarang Ghala, masih belum membalas pesannya.
Ckiittt ... dugh
Tiba-tiba sebuah mobil menghadang jalannya, reflek Kanza, pun membanting stirnya ke sisi jalan hingga menabrak trotoar jalan. Kanza, masih terkejut, jantungnya masih berdegup kencang, ketegangan masih di rasakan-Nya. Bagaimana tidak tegang, Kanza, hampir saja menabrak mobil di depannya.
"Ghala," lirih Kanza, yang melihat Ghala, keluar dari mobil yang baru saja menghadang jalannya.
"Entah kenapa hati Kanza, menjadi tak tenang. Gelisah kembali di rasakan-Nya saat melihat Ghala, berjalan ke arahnya.
Tok, tok, tok,
Ghala, mengetuk keras kaca mobilnya, raut wajahnya begitu menyeramkan, terlihat dari sorot matanya yang begitu tajam seperti sedang menahan amarahnya.
__ADS_1
Tok, tok, tok,
Ghala, kembali mengetuk namun Kanza, tidak berani membuka kaca mobilnya. Kanza, merasa takut karena baru pertama kalinya Ghala, terlihat sangat marah.
"Kanza, buka." Teriak Ghala, yang masih mengetuk kaca mobilnya. Kanza, masih bergeming tak berani untuk membuka pintunya.
"Kanza," Ghala, kembali berteriak. "Kanza, aku bilang buka, apa kau sengaja menghindariku hah!"
"Aku takut, jika kamu marah seperti itu." Sahut Kanza, yang ketakutan. Ghala, pun menarik nafasnya panjang lalu di hembuskan-Nya perlahan. Ghala, mulai menurunkan emosinya dan tidak lagi mengetuk pintu mobil milik Kanza.
"Keluarlah aku ingin bicara denganmu." ucap Ghala, lalu menjauh dari mobil Kanza. Kanza, pun akhirnya membuka pintu mobilnya dan turun, lalu melangkah menghampiri Ghala, yang membelakanginya.
"Ghala," seru Kanza, Ghala, pun menoleh dan langsung memeluk Kanza, membuat Kanza, terkesiap. Ghala, memeluknya dalam waktu yang cukup lama.
"Apa kau yakin, ingin mengakhiri hubungan ini," tanya Ghala, dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kau, yakin? Sekarang katakan, aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri."
"Iya, lebih baik kita putus." ucap Kanza, yang menunduk.
"Lihat mataku," tegur Ghala, namun Kanza, tak berani melihatnya.
"Kalau kau menginginkan kita putus, kenapa? Kenapa tidak dari dulu saat aku masih berada jauh darimu, dua tahun ... dua tahun aku tinggal jauh darimu, aku menahan kerinduanku padamu, saat ku kembali apa ini yang kau berikan untukku!" Ghala, terus menatap Kanza.
"Tidak, ada lagi yang harus kita pertahankan Ghala."
"Tidak ada! Apa hubungan kita tidak artinya bagimu? Jawab aku Kanza," bentak Ghala, membuat Kanza, mendongak. Ghala, melihat tetesan air mata yang keluar dari mata Kanza, sedari tadi menunduk ternyata Kanza, sedang menangis.
"Apa, yang harus aku jawab Ghala, sikap ibumu sudah sangat jelas, dan itulah jawabannya." ucap Kanza, sedikit meninggi.
"Kita, bisa bertahan. Kita akan sama-sama melewati ini. Aku, akan meyakinkan ibuku asal kau mau menunggu."
"Sampai kapan? Apa dua tahun tidak cukup? Aku, sudah cukup bersabar menunggumu dan menunggu restu ibumu, tapi apa yang ku dapatkan. Menerima uluran tanganku saja dia tidak sudi, apalagi jika menjadikanku menantunya. Ghala, aku harap kamu mengerti mungkin kita tidak berjodoh dan restu ibu itu sangat penting. Aku, tidak ingin melanjutkan hubungan ini tanpa restunya." jelas Kanza.
__ADS_1