
Rumah sakit.
Indra duduk termenung, sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi. Manik matanya menatap atap langit ruangan, pikirannya begitu kosong. Indra terus terbayang dan terpikirkan ucapan Shila kemarin.
Apa benar aku jatuh cinta?
Apa aku harus memulai hidup baru?
Apakah Tissa wanita yang tuhan berikan untukku?
Indra terus bergulat dengan hatinya, Indra masih belum mengerti apa yang di rasakan-Nya. Tapi jujur, Indra merasa nyaman saat dekat dengan Tissa, berawal dari perdebatan, rasa iba, dan masalalu yang hampir sama. Sama-sama disakiti dan dilukai.
Tok ... tok ... tok ...
Suara pintu mengejutkan lamunannya. Indra yang tadinya termenung langsung berdiri dan melangkah maju ke arah pintu untuk membukanya.
Cklek,
"Indra?" Panggil seorang wanita.
Indra terkejut sangat terkejut melihat siapa yang datang. Namun sikap Indra biasa-biasa saja, Indra mencoba tenang dan menatap wanita di depannya tanpa ekspresi.
Apa rencana tuhan! Kenapa setelah bertahun-tahun lamanya Indra di pertemukan lagi dengan wanita yang pernah menyakitinya, bahkan menodai cinta sucinya.
"Indra." Kinan menghentikan Indra yang akan menutup pintunya kembali.
"Ada apa?" tanya Indra datar.
"Aku ingin minta maaf." ucap Kinan demikian.
Indra memalingkan muka.
"Setelah 15 tahun lamanya, kamu kembali untuk minta maaf, aku tidak ada waktu bicara denganmu lebih baik kau pergi." titah Indra tanpa melihat kearah Kinan.
"Indra tunggu, aku tahu aku salah, aku sangat menyesal jujur, aku tidak bisa hidup tanpa kamu Indra." ucap Kinan yang menghambur memeluk Indra dari belakang.
"Maaf, aku tidak mengenalimu."ucap Indra yang melepas pelukan Kinan lalu melangkah pergi.
Kinan diam mematung, menatap kepergian Indra, Kinan tak percaya Indra mengatakan itu.
"Indra aku tahu, kamu masih mencintaiku itu sebabnya kamu tidak pernah menikah lagi." ucap Kinan yang menahan amarah.
****
Amber sedang menemani Tissa di taman, karena kondisi Tissa sudah lebih baik dan Amber mengajak Tissa jalan-jalan ke taman rumah sakit.
"Kita berhenti disini ya Mah." ujar Amber yang berhenti mendorong kursi roda yang di naiki Tissa.
"Bagaimana sekolahmu? Apa hari ini kau tidak sekolah?" tanya Tissa
"Hari ini aku libur, aku ingin menemani Mama disini, aku tidak mau merepotkan paman dokter terus yang menjaga Mama setiap malam."
"Benarkah? Kalau begitu Mama harus berterima kasih, karena sudah merepotkannya."
"Sekarang aku tinggal di rumah tante Shila, sebenarnya aku tidak nyaman tapi aku tidak bisa menolak ajakan tante Shila." ucap Amber yang menunduk sedih.
"Setelah Mama sembuh kita akan kembali tinggal bersama." ujar Tissa yang menggenggam tangan Amber membuat Amber tersenyum.
"Maaf, maafkan sikapku selama ini." ucap Amber.
__ADS_1
"Untuk apa meminta maaf kau tidak salah aku yang salah, maafkan aku." Amber dan Tissa pun saling berpelukan.
Tiba-tiba Amber merasa perutnya bergejolak, melilit seperti ada yang ingin di keluarkan.
"Mama aku permisi ke toilet sebentar, perutku mulas."
"Pergilah."
"Aku antar Mama dulu ke kamar ya!"
"Tidak usah, Mama menunggu di sini, kamu pergi saja sana."
"Ya sudah, aku tinggal sebentar ya Mah." Amber pun berlari pergi menuju toilet.
Tissa hanya diam, sambil melihat orang-orang berlalu lalang. Tissa merasa bosan, lalu manik matanya tertuju pada setangkai bunga di depannya. Tissa menjalankan kursi rodanya untuk lebih maju dan mendekati tanaman bunga di depannya, tangan Tissa mulai di angkat ke atas untuk menggapai bunga itu namun, karena bunganya terlalu tinggi Tissa susah menggapainya, sampai akhirnya ada seseorang yang mengambilkan bunga itu untuknya.
"Kalau kau tidak bisa, minta tolonglah pada orang lain." ujar seorang pria yang tak lain adalah Indra. Indra memberikan bunga itu pada Tissa.
"Terima kasih." ucap Tissa yang menghirup wangi bunga di tangannya.
"Kau suka bunga?"
"Menurutku semua wanita menyukainya. Aku tidak sengaja melihat bunga ini, aku jadi ingin mengambilnya." ucap Tissa sambil memainkan bunga di tangannya.
"Kau sendiri dimana Amber?"
"Pergi ke toilet sebentar."
"Ouh."
"Oh ya Dokter, terima kasih karena sudah menjagaku setiap malam, aku dan Amber selalu merepotkanmu."
Tanpa mereka ketahui di ujung lorong sana ada seorang wanita yang memperhatikan mereka, dia adalah Kinan, yang sudah terlihat marah dan cemburu saat melihat Indra tersenyum bahagia bersama Tissa. Mungkin bukan hanya Kinan namun semua wanita yang melihatnya pasti cemburu karena Indra adalah dokter yang paling tampan,dan terkenal di rumah sakit itu, tak sedikit dari beberapa perawat wanita disana yang mendambakannya dan berharap menjadi istrinya, walaupun Indra seorang duda dan usianya yang tak muda lagi.
"Permisi aku angkat telepon dulu." ujar Indra yang mendapat telepon.
"Iya silahkan." ujar Tissa, Indra pun menjauh sebentar dari Tissa untuk mengangkat telepon.
Tiba-tiba Kinan sudah berada di hadapan Tissa, Kinan menatapnya dengan sorot mata yang tajam penuh kemarahan. Tissa yang tak mengenali Kinan hanya menatap Kinan tanpa ekspresi.
"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu." ujar Tissa yang tak suka di tatap tajam oleh Kinan. Kinan tak menjawab, dia malah mengambil bunga dari Tissa lalu membuangnya dan menginjaknya.
"Hei siapa kau, tiba-tiba mengambil bungaku lalu membuangnya apa kau waras." hardik Tissa yang tak terima perlakuan Kinan.
"Kau tak terima bungamu ku ambil, begitu juga aku yang tak terima karena kau mengambil suamiku."
"Suami?" Tissa merasa heran.
"Apa kau tahu Indra itu milikku, karena kau Indra tak peduli lagi padaku."
"Apa! Bukankah Indra itu tidak punya istri, bukankah istrinya menikah dengan laki-laki lain?"
"Ya, aku adalah istrinya yang dulu meninggalkannya, tapi itu dulu sekarang aku dengan Indra akan kembali bersama, karena aku tahu Indra masih mencintaiku."
"Kau yakin? Justru Indra sangat benci padamu, karena ulahmu Indra tidak pernah ingin menikah dan tak percaya cinta, karena kamu telah mengkhianati cintanya."
Plak,
Bukk,
__ADS_1
Satu tamparan Kinan layangkan pada Tissa sampai Tissa terjatuh dari kursi rodanya. Tissa meringis karena rasa sakit pada perutnya juga tangan dan kakinya yang tergores krikil-krikil batu kecil di taman.
"Mama." teriak Amber yang melihat Tissa terjatuh. Tak hanya Amber tapi semua orang yang ada di taman melihat itu termasuk Indra yang baru saja menutup teleponnya.
Indra berjalan penuh amarah, matanya menyorot tajam ke arah Kinan yang kini menatap tajam ke arah Tissa.
Plakk,
Satu tamparan mendarat di pipinya, Kinan terkejut sambil memegang pipinya yang perih karena tamparan Indra. Tissa sedikit terkejut, mulutnya menganga saat Indra menampar Kinan di hadapan semua orang, dan kini mereka jadi tontonan.
"Indra kau menamparku,"
"Pergi dari sini atau ku seret kau keluar," kecam Indra lalu menunduk untuk membantu Tissa bangun.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Indra
"Tidak apa-apa, hanya luka sedikit." jawab Tissa yang merasa siku tangannya terluka begitupun dengan Indra yang melihat lukanya.
"Mama, apa Mama tidak apa-apa?" tanya Amber yang begitu khawatir.
"Amber bawakan kursi rodanya, aku akan membawa Mamamu lukanya harus segera di obati."
"Iya dokter."
Indra pun menggendong Tissa ala bridal style, menuju kamar rawatnya. Perlakuan Indra menjadi pusat perhatian semua orang terutama tiga sahabatnya.
Mereka terlihat senang dan heboh pastinya.
"Ouh lihat itu, aaaa ... ini tanda-tanda bahwa mereka berjodoh." teriak Lira
"Sepertinya." ucap Arman mangut-mangut.
"Dua hari lagi waktu kita habis, tapi ku yakin dokter Indra akan kalah." ujar Nita
"Ya, benar. Besok hari terakhir semoga dokter Indra menyatakan cintanya." ujar Lira yang mengangkat kedua tangannya untuk memohon.
"Pasti, kalau itu terjadi."
"Liburan kita sudah tiba yeay ...." Sorak Lira, Nita dan Arman.
Kembali ke taman
Amber sangat marah, Amber tidak segan-segan menjambak rambut Kinan yang sudah membuat ibunya terjatuh bahkan menamparnya. Kinan dan Amber saling bergulat.
...----------------...
Jangan lupa klik like dan vote setelah membaca 🥰
Yang juara 1,2 dan 3 akan dapat hadiah ya 🥰
Mampir juga yuk ke nove
l temanku gak kalah seru juga loh🤗
__ADS_1