
"Aku tidak punya orang tua."
"Apa? Kamu tidak punya ayah?"
"Ayahku meninggal."
"Ah, maaf. Kalau begitu ibumu aku akan menghubungi ibumu."
''Aku tidak punya ibu," Indra terdiam, kalau Amber tidak punya ibu juga ayah lalu tinggal dengan siapa.
"Kau tidak punya siapa pun? Apa ada keluarga yang lain?" Amber menggeleng, Indra merasa iba.
"Dokter, bawalah aku bersama mu."
"Apa!" ucapan Amber membuatnya terhenyak. Bagaimana mungkin Indra membawa anak perempuan ke rumah-Nya, sedangkan dia tinggal sendiri apa kata orang nanti. Tapi ... Indra juga tidak tega kalau dia tidak membawa Amber, lalu Amber akan tinggal dimana?. Apa lagi saat ini Amber adalah tanggung jawabnya, Amber masih belum pulih, Indra yang sudah menabrak Amber Indra harus tanggung jawab merawatnya sampai sembuh.
"Kamu tidak takut dengan saya?"
"Tidak, dokter orang baik karena dokter merawat ku, dokter peduli padaku, ibuku saja tidak pernah peduli." ucap Amber menunduk sedih.
Indra melihat Amber, seperti ada tekanan batin dalam dirinya, ucapannya tadi apa itu yang membuat Amber tidak ingin pulang, dan melarangnya untuk menghubungi keluarga-Nya. Mungkin itu juga yang membuat Amber berjalan sendiri di jalanan di malam hari.
"Istirahatlah, jangan memikirkan apa pun ya." ujar Indra yang mengusap lembut pundak Amber.
"Dokter belum menjawab pertanyaan ku."
"Kita bicarakan lagi itu besok." ucap Indra yang berlalu pergi.
****
Acara pernikahan pun sudah selesai, Anna kembali ke rumah bersama keluarga nya, sedangkan Jolie dia langsung pergi ke rumah mertuanya.
"Selamat datang di rumah kami menantuku tersayang." ujar Nyonya Endra penuh semangat.
"Elang bawa istrimu ke kamar mu ya, dia pasti sangat lelah." titah Nyonya Endra membuat Elang berjalan malas.
"Eh, kamu mau kemana?" hardik Nyonya Endra pada Elang yang berjalan malas
"Bukankah Mama bilang aku harus membawa Jolie ke kamar."
"Iya, tapi bukan ke kamar tamu tapi kamar mu di atas." hardik Nyonya Endra kesal.
"Maksud Mama kita sekamar?"
"Masa kalian pisah ranjang, kalian, kan suami istri."
"Tante boleh aku minta kamar yang lain, tidak apa-apa kamar tamu juga, aku belum terbiasa satu kamar dengan orang lain." sanggah Jolie
"Iya Mah, betul apa kata dia." timpal Elang
"Kalian ini masih saja malu-malu, apa perlu Mama antar juga." ucap Nyonya Endra yang menarik tangan Jolie dan Elang menuju ke kamar mereka.
__ADS_1
"Nah, ini kamar kalian. Ayo masuk." Jolie terpaksa masuk walaupun berat melangkah.
"Apa kamu mau di ajarkan malam pertama juga."
"Mama."
"Ya sudah sana masuk, ingat buat cucu untuk Mama ya." ujar Nyonya Endra yang terus menggoda putranya.
Jolie dan Elang saling diam, keduanya sama-sama duduk di bibir ranjang. Kemudian Elang beranjak dari duduk nya melangkah ke kamar mandi.
BRUKK!! Elang membanting pintu dengan keras, membuat Jolie terhenyak. "Hei, bisa tidak pelan-pelan." teriak Jolie kesal.
"Dasar, manusia aneh." gerutu Jolie lalu berjalan ke arah lemari, membuka pintu lemari Jolie terkejut, bola matanya membulat sempurna "Apa ini, kenapa tidak ada pakaian yang benar." gerutu Jolie yang mengacak-acak pakaian dalam lemari yang ternyata lingeria semua.
Tok ... tok ... tok
"Sayang ini mama." seru Nyonya Endra dari arah luar.
"Iya Mah, Elang sedang mandi ada apa?" sahut Jolie
"Sayang, Mama sudah siapkan pakaianmu di dalam lemari, Mama tidak tahu apa yang kamu suka, jadi kamu pilih saja ya." sahut Nyonya Endra dari luar.
"Semuanya aku tidak suka." gerutu Jolie kesal.
CKLEK!! Elang keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk. Jolie yang melihat itu jadi teringat saat peristiwa di hotel itu, saat Elang keluar dari dalam kamar mandi menggunakan handuk saja.
Jolie menggeleng-gelenkan kepalanya, membuang jauh-jauh pikiran itu. Lalu Jolie mengambil baju kaos milik Elang lalu berjalan memasuki kamar mandi tanpa melirik Elang bahkan menabrak bahu suaminya dengan kasar.
BRUKK!! Kini Jolie membanting pintu keras membuat Elang terhenyak juga kesal.
Berbeda dengan Jolie yang penuh di awali dengan peperangan dan adu mulut. Anna dan Kemi begitu romantis.
Anna dan Kemi saling bercerita, bercanda, berbicara dari hati ke hati.
Kemi dan Anna bersandar pada headboard, tubuh Anna berada di dalam pelukan Kemi, Anna bersandar pada dada bidang milik Kemi.
"Aku pikir tadi kamu akan memilih Jolie." ucap Anna
"Kamu mau aku melakukan itu?"
"Jelas tidak, tapi ... bagaimana kamu bisa membedakan aku dengan Jolie?"
Kemi mengeratkan pelukannya
"Dari wangi tubuh mu." jawab Kemi kemudian sambil mengecup leher jenjang milik Anna.
"Ternyata penciuman mu tajam juga ya."
"Aku hapal betul aroma tubuh mu."
"Ya ... baiklah ku akui itu."
__ADS_1
Kemi menarik tubuh Anna ke dalam pelukannya, membuat Anna jatuh ke dalam pelukan tangan kanannya,Kemi menatap Anna lembut, Anna hanya terdiam membalas tatapan suaminya.
"Mulai malam ini kau adalah milikku, seluruh tubuhmu, adalah milikku." ucap Kemi membuat Anna tersenyum.
"Tentu, mata, hidung, pipi, bibir ku semua milikmu."
"Itu artinya kau sudah siap, untuk ku sentuh? Apa kau siap untuk malam ini?"
"Siap atau tidak aku harus siap."
Kemi tersenyum, perlahan dia mendekat Anna menjadi gugup sampai menelan ludahnya sendiri. Perlahan Kemi menidurkan Anna mata keduanya saling berpandangan. Tangan Kemi mulai nakal, perlahan tangannya mulai membuka tali lingeria yang Anna pakai, Kemi mulai menyusuri leher jenjang miliknya. Anna memejamkan mata merasakan setiap sentuhan lembut yang Kemi berikan.
Kemi mulai menyusuri setiap inci wajah istrinya, mengecup lembut bibir ranum milik Anna. Tangannya mulai bergrilya, berkelana kemana-mana, membuat Anna mengeluarkan suara merdunya.
Kemi mulai membuka seluruh pakaian milik Anna membuat tubuh mulusnya terlihat, sepersekian detik, Kemi mulai membuka seluruh pakaiannya, tangannya bergerak ke arah lampu tidur lalu di matikannya. Keduanya mulai melakukan aktifitas panas yang menguras tenaga, decitan ranjang mulai terdengar, suara-suara indah mulai mengalun merdu.
Berbeda dengan Anna yang melewati malam pertamanya dengan hangat. Jolie dan Elang mereka malah bersitegang. Saat ini keduanya saling menatap tajam di depan ranjang tidurnya, sesekali manik mata keduanya melirik ke arah ranjang dalam sepersekian detik.
Bugh,
Keduanya berebut tempat tidur siapa yang lebih dulu dia yang akan tidur di atas kasur malam ini.
"Aku lebih dulu."
"Aku."
"Aku."
"Yeah ... kau itu laki-laki tapi tidak mau mengalah."
"Ini kamarku, jadi aku yang tidur disini."
"Aku, karena aku adalah istrimu, ingat! Suami harus mendahulukan istrinya, kan."
"Tidak, kau tidur saja di sofa."
"Kau tidak mau mengalah."
"Tidak, karena ini kamarku ku."
"Baiklah, kalau begitu kita tidur bersama aku juga akan tidur di sini"
"Oke, kau mau tidur denganku." ucap Elang dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Apa kau tidak takut, bisa saja aku menyentuhmu, ini, kan malam pertama bagi pengantin baru kalau begitu kita lakukan saja." Mata Jolie membulat sempurna
"Kau harus melakukan kewajiban seorang istri."
Aaaa ... teriak Jolie karena Elang mendekat dan sengaja memeluknya.
Sedangkan di luar, Nyonya Elang terlihat khusu menajamkan pendengarannya pada daun pintu. "Ouh ... putraku langsung melakukannya, apa dia terlalu keras, sampai menantuku berteriak seperti itu? Seharusnya Elang melakukannya dengan pelan." gumam Nyonya Endra yang terkekeh sambil membayangkan apa yang terjadi di dalam kamar putranya.
__ADS_1