
Joy begitu panik, membawa Stella ke rumah sakit. Saat ini Stella sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien, dengan selang infus di tangan kanannya. Kedua dokter terus berada di sampingnya, yaitu dokter obygin dan dokter psikiater. Pembicaraannya tadi bersama kedua pamannya membuat Stella drop dan traumanya kembali.
Flashback on
Brakk ...
Arka begitu marah setelah mendengar cerita Stella, yang sudah menggagalkan rencananya di masalalu. Joy tidak terima dengan sikap Arka yang seenaknya, sampai Joy habis kesabaran dan memukul Arka.
Bugh ... bugh ... bugh ...
Terjadilah perkelahian di antara mereka, sampai terdengar keributan di mansion Alvero.
"Joy, Joy sudah hentikan." ucap Stella mencoba menghentikan Joy namun amarah Joy sudah memuncak tak peduli lagi dengan ucapan Stella, sampai wajah Arka penuh lebam, bibirnya berdarah, dan tubuhnya terkulai lemah.
"Pergi dari rumahku," bentak Joy yang penuh amarah, sorot matanya begitu tajam, dadanya bergemuruh hebat.
"Aku tidak akan melupakan ini, ingat kau ku pastikan kau masuk penjara." ujar Arka penuh ancaman. Namun Joy tidak pernah takut dengan ancaman itu.
Arka di bantu Reyhan untuk berdiri, matanya masih memicing ke arah Joy yang sudah memukulinya. Stella menghampiri Joy melihat seluruh wajahnya apakah terluka atau tidak.
"Joy, kau tidak apa-apa?" tanya Stella khawatir sambil meraba wajah Joy yang penuh keringat.
"Tidak apa-apa, ayo kita masuk." ajak Joy yang merangkul Stella namun langkahnya terhenti karena Arka.
"Stella, apa kau ingat ini? Aku yakin kau tidak pernah lupa," ujar Arka yang tersenyum licik seraya memperlihatkan sebuah Video dimana Stella yang sedang di lecehkan Ardi saat itu. Entah dari mana Arka mendapatkan video itu.
Tubuh Stella semakin gemetar, sorot matanya menjadi tajam, kedua tangannya mengepal, Stella mundur perlahan. Setiap terbayang kejadian itu Stella selalu takut, dan kembali trauma. Apalagi melihat wajah dan melihat kejadian itu langsung pada video itu.
"Haha ... aku tahu kamu masih belum sembuh Stella, lihat saja kau begitu ketakutan, tubuhmu gemetar hebat, lihatlah dirimu Stella, apa pantas memimpin perusahaan,"
"Stella, jangan dengarkan dia, lihat aku." ucap Joy yang menangkup wajah Stella, mencoba untuk menenangkan Stella.
"Joy, aku takut ... pria itu ... dia ...."
"Ada aku disini, tatap aku." ucap Joy yang terus menatap Stella. "tidak ada yang akan menyakitimu," lanjut Joy. Lalu Joy meminta Stella untuk tunggu dan Joy berjalan ke arah Arka dan kembali memukulnya.
Bugh ...
Joy meremas kerah kemeja Arka, lalu menghempaskan tubuh Arka sampai terpental jauh, saat Joy ingin kembali menghajarnya Reyhan memukulnya
Bugh ...
Sampai tubuh Joy terhempas ke bawah lantai. Reyhan langsung membawa Arka pergi dari sana dengan mobilnya. Joy kembali ke dalam rumah namun di kejutkan dengan teriakan Bi Inem karena melihat keadaan Stella yang sudah tergeletak di atas lantai.
"Stella." Joy langsung berlari menghampiri Bi Inem yang panik.
"Bi ada apa dengan Stella? Stella bangun, Stella kau kenapa?" Joy terus menepuk-nepuk pipi Stella agar terbangun.
"Bibi gak tahu den, saat Bibi lihat non Stella sudah pingsan." jelas Bi Inem.
__ADS_1
"Ya Allah Den ...." teriak Bi Inem panik.
"Ada apa Bi?"
"Den, darah." Joy dan Bi Inem semakin panik saat melihat darah yang menetes di sepanjang kaki jenjang Stella.
"Den, bawa Non Stella ke rumah sakit Den, Bibi takut ada apa-apa dengan janinnya." Setelah mendengar ucapan Bi Inem, Joy langsung memopong tubuh Stella keluar dari rumahnya, dengan langkah cepat Joy membawa Stella ke dalam mobil di bantu oleh Bi Inem yang membukakan pintu mobilnya.Tanpa menunggu lama Joy langsung tancap gas membawa Stella ke rumah sakit.
Flashback off
Joy masih menunggu dengan perasaan gelisah, karena dokter tak kunjung juga keluar.
Cklek,
Seorang dokter keluar sambil membukakan pintu, Joy yang sangat gelisah langsung menghampiri dokter.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Joy panik.
"Mari ikut ke dalam."ajak dokter Joy pun mengikutinya.
Di dalam ruangan yang hanya ada Joy, kedua dokter dan Stella. Salah seorang dokter mulai bicara. "Masih beruntung janinnya tertolong dan tidak menyebabkan keguguran. Tapi ... jika terus seperti ini kami tidak bisa jamin kandungan Stella akan kuat bertahan, sebelumnya Stella punya trauma psikis, saya takut ini akan mempengaruhi kandungannya."
"Usahakan, untuk tidak membuatnya stres, kalau bisa jangan sampai Stella kembali mengingat masalalu yang slalu membuatnya trauma. Saya takut Stella tidak bisa berdamai dengan masalalu dan sulit untuk melupakannya."
"Saya sudah pernah bilang sebelumnya, traumanya bisa saja kembali kalau Stella mengingat kejadian itu, kejadian dulu dimana saat pelecehan itu, memang tidak mudah bagi seorang gadis melupakan tindakan pelecehan seksual yang terjadi padanya, karena tidak sedikit gadis yang mengalami trauma saat kejadian itu, jadi ... pasti sulit bagi Stella melupakannya, kamu sebagai suami harus bisa membantu Stella akan trauma itu, bantu dengan perlahan, pasti bisa, Stella akan sembuh." ujar Dokter psikiater.
"Saya sudah mengecek janin dalam kandungannya, beruntung janinnya masih bisa di selamatkan. Pendarahan tadi terjadi karena stres yang di alaminya, jadi ... kenapa setiap dokter selalu menyarankan pada ibu hamil untuk tetap rileks, istirahat, dan jangan stres karena itu akan membahayakan janin yang ada dalam kandungannya." jelas Dokter kandungan ( obgyn ).
"Saya juga akan memberikan obat kepadanya yang aman untuk ibu hamil, usahakan harus di minum setiap hari ya, jangan sampai terlewat, di usahakan juga harus habis." jelas Dokter psikiater.
Joy pun mengangguk paham setelah mendengar penjelasan dokter. Kedua dokter itu pun melangkah keluar meninggalkan Joy dan Stella. Joy melangkah maju menghampiri Stella, lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan, Joy menggenggam tangan Stella lalu mengecup keningnya.
Untuk kesekian kalinya, Joy melihat Stella yang terbaring lemah.
"Mereka harus menerima akibatnya." gumam Joy sambil mengepalkan tangannya erat. Sorot matanya penuh amarah.
****
"Anna, apa kau sibuk bisakah kau datang ke kantorku? Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Joy pada sambungan telepon.
"Baiklah, aku akan datang satu jam lagi." jawab Anna di ujung sana
"Baik, datanglah bersama Kemi."
"Iya."
Tut ... tut ... telepon pun di tutup.
"Apa yang terjadi? Kenapa Joy meminta aku datang." gumam Anna yang melamun di atas kursi besarnya. Tiba-tiba seseorang mengejutkannya
__ADS_1
Cup,
"Sayang kau mengejutkanku saja." ucap Anna yang mendapat serangan mendadak dari Kemi, yang mencium pipinya.
"Abis kamu melamun, mau makan siang." ajak Kemi yang memeluk Anna dari belakang, menyimpan kepalanya pada bahu Anna.
"Sayang, tadi Joy meneleponku, dia meminta kita datang ke kantornya sekarang." ucap Anna yang mendongak ke atas membuat mata keduanya saling bertemu.
Cup, lagi-lagi Kemi mengecup Anna, namun yang di kecup kali ini adalah bibir ranumnya. Namanya juga sudah nikah alias sah bebas ya, mau ngapain juga.
"Apa ada masalah?"
"Aku tidak tahu, tapi ... sepertinya iya."
"Kalau begitu kita berangkat sekarang." ajak Kemi.
Cup, Lagi-lagi Kemi kembali mengecup bibir ranumnya,
"Kemi, jangan begini, ini kantor bagaimana kalau ada yang lihat." ucap Anna sedikit berbisik.
"Kenapa? Kita, kan suami istri. Tidak ada yang berani membicarakan kita, ayo sayang." ajak Kemi yang memeluk Anna.
Semakin hari Anna dan Kemi semakin lengket kaya prangko.
****
Joy menitipkan Stella pada Shila, yang kebetulan bertemu di sana. Setelah itu Joy pergi menuju kantornya.
"Mami aku titip Stella, tolong jaga Stella."
"Iya sayang jangan khawatir."
Sebelum pergi Joy mengecup kembali kening Stella, berharap Stella akan segera siuman.
"Mami aku pergi dulu, oh iya apa papi ada di kantor?"
"Ya, papi sudah berangkat ke kantor."
"Ya sudah aku pergi dulu," ujar Joy lalu melangkah pergi.
Sepertinya aku harus membicarakan ini juga dengan papi, aku butuh bantuan papi, batin Joy.
...----------------...
Jangan lupa untu like dan Votenya ya🤗
Yuk like, nanti akan dapat hadiah di akhir kuis ya. Di mulai hari ini bisa di lihat 👇👇👇
__ADS_1
Untuk juara 1, 2 dan 3 akan dapat hadiah, akan thor umumkan pemenangnya di akhir bulan nanti 🤗.