
Sesaat sebelumnya
Kenzo merasa marah karena mendapati Lusi yang tergeletak di jalanan, dengan darah yang mengucur di sekujur tubuhnya. Kenzo pergi ke tempat dimana terakhir kali menemukan Lusi. Kenzo, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut, sampai akhirnya Kenzo menemukan kamera cctv yang mengarah kejalanan yang dimana Lusi berada. Kenzo, pun langsung meminta pihak fakultas universitas untuk memperlihatkan rekaman cctv.
Pada rekaman cctv itu memperlihatkan sebuah mobil yang sengaja menabrak Lusi dari belakang. Dan, ternyata mobil itu adalah mobil yang sama dengan mobil yang hampir menabrak Kenzo saat itu. Kenzo, masih ingat betul warna, bentuk dan plat nomornya, karena ingatan Kenzo, sangat kuat. Dengan penuh amarah Kenzo, mengubungi temannya yang ternyata ketua geng mafia, Kenzo meminta bantuan pada temannya untuk mencari Roy. Dan Kenzo, tidak lupa melacak keberadaan Roy saat itu. Kenzo pun menemukan Roy, berada di sebuah club malam, detik itu juga Kenzo, langsung pergi ke club, di temani para anggota mafia.
****
Roy, di seret ke dalam mobil, untuk di serahkan ke kantor polisi. Kenzo, ingin Roy, di hukum seberat-beratnya.
Tak hanya Roy, yang mendapat hukuman. Kecelakaan Lusi, sudah sampai ke telinga Vero, Kenzo pun memberitahukan siapa Roy, yang mencoba membunuh Lusi. Akhirnya Vero mengetahui siapa ayah dari Roy.
Roy Alexandria, anak seorang pengusaha tekstil di ibu kota, yang cukup maju dan pesat. Dalam seketika saham perusahaannya menurun, karena kabar Roy, yang menjadi narapidana sudah tersebar luas dan di ketahui banyak orang.
Tak, hanya itu Vero, juga membuat perusahaan tekstil itu hancur dalam seketika, hingga perusahaan itu jatuh dan tak mungkin bangkit lagi. Roy, benar-benar menyesal tapi penyesalannya itu sudah terlambat, ayah dan ibunya bahkan tidak ingin lagi melihat Roy, yang sudah mempermalukannya, dan membiarkan Roy, mendekap di dalam penjara.
****
Hari-hari sudah berlalu, Lusi masih berbaring lemah di ruang ICU, dengan badan di penuhi alat medis, dan kepala yang di lilit kain putih. Zeni, orang yang paling terpukul dalam hal ini, karena harus melihat putri semata wayangnya lemah tak berdaya.
Apalagi di saat dokter mengatakan, jika Lusi, mengalami luka parah di kepalanya. "Amber, bagaimana keadaan Lusi?" tanya Tissa, karena Amber sudah berada di rumahnya.
"Belum ada perkembangan Mah," jawab Amber. Tissa dan Amber terlihat sangat sedih, dan ikut berduka. Karena bagaimana pun Lusi dan Zeni sudah di anggap seperti saudaranya.
"Semoga Lusi, segera sembuh ya sayang,"
"Iya Mah." Jawab Amber dengan anggukan. Amber, pun pergi melangkah ke dalam kamarnya, tugasnya sebagai seorang dokter, sangatlah berat dan juga sangat melelahkan.
Amber, berjalan menuju sebuah nakas di dalam kamarnya, Amber, mengambil sebuah foto laki-laki yang begitu manis dan tampan. Amber menatap foto itu dalam-dalam, hingga bulir-bulir air mata pun menetes tanpa di inginkan. Amber mendekap erat foto itu, mengisyaratkan bahwa Amber, sangat merindukan sosok lelaki yang ada di dalam foto itu.
Flashback on
Amber, pernah mengalami masa-masa sulit. Yang tak pernah ia bayangkan. Amber, hampir saja menyerah dan tidak ingin lagi menjadi seorang dokter karena suatu peristiwa yang tak pernah ia lupakan.
"Dokter, ada pasien darurat." ujar seorang perawat.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Amber.
"Entahlah, aku tidak tahu apa dia akan selamat atau tidak. Dia korban tabrak lari, motornya di tabrak oleh sebuah container, keadaannya sungguh sangat mengkhawatirkan," jelas seorang perawat. Amber, pun segera berlari ke ruangan darurat yang dimana korban kecelakaan itu berada.
__ADS_1
"Dokter Amber, sudah datang." ujar seorang Dokter.
"Dimana pasiennya, biar saya cek," ujar Amber.
"Ini, Dok," ujar seorang Dokter, yang menunjuk ke sebuah ranjang pasien di sampingnya.
Tubuh Amber mendadak lemas, dia sangat tekejut, ketika melihat siapa korban kecelakaan itu. "Dokter," ujar seorang perawat, yang menahan tubuh Amber, yang terkulai lemah.
"Ini, tidak mungkin." ucap Amber, lirih.
Amber, sangat terpukul dan juga syok, saat tahu korban kecelakaan itu adalah Ghali, seorang lelaki yang sangat ia cintai. Amber, tak sanggup melihatnya bahkan air matanya tak mampu terbendung.
Sesaat sebelumnya, Amber, dan Ghali, masih sempat berbicara dalam sambungan telepon. Amber, terlihat bahagia begitu pun Ghali.
"Dokter cintaku sedang apa? Apa kau sibuk?" tanya Ghali pada sambungan telepon.
"Lumayan, aku baru saja selesai melakukan operasi."
"Oh, begitu. Amber, aku harus mengatakan ini."
"Apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Maaf, Ghali sepertinya aku tidak bisa. Aku sebenarnya ingin ikut, tapi ...." ucap Amber tertahan.
"Aku, mengerti. Pacarku ini adalah dokter yang sangat sibuk. Pasien lebih penting dari pada aku."
"Ghali ...."
"Jangan bersedih aku tidak marah padamu, kita bisa pergi ke puncak kapan saja, kan! Aku, mengerti keadaanmu dan tugasmu sebagai dokter."
"Maaf," ucap Amber dengan suara marau.
"Untuk, apa meminta maaf. Sudah, jangan merasa bersalah dan sedih. Apa sekarang kamu sedang rehat?" tanya Ghali.
"Hm ... iya sih! Sekarang aku sedang tidak ada praktek, aku ingin rehat sejenak. Memangnya ada apa?"
"Tunggu aku, aku akan datang menemuimu."
"Kau akan datang kemari? Bukannya kau akan pergi."
__ADS_1
"Ya, aku akan pergi. Tapi ... sebelum pergi aku ingin bertemu denganmu dulu. Aku merindukanmu, aku ingin memelukmu untuk terakhir kali."
"Apa maksudmu terakhir kali! Apa, kamu tidak akan kembali dari puncak? Kamu akan meninggalkanku."
"Bukan begitu, aku akan pergi walaupun sebentar tetap saja, aku tidak bisa menahan rindu ini."
"Baiklah, pacarku yang tampan. Aku, tunggu sekarang kalau kau tidak datang aku akan marah padamu."
"Aku, berangkat sekarang i love you,"
"I love you to."
Sambungan telepon pun di tutup.
Ghali, memajukan motornya begitu cepat, di tengah jalanan yang cukup sepi, dan penerangan yang sangat minim, membuat jalanan sedikit gelap. Namun, Ghali tetap melajukan mobilnya sangat cepat, sampai tiba di sebuah bundaran sebuah container melaju zigjug ( berseok-seok) di tengah jalan, si supir sangat mengantuk dan tak melihat jalanan dengan benar.
Sampai tiba, di bundaran si supir tak melihat sebuah motor yang melaju cepat di depannya hingga kecelakaan pun tak bisa di hindari. Motor yang di laju, kan Ghali terlindas sampai motor yang Ghali gunakan masuk kedalam kolong container.
Di tempat lain, Amber sudah menunggu dengan gelisah, karena Ghali tak kunjung datang, sampai akhirnya seorang perawat memanggilnya karena ada pasien darurat yang ternyata pasien itu adalah Ghali.
Amber, terisak bahkan Amber, tak mampu melakukan operasi pada Ghali, sampai Indra sang papa yang mengambil alih. Indra, tahu hubungan Ghali dan Amber seperti apa, jadi Indra, mengerti bagaimana perasaan putrinya.
Namun, kesedihan Amber, tidak hanya sampai di situ, Amber kembali terpukul, karena nyawa Ghali tidak bisa di selamatkan.
Aaaaa ...
Amber, berteriak, Amber menangis sejadi-jadinya, sampai akhirnya Amber, pun pingsan.
Flashback off
"Kenzo, aku merasakan apa yang kamu rasakan saat ini. Karena aku pernah berada dalam posisimu." ucapnya demikian.
"Aku akan berusaha, semampuku agar Lusi, segera sadar dan melewati masa kritisnya." Lanjut Amber.
...----------------...
Jangan lupa untuk like dan Votenya
Komentarnya juga ya 🙏😊 agar thor tetap semangat up nya
__ADS_1