
Masalalu yang kelam membuat Indra tak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Indra menutup hatinya rapat-rapat seolah hatinya tak tergetarkan lagi dengan yang namanya cinta.
Selama 15 tahun Indra hidup menjomblo, kalau orang bilang duda keren. Walaupun usianya sudah dewasa tidak jauh berbeda dengan Vero juga Alvin, sekitar 45 tahunan tak sedikit kaum hawa yang tertarik padanya.
Indra selalu menghabiskan waktunya dengan bekerja, karena sekarang Indra sudah menjadi kepala bagian rumah sakit tanggung jawabnya semakin besar. Vero dan Alvin selalu menyarankan nya untuk menikah lagi namun Indra tetap pada pendiriannya, Indra selalu bilang
"Untuk apa? Agar ada yang memasak untuk ku? Aku bisa masak sendiri tanpa bantuan wanita. Untuk apa lagi? Apa aku tidak ingin punya anak? Aku sudah memilikinya karena anak mu sudah ku anggap anakku juga." Itulah jawaban yang selalu Indra berikan. Indra benar-benar sudah menutup hatinya.
****
lndra sudah kembali ke toko baju dengan membawa satu paperbag di tangannya.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Indra pada Amber, Amber hanya menggeleng.
"Aku nunggu Dokter dulu "
"Kenapa harus tunggu aku kamu tinggal pilih saja apa yang kamu suka."
"Aku takut Dokter tidak kembali, aku,kan tidak punya uang." sanggah Amber.
"Aku sudah bilang,kan aku akan kembali lagi.Ya sudah cepat pilih." Indra pun mengambil semua pakaian yang sekiranya selera anak muda, karena Indra juga sering membelikan pakaian untuk Kanza.
Setelah selesai membeli pakaian Indra dan Amber berjalan keluar dari mall. Saat menuju lantai bawah Amber melihat toko boneka, Amber melihat boneka bear karena itu kesukaannya. Amber kembali teringat saat kecil dulu Tissa merusak boneka bear satu-satu nya. Sampai sekarang Amber tidak pernah memiliki boneka bear lagi.
"Kamu mau boneka?"
"Tidak." jawab Amber menggeleng cepat.
"Lalu kenapa kamu berdiri disini?" tanya Indra lagi
"Aku hanya teringat boneka bear ku, boneka ini mirip sekali dengan boneka yang aku punya dulu." jawab Amber sambil mengelus boneka itu. Masa kecil Amber tidaklah sebahagia anak yang lain.
"Aku, ambil yang ini." ujar Indra pada pemilik toko, membuat Amber terhenyak.
"Dokter mau beli boneka? Untuk apa?"
"Untukmu, bukankah kau ingin boneka ini?"
"Tidak usah Dokter. Dokter sudah membelikan ku pakaian, dan mengizinkanku untuk tinggal di rumah Dokter aku sudah sangat senang, Dokter tidak perlu membelikan ku boneka, aku tidak punya uang untuk menggantinya."
__ADS_1
"Aku tidak akan meminta kamu untuk mengganti uangku, ambil saja anggap saja hadiah dariku." ujar Indra yang membuat Amber tersenyum.
"Ini Tuan bonekanya." ujar pemilik toko Amber pun mengambilnya.
"Terima kasih." ucap Amber pada si pemilik toko lalu pergi mengikuti Indra.
****
Tissa baru saja keluar dari sekolah tempat Amber belajar. Raut wajahnya terlihat sedih, tubuhnya terlihat lemah, Tissa baru saja bicara dengan kepala sekolah bahwa sudah tiga hari ini Amber tidak masuk sekolah, dan pihak sekolah sudah mengeluarkan Amber dari sekolah, karena perintah donatur sekolah yang tak lain adalah Vero namun pihak sekolah tidak memberitahukan siapa nama donaturnya.
Tak sengaja Tissa berpapasan dengan Kanza, keduanya saling bertatapan. "Boleh aku bicara denganmu?" ujar Tissa yang memulai pembicaraan.
Kanza dan Amber pun berbicara di taman sekolah, awalnya mereka hanya saling diam lalu akhirnya Tissa memulai pembicaraan.
"Aku Tissa, ibunya Amber."
"Aku sudah tahu, kita pernah bertemu sebelumnya." ucap Kanza yang mengingat pertemuan mereka saat di ruang guru.
"Aku ingin bertanya, apa kau tahu dimana Amber?"
"Kenapa bertanya padaku bukankah kau ibunya?" ujar Amber yang menatap Tissa.
"Maksud tante Amber menghilang?"
"Aku juga tidak tahu, apa Amber pergi karena sengaja tidak ingin bertemu denganku, atau menghilang entah kemana."
"Memangnya kenapa Amber tidak ingin bertemu Tante? Tante,kan ibunya."
"Hubungan kami memang kurang baik."
"Tiga hari lalu Amber datang ke rumahku. Dia bicara dengan mamiku." Tissa terhenyak, apa Shila memberitahukan tentang Vicky pada Amber.
"Kamu tahu apa yang mereka bicarakan?" Amber menggeleng.
Apa Shila memberitahukan semuanya? Apa karena itu Amber tidak pulang. Aku harus bicara dengan Shila, mungkin saja Shila tahu dimana Amber, seharusnya Shila tidak mengatakan apa pun, Amber pergi karena perkataannya Amber menghilang sampai sekarang, batin Tissa.
****
Amber sudah sampai di apartemen milik Indra yang di dominasi warna gelap abu, hitam dan coklat. Apartemen milik Indra sangat bersih dan rapih, tidak seperti apartemen laki-laki pada umumnya, padahal Indra tinggal sendirian.
__ADS_1
"Dokter, tempat tinggal mu bagus sekali, bersih dan rapih." ucap Amber yang menyusuri setiap sudut ruangan.
"Ini kamarmu, taruh semua barang mu di dalam." ujar Indra yang membukakan pintu kamar tamu. Amber memasuki kamar itu lalu menaruh semua barang belanjaannya, boneka bearnya ia letakan di sisi ranjangnya.
"Kamarku saja tak seluas ini, wah ... indah sekali, aku bisa melihat kota jakarta di atas sini." ucap Amber yang berlari kecil ke depan balkon.
"Dokter itu baik sekali. Apa tidak ada wanita yang ingin menikah dengannya, padahal dia sangat tampan, kenapa belum juga menikah." gumam Amber sambil memasukan pakaiannya ke dalam lemari.
Tok ... tok ... tok ...
"Aku mendengarnya, jangan membicarakan ku di dalam rumahku." ujar Indra yang mengetuk pintu kamar Amber.
"Siapa yang membicarakan Dokter!" Amber ngles.
"Ayo makan dulu." ajak Indra yang berlalu pergi
"Iya Dokter." jawab Amber yang menutup pintu lemari, lalu berjalan keluar.
Amber dan Indra makan siang bersama di meja makan. Tidak ada pembicaraan diantara mereka, hanya terdengar dentuman sendok, garpu dan piring yang saling bersahutan.
"Aku akan kembali ke rumah sakit, kau tinggal sendiri tidak apa-apa, kan!"
"Jam berapa Dokter pulang?"
"Sore hari aku kembali." ujar Indra yang menyeruput air minumnya.
"Apa aku harus menyiapkan makanan untuk Dokter?"
"Tidak perlu, aku akan membelinya nanti. Jangan lupa minum obatmu ya aku pergi dulu." ujar Indra yang pergi meninggalkan Amber di meja makan.
Amber melihat dua piring yang kotor di atas meja, Amber mengambil piring itu lalu mencucinya. Setelah semuanya selesai Amber kembali ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size nya.
"Halo bear, sekarang kau temani aku disini ya. Kita akan tidur bersama, tidak ada yang akan memisahkan kita lagi." ucap Amber yang memeluk boneka bear-Nya.
"Dokter itu sangat baik dia membelikan ku pakaian, lalu membelikan mu untuk ku, aku harus membalas kebaikannya." gumam Amber lalu tertidur.
"Mama aku merindukanmu." Amber yang mengigau.
Sebenci-bencinya pada ibu, seburuk-buruknya seorang ibu, sekeras apa pun didikan-Nya, seorang anak akan selalu mengingat ibunya.
__ADS_1