
Kenyataan pahit yang dia ketahui begitu menyakitkan. Ibunya sendiri yang membunuh ayahnya. Tissa yang memanipulasi semua keadaan, menuduh Shila sebagai pembunuh nyatanya dirinya sendiri yang membunuh. Mengatakan Kanza adalah anak haram, nyatanya anaknya sendiri yang anak haram.
"Siapa aku? Anak siapa aku? Aku anak haram, anak yang lahir tanpa ayah"
Argh ... Amber berteriak di tengah jalanan yang sepi, hanya di temani angin malam dan derasnya hujan yang membasahi tubuhnya.
"Untuk apa aku di lahirkan jika aku tak di harapkan, tidak ada satu pun yang mengharapkan ku, tidak ada, untuk apa aku hidup, untuk apa ...." Amber berteriak, suaranya menggema, di iringi dengan tangisan.
Mama ... mama ... Amber kecil yang berteriak memanggil manggil ibunya, namun di acuhkan.
"Mama ... aku juara, mama aku ingin pergi main bersama mama"
"Mama ... hiks ... hiks ... mama" Amber kecil yang tak pernah di lihat oleh ibunya, Amber kecil yang selalu di acuhkan, di tinggalkan, di diamkan tanpa kata.
Bayangan masa kecil terlintas di pikirannya, Amber kecil yang tak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu, mengharapkan di kasihani, di sayangi, dan di manja. Amber yang malang dari kecil hidupnya terus menderita, namun tetap tegar dan kuat. Sedari kecil mencari tahu siapa ayahnya tapi ... setelah tahu begitu pahit dan menyakitkan.
Tid ... tid ... tid ...
Suara klakson terus berbunyi, air hujan yang deras membasahi jalanan aspal yang membuat jalanan menjadi licin. Amber terduduk lemah di tengah jalanan tak peduli derasnya air hujan yang mengguyur tubuhnya. Amber mencoba berdiri, walaupun tubuhnya sangat lemah untuk berdiri.
Tid ... tid ... tid ...
Dari arah belakang sebuah mobil melaju dengan kencang, air hujan yang deras menutup semua pandangan setiap mobil yang melintas.
BRUGH ...
__ADS_1
****
Tissa merasa cemas putrinya belum juga pulang, hujan semakin deras membuat Tissa di rundung ke khawatiran. Malam semakin larut Amber belum juga pulang, Tissa merasa gelisah dan cemas baru kali ini dia mencemaskan putrinya.
"Amber dimana kamu, kenapa belum pulang" Tissa sudah mulai gelisah.
"Kenapa tidak kamu cari, semua karena ulah mu cucu ku pergi dan belum kembali ." ujar Rani yang kesal juga khawatir pada cucu nya.
"Ibu macam apa kamu Tissa menghancurkan anak mu sendiri"
"Sudah cukup. Sekarang bukan waktunya berdebat, Amber belum juga kembali ini sudah malam"
"Cari ... cari dia, bawa dia kembali"
"Cari dimana?"
"Sudah cukup Mah, jangan salahkan aku terus." gertak Tissa yang melengos begitu saja.
Sama halnya dengan Shila, dia juga merasa cemas, bahkan sampai malam ini Shila belum juga tidur. "Kenapa belum tidur?" tanya Vero yang melihat Shila berdiri di depan jendela kamar melihat derasnya air hujan di luar.
"Aku khawatir pada Amber"
"Untuk apa memikirkannya, cepatlah tidur" titah Vero yang duduk di sisi ranjang.
"Mas kenapa kamu katakan semua itu? Dia pasti syok mendengarnya, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya, dia masih muda pikiran anak muda sepertinya masih labil dia tidak akan berpikir jernih, bagaimana kalau Amber pergi atau melakukan hal yang buruk."
__ADS_1
Vero berjalan menghampiri Shila yang nampaknya sangat khawatir.
"Ibunya saja tidak pernah memikirkannya, kenapa kamu khawatir seperti ini?"
"Amber itu keponakanku wajar saja kalau aku khawatir."
"Kamu memang wanita baik, semua orang kamu cemaskan, sudahlah sekarang tidurlah jangan pikirkan orang lain, besok hari bahagia putri kita jangan sampai kamu lelah dan membuat cemas putri kita," Vero membawa Shila ke atas ranjang, menyuruhnya untuk segera tidur, Shila pun merebahkan tubuhnya walaupun hatinya masih terpikirkan Amber tetap saja Shila harus memikirkan hari bahagia putrinya esok, yang akan menikah.
Vero memeluk Shila erat, membenamkan kepala istrinya pada dada bidangnya. Begitu juga Shila membalas pelukan hangat sang suami seraya memenjamkan matanya.
"Tidurlah" ucap Vero lirih, lalu mengecup kening sang istri dengan lembut. Sepersekian detik mata keduanya terpejam, malam yang dingin membuat pelukan hangat dari keduanya, malam semakin larut, hujan semakin deras, Shila dan Vero pun sudah terlelap menuju alam mimpinya.
Berbeda dengan Jolie dan Anna mereka tidak bisa tidur memikirkan hari esok, jantung dag dig dug berdetak tak karuan, hati gelisah tak menentu. Anna tersenyum dalam kegelapan membayangkan, bagaimana hari esok hari dimana dirinya akan di satukan dalam ikatan suci pernikahan bersama cinta sejatinya, sahabat kecilnya, Kemi.
Masih tak menyangka bahwa tuhan menyatukan mereka berdua, bayangan- bayangan masa kecil nya kembali terbayang, di saat pertemuan pertama Kemi yang sangat dingin dan jutek, berawal dari sebuah gelang persahabatan, membuat mereka menjadi dekat, dan berawal dari janji masa kecil Kemi kecil mencium pipinya yang chubby mengatakan "Berjanjilah aku cinta pertamamu dan setelah dewasa nanti kita akan bertemu." Anna tersenyum ketika mengingat masa-masa itu. Setelah itu Anna tertidur setelah lama bergulat dalam bayangannya.
Jolie masih termenung menatap langit-langit kamarnya, pernikahan yang ingin dia hindari akhirnya tetap harus dia jalani. Awal pertemuan yang tak seindah pertemuan dua sepasang sejoli yang jatuh cinta. Dari kecerobohannya membuatnya bertemu laki-laki yang akan menikahinya esok. Bagaimana dia bisa hidup dengan laki-laki yang tak ia cintai, setiap bertemu selalu saja bertengkar bagaimana bisa dia hidup, dan seatap dengannya. Jolie tidak ingin memikirkan hari esok lebih baik dia tertidur akhirnya Jolie pun menjemput alam mimpinya.
Sedangkan di kamar sebelah, sepasang pengantin baru yang selalu terlihat hangat dan harmonis. Stella tertidur dalam pelukan seorang pria yang menjadi suaminya sekarang tak lain adalah Joy yang memeluknya dengan hangat.
Joy yang selalu dingin dan Stella yang begitu agresif. Joy si muka datar dan Stella gadis yang selalu ceria kini kedua orang dengan kepribadian yang berbeda di satukan dalam ikatan suci pernikahan. Joy yang selalu dingin dalam sekejap menjadi laki-laki yang hangat, yang bucin, setelah menikahi gadis ceria seperti Stella.
Stella yang hidupnya penuh masalalu yang kelam, selalu di tinggalkan sendirian, tanpa adanya perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya kini ... semua itu ia dapatkan, dari orang yang terkasih, tercinta, tersayang. Suami yang menyayanginya, mencintainya, juga keluarga yang hangat dan sayang padanya, keluarga baru yang selalu ada untuknya di saat dia masih kecil.
Kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan kini semua ia rasakan.
__ADS_1
Ehmmm ... Stella bergumam derasnya hujan, dinginnya malam, menusuk-nusuk kulitnya. Joy yang mendengar gumaman nya semakin mempererat pelukannya memberikan kehangatan untuk tubuhnya.