
Joy sibuk berkutat dengan alat dapur, pertama Joy mengenakan celemeknya yang masih mengenakan pakaian kerjanya. Joy mengikat tali celemek ke belakang, lalu melipat lengan kemejanya sampai ke siku. Walaupun mengenakan celemek itu tidak membuat ketampanan Joy luntur, bahkan membuat aura ketampanannya semakin muncul.
"Owh sugar daddy." cibir Jolie juga Anna. Mereka menertawakan Joy, Anna dan Jolie tidak pernah membayangkan Joy yang dingin, cuek, dan kaku akan berpakaian seperti ini memakai celemek dan memegang alat dapur.
"Ayo Joy semangat, buat kue itu sangat mudah, tak seperti meretas akun." cibir Jolie
"Diam kau." bantah Joy yang merasa terejek.
"Hay guys ... lihat nih kakak aku tampan, kan! Sekarang kak Joy mau buat brownies untuk istri tercinta uh ... so sweet banget, kan guys ...."
"Kanza apa yang kau lakukan,"
"Aku lagi bikin story di instagram kak."
"Hapus, kalau tidak akun kamu aku retas." ancam Joy.
"Issh ... kakak." Kanza merajuk kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Joy cepat buatnya, nanti Stella marah lo ... kalau kuenya gak jadi-jadi."
"Diam kalian." bentak Joy membuat ke lima saudaranya tertawa.
Joy mulai membuat adonan dengan mengocok telur terlebih dulu sampai mengembang, lalu gula halus, coklat, dan terigu, juga bahan-bahan kue lainnya.
Adonan itu sudah mulai di aduk, sampai semua bahan-bahannya menyatu. Setelah selesai Joy menuangkan adonannya ke dalam loyang lalu adonan itu Joy masukan ke dalam oven untuk di panggang. 45 menit sudah terlewat kue pun sudah matang, Joy mengambilnya namun ... saat akan di pindahkan ke dalam piring kue itu susah terlepas, ternyata Joy lupa mengolesi mentega pada loyang adonannya. Untuk kue pertama sudah pasti sangat gagal.
Joy kembali membuat kue yang ke dua, peluh keringat sudah membasahi wajahnya, beruntung ada Kanza yang telaten membasuh keringatnya dengan tisu. Keadaan dapur begitu berantakan, tepung terigu berserakan dimana-mana, cangkang telur berjatuhan di bawah lantai beruntung ada kedua adiknya yang membersihkan Kenzo dan Kenzie. Sedangkan Anna memperhatikan gerak-gerik Joy, Anna memberikan arahan bahan apa saja yang harus di buat. Dan Jolie dia memantau tingkat kematangan.
"Joy sudah matang." ucap Jolie
Joy pun langsung mengambil kue itu dari dalam oven.
"Perpect. Sempurna." ucap Joy dan semua saudara kembarnya.
Di lihat dari warnanya memang bagus, tingkat kematangan sudah cukup, dan tidak gagal. Namun tidak tahu dengan rasanya. Jolie yang hobinya makan langsung tergiur melihat kue itu tanpa menunggu lama lagi Jolie langsung memotong kue itu dan memakannya.
Woek ...
Dalam sekejap Jolie memuntahkan kue itu, entah apa yang di rasakannya. " Ada apa? Apa tidak enak?" tanya Joy penasaran
"Coba saja sendiri." titah Jolie
"Biar aku saja yang coba."
"Aku juga." ucap ketiga adiknya bergantian. Kenzi, Kenzo dan Kanza mereka langsung mencobanya dalam hitungan detik ...
__ADS_1
Woek ... woek ... woek ...
"Kakak ini brownies atau browntah." ucap Kanza
"Apa itu browntah?"
"Brownies tanah." Joy dan Anna pun mencobanya dan langsung memuntahkannya.
"Pahit." Satu kata yang keluar dari mulut Joy.
"Kau memakai coklat banyak sekali, dan ini juga gosong." ucap Anna sambil menaruh kue itu lagi pada tempatnya.
"Jolie, kau ini bagaimana? Katanya sudah matang tapi ini terlewat matang sudah gosong."
"Abis aku bingung melihatnya, warnanya gelap." Joy dan Anna hanya menggeleng. Tak lama kemudian Stella pun datang.
"Wah ... kue sudah jadi, boleh aku mencobanya."
"Jangan." bantah Joy yang menyingkirkan kue itu dari Stella.
"Kenapa itu, kan kueku."
"Ini tidak enak, lebih baik aku belikan saja yang baru ya ... yang lebih enak."
"Stella kau lahap sekali?" ujar Anna
"Sudah jangan dimakan lagi ini tidak enak." ucap Joy yang mengambil kue itu namun lagi-lagi Stella menepis tangannya.
"Ini enak, baru kali ini aku merasakan brownies seenak ini." ucap Stella yang membuat semua orang terbelalak.
"Bukan keinginannya saja yang aneh, indra pengecapnya juga mengalami keanehan, apa orang hamil seperti ini?." Pikir Joy dalam hati.
"Orang hamil memang aneh, apa kalau aku hamil juga begitu?" gumam Jolie namun di bantah Anna.
"Orang hamil beda-beda, tidak semua ngidamnya sama. Memangnya kamu sudah ada tanda-tanda Jolie?" tanya Anna balik.
"Mm ... tanda-tanda? Belum, aku hanya nanya saja. Memangnya kamu sudah ada tanda-tanda?" tanya Jolie balik.
"Belum, ya mudah-mudahan saja secepatnya." Harap Anna, yang juga ingin segera di berikan kepercayaan untuk menjadi seorang ibu.
"Makan rujak enak kali ya." ucap Stella setelah menghabiskan kuenya.
"Joy ... tugas untukmu lagi cepat carikan rujak untuk Stella." ujar Anna membuat Joy membuang nafas kasar.
"Ya sudah, carikan dulu."
__ADS_1
"Eh, tunggu kita cari sama-sama, tapi ... aku mau makan rujak tumbuk kaya di acara TV barusan aku lihat."
"Ya tuhan." Joy mengusap wajahnya kasar. "Mulai besok jangan nonton TV, drama atau apa pun,"
"Kenapa? Aku di suruh diam terus di kamar, aku, kan bosan kalau nonton TV lalu apa?"
"Sabar ya Joy orang ngidam maklumi saja." ucap Anna sambil mengelus-ngelus pundak Joy.
"Orang sabar di sayang tuhan." ujar Jolie membuat Joy kesal.
"Kakak, aku tahu ada penjual rujak tumbuk di ujung jalan X, rasanya enak banget kalau kakak beli aku titip satu." ujar Kanza yang membuat Joy kesal karena lokasinya sangat jauh di daerah bogor.
"Benarkah, Joy ayo kita kesana?"
"Ya ... tapi nanti ya, setelah aku mandi." ucap Joy yang mengulum senyum walau sebenarnya terpaksa.
****
Joy sudah selesai membersihkan diri, Joy pun sudah terlihat rapi, begitu pun juga Stella. Namun seperti biasa Joy selalu mengenakan pakaian formalnya, namun kali ini Stella tidak suka dengan penampilan Joy.
"Joy, kenapa kamu memakai jas? Kita, kan bukan pergi ke kantor."
"Memang penampilanku seperti ini, kan."
"Tapi kita tidak akan naik mobil, aku ingin naik motor."
"Apa? Stella, kamu itu lagi hamil kalau naik motor itu bahaya."
"Pokoknya aku mau naik motor, ini aku sudah pinjam motor Kenzo, sama jaketnya kamu pakai jaket ini ya, biar kaya anak motor." ujar Stella yang memberikan jaket itu kepada Joy, dengan terpaksa Joy mengambilnya lalu memakainya. Stella terlihat senang dan gembira, Stella mencubit pipi Joy seakan gemas pada suaminya itu.
"Owh ... Joy kamu sangat keren, tampan sekali uwu ... uwu ...."Joy hanya diam dan pasrah saat Stella mencubit pipinya.
"Sudah, kan. Sekarang kita berangkat ya." ajak Joy sambil menurunkan tangan Stella di pipinya.
"Ayo." ajak Stella yang langsung berlari namun di tahan oleh Joy.
"Jangan lari-lari, ingat! Lagi hamil, kamu ini gak bisa apa sehari saja gak bikin aku spot jantung."
"Eh ... mau ngapain." teriak Stella yang di gendong Joy.
"Diam, kalau kamu gak di gendong nanti kamu lari lagi."
"Kalau di gendong terus kapan sehatnya, orang lain juga suka berlari supaya badan sehat."
"Menurut saja, kalau tidak kita tidak jadi pergi." ucap Joy datar membuat Stella merengut kesal. Jangankan dari kamar ke teras depan melangkah ke kamar mandi saja Joy selalu menuntun Stella, membuat Stella bosan karena merasa terkekang dan tak bisa bebas bergerak. Namun apa boleh buat Stella lebih baik menurut saja. Semenjak Stella hamil Joy menjadi over protektif.
__ADS_1