Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Bara


__ADS_3

Kedekatan Amber, dan Aira, semakin dekat. Aira, semakin manja kepada Amber, bahkan saat makan pun hanya ingin Amber, yang menyuapi-Nya.


Sebagai seorang dokter, Amber, tidak merasa keberatan Amber, sangat sabar menghadapi sikap Aira, yang manja seperti saat ini Amber, sedang menyuapi-Nya.


"Aira, kamu pintar, makannya lahap dan habis,"


"Ia, Dokter Aira, kan mau cepat sembuh!"


"Pintar!" ucap Amber, yang mengusap lembut kepala Aira.


"Aira, sekarang minum obat ya!"


Aira, pun menurut apa kata Amber, semua perawat tersenyum dan merasa lega, beruntung Amber, bisa meluluhkan hati Aira, jika padanya Aira, sangat menurut berbeda dengan yang lain.


"Papa," panggil Aira, pada seorang pria yang baru saja masuk ke kamarnya. Amber, pun menoleh ke arah pintu yang memperlihatkan seorang pemuda tampan, manis, dan masih muda tersenyum ke arah Aira. Amber, langsung memaling, kan wajahnya takut kalau pria itu menyadari saat dirinya menatapnya.


"Aira, Tante Dokter, pergi dulu ya! Aira, sama papa saja ya!"


"Enggak mau, Aira, maunya Tante, Dokter, disini," rengek Aira.


"Aira, sayang nanti Tante Dokter balik lagi kok, Tante Dokter, harus obatin pasien, jadi Tante Dokter, pergi dulu ya!" Aira, hanya merengut saat Amber, pergi dari ruangannya.


Sedari kecil Aira, tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu, karena ibunya meninggal saat melahir, kannya. Terpaksa selama 7 tahun ini, Aira, hanya mendapat kasih sayang dari Om-Nya yang sering di panggilnya papa, yang juga sibuk dengan pekerjaannya. Aira, hanya menghabis, kan waktu dengan pengasuhnya saja, sampai Aira, jatuh pun itu karena tidak ada yang mengawasinya sama sekali. Sedangkan pengasuhnya saat itu sedang menyiapkan makan siangnya.


Bara Bramata Wijaya, seorang CEO perusahaan Wijaya grup, yang sangat pesat di kota ini. Kakaknya Bara, harus meninggal saat melahir, kan Aira, sedang, kan papanya meninggal saat kecelakaan, saat Aira, masih di dalam kandungan.


Bara, sangat menyayangi kakaknya dan berjanji akan merawat Aira, menjaganya seperti anak kandungnya. Karena Bara, tahu bagaimana rasanya menjadi seorang anak yatim piatu, hidup tanpa kedua orang tua sungguh menyakikan. Di saat dirinya harus berjuang demi bertahan hidup, hingga mencapai kesuksesan saat ini.


Bara, tidak ingin keponakannya Aira, harus merasakan deritanya hidup tanpa orangtua hingga Bara, mau menjadi papa Aira, demi membahagia,kannya.


"Aira, sayang bagaimana keadaanmu sudah lebih baik?" tanya Bara, yang menghampiri Aira.


"Pa, kaki Aira, tidak bisa bergerak," rengek Aira, Bara hanya mengelus lembut kaki keponakannya itu. Bara, sedih melihat Aira, terluka apalagi saat ini kaki Aira, tidak bisa di gerakan karena patah tulang. Yanh bisa Bara, lakukan adalah menyemangati Aira.


"Nanti kaki Aira, pasti sembuh jangan khawatir ya!" ucap Bara, yang mengusap kepala Aira.


****


Amber menunggu taksi di depan loby. Hari sudah malam namun taksi tak kunjung datang. Kakinya sudah lelah berdiri namun Amber, tetap sabar untuk menunggu.


Dalam waktu bersamaan Bara, keluar dari rumah sakit menuju mobilnya yang terparkir di depan Amber. Bara, pun menyapa saat bertemu dengannya.


"Kau dokternya Aira, bukan! Sedang apa disini?" tanya Bara.


"Iya. Saya sedang menunggu taksi," jawab Amber, dengan senyuman.


"Kalau begitu saya duluan," ujar Bara.


"Iya, silahkan!" jawab Amber ramah.


Bara, pun masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Amber, yang masih berdiri di samping mobilnya. Bara, membunyikan klakson sebelum melajukan mobilnya, Amber pun hanya mengangguk.


Beberapa saat Bara, kembali lagi yang sudah berganti pakaian karena malam ini Bara, yang akan menemani Aira. Namun, Bara, masih melihat Amber, yang berdiri di tempat yang sama.

__ADS_1


Sudah 30 menit lamanya, apa taksinya belum datang? Pikir Bara, karena melihat Amber, yang masih berada di tempatnya. Bara, pun menghentikan mobilnya di tempat yang sama saat terakhir kali memparkirkan mobilnya.


"Bu dokter anda masih disini?" tanya Bara, heran.


"Iya, loh anda balik lagi?" Amber, balik tanya.


"Tadi saya pulang hanya untuk berganti pakaian."


"Taksinya belum datang?" tanya Bara.


"Ini taksi yang ketiga. Sudah dua kali drivernya menggagalkan."


"Ini sudah malam dokter!"


"Iya, semoga saja taksinya segera sampai."


"Apa mau ku antar?"


"Ah, tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkan, aku akan tetap menunggu taksinya," tolak Amber.


"Dokter Amber, sedang menunggu taksi?" tanya seorang temannya.


"Iya," jawab Amber singkat.


"Lebih baik nginep saja dokter. Tidak, ada taksi yang akan datang. Mereka sedang demo, jadi taksi online atau taksi biasa tidak akan berjalan, karena di tuntut untuk tidak menerima pelanggan saat ini." jelas temannya yang berlalu pergi.


"Biar aku antar saja," ucap Bara.


"Tidak apa-apa biar aku antar, ini sudah malam tidak baik jika masih di luar."


"Ayo, masuklah!" titah Bara, yang berjalan memasuki mobilnya. Amber, sempat bingung dan juga canggung, apalagi mereka baru mengenal tapi karena malam yang sudah larut, Amber, pun masuk ke dalam mobil.


"Apa tidak merepotkan!" ucap Amber.


"Tidak." jawab Bara. Bara, pun menanyakan dimana tempat tinggalnya, dan langsung mengantarkannya.


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka. Keduanya sama-sama diam. Jalanan malam ini begitu lenglang, benar apa kata temannya tidak ada taksi satu pun yang lewat, pantas saja taksi yang di pesannya tak kunjung datang.


Karena lelah dan sudah terlanjur malam, Amber, pun sampai tertidur di dalam mobil membuat Bara, lebih berhati-hati dan pelan dalam melajukan mobilnya.


"Pasti tidak mudah menjadi dokter sepertimu," ucap Bara, yang melirik ke arah Amber.


Amber, begitu terlelap terlihat jelas bahwa dirinya sangat lelah. Dan jika sedang sibuk dan banyak pasien mungkin Amber, hanya tidur beberapa jam saja, waktu tidurnya sangatlah berharga.


Beberapa saat mereka pun sampai di sebuah apartemen, Bara, menghentikan mobilnya namun Amber, masih dalam keadaan tertidur membuat Bara, tak bisa membangunkannya.


Bara, pun keluar dari dalam mobil membiarkan Amber, untuk tidur sejenak.


Bara, berdiri di depan pintu mobilnya sambil memainkan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhannya. Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Papa!" Terdengar suara Aira, yang sedikit serak pada sambungan telepon.


"Iya sayang! Aira, belum tidur?" tanya Bara, pada sambungan telepon.

__ADS_1


"Belum, Aira, nunggu Papa. Katanya papa mau temenin Aira,"


"Iya, bentar lagi Papa sampai kok! Tunggu ya!"


"Kok, lama?"


"Tadi Papa bertemu tante dokternya Aira, papa antar, kan dokter pulang dulu, kasihan sudah malam."


"Sekarang Tante dokternya mana Pa?"


"Tante dokternya tidur, mungkin lelah,"


"Yah, padahal Aira, mau banget bicara sama tante dokter, Aira, kangen!"


"Besok, kan bisa ketemu lagi."


"Papa, jangan bangunin tante dokter ya! Kasihan lagi tidur."


"Iya, Papa gak bangunin kok. Tapi janji dulu Aira, harus tidur sekarang janji!"


"Iya Pa, janji."


"Anak pintar, ya sudah Papa tutup teleponnya ya!"


"Oke Pa, I love you,"


"I love you to,"


"Good night Papa,"


"Good night sayang."


Sambungan telepon pun di tutup. 10 tahun Bara, merawat Aira, dan menjadi Papanya. Jangan, kan mencari pendamping hidup yang Bara, fokuskan hanyalah Aira.


Jika nanti dia menikah wanita itu harus menerima Aira, dan menyayangi Aira seperti anak kandungnya. Namun, setiap wanita yang dekat dengannya tidak pernah akur atau akrab dengan Aira. Mereka selalu mengeluh dan mengeluh.


Di dalam mobil Amber, pun mulai mengerjap, kan mata di lihatnya sekeliling tidak terdapat Bara, di sampingnya. Ternyata Bara, sedang berdiri di luar depan mobilnya, Amber pun turun menghampiri Bara.


"Maaf, aku tertidur," ucap Amber, membuat Bara, menoleh.


"Kau sudah bangun!"


"Sejak kapan kita sampai? Kenapa tidak membangunkanku?


" Aku tidak berani, aku lihat kamu begitu lelah."


"Maaf, aku jadi merepotkan,"


"Tidak sama sekali."


"Terima kasih sudah mengantarku pulang, aku permisi masuk dulu maaf, aku tidak bisa mengajakmu masuk karena ini sudah malam."


"Aku juga permisi kembali ke rumah sakit, Aira sudah menunggu." Bara, pun kembali masuk ke dalam mobilnya, setelah mobilnya mulai melaju Amber, pun masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2