Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Keajaiban Cinta


__ADS_3

Jolie sudah di pindahkan ke ruang ICU operasi pun berjalan dengan lancar. Shila, Vero dan Nyonya Endra pun sudah sampai di rumah sakit. Mereka semua sangat khawatir mendengar Jolie masuk rumah sakit, tapi tidak ada satupun yang tahu, bahwa Jolie sempat dinyatakan meninggal.


Jolie masih belum sadarkan diri, semua orang hanya bisa melihat Jolie di balik kaca jendela ICU, Shila terlihat khawatir dia memeluk Vero dengan berderai air mata.


"Kenapa Jolie sampai bisa di operasi? kalau kecelakaan kenapa hanya anakku saja yang terluka, kenapa kamu baik-baik saja." Elang hanya diam, dia memandang Joy yang juga diam tidak tahu harus menjelaskan apa.


"Papi, kita bicarakan ini di kantin." ujar Joy membuat Vero heran.


"Kenapa tidak disini?"


"Aku dan Elang belum makan apa pun, sekalian kita minum teh sambil mengobrol, biar Stella yang menemani mami dan Nyonya Endra." ujar Joy.


Vero awalnya tidak mau namun karena alasan Joy masuk akal menurutnya, akhirnya mereka bertiga pergi ke kantin.


****


Indra terduduk lemah di ruangannya, bersama Arman dan dua dokter lainnya yang melakukan operasi bersamanya.


"Hampir saja jantungku copot." ujar Arman


"Ini keajaiban, kita tidak pernah mengalami hal seperti ini." ujar dokter Lira


"Aku tidak bisa memaafkan diriku, jika operasinya gagal, aku sama saja sudah membunuhnya." ujar Indra


"Hei, Indra kamu jangan bilang begitu, kita seorang dokter hanya perantara, maut itu rahasia ilahi, tidak ada yang tahu kapan seseorang akan mati, termasuk kita sebagai dokter. Kita melakukan bermacam cara, untuk kesembuhan pasien, itu bukan karena kita tapi karena tuhan yang memberikan kesembuhan." ujar Arman yang melihat Indra selalu saja menyalahkan diri sendiri.


"Selain keajaiban tuhan, peristiwa ini juga terjadi karena keajaiban cinta." ucap dokter Nita yang mendengar ucapan cinta dari Elang saat di ruang operasi.


"Keajaiban cinta?" tanya Lira heran.


Nita hanya tersenyum ."Iya, selain keajaiban tuhan kekuatan cinta juga bisa menjadi semangat seseorang, apa lagi cinta keduanya sangat tulus." jelas Nita.


"Tetap saja setulus-tulusnya cinta akhirnya akan saling menyakiti." ucap Indra yang terkenang masalalunya.


"Issh ... kau ini, Indra menurutku kau harus menunggu keajaiban tuhan agar membukakan hatimu, aku berdoa semoga kau menemukan cinta yang tulus." celoteh Arman


"Sudah ku bilang aku tidak percaya cinta."


"Jangan begitu nanti kalau ketemu gadis yang kau cintai, baru tahu rasa." cibir dokter Lira


"Kau benar tidak akan tertarik pada wanita? Dokter Arman, Dokter Lira Dokter Indra sudah berjanji, tidak akan tertarik pada wanita dan jika melanggar dokter Indra harus mendapat hukuman." ujar Nita yang di setujui Arman dan Lira.


"Apa hukuman yang cocok?" tanya dokter Arman

__ADS_1


Mereka bertiga sama-sama berpikir.


"Dengar, pak kepala dokter kalau melanggar janji mu kau harus memberikan ku cuti selama seminggu, aku juga ingin liburan, kan." ucap dokter Nita yang bersandar pada dinding kursi.


"Aku ingin bebas shif malam selama seminggu, aku capek shift malam terus." ujar dokter Lira sambil memejamkan mata.


"Aku juga ingin rebahan selama seminggu." ucap dokter Arman yang langsung merebahkan tubuhnya di atas kursi sepersekian detik Arman pun tetidur.


"Terserah kalian, tapi itu tidak akan kalian dapatkan. Kalau aku tidak melanggar janjiku, kalian akan ku kirimkan ke rumah sakit cabang."


"Apa!"


Arman, Nita dan Lira terhenyak mendengar ucapan Indra, bisa-bisanya Indra akan mengirimkan mereka ke rumah sakit cabang, yang baru saja di dirikan berada di pelosok desa. Bahkan akses jalan pun susah di lewati, perlengkapan rumah sakit pun masih minim, akses internet juga tidak ada, bagaimana sanggup mereka bekerja di tempat seperti itu, tidak seperti di rumah sakit ini yang sangat nyaman.


"Baiklah, aku tantang kau selama sebulan, kalau selama sebulan kau belum juga mendapatkan wanita, aku terima hukumanku." Tantang Arman.


"Dokter Arman ... sebulan itu sebentar." bisik Dokter Lira, namun Arman tetap tenang.


"Tapi ... jangan senang dulu kami akan memantau pergerakanmu, kalau selama sebulan kami melihatmu bersama wanita berarti kau melanggar." lanjut Arman


"Aku tidak takut." ujar Indra yang melangkah keluar dari ruangan.


"Dokter Arman kenapa di tantang hanya sebulan, bagaimana kalau dokter Indra masih jomblo." gerutu Nita


"Aku juga." ketus Nita.


"Tenang dulu, aku punya ide caranya kita harus carikan wanita untuknya." ujar Arman sambil cengengesan.


"Huh, kerja lagi dong."


"Mending bisa tergoda kalau tidak, mati kita di pindahkan ke rumah sakit cabang." timpal Nita mendadak lemas tak bersemangat lagi.


Sedangkan di kantin Vero, Joy dan Elang menceritakan kejadian sebenarnya pada Vero. Vero yang mendengarnya terlihat sangat marah tak hanya pada Christ namun pada Elang juga Joy yang tidak pernah terbuka dalam masalah ini.


"Masalah sebesar ini kalian rahasiakan." ucap Vero sedikit menekan, tatapan tajamnya tak pernah berpaling pada Elang. Karena Elang tahu masalah ini dari sebelumnya bahkan saat pertemuan mereka di lombok, Jolie sudah biasa mendapat teror tapi tidak ada yang memberitahukan hal ini padanya.


"Maaf," jawab Elang singkat


"Dimana dia sekarang?" tanya Vero tentang Christ


"Dia sudah di tangani polisi," jawab Joy


"Polisi? Kalian menyerahkan dia ke polisi, setelah apa yang dia lakukan pada putriku, dia harus merasakan apa yang putriku rasakan."

__ADS_1


"Papi tenang saja, aku sudah melukainya, aku sudah menembaknya, walaupun dia tidak mati setidak nya dia merasakan sakit seperti apa yang di rasakan Jolie." jelas Joy namun Vero tetap tidak terima. Vero mengingat kembali apa yang dia lakukan kepada Bagas 17 tahun yang lalu, Christ juga harus mendapatkan ganjaran yang pantas.


Vero menghubungi Alvin, entah apa yang di bicarakan, mereka berbicara cukup lama, sebelum akhirnya Vero menutup panggilan itu.


"Joy pergilah ke kantor polisi, Alvin menunggumu disana." titah Vero yang membuat Joy bingung.


"Untuk apa papi,?"


"Pergi saja, Alvin akan menjelaskannya nanti, lakukan saja sesuai perintahnya." tegas Vero lalu pergi meninggalkan Elang dan Joy yang saling bersitatap.


****


Elang dan Vero kembali ke ruang ICU berkumpul lagi bersama Nyonya Endra, Shila dan Stella.


"Kamu dari mana Mas?" tanya Shila pada Vero


"Dari kantin, bagaimana keadaan Jolie apa sudah ada perkembangan?" Shila hanya menggeleng sebagai jawaban.


CKLEK,


Tak lama kemudian seorang perawat keluar dari ruang ICU, Shila meminta izin pada perawat itu untuk masuk ke dalam karena ingin melihat Jolie.


"Suster, apa kami boleh menjenguk?"


"Maaf, ibu dengan siapa?"


"Saya Ibunya."


"Silahkan, tapi hanya dua orang saja ya tidak bisa lebih."


"Baik suster terimakasih." ucap Shila perawat itu pun tersenyum ramah lalu pergi.


"Nyonya Endra saya dan suami masuk terlebih dulu." ujar Shila Nyonya Endra pun mengangguk.


"Ayo Mas kita masuk." ajak Shila pada Vero. Mereka berdua pun masuk ke dalam.


Stella celingak-celinguk mencari Joy yang sedari tadi tidak nampak, Stella akhirnya bertanya pada Elang.


"Elang dimana Joy?"


"Joy pergi ke kantor polisi."


"Joy pergi ke kantor polisi, kenapa tidak bilang padaku." batin Stella.

__ADS_1


__ADS_2