
Hubungan Kenzie dan Nisa semakin dekat. Setiap minggunya Nisa, selalu datang ke rumahnya hanya untuk mengajarkan ngaji dan juga sholat.
Lantunan ayat suci al-quran begitu merdu terdengar saat Nisa, mulai mengaji. Suaranya mampu menggetarkan hati setiap yang mendengarnya, begitu pun dengan Vero, yang saat ini sedang berada di dalam kamarnya.
"Suara siapa itu? Seperti ada yang mengaji di dalam rumahku," ucapnya yang langsung turun dari ranjang tidurnya.
Seumur hidup di rumah ini, di mansion yang megah ini tidak pernah terdengar suara orang mengaji. Yang sering di dengar hanyalah suara teriakan, bentakan, candaan, dan suara alunan melodi dalam musik.
Jujur, saat mendengar lantunan ayat suci al-quran hatinya terasa tersentuh. Sebagai seorang muslim Vero, begitu tergetar hatinya. Vero, berjalan keluar menapaki satu persatu anak tangga.
Langkahnya terus menuntunnya untuk mencari sumber suara yang membuat hatinya tersentuh. Sesampainya di ruang keluarga langkahnya pun terhenti.
Vero, melihat seorang wanita manis, cantik dan berhijab, begitu pasih dan lantang membacakan surat Al-fatihah. Tak hanya itu, hatinya kembali tersentuh saat melihat istri dan anaknya juga melantunkan ayat suci mengikutinya.
Sejenak Vero, merasa sedih dirinya sebagai imam keluarga tidak pernah mengajarkan sedikitpun tentang agama pada keluarganya. Membuatnya merasa malu pada diri sendiri juga kepada tuhannya.
Yang semenjak kecil Vero hanya di didik dengan kemewahan dan lupa akan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sholat, tentu Vero, belajar dan di ajarkan bagaimana sholat, akan tetapi karena kesibukannya dengan dunia membuatnya lupa akan akhirat.
Mengaji, menghafal ayat Al-quran mereka semua pernah dan bisa mengaji hanya saja jarang melakukannya, sungguh jauh dari Tuhan. Kehadiran Nisa, membuat keluarga mereka kembali mengingat pada Tuhannya.
"Mas!" seruan Shila, mengejutkannya.
"Mas, mau ikut mengaji?" tanya Shila, yang sudah mendekat ke arahnya.
"Maaf aku mengganggu, lanjutkan saja,"
"Mas, kamu tidak mau ikut?"
"Lain waktu saja. Kamu lanjutkan mengajinya aku akan kembali ke kamar," ujar Vero, yang kembali pergi ke kamarnya. Shila, hanya menatap kepergian suaminya lalu kembali melanjutkan mengajinya.
"Apa suaraku mengganggu tante?" tanya Nisa, karena ini untuk pertama kalinya Nisa, melihat Vero yang begitu dingin.
"Tidak sama sekali tidak, ayo kita lanjutkan lagi."
Mereka pun melanjutkan kembali aktifitas mengajinya namun tiba-tiba Kanza, berlari ke toilet dengan terburu-buru, mulutnya seperti menahan sesuatu.
"Kenapa dengan Kanza?" Shila, Nisa dan Kenzie pun berlari mengikuti Kanza, sesampainya di depan toilet terdengar suara Kanza, yang sedang memuntahkan sesuatu.
Shila, merasa khawatir melihat keadaan Kanza, yang terus memuntahkan semua isi dalam perutnya. Sebulan ini Kanza, selalu terlihat menyendiri bahkan nafsu makannya pun berkurang.
Shila, tidak tahu masalah apa yang sedang di hadapi putrinya, tidak biasanya Kanza, sedikit tertutup tentang dirinya. Shila, terus memijat tengkuk leher milik Kanza, yang masih membungkuk memuntahkan isi dalam perutnya.
Kenzie, pergi ke dapur untuk mengambil air minum hangat untuk adiknya, mereka semua mendadak panik dan khawatir apalagi wajah Kanza, sedikit pucat.
__ADS_1
"Ini minum dulu!" ujar Kenzie, yang memberikan segelas air.
"Minum sayang biar lebih enakan!" titah Shila, yang memberikan segelas air minum untuk Kanza.
"Mami, panggilkan dokter ya!"
"Tidak usah Mami, Kanza, tidak apa-apa kok," sanggah Kanza.
"Apa yang kamu rasakan?"
"Pusing dan sedikit mual," jawab Kanza, sambil menekan perutnya.
"Mungkin masuk angin tante, aku minyak angin saja ya!" ujar Nisa, yang juga khawatir. Shila dan Nisa pun memapah Kanza, untuk berbaring di atas sofa. Nisa, pun membalurkan sedikit minyak angin pada perut Kanza, menghasilkan sensasi rasa hangat dalam perutnya.
"Mami, akan panggilkan dokter,"
"Jangan Mami, Kanza hanya butuh istirahat saja."
"Yakin!" Kanza, hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tunggu sebentar," ujar Shila, yang berlari ke lantai atas menuju kamarnya. Shila, melihat Vero, sedang bersandar sambil memejamkan matanya.
"Mas!" seruan Shila, membangunkannya
"Sudah selesai mengajinya?" tanya Vero, sambil membenarkan posisi duduknya.
"Kenapa dengan Kanza?" Vero begitu panik.
"Hanya sedikit pusing, sepertinya masuk angin," jelas Shila. Vero, pun segera turun menemui putrinya.
Vero begitu cemas saat melihat wajah Kanza, yang begitu pucat dan juga lemah. Dengan segera Vero, menggendong putrinya menuju kamarnya setelah sampai kamar Vero, pun membaringkan Kanza, di tempat tidurnya.
"Kenzie, aku pamit pulang ya!" ujar Nisa,
"Biar aku antar,"
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Sampaikan salamku pada Mami dan Papimu ya!"
"Ya sudah, aku antar kamu sampai depan," ujar Kenzie.
****
Hari ke hari kondisi Kanza, mulai mencurigakan. Entah kenapa Shila, merasa ada yang aneh dengan putrinya. Hampir setiap hari Kanza, terus merasakan mual dan muntah membuat Shila, khawatir. Akan tetapi Kanza, selalu menolak untuk di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Saat Kanza, pergi Shila, tak sengaja masuk ke kamar putrinya dan menemukan sesuatu yang mengejutkannya.
"Tes peck! Punya siapa ini? Tidak mungkin punya Kanza," ucapnya lirih.
Shila, begitu terkejut saat menemukan benda pipih yang tipis dan kecil, terdapat dua garis merah di dalamnya. Tubuhnya mendadak lemas, kedua lututnya bergetar tak mampu lagi untuk berdiri dalam seketika, tubuhnya terduduk lemah di sisi ranjang milik Kanza.
"Ya Tuhan apa ini? Tidak mungkin putriku hamil. Apa ini karmaku,"
Shila, jadi teringat saat dirinya dulu, di usia Kanza, yang sekarang Shila, harus hamil di usia muda tanpa seorang suami, bahkan Shila, tidak tahu siapa yang telah menghamilinya saat itu.
Tapi ... apa mungkin, Kanza, melakukan hal yang sama dengannya? Jika benar siapa yang telah menghamili putrinya? Apa harus Kanza, yang menerima karmanya.
Di tempat lain, Kanza dan Ghala begitu tegang, keduanya sedang menatap wanita di depannya.
"Ada apa? Kenapa kamu membawa wanita ini Ghala," ucap wanita itu tajam yang tak lain adalah ibunya Ghala.
"Kami akan menikah. Aku akan menikahi Kanza," ucap Ghala, tegas. Namun, tidak dengan Kanza, ia begitu ketakutan.
"Apa! Berapa kali Mama, bilang. Mama, tidak akan pernah setuju."
"Terserah Mama setuju atau tidak, kami akan tetap menikah."
"Ghala!," bentak ibunya.
"Aku, harus tanggung jawab Ma,"
"Apa!"
"Kanza, hamil. Kanza, hamil anakku Ma, dia sedang mengandung cucu Mama."
"Hamil!" wanita itu benar-benar terkejut. Ghala, berharap ibunya akan merestui dan menikahkan mereka, namun pikirannya salah besar justru ibunya semakin membenci Kanza, dan malah menampar wajahnya.
"Mama, apa yang mama lakukan!" Ghala, sangat marah saat ibunya menampar Kanza.
"Dasar wanita tak tahu diri. Gak ada bosan-bosannya terus mendekati anak saya, dan kamu berani bilang hamil oleh putraku, dasar wanita kotor."
"Mama, berhenti. Aku, yang melakukannya aku terpaksa karena aku ingin Mama tahu apa yang aku inginkan."
"Tidak, Mama tidak percaya, wanita ini pasti menggodamu."
"Stop!" teriak Kanza, yang sudah tak tahan dengan perlakuan ibunya Ghala.
"Cukup tante cukup, jangan hina aku lagi. Aku, bukan wanita yang seperti tante kira, jika tante tidak percaya kita ke rumah sakit sekarang juga kita buktikan anak siapa ini," ujar Kanza.
__ADS_1
"Tante tahu, aku yang tersiksa disini, bahkan aku belum memberitahukan kehamilanku pada keluargaku. Jika Mami dan Papiku tahu mungkin mereka sudah datang memarahi Ghala, juga Tante. Apa Tante berpikir aku berbohong?"
"Kenapa Tante? Kenapa karena meninggalnya Ghali, Tante sebenci itu padaku, apa salahku Tante?" ucapan Kanza, membuat wanita itu terdiam. Kanza, terus meronta dengan tenaga yang masih tersisa namun, karena keadaannya yang sedang hamil membuatnya lemah, rasa pusing yang di rasakan membuatnya tak mampu lagi untuk berdiri, dalam seketika tubuhnya pun tumbang.