Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Paman atau Papa?


__ADS_3

Semua orang terkejut melihat Tissa datang. Tissa berjalan ke arah Jolie seraya tersenyum. Jolie masih tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Tissa, apalagi mendengar Tissa telah berubah rasanya Jolie ragu.


Kalau mengingat masa kecil jadi pengen ketawa gimana gitu ... Jolie mengingat saat dirinya masuk ke dalam kamar Tissa dan mengobrak-abrik semua barang yang ada, semua pakaian Tissa dia coba walaupun kedodoran. Jolie masih ingat gimana marahnya Tissa saat itu, namun Jolie juga tidak lupa hal yang Tissa juga Rani lakukan, Jolie masih mengingat itu saat mereka akan memberikan suntikan mati untuk kakeknya Adithama, yang membuat kakeknya buta dan tak berdaya.


Mereka mengambil semua aset keluarga, mengusir Shila dengan tidak hormat, benar-benar kehidupan yang sangat pahit, kenangan buruk yang tidak akan pernah di lupakan, Tissa dan Rani benar-benar sangat jahat. Tapi ... sejahat-jahatnya manusia pasti akan berubah, walaupun masih ada keraguan dalam hati setidaknya berikan kepercayaan dan yakin orang itu akan berubah.


"Jolie, apa kabar? Masih ingat dengan tante?" ujar Tissa yang sudah mendekat.


"Aku tidak akan pernah lupa dengan semua yang telah tante lakukan pada keluargaku." ucap Jolie yang memalingkan wajahnya dari Tissa. Bagaimana pun juga, Tissa sudah menghancurkan kehidupan keluarganya.


"Aku tahu, kamu tidak suka melihatku, aku paham akan hal itu. Tapi aku sudah benar-benar berubah sekarang, percaya atau tidak inilah diriku yang sekarang. Aku menyadari semua kesalahanku, aku telah menerima hukumannya." ucap Tissa membuat Jolie tertegun.


"Selama menjalani hidupku aku tidak pernah bahagia, tidak pernah merasakan ketenangan, dan aku merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang tak di anggap. Semua yang Mamimu alami telah aku alami juga, aku sudah mendapatkan karmanya."


"Aku hidup di negri orang, aku mengandung, melahirkan, dan membesarkan putriku sendiri. Tidak ada suami yang menemaniku hanya mama yang selalu ada untukku. Saya sudah merasakan bagaimana sulitnya hidup kalian dulu, saat tinggal di negri orang tanpa seorang ayah." ucap Tissa yang menyapu air matanya.


"Tante sudah punya anak?" Tissa mengangguk


"Tapi kenapa tidak bersama suami tante? Apa karena tante jahat jadi suami tante meninggalkan tante."


"Jolie." Sanggah Anna, yang tidak enak hati dengan ucapan Jolie.


"Tante maafkan Jolie."


"Tidak apa-apa, wajar saja kalau kalian membenciku."


"Tapi tante, dimana suami tante?" Tissa hanya diam saat mendapat pertanyaan dari Anna.


"Apa Amber sudah ketemu?" tanya Joy datar, seolah mengalihkan pembicaraan.


"Belum, mungkin Amber tidak mau lagi bertemu denganku, aku bukan ibu yang baik."


"Jangan berkata begitu, mungkin kita bisa bantu, apa tante punya foto Amber?" tanya Anna, Tissa pun mengangguk lalu memperlihatkan foto Amber pada semua orang.

__ADS_1


"Anak ini." ucap Dokter Nita yang terkejut. "Aku pernah melihatnya." lanjut Nita, semua orang menoleh kearah Nita.


"Dimana? Dimana kamu melihatnya?" tanya Tissa .


"Anak ini pernah di rawat disini, dia korban kecelakaan." Tissa sangat terkejut mendengar Amber adalah korban kecelakaan.


"Dimana putriku sekarang, aku ingin bertemu dengannya,"


"Tapi dia sudah tidak ada disini, dia sudah lama keluar dari rumah sakit ini." ucapan Nita membuat Tissa tak bersemangat lagi.


"Dokter, apa dokter tahu siapa yang membawanya pergi atau siapa yang menjemputnya?" tanya Anna


"Saya tidak tahu, nanti aku coba tanyakan pada dokter Arman soalnya dokter Arman yang menanganinya." ujar Nita karena saat itu Nita tahunya Arman yang mengobati Amber bahkan tidak ada yang tahu kalau Indralah yang telah menabrak Jolie.


****


Amber diam terpaku, pandangan matanya menyapu setiap sudut bangunan, juga lingkungan yang bersih, Amber melihat sekeliling sekolah itu, yang akan menjadi sekolah barunya. Walaupun tak semewah dan tak sebesar sekolahnya yang dulu, namun Amber senang bisa melanjutkan sekolahnya lagi. Setidaknya di tempat ini tidak ada yang mengenalinya dan tidak ada yang tahu masalalunya. Semua murid disini sibuk dengan tugas mereka, tanpa membicarakan orang lain, mungkin di sekolah ini yang akan di bicarakan hanyalah soal alat medis, dan ilmu kedokteran, karena sekolah ini adalah sekolah kesehatan walaupun bukan keinginannya tapi Amber akan mencoba dan belajar, Amber tidak ingin mengecewakan orang yang selama ini baik padanya.


"Amber." panggil Indra.


"Aku sudah mendaftarkanmu, mulai besok kamu akan sekolah disini, apa kamu suka dengan sekolah ini?"


"Ah ... iya, sekolahnya juga bagus tapi ... aku tidak mengerti hal-hal yang bertentangan dengan medis itu bukan jurusanku."


"Semua orang belajar, kamu juga harus belajar nanti juga akan terbiasa, aku akan mengajarimu juga di rumah. Setidaknya kamu punya tujuan setelah lulus nanti, kamu akan menjadi seorang dokter, pekerjaan yang sangat mulia, aku hanya ingin kamu punya masa depan yang bagus." ujar Indra


"Makasih dokter."


"Sekarang isi dulu formulirnya." ujar Indra yang memberikan selembar kertas pada Amber. "Kau isi formulirnya aku akan segera kembali." lanjut Indra lalu pergi meninggalkan Amber yang duduk di kursi depan kelas. Dengan khusu Amber menulis isi biodatanya, namun Amber terlihat bingung saat mau menulis nama wali murid. Amber bingung apa harus mencantumkan nama Tissa atau tidak, lalu siapa nama ayahnya apa Amber harus tulis Vicky? Amber masih bingung.


"Apa sudah selesai?" tanya Indra yang sudah kembali.


"Belum." Amber menggeleng..

__ADS_1


"Kenapa belum?"


"Aku bingung menulis siapa waliku."


"Tinggal tulis saja nama ibu dan ayahmu apa kamu lupa?" Amber diam sejenak, lalu mengisi nama ibu dengan nama Tissa.


"Ini, aku sudah mengisinya." Amber memberikan formulir itu pada Indra, lalu Indra menyerahkan kembali ke pihak sekolah. Setelah beberapa saat Indra pun kembali.


"Mulai besok kamu bisa mulai sekolah, sekarang kita belanja keperluan sekolahmu." ujar Indra yang melangkah meninggalkan Amber menuju mobilnya.


"Dokter tunggu."


"Ada apa?"


"Dokter, kenapa dokter baik sekali padaku? Sampai dokter mendaftarkan aku ke sekolah ini. Sekolah kedokteran, kan sangat mahal aku juga bukan siapa-siapa dokter."


"Anggap saja aku keluargamu," ucap Indra.


"Dokter, apa aku boleh memanggil mu papa." Indra terdiam, dia bengong, baru kali ini ada yang memanggilnya papa.


Aku merasa tua, di panggil papa. Ayolah Indra ... kamu memang sudah tua, Apa begini rasanya punya anak." batin Indra.


"Kalau keberatan, tidak apa aku panggil paman saja." ujar Amber.


"Memangnya kenapa kamu ingin memanggilku papa? Jujur kamu orang yang pertama kali memanggilku papa."


"Aku tidak ingin orang-orang salah paham, apalagi dokter, kan tinggal sendiri laki-laki, sedangkan aku gadis, nanti kalau orang berpandang buruk bagaimana?"


"Iya juga ya." batin Indra.


"Aku panggil paman saja ya, jadi kalau ada yang nanya aku jawab kalau aku keponakan paman, boleh, kan paman?"


"Terserah kau saja, ayo masuk." titah Indra saat membuka pintu mobil. Amber pun masuk ke dalam mobil, Indra mengambil alih kemudi lalu menancap gas melajukan mobilnya meninggalkan sekolah itu.

__ADS_1


Sepanjang jalan Indra memikirkan perkataan Amber. Apa yang Amber katakan memang benar, Indra membawa seorang gadis untuk tinggal di rumahnya, sedangkan Indra seorang pria lajang tidak beristri. Walaupun maksud Indra baik tetap saja itu akan mendatangkan fitnah untuknya dan juga untuk Amber. Apalagi Amber sudah di sebut gadis dewasa.


__ADS_2