
Hari ini semua orang berkumpul di rumah sakit. Dokter baru saja memberitahukan bahwa Lusi, sudah sadarkan diri. Semua orang terlihat bahagia terutama Kenzo, dan kedua orang tuanya.
Akan tetapi, kesadaran Lusi, menjadi duka bagi semua orang terutama Kenzo, Lusi tersadar namun Lusi, tidak mengingat apapun. Lusi, tidak mengenali semua keluarganya atau pun Kenzo. Mungkin karena luka benturan pada kepalanya menyebabkan Lusi, amnesia.
"Aku dimana? Siapa kalian?"
Bagaikan tersambar petir, ucapan Lusi, membuat semua orang terkejut, apalagi Zeni, sebagai seorang ibu yang merasa begitu sakitnya saat tidak di kenali oleh anaknya sendiri.
"Sayang, ini Mama, apa kamu tidak ingat?"
"Ma-ma." ucap Lusi, seperti kebingungan. "Aku, tidak ingat siapa kalian? Dan aku ... siapa aku?" Bahkan Lusi, tidak ingat namanya sendiri.
"Apa kau ingat aku?" tanya Kenzo. Kenzo, terus menatap Lusi begitu pun dengan Lusi.
"Aku, seperti pernah melihatmu? Tapi, aku tidak tahu namamu," ucap Lusi, membuat Kenzo, mundur perlahan. Hatinya begitu sakit, Kenzo, merasa bersalah atas kecelakaan itu. Kenzo, duduk perlahan di kursi tunggu, kepalanya mulai menunduk menatap cincin yang di pegangnya. Jemari Kenzo, mulai mengepal meremas erat cincin itu, cincin yang akan di berikan-nya pada Lusi.
Sedangkan di dalam ruangan, Zeni terisak, dia tak mampu menahan bendungan air matanya. Alvin, terus memeluk Zeni, untuk menenangkan-Nya.
****
Di tempat lain, Kenzie terus melamun di dalam kamarnya, memikirkan tentang wanita seperti apa yang akan meluluhkan hatinya. Kenzie, merasa sudah bosan dengan wanita di kampusnya, mereka semua tidak ada yang beda. Kenzie ingin mencari wanita yang lain dari pada yang lain.
Kenzie jadi teringat pada wanita yang di temui-Nya di kampus beberapa hari yang lalu.
Flashback on
Kenzie, sedang berjalan melewati lorong. Kenzie, terlalu fokus dengan ponselnya sampai tak melihat jalanan dengan benar. Hingga Kenzie, menabrak tubuh seseorang dan hampir membuat orang itu terjatuh.
Beruntung Kenzie, menarik tangan orang itu kedalam pelukannya, membuat mata keduanya saling bertemu dan menatap. Kenzie, terpesona dengan keindahan mata orang itu, yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Astagfirullah," Kenzie, terperanjat saat orang itu menjerit, seraya mengatakan lapadz Allah, dan langsung melepaskan pelukannya.
"Jangan pegang-pegang bukan muhrim tahu!" umpat orang itu, yang tak lain adalah seorang wanita, berpakaian tertutup dan memakai hijab.
"Bukan muhrim?" ucap Kenzie, yang terheran-heran.
"Kamu tadi meluk- meluk aku ngapain? Kita bukan muhrim, lelaki dan perempuan tidak boleh bersentuhan apalagi berpelukan, kecuali sudah terikat pernikahan."
"Aku berniat baik untuk menolongmu agar tidak terjatuh, kenapa kamu jadi marah!" Bukannya menjawab wanita itu malah pergi meninggalkan Kenzie.
"Aneh," gumam Kenzie.
Flashback off.
"Siapa sih wanita itu, aneh banget! Alergi cowok kali ya! Di sentuh dikit langsung ketakutan kaya lihat setan aja." gumam Kenzie lirih.
"Kenzie, sedang apa?" Suara Kanza mengejutkannya.
"Bisa tidak, ketuk pintu dulu." ujar Kenzie. Namun Kanza, tidak menghiraukannya dan langsung masuk begitu saja ke kamar Kenzie, dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Ada, apa sih tumben ke kamarku," ucap Kenzie.
"Tumben, tumben, kamu itu sebenarnya adiknya Kenzo atau bukan sih! Kenzo, sedang berduka tahu!" ujar Kanza.
"Ada apa? Kenapa dengannya?" Tanya Kenzie, yang langsung bangun dari duduknya.
"Lusi,"
"Kenapa dengan Lusi? Apa Lusi, menolaknya?"
"Menolak?" ucap Kanza, yang kebingungan.
"Iya, Kenzo, itu mau melamar Lusi, tapi gagal karena Lusi, kecelakaan. Apa sekarang Lusi, sudah sadar lalu Kenzo, melamarnya tapi di tolak!"
"Bukan itu, ini lebih parah lagi." ucap Kanza, dengan tatapan sendunya.
"Kabar baiknya Lusi, sudah sadar tapi ... Lusi, tidak ingat apapun."
"Maksudnya? Hilang ingatan?" tanya Kenzie, yang penasaran. Kanza, pun mengangguk sebagai jawaban.
"Ya tuhan, kenapa begini! Kasihan Kenzo, dia pasti sangat terluka, padahal Kenzo, ingin melamarnya." ucap Kenzie, yang merasa sedih.
"Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau sudah tobat? Aku dengar, kau memutuskan Tiara, bahkan semua pacarmu. Dan aku dengar kau mendapat tamparan plus-plus, gimana sakit di tampar!" ledek Kanza.
"Jangan ngeledek,"
"Abisnya, kamu sih pacar banyak-banyak, kaya aku dong cukup satu saja, yang setia." ucap Kanza, yang berbangga diri.
"Ya, tentu. Gak kaya kamu playboy kabel,"
"Yakin? Di amerika sana banyak cewek-cewek cantik loh, bule-bule gak kaya kamu, bisa saja Ghala, tergoda."
"Aku percaya Ghala, tidak akan mendua."
"Terserah apa katamu, yang penting kamu bahagia." ujar Kenzie.
"Ya udah deh, aku mau ke kamar dulu, mau kangen-kangenan sama Ghala."
"Lebay!" cibir Kenzie.
"Eh, tunggu. Kanza kamu tahu wanita berhijab di kampus?" tanya Kenzie, yang menahan Kanza, pergi.
"Oh, itu. Anaknya bu kantin, yang pakai jilbab itu, kan?"
"Tahu, namanya siapa?"
"Annisa," ujar Kanza, lalu melangkah pergi dari kamar Kenzie.
Kenzie, terus melamun memikirkan Annisa, Kenzie, penasaran dengan gadis itu, sebab Kenzie, tak pernah bertemu dengan gadis seperti Annisa.
__ADS_1
Keesokan paginya, Kenzie mencari-cari sosok Anisa, namun tidak ketemu. Hingga Kenzie, datang ke kantin untuk melihat Annisa.
"Nak, tolong gantiin Ibu bentar, Ibu mau ke pasar dulu," ujar Ibu Annisa.
"Iya, Bu," jawab Annisa.
Annisa, adalah gadis desa, yang ikut bekerja membantu ibunya berjualan di kantin. Annisa gadis cantik, manis. berhijab dan memakai pakaian tertutup seperti gamis. Selain membantu ibunya di kantin Annisa juga kuliah di kampus itu, yang mendapat beasiswa.
Annisa, tinggal di lingkungan pesantren, tidak aneh jika Annisa, sangat paham tentang agama apalagi tentang laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya.
Annisa, dan ibunya menjual aneka makanan berat, seperti bakso, mie ayam, nasi goreng, dan masih banyak lagi.
"Mba, saya pesan nasi gorengnya satu," ucap seorang pria yang tak lain adalah Kenzie. Annisa, mendongak sambil tersenyum ramah, namun seketika bibirnya menciut, saat melihat laki-laki itu Kenzie. Anisa langsung menundukan kepalanya dan menjauhkan pandangannya dari Kenzie.
"Hai mba, kenapa nunduk mulu, gak lihat ada pembeli?" ujar Kenzie.
"Seorang wanita muslimah maupun lelaki muslim di perintahkan untuk menjaga pandangannya, baik wanita yang menjaga pandangannya dari laki-laki yang bukan mahromnya," jelas Annisa, membuat Kenzie diam.
"Kamu Annisa, kan?"
"Darimana anda tahu, nama saya."
"Tidak penting, namaku Kenzie," ucap Kenzie, yang mengulurkan tangannya kepada Annisa.
"Maaf, kami di larang bersentuhan tangan bagi laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim." ucap Annis yang menangkup, kan kedua tangannya.
"Silahkan, ini pesanannya." ujar Anis, yang menyerahkan satu piring nasi goreng pada Kenzie. Lalu, berbalik membelakangi Kenzie.
"Boleh aku bertanya lagi?"
"Sepertinya tidak ada yang perlu di tanyakan, silahkan pergi." ujar Anisa
"Kita belum kenalan,"
"Bukankah kau sudah tahu namaku, dan kau juga sudah memperkenalkan dirimu bukan! Jadi silahkan pergi." perintah Anis.
"Tapi ...." ucap Kenzie, tertahan.
"Aku tidak ingin ada fitnah, jadi tolong pergi."
"Fitnah? Siapa yang memfitnah, aku cuma ingin berbicara denganmu."
"Laki-laki dan perempuan berduaan itu tidak boleh, karena bisa menjadi fitnah. Jika ingin berbicara harus ada teman atau salah satu keluarga yang menemani, biar tidak jadi fitnah." jelas Anisa, membuat Kenzie, semakin di buat bingung.
...----------------...
Jangan lupa like setelah membaca.
Dan Vote juga komentarnya jangan lupa 🥰
__ADS_1
Klik favorit juga ya, 🙏😊 supaya novel ini masuk ranking favorit 🥰