Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Mati Suri


__ADS_3

Stella mengerjapkan matanya, yang pertama di lihatnya adalah Joy yang setia duduk di sampingnya. Awalnya Stella merasa heran kenapa ada Joy di sampingnya, namun tubuh Stella masih terasa lemas, jangankan bangun bicara saja tak mampu.


Joy tidak tahu Stella sudah bangun, karena dirinya tertidur mungkin karena semalam Joy tidak tidur sama sekali.


Stella memang marah pada Joy, tapi ... saat melihat wajah Joy Stella tidak bisa marah berlama-lama. Stella berusaha untuk bangun, namun kepalanya terasa sangat pusing, sampai tak terasa tangannya menggengam erat tangan Joy sampai membuat Joy terbangun.


"Stella, kau sudah bangun?" tanya Joy sambil membantu Stella untuk duduk.


"Apa kau mau sesuatu?" tanya Joy yang terus memegangi Stella.


"Kepalaku sangat pusing," ucap Stella yang memegang kepalanya.


"Kau pasti belum makan apa pun, aku akan menyuruh Bi Ijah untuk membawa makanan untukmu lalu kau minum obat ya." Namun bukannya menjawab Stella malah menutup mulutnya, merasa akan ada yang keluar namun ia tahan. Perutnya pun terasa bergejolak.


"Bi ... Bi Ijah, bisa bawakan makanan untuk Stella?" teriak Joy


"Iya Den, sebentar." sahut Bi Ijah yang berada di bawah.


Mmm ... hoek ... hoek ... hoek ...


Joy terbelalak, saat Stella memuntahkan sesuatu ke dalam bajunya, beruntung hanya cairan bening saja yang Stella keluarkan. Stella terkejut, diam terpaku saat melihat baju Joy yang kotor karenanya.


"Maaf." ucap Stella lirih


"Tidak apa-apa, ini bukan masalah." ujar Joy sambil membersihkan bajunya dengan tisu.


"Jangan bangun dulu, berbaringlah aku akan segera kembali." ujar Joy yang melangkah pergi. Stella menurut saja apa yang di katakan Joy Stella kembali berbaring karena kepalanya terasa sangat pusing.


****


Di rumah sakit dokter memberikan kabar bahagia karena Jolie sudah melewati masa kritisnya, dan sekarang sudah di pindahkan ke ruang rawat inap VIP.


Semua orang sangat senang mendengar kabar ini, terutama Shila dan Nyonya Endra. Walaupun belum sembuh total, Jolie sudah siuman dan sadar.


"Syukurlah sekarang Jolie sudah sadar, Kapan Jolie bisa pulang dok?" tanya Shila pada Indra.


"Kalau sudah pulih total esok lusa juga bisa pulang, namun tetap harus kontrol tiap minggu."


"Ya, semoga saja." ucap Shila yang terharu karena Jolie akhirnya sudah sadar.


"Saya sangat bersyukur, tuhan masih memberikan kesempatan dan keajaiban, setelah Jolie sempat di nyatakan meninggal."


"Apa?" Semua orang syok, terutama Shila dan Nyonya Endra mendengar kabar ini, masalahnya tidak ada yang pernah memberitahunya tentang ini. Shila dan Nyonya Endra mendadak lemas, saat mendengar cerita dari Indra, Shila dan Nyonya Endra saling pandang, lalu tersenyum dan berpelukan.


"Terimakasih karena berkat Elang Jolie akhirnya bertahan." ucap Shila yang memeluk Nyonya Endra.


"Aku, yang seharusnya berterima kasih, karena kau telah memberikan putrimu pada kami, Jolie membuat hari-hariku ceria, dan bahagia." ucap Nyonya Endra. Suasana menjadi haru, Sedangkan Elang setia menemani Jolie di dalam.


Elang menceritakan semuanya pada Jolie, saat semua orang panik karena Jolie dinyatakan meninggal. Namun Elang tidak mengatakan saat dirinya mengatakan cinta.


"Benarkah? Aku sempat meninggal?"


"Apa kau juga sedih saat aku meninggal?" tanya Jolie pada Elang.


"Untuk apa aku sedih?" sanggah Elang


"Karena kau orang yang paling menyebalkan padaku, beruntung aku tidak jadi mati kalau aku mati orang yang pertama aku hantui adalah kamu."


"Justru aku senang jika kau tiada, tidak ada lagi yang merepotkan ku."

__ADS_1


Bugh, "Aww " Jolie memukul pundak Elang, walaupun keadaannya lemah Jolie masih sempat-sempatnya memukul.


"Kau ini, tidak sekarat, tidak sakit, tidak sehat hobi sekali memukulku."


"Abis kau menyumpahiku."


"Kau ini benar-benar gadis purba ya."


"Siapa gadis purba?" tanya Kanza yang tiba-tiba masuk, bersama Kenzo dan Kenzie.


"Kakak, aku senang kakak sudah sadar? Oh iya kak Anna juga sudah kembali sekarang sedang di perjalanan." ujar Kanza setelah memeluk Jolie.


"Hai kakak ipar?" sapa Kanza yang melambaikan tangan pada Elang, Elang hanya membalas dengan senyuman.


"Kak, kami dengar kakak sempat mati?" tanya Kenzo Jolie pun mengangguk.


"Oh iya, itu berarti kakak mati suri, apa kakak melihat hal yang aneh?" tanya Kenzie antusias


"Aneh? Maksudmu?" tanya Jolie


"Biasanya orang yang mati suri, bisa melihat hal-hal yang tak kasat mata, apa kakak melihat hantu disini?" tanya Kenzie kembali.


"Benarkah, tapi aku tak melihat apa pun."


"Coba saja, pejamkan mata dan fokuskan pikiran." ujar Kenzie Jolie pun menurut saja apa kata adiknya. Jolie menutup mata dengan kedua tangannya, setelah 5 menit Jolie membuka matanya, Kenzie, Kenzo dan Kanza menatap penuh penasaran, "Apa kakak melihat sesuatu?" tanya Kenzie


"Katakan kak?" ujar Kenzo


"Apa itu di sampingku, di belakangku, atau ...." ucap Kanza tertahan.


"Ya ... dia di sampingmu, orangnya tinggi, muka pucat, matanya sangat tajam." ujar Jolie menakutkan.


"Laki-laki, dia berada di sebelah kirimu."


"Maksudmu aku?" ujar Elang yang tersinggung. Jolie hanya terkekeh,


"Aku kira benar." ujar Kenzie, Kenzo, dan Kanza dengan nada lemah.


"Oh iya, kak Joy belum tahu tentang ini, aku akan menelponnya." ujar Kanza yang langsung menghubungi Joy.


****


Joy berdiri di depan cermin, menatap wajahnya pada pantulan cermin. Joy sudah membuka kemejanya, Joy hanya bertelanjang dada, tubuhnya yang atletis, perut seperti roti sobek, dan otot-otot yang tercipta pada lengannya. Membuat Joy terlihat gagah.


"Apa sebenci itukah Stella padaku, sampai memuntahiku." gumam Joy lirih.


Drt ... drt ... drt ...


Ponsel Joy bergetar menandakan ada panggilan masuk. Joy pun merogoh ponselnya di dalam saku celananya.


"Kanza." ucapnya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Halo kakak." Suara Kanza begitu nyaring


"Ada apa?" tanya Joy dingin.


"Kakak aku punya kabar bahagia, Kak Jolie sudah sadar."


"Jolie sudah sadar? Kapan?"

__ADS_1


"Tadi, kakak kesinilah ajak kak Stella juga, kak Anna juga akan datang."


"Aku senang mendengarnya Jolie sudah sadar, tapi aku tidak bisa datang."


"Kenapa?"


"Stella sakit, jadi aku tidak bisa meninggalkannya,"


"Kak Stella sakit? Sakit apa kak? Apa sakitnya parah?"


"Tidak, tidak parah. Salamkan pada Jolie, maaf aku tidak bisa datang hari ini"


"Iya kak, semoga kak Stella cepat sembuh."


"Makasih doanya."


"Bye kakak."


"Bye." Tut ... tut ... sambungan telepon pun di tutup.


Setelah menutup telepon Joy kembali, ke kamar Stella. Joy tidak melihat Stella di atas ranjangnya, Joy cukup kaget karena Stella menghilang, lalu Joy mendengar suara gemercikan air di dalam kamar mandi, tak lama kemudian Stella pun keluar. CKEK!!


Stella keluar dari dalam kamar mandi, wajahnya terlihat pucat, tubuhnya terlihat lemas. Joy melempar kemejanya kesembarang tempat, lalu berjalan ke arah Stella, Joy langsung menggendong tubuh Stella lalu menidurkannya kembali di atas ranjang.


"Aku, kan sudah bilang jangan bangun, apa kepalamu masih pusing? Minumlah obat dulu." ujar Joy yang memberikan obat pada Stella lalu di minumnya. Stella tak berbicara apa pun, Stella masih sangat marah.


"Apa kau masih marah padaku? Stella aku bisa jelaskan, aku tidak ingin kau salah paham."


"Tak perlu di jelaskan, aku sudah tahu. Kamu pergi makan malam, kan, aku tak sengaja membaca pesan dari Sharoon."


"Aku terpaksa, karena yang lain mengajakku, aku tidak bisa menolak ajakan komandan."


"Komandan?"


"Iya, kenapa? Kamu pikir aku makan malam hanya berdua? Kami makan bersama para anggota polisi lainnya."


"Tapi, setidaknya kamu menelponku, bukannya Sharoon."


"Apa?"


"Sudahlah, aku tak perlu penjelasan apa pun, aku tidak marah, aku juga tidak cemburu, bukankah kamu yang bilang untuk bersikap profesional, kan. Aku mengerti kamu dengan wanita itu hanya teman kerja, atau teman dekat aku tidak tahu, yang jelas dia sudah berani meminta izin dariku untuk pergi bersamamu." Joy semakin di buat bingung oleh ucapan Stella, Joy mengambil ponsel Stella dan memeriksanya. Joy terbelalak saat membaca pesan dari Sharoon, dia begitu lancang. Sekarang Joy sangat tahu kenapa Stella sangat marah.


"Dari mana Sharoon tahu nomormu?"


"Tanya saja padanya." ucap Stella ketus.


"Kamu pulang saja, dan pakailah baju daddyku, aku tidak akan pulang, aku akan tinggal disini."


"Stella,"


"Biarkan aku sendiri."


"Stella."


"Kamu pikir, hatiku tidak sakit saat melihat suami sendiri berduaan di dalam mobil, bersama wanita lain, tanpa ada kabar? Dan saat kau melihatku kau juga tidak menyapaku sama sekali."


"Aku pikir, aku tidak akan siap untuk mempunyai anak darimu, apa aku memaksamu Joy, jika kau memang bahagia bersama wanita itu, lebih baik kita sudahi saja." Joy sangat marah mendengar Stella mengucapkan itu. Joy menarik tubuh Stella lalu mengecup bibirnya, sampai tidak memberikan nafas untuk Stella.


Mmm ... Stella mencoba berontak, namun tangan Joy sangat kuat memeluknya.

__ADS_1


"Kau boleh marah padaku, tapi jangan mengatakan itu padaku." ucap Joy demikian.


__ADS_2