
"Tidak baik wanita menangis." ucap Indra yang memberikan sebuah sapu tangan. Namun Tissa lebih memilih menyapu air matanya dengan tangannya.
"Ada keperluan apa dokter kesini."
"Apa aku boleh duduk." ujar Indra. Tissa tidak menjawab dia hanya menggeser tempat duduknya. Indra pun duduk di sampingnya.
"Apa hubunganmu dengan Amber?" tanya Indra, membuat Tissa menoleh.
"Apa urusanmu."
"Jelas urusanku, Amber adalah tanggung jawabku."
"Bagaimana kau mengenalnya?"
"Pada malam itu ...." Indra menceritakan tentang pertemuannya dengan Amber, saat malam hari, di saat hujan deras mengguyur ibu kota. Jalanan yang sepi, penerangan yang minim membuat Indra tak bisa melihat jalanan dengan benar, apalagi saat itu Indra dalam keadaan tidur.
Di sebuah jalanan yang berbelok, juga gelap tak sengaja Indra menabrak sesuatu. Saat di lihat ternyata seorang gadis yang baru saja di tabraknya. Indra panik lalu membawa Amber ke rumah sakit.
"Aku merasa bersalah, karena telah menabraknya, aku sudah berjanji akan bertanggung jawab, merawatnya sampai sembuh." jelas Indra
"Saat dia sadar, aku bertanya siapa keluarganya? Adakah keluarga yang bisa di hubungi? Aku berencana untuk menghubungi keluarganya, namun Amber tidak mengatakan apa pun, dia bilang tidak punya ayah atau pun ibu." jelas Indra yang membuat dada Tissa semakin sesak. Sebegitu bencikah putrinya itu.
"Apa kau tahu siapa ibunya?"
"Aku ingin mengantarnya pulang, selama ini dia tinggal denganku."
"Dia tinggal bersamamu? Dan keluargamu? Apa istri dan anakmu tidak keberatan."
"Aku tinggal sendiri, aku tidak punya istri atau pun anak."
"Jadi ... kalian tinggal berdua? Satu atap?" Indra melirik ke arah Tissa yang terlihat marah saat tahu Amber tinggal dengannya.
"Apa yang kamu lakukan, apa kamu macam-macam dengannya?"
"Kenapa kamu sangat marah!"
"Karena aku adalah ibunya."
Indra terbelalak, Tissa terlihat sangat marah dan tak terima saat Amber tinggal berdua dengannya.
"Apa maksudmu? Aku melakukan sesuatu?"
"Tidak mungkin kau tidak melakukan apa pun, karena kau adalah laki-laki dewasa, tinggal bersama seorang gadis, Sekarang apa yang kau lakukan pada putriku, kalau kau berani menyentuhnya aku tidak akan mengampunimu."
"Maksudmu aku tidur dengannya?" Indra mendengus kesal, tak terima di fitnah seperti ini.
__ADS_1
"Dengar ya ... aku bukan laki-laki seperti itu, kamu pikir aku akan tergoda dengan gadis kecil? Aku seorang dokter tidak mungkin aku melecehkan seorang gadis."
"Tidak ada laki-laki yang bisa di percaya, mau itu dokter atau bukan, karena jabatan tidaklah menjadi ukuran. Dokter juga bisa saja khilaf dan melakukan kesalahan, karena laki-laki selalu seperti itu setelah melakukan kesalahan dia lari dari tanggung jawab."
Indra diam dan bungkam. Baru kali ini ada wanita yang merendahkannya, dan meragukan kepercayaannya. Sebelumnya Indra selalu menyalahkan wanita, dan tidak percaya wanita karena wanita hanya bisa menyakitinya, namun sekarang Tissa meragukan kejujurannya, Tissa menganggapnya laki-laki hina yang tak bertanggung jawab.
"Terserah, kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanyakan pada putrimu, kalau kamu ingin membawanya pulang silahkan, itu lebih bagus." ujar Indra penuh ketegasan.
"Tidak, dia tidak akan mau pulang denganku."
"Kenapa bukankah kau ibunya,"
"Aku bukan ibu yang baik untuknya."
"Ya itu benar." Tissa dan Indra menoleh ke arah sumber suara yang dimana ada Amber yang berdiri di depan sana.
"Sekarang katakan apa alasanmu membunuh ayahku, Sehingga kamu tega membunuh ayahku."
"Amber."
"Katakan kalau tidak aku tidak akan memaafkanmu." teriak Amber. Tissa bingung apa yang harus dia katakan.
Mengungkap kembali masalalu itu membuatnya sangat sakit. Hari dimana saat Vicky merendahkannya, melemparnya dengan uang dan menghinanya.
"Katakan saja."
Terpaksa Tissa menceritakan semuanya, Tissa menceritakan dari awal dirinya kenapa bisa sampai hamil, dan membunuh Vicky. Walaupun berat namun tidak ada pilihan lain.
flasbsck o
Saat itu Tissa sedang berjalan di depan rumah nya tiba - tiba Tissa di tarik paksa masuk ke sebuah mobil setelah itu di bawa pergi .
Mobil itu berhenti di sebuah apartemen , Tissa di tarik oleh beberapa pria yang membawa nya masuk ke dalam apartemen dan berakhir di sebuah kamar . Ya, kamar itu adalah kamar Vicky .
"Vic, apa yang kamu lakukan ? kamu menculik ku ." pekik Tissa pada Vicky .
"Aku kan sudah bilang, kalau aku tidak bisa mendapatkan Shila kamu lah sebagai ganti nya ."
Deg, Tissa menelan ludah , mata nya membulat sempurna , dirinya menjadi gugup , perkataan Vicky membuat nya takut .
Sedangkan Vicky tersenyum menyeringai , mata nya menatap tajam seperti seekor singa yang akan menerkam mangsa nya .
"Vic, tunggu .. Vic, kita kan teman apa kamu tega melakukan itu ? oke , aku akan bayar semua hutang ku akan aku kembalikan uang 2 milyar itu ." ucap Tissa gugup .
"2 milyar ? gak salah ! Sudah lebih dari 2 milyar aku berikan uang pada mu Tissa ." timpal Vicky .
__ADS_1
"Oke , 3 milyar aku akan kembalikan , tapi tolong kamu jangan lakukan itu pada ku ."
"Oke, aku akan melepaskan mu asal kamu bayar sekarang uang nya ."
"Apa? gila gue harus bayar pake apa ? 3 milyar mana gue punya uang segitu sekarang ." batin Tissa yang gelisah .
"Vic, aku janji akan kembalikan uang itu , tapi tidak sekarang oke , berikan aku waktu ."
"Tidak ada penawaran , kalau kau tidak bisa mengembalikan uang itu sekarang tubuh mu lah sebagai ganti nya ." ucap Vicky tersenyum licik yang berjalan ke arah Tissa .
Tissa menjadi gugup , Tissa berjalan mundur ketika Vicky terus berjalan maju ke arah nya . Senyum Vicky menyeringai mata nya tajam seperti mata elang yang akan menerkam mangsa nya .
Saat ini Vicky benar - benar marah karena gagal mendapatkan Shila untuk kesekian kali nya . Vicky tidak bisa melepaskan Tissa begitu saja , karena untuk kedua kali nya Tissa menjadikan Shila sebagai barang tukar yang Tissa tukar dengan uang . Namun apa yang Vicky dapat kan ? tidak ada ! Tissa selalu mendapatkan uang nya namun Vicky tidak pernah mendapatkan Shila .
Dan Sekarang Tissa harus menanggung akibat nya .
"Vic, aku bisa carikan wanita yang lain yang lebih cantik , lebih dari Shila . Tapi bukan aku.. please Vic, jangan aku ." Tissa semakin ketakutan saat Vicky terus berjalan ke arah nya .
Vicky hanya menyeringai ." Tidak, aku hanya ingin kamu Tissa ." Vicky menatap tajam dan terus berjalan ke arah Tissa dengan tubuh setengah telanjang karena saat itu Vicky hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian pinggang nya.
Tissa berlari dan ingin kabur namun langkah nya terhenti saat pintu kamar itu tidak bisa ia buka , pintu itu sudah di kunci rapat . Tissa berbalik ke arah Vicky dengan tatapan tajam nya saat ini Tissa benar - benar takut .
" Vic,kalau kamu lakukan itu aku tidak akan memaafkan mu ."
Aaa.. teriak Tissa saat Vicky memopong tubuh nya melemparnya ke atas tempat tidur . Vicky langsung mengunci tangan nya dan membuat Tissa berada dalam kungkungan nya . "Vic, kamu gila ya lepaskan Vic, lepaskan ."
"Kamu harus menggantikan Shila untuk ku ." ucap Vicky menyeringai .
Aaaa.. Teriak Tissa saat Vicky mendekap tubuh nya dan Vicky pun melakukan aksi nya . Teriakan Tissa dan tangisan nya tidak Vicky pedulikan akhirnya Tissa pasrah dengan apa yang Vicky lakukan pada nya .
Satu bulan kemudian
Tissa memasuki ruangan dokter kandungan , Tissa berjalan perlahan lalu duduk di depan meja dokter . Tissa menjelaskan semua keluhan yang dia alami dan semua keluhan itu seperti gejala orang hamil .
Sudah sebulan ini Tissa merasakan tidak enak badan , rasa nafsu makan nya berkurang , badan nya sering cepat lelah itu sebab nya akhir - akhir ini Tissa selalu diam diri dalam kamar nya .
Kenapa Tissa memilih berobat ke dokter kandungan ? karena sebelum nya Tissa merasa telat datang bulan selama bulan ini dan Tissa mencoba mencari tahu gejala apa yang dia alami .
Lalu Tissa mencoba mengetes nya dengan testpack ,apa benar dia hamil dan benar saja hasil testpack itu positif menunjukan dua garis merah pada testpack itu . Namun Tissa masih belum percaya sebelum memastikan langsung pada dokter kandungan, dan hari ini Tissa pergi ke dokter kandungan dan hasilnya sungguh mengejutkan , Tissa benar - benar positif hamil .
"Dokter tidak salah kan ? " Tissa mencoba bertanya lagi pada dokter berharap dokter mengatakan hal yang tidak benar.
" Nona Tissa , ini benar hasil test nya menyatakan positif dan sekarang nona Tissa sedang mengandung usia kandungannya sudah jalan 4 minggu ."
Deg, ucapan dokter membuat Tissa terpaku , Tissa tidak bisa menerima kenyataan ini bahwa sekarang dirinya sedang hamil dan usia kandungan nya sudah berjalan 4 minggu .
__ADS_1