
Nissa, menatap takjub rumah besar di depannya. Lebih tepatnya sebuah mansion. Menatapnya saja sudah dag, dig, dug, apalagi masuk kedalamnya.
Pantas saja banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya, ternyata Kenzie, salah satu anak konglomerat, Nissa, jadi takut, jika keluarga Kenzie, tak menerima kedatangannya.
"Ayo, turun," ajak Kenzie. Nissa, masih diam terpaku menatap megahnya mansion Alvero.
"Kenzie, aku pulang saja ya," ucap Nissa.
"Lo, kok pulang ini sudah sampai lo. Ayo turun jangan takut keluargaku baik, kok," bujuk Kenzie, akhirnya Nissa, pun ikut turun dari dalam mobilnya.
"Ayo," ajak Kenzie, yang berjalan. Mendahului Nissa.
"Masya Allah, ini rumah besar sekali, aula kampus saja tidak sebesar ini. Ini melebihi luasnya satu RT. Kenzie, memangnya ada berapa anggota keluargamu?" tanya Nissa.
"Banyak! Kami enam bersaudara, aku punya tiga kakak yang kembar, tapi sekarang mereka sudah tidak tinggal disini lagi, karena sudah menikah. Dan aku juga punya saudara kembar, Kenzo, dan Kanza, kami tinggal disini, papi dan juga mami, dan Bi Inem." jelas Kenzie.
"Kenzie, apa papimu ada di dalam?"
"Papi, masih di kantor saat ini. Yang ada cuma mami ayo masuk aku kenalkan pada mamiku," ajak Kenzie.
"Kenzie, aku takut,"
"Kenapa takut? Ingat! Kita takut hanya pada Allah, bukankah kamu yang bilang seperti itu ?"
"Tapi ...." ucap Nissa, tertahan karena pintu utama sudah terbuka. Memperlihat, kan seorang wanita yang begitu cantik, tersenyum ke arahnya.
"Assalamualaikum," ucap Kenzie, saat Shila, membuka pintu itu.
"Waalaikumsalam," jawab Shila, dengan senyuman.
"Mami, kenalkan ini Nissa, teman yang pernah aku ceritakan pada Mami."
"Masuk Nak, Kenzie, sudah sering bercerita tentang kamu," ucap Shila, lalu mengajak Nissa, dan Kenzie, masuk ke dalam rumah.
Lagi-lagi Nissa, di buat takjub Nissa, mengedar, kan pandangannya ke seluruh ruangan, yang mendominasi gold yang terkesan sangat mewah, membuatnya tidak bisa berkata-kata.
Nissa, dan Kenzie, pun duduk di ruang tamu, sofa yang empuk membuat Nissa, duduk begitu nyaman. Jangan, kan sofa kasur untuk tidurnya saja tak se-empuk ini. Keluarga Kenzie, dan keluarganya sangat jauh berbeda.
"Bi, tolong ambilkan minum ya!" titah Shila, pada Bi Inem. Bi Inem pun mengangguk lalu pergi ke dapur.
"Nama mu Nissa?" tanya Shila.
"Iya, Tante," jawab Nissa, gugup.
"Kenzie, sering membicara, kan mu. Tante, senang melihat sikap Kenzie, yang mulai berubah berkat dirimu,"
__ADS_1
"Nissa, hanya membantu Tante, selebihnya dari Allah swt yang memberikan hidayahnya."
"Kamu, sangat rendah hati Nak, Tante, sangat suka dengan sikapmu."
"Mami, dimana Kanza?" tanya Kenzie.
"Kanza, keluar katanya mau menemui Amber," jawab Shila. Tak lama kemudian Bi Inem pun datang membawa tiga cangkir teh yang di letak, kannya di atas meja.
****
Kanza, dan Amber, sedang berada di taman rumah sakit, Kanza, bercerita tentang hubungannya dengan Ghala, Amber, pun merasa bersalah karena, dirinya hubungan Kanza, dan Ghala jadi terancam.
"Kanza, maaf, kan aku, karena aku hubunganmu dan Ghala, harus berakhir," ucap Amber, yang menunduk sedih.
"Ini, bukan salahmu Amber, ada seorang teman yang berkata padaku, bahwa jodoh itu sudah di takdirkan oleh Tuhan, sekuat apapun kita bertahan demi suatu hubungan, kalau tidak jodoh maka hubungan itu akan tetap berakhir. Begitu pun sebaliknya, sekeras apapun kita menghindar dan menolak kalau kita sudah berjodoh dengan orang itu, tetap saja akhirnya kita akan bersatu."
"Aku, sudah ikhlas Amber, mungkin aku dan Ghala, tidak berjodoh begitu pun denganmu dan Ghali, hanya ... kita di pisah, kan dengan cara yang berbeda, kamu di pisah, kan karena maut, sedangkan aku di pisah, kan karena tanpa restu orang tua."
"Apa Ghala, yang memutus, kan mu?"
"Bukan, tapi aku."
"Apa Ghala, menerimanya?"
"Dia sangat marah, saat aku memutus, kannya. Tapi ... aku tidak punya pilihan lain, aku harap Ghala, mengerti."
"Makasih. Bagaiman denganmu apa sekarang sudah bisa melupakan Ghali?"
"Dengan seiringnya waktu, aku bisa melupakannya. Bagaimana pun aku harus tetap bangkit, dan menjalani hidup."
"Sekarang, kamu adalah seorang dokter, seorang dokter tidak boleh lemah bukan begitu!" Amber pun mengangguk.
"Oh iya, bagaimana dengan Kenzo? Apa sudah ada tanda-tanda Lusi, mengingatnya?"
"Aku, sudah mencoba membantu tapi Lusi, tetap tidak ingat. Sekarang Kenzo, hanya bisa menyibukan dirinya, dengan bekerja dan bekerja. Aku harap secepatnya Lusi, kembali mengingat," ucap Kanza.
"Ya, semoga saja."
"Dokter, dokter." Seorang perawat memanggil Amber.
"Iya ada apa?"
"Pasien yang bernama Aira, dia tidak mau makan, dia terus histeris menangisi kakinya yang tidak bisa di gerak, kan," ucap perawat itu.
Aira, adalah pasiennya yang berumur 7 tahun. Aira, terluka karena jatuh dari tangga rumahnya. Membuat cedera pada kakinya, dan untuk sementara waktu kakinya tidak bisa di gerak, kan.
__ADS_1
Gadis seumuran Aira, sangat labil dan belum mengerti apalagi harus menerima kenyataan bahwa kakinya tidak bisa di gerak, kan apalagi berjalan. Aira, yang pandai menari pasti sangat syok, dan histeris ketika tahu kakinya tak, dapat di gerak, kan. Mimpinya menjadi penari harus ia kubur dalam hatinya, dan tak bisa ia gapai.
Di ruangannya, Aira, terus menangis dan berteriak, kedua tangannya ia pukul, kan pada kedua kakinya yang sudah mati. Beberapa perawat pun kewalahan, hingga harus memanggil Amber, dalam hal ini.
"Kanza, aku harus segera pergi pasienku membutuh, kan ku."
"Iya, pergilah. Aku juga akan pulang." Setelah mendapat jawaban dari Kanza, Amber, pun pergi untuk melihat pasiennya.
****
Baru saja Amber, masuk ke dalam kamar Aira, sebuah piring sudah melayang ke arahnya dan hampir mengenai wajahnya.
"Astaga," ucap Amber, yang melihat kekacauan di kamar Aira.
"Aira, ada apa ini? Kenapa kamu membuat kamarmu berantakan?" tanya Amber, yang berjalan ke arah Aira.
"Kakiku kenapa Dokter, kenapa tidak bisa di gerak, kan?" rengek Aira.
"Sudah ada yang menghubungi keluarganya?" tanya Amber, pada seorang perawat.
"Saya sudah menghubungi ayahnya, dan sebentar lagi akan segera datang," ujar seorang wanita.
"Kamu ibunya?"
"Bukan Dokter, saya hanya pengasuhnya. Non, Aira, sudah tak memiliki ibu," jawab wanita itu.
"Oh, baiklah. Kalian bisa tinggal, kan kami berdua, saya akan bicara dengan Aira," ucap Amber, yang di angguki semua orang yang ada di dalam kamar. Mereka pun melangkah keluar, membiarkan Amber, dan Aira, untuk saling bicara.
****
Sepulang dari rumah sakit Kanza, mampir sejenak di sebuah taman yang begitu sepi. Kanza, duduk melamun di sisi jalan, entah kenapa pikirannya saat ini masih sangat kacau. Sebulan lamanya Kanza, tak pernah mendapat kabar dari Ghala, itu membuatnya semakin gelisah. Ghala, yang saat itu terlihat sangat marah karena Kanza, memutus, kannya begitu saja.
"Aku tidak terima dengan keputusanmu, aku, yakin kita akan mendapat, kan restunya. Aku janji," ucapan Ghala, membuatnya selalu menunggu tapi ... sampai saat ini Ghala, tak kunjung datang.
"Aku, dengar Ghala, akan bertunangan." Kanza, tak sengaja mendengar percakapan teman-temannya saat itu, hatinya begitu sakit saat mendengarnya, mungkinkah itu jawaban dari hilangnya kabar dari Ghala yang tak kunjung datang.
"Aku, pasti bisa. Kanza, kamu pasti bisa melupakannya, kamu pasti bisa hidup tanpanya," ucap Kanza, yang menyapu air matanya. Kanza, pun bangkit dari duduknya dan akan berjalan menuju mobilnya. Namun tiba-tiba sebuah mobil menghadangnya kedua pria turun dari mobil itu dan langsung membawanya masuk.
Teriakan Kanza, tidak didengar, kan. Mobil itu melaju meninggalkan taman itu, sedangkan pria satunya membawa mobil miliknya pergi.
...----------------...
Maaf untuk beberapa hari ini jarang up dan belum bisa up setiap harinya di karena, kan author sedang tidak sehat 🙏, maaf jika sudah mengecewa, kan kalian.
Terima kasih buat kalian yang selalu menunggu up-Nya dari thor, setelah badan kembali sehat insya Allah, akan up lagi setiap harinya. 🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukungannya ya 🤗
Terima kasih