Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Suami Takut Istri


__ADS_3

Lima bulan kemudian.


"Saya terima nikah dan kawinnya Tissa Maharani binti ... dengan mas kawin tersebut, di bayar tunai." Indra mengucapkan kata-kata sakral itu dengan lantang.


"Bagaimana saksi sah?"


SAH ... ucap para saksi dan tamu undangan serempak.


"Alhamdulillah."


Puji syukur alhamdulillah, semua berjalan dengan hidmat. Semua keluarga terlihat bahagia, menyambut sepasang pengantin baru. Akhirnya Indra dan Tissa sudah sah menjadi suami istri.


Mungkin, Tissa sudah pernah hamil dan melahirkan, namun, ini kali pertamanya untuk Tissa di pinang secara resmi oleh seorang pria yang akan menjadi suaminya. Tissa begitu terharu saat mendengar ucapan-ucapan sakral yang Indra ucapkan. Dan ini pernikahan Tissa yang pertama. Rasa sedih dan bahagia memang ada, Tissa merasa bahagia karena di pinang oleh Indra, di sisi lain Tissa juga sedih, karena tidak ada Rani di sisinya.


****


"Selamat." ucap Kanza, yang membuat Amber terkesima. Tiba-tiba saja Kanza mendekat ke arahnya, mengulurkan tangannya, untuk mengucapkan selamat. Tidak biasanya.


"Terima kasih." ujar Amber yang menjabat tangan Kanza lalu di lepasnya.


"Bagaimana perasaanmu, ketika punya ayah? Sekarang paman Dokter adalah ayahmu, kau tidak akan menghina lagi orang lain, kan!"


"Kau bertanya atau mengejek."


"Hei, Amber aku sudah bicara baik-baik kau malah seperti itu." hardik Kanza.


"Tapi pertanyaan mu seperti meledekku."


"Ah, sudahlah, aku malas berdebat denganmu." timpal Kanza yang memalingkan wajahnya dari Amber.


"Aku merasa senang karena Tuhan, memberikanku seorang ayah yang baik seperti Dokter Indra. Dan aku juga senang karena aku dan ibuku sudah lebih dekat, lebih akur, dari sebelumnya. Semoga, ini adalah awal hidupku yang baru." ujar Amber membuat Kanza menoleh.


"Ya, semoga saja, aku doakan yang terbaik." ujar Kanza.


"Kau tidak marah lagi padaku?" tanya Amber yang melirik Kanza.


"Yang sudah terjadi biarlah, aku sudah melupakannya." ujar Kanza yang membuat Amber tersenyum.


"Teman," ujar Amber yang mengulurkan tangannya pada Kanza, Kanza pun membalasnya dengan senang hati.


"Teman." ujar Kanza yang menjabat tangan Amber. Keduanya pun tersenyum lalu berpelukan.


Hm ...


Suara deheman mengejutkan Amber juga Kanza, mereka pun melepas pelukannya.


"Maukah kau berdansa denganku?"


Amber dan Kanza terbelalak, ketika dua orang pemuda mengajaknya berdansa, namun bukan kaget karena ajakannya, melainkan dengan wajah pemuda itu yang sama miripnya.


"Kalian kembar?" tanya Amber dan Kanza kompak.


"Ya, halo, aku Ghali." ucap seorang pemuda yang memperkenalkan namanya pada Amber.

__ADS_1


"Dan aku Ghala." ujar Ghala dengan senyum manisnya, membuat Kanza salah tingkah di buatnya.


"Apa ini keberuntungan kita?" bisik Amber.


"Mungkin, mereka kembar, setidaknya mereka lebih tampan dari Kenzie dan Kenzo." bisik Kanza.


"Mau berdansa?" tanya Amber setengah berbisik pada Kanza.


"Kenapa tidak, mereka juga sangat tampan," jawab Kanza. Lalu Amber dan Kanza saling pandang, setelahnya mereka berdua menerima uluran tangan pemuda kembar itu.


****


Kehamilan Anna dan Stella semakin membesar, perut buncitnya sudah mulai terlihat. Usia kandungan Anna saat ini 5 bulan, dan Stella 6 bulan, karena usia kandungan mereka berselisih 1 bulan.


Anna, Stella, dan Jolie mereka duduk manis sambil menikmati hidangan. Berbeda dengan Anna dan Stella yang begitu lahap, karena nafsu makan mereka semakin naik di karenakan hamil. Sedangkan Jolie, seperti tak berselera, jangankan makan, untuk gerak saja Jolie sangat malas.


"Jolie, kau tidak berdansa?" tanya Anna


"Aku malas." jawab Jolie, yang menekuk wajahnya.


"Kalian tidak berdansa?" tanya Jolie balik pada Anna dan Stella.


"Hei, kau tidak lihat perutku, aku sedang hamil besar, tidak mungkin aku berdansa." jawab Anna.


"Apalagi aku." ujar Stella, sambil mengelus-ngelus perutnya.


"Tapi dimana suami kita." tanya Anna yang tak melihat Kemi, Joy, dan juga Elang. Mendengar ucapan Anna, Stella dan Jolie pun langsung terperanjat, Jolie yang tadinya lesu langsung bugar begitupun Stella.


"Tadi, aku menyuruh Kemi untuk mengambil puding, tapi kemana dia belum kembali." ujar Anna yang terlihat kesal.


"Joy, juga kemana lagi. Katanya mau ke toilet tapi kok gak balik-balik." ujar Stella.


Jolie yang sedari tadi diam, kini matanya mulai melotot, wajahnya terlihat sangat marah, tangannya ia kepalkan seperti akan meninju seseorang.


"Jolie, kenapa kau diam saja?" tanya Anna


"Apa yang kau lihat?" tanya Stella.


"Lihat, disana." ucap Jolie dengan tatapan tajamnya.


"Kalian bisa lihat, kan. Itu suami-suami kita, lihat mereka, istrinya menunggu di sini mereka malah asik mengobrol dengan para wanita." ucap Jolie yang geram, melihat Elang yang berbicara dengan seorang tamu wanita. Tak hanya Elang namun Joy juga Kemi ada di sana. Walaupun ketiganya, hanya memasang wajah datar dan tidak terlalu melayani ketiga wanita di depannya, namun wanita itulah yang menghalangi mereka.


"Issh ... pantas saja lama, ternyata puding hidup yang kamu cari Kemi." umpat Anna kesal.


"Bilangnya ke toilet, tapi mojok di situ" gerutu Stella yang kesal juga cemburu.


Brakk,


Jolie menggebrak meja di depannya dengan penuh amarah. "Awas kau Elang ...." Jolie berjalan menghampiri Elang sudah tak sabar melayangkan tinjunya.


"Awas kau Kemi."


"Issh ... dasar laki-laki buaya, istri lagi bunting malah ngobrol sama cewek."

__ADS_1


Anna, Jolie, dan Stella pun berjalan menghampiri para suaminya.


****


"Hei, kamu mau kemana? Baru juga ngobrol." ujar seorang wanita yang menghentikan langkah Joy.


"Kamu, tinggal di jepang? Aku juga pernah tinggal disana." ujar seorang wanita yang sok dekat dengan Kemi. Kemi tidak mengubris, Kemi fokus memakan puding yang baru saja di ambilnya untuk Anna.


"Elang, kapan kita lunch bareng? Kamu selalu saja menolak. Mentang-mentang sudah punya istri." ujar seorang wanita yang tak lain adalah Anjani, gadis yang mengagumi Elang.


"Memangnya kenapa kalau punya istri, hah!" Anjani terkejut, apalagi Elang yang melihat Jolie, tiba-tiba ada di depannya.


"Gak bosen deketin suami orang? hah!" Tatapan Jolie begitu tajam, membuat Anjani pergi mengajak kedua temannya.


"Enak ya pudingnya." ujar Anna, yang menatap Kemi tajam. Kemi hanya cengengesan karena pudingnya sudah habis di makannya.


"Kemarin Sharon, tadi siapa?" pertanyaan Stella membuat Joy terbelalak.


Akhh ... akhh ... akhh ... teriak Kemi, Joy dan Elang yang telinganya di jewer para istrinya. Mereka di bawa ke halaman belakang.


"Mau cari istri lagi? Hah!" ujar Jolie


"Mau cari istri lagi? Karena aku udah jelek, gendut jadi kamu mau cari yang baru." ujar Stella


"Stella dengarkan aku dulu, kamu salah paham aku tidak melakukan apapun." bantah Joy, namun Stella tak ingin dengar. Stella malah ngambek dan pergi membuat Joy harus berlari mengejar Stella.


"Sayang dengarkan aku dulu," ujar Kemi yang mencoba menjelaskan pada Anna, namun Anna malah pergi membuat Kemi frustasi, lalu Kemi mengejar Anna.


Berbeda dengan Kemi dan Joy, Elang malah di buat sakit, oleh Jolie yang terus memukulinya.


"Sayang, sudah hentikan. Aku tidak ada hubungannya dengan Anjani."


"Buktinya, kamu masih menemuinya."


"Ya Tuhan, sumpah ... kami bertemu di sini."


"Aku gak percaya."


"Jolie, percayalah padaku."


"Jolie, sayang kamu kenapa?" Tiba-Tiba Elang khawatir, melihat Jolie yang menunduk seraya memegang kepalanya.


"Kepalaku pusing," ujar Jolie, seperkian detik, Jolie pun tumbang dan jatuh pingsan. Beruntung Elang menangkap tubuhnya, jadi Jolie tidak terjatuh ke lantai.


"Jolie, Jolie bangun. Jolie kamu kenapa sayang, ya Tuhan bagaimana ini." Elang panik, lalu membawa Jolie ke dalam mobilnya dan membawa Jolie ke rumah sakit.


...----------------...


Sambil nunggu up dari thor, mampir juga yuk ke novel teman thor.


Willea karya phopo_Nira


__ADS_1


__ADS_2