Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Surat


__ADS_3

"Aku, akan melakukan tugasku sebagai seorang istri, aku tidak ingin menanggung dosa karena tidak melayanimu." Elang lansung berbalik menatap Jolie yang masih menutup wajahnya. Elang tak percaya perkataannya tadi membuat hati Jolie tergerak.


"Kamu yakin kamu sudah siap?" Jolie mengangguk namun masih menutup wajahnya. Elang tersenyum kecil.


"Yakin!" Elang mulai menyentuh tubuh Jolie di mulai dari paha mulusnya, Elang ingin tahu seberapa siapkah Jolie, tangan Elang mulai meraba raba, menyusuri tubuh Jolie sampai lingerianya terangkat sedikit memperlihatkan paha mulusnya. Elang mulai memainkan tangannya di atas sana.


Deg, deg, deg,


Hati Jolie dag dig dug tak menentu, tubuhnya seakan tersengat listrik. Saat tangan Elang mulai bergerak ke atas ... Jolie malah turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi membuat Elang melongo melihatnya.


Huh ... huh ... huh ... nafasnya mulai memburu naik turun, Jolie masih belum bisa mengontrol deru nafasnya. Jolie bersandar pada daun pintu mencoba menetralkan detak jantungnya.


Tok ... tok ... tok ... Jolie terperanjat saat mendengar suara ketukan pintu dari luar . "Sampai kapan kau akan diam di dalam." suara Elang terdengar.


"Sebentar lagi aku akan keluar," jawab Jolie gugup.


"Keluarlah aku tidak akan melakukan apa pun." seru Elang namun Jolie tidak menjawab.


"Baiklah, kalau begitu aku akan keluar." seru Elang membuat Jolie dengan cepat keluar dari kamar mandi.


Cklek, Jolie membuka pintu.


"Aku sudah siap, ayok kita lakukan." ucap Jolie yang berdiri di depan pintu kamar mandi sambil menunduk. Dan saling menautkan jari tangannya.


"Aku akan memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri." lanjut Jolie, Elang masih diam memperhatikan Jolie yang sedang ketakutan. Dengan tiba-tiba Elang memangku tubuh Jolie membawanya ke atas ranjang. Jolie pun sangat terkejut.


"Apa Elang benar-benar akan melakukannya malam ini." batin Jolie yang sudah sangat tegang.


Elang menurunkannya perlahan ke atas ranjang. Wajah keduanya begitu dekat, Elang menatap Jolie tanpa berkedip, perlahan wajahnya bergerak maju mendekati wajah Jolie. Jolie yang melihat wajah Elang semakin mendekat langsung memejamkan matanya, seakan tahu apa yang akan di lakukan Elang.


"Aku memang akan melakukannya, tapi tidak sekarang." ucap Elang yang membuat Jolie mengerjap.


"Kenapa?"


"Apa kau sangat ingin melakukannya sekarang, lalu kenapa kamu lari saat aku menyentuhmu tadi."

__ADS_1


"Sekarang aku sudah siap lakukan saja." ucap Jolie yang memejamkan matanya. Elang hanya mengulum senyum.


"Aku sudah bilang akan melakukannya, namun tidak sekarang, karena luka operasimu belum sembuh." bisik Elang pada Jolie


"Kamu tahu, melakukan itu butuh tenaga yang kuat, kalau perutmu saja masih luka, bagaimana kamu bisa melakukannya." Pipi Jolie mulai bersemu merah mendengar perkataan Elang. Elang tertawa melihat wajah Jolie yang bersemu merah.


"Kenapa kau tertawa? Apa ini lucu." hardik Jolie yang kesal bercampur malu. Jolie benar-benar sangat malu, namun tiba-tiba Jolie terbelalak saat Elang mengecup bibirnya.


****


Keesokan paginya Jolie melamun, memikirkan tingkah nya yang semalam, yang sungguh memalukan. Jolie terus meraba bibir ranumnya yang semalam Elang kecup itu adalah ciuman pertamanya.


Jolie terus melamun sampai tidak fokus dengan apa yang di lakukannya. Dengan tangan kosong Jolie memasukan satu ekor ikan ke dalam wajan yang berisi minyak panas, namun karena tidak hati-hati Jolie malah memasukan semua tangannya ke dalam minyak panas itu,


"Aaaa ... aduh panas" teriak Jolie, yang mengipas-ngipaskan tangannya.


"Ya ampun Non, kenapa tidak hati-hati." seorang asisten rumah tangga panik melihat majikannya menjerit kesakitan.


Tangan Jolie sudah mulai memerah karena minyak panas itu, Jolie akan mencucinya dengan air namun di cegah oleh ART yang membantunya di dapur.


"Jangan di cuci Non, nanti tangan Non melepuh."


"Sini biar Bibi bantu, Bibi pakaikan salep ya." Jolie mengangguk. Tangannya mulai di beri salep oleh ART-Nya.


"Aduh, Non kalau nyonya dan tuan tahu Bibi bisa di marahi, mulai besok Non jangan bantu masak lagi ya? Tuan Elang pasti marah."


"Tenang Bi aku tidak akan kasih tahu Elang atau Mami." ujar Jolie namun tetap saja ART nya tidak tenang.


Setelah lukanya di obati Jolie di bantu menyiapkan bekal untuk Elang karena Siang ini Jolie akan mengantarnya ke kantor Elang sendiri seperti para istri pada umumnya. Jolie benar-benar tidak sabar untuk memberi kejutan pada Elang, karena Elang tidak tahu kalau Jolie akan datang ke kantornya.


****


Di tempat Lain Tissa sudah sampai di apartemen milik Indra. Beruntung saja Indra masih berada di apartemennya namun Amber tidak ada, dia pergi keluar entah kemana.


"Masuklah." ajak Indra yang membukakan pintu. Tissa hanya mengangguk pelan sambil melangkah masuk ke dalam apartemen.

__ADS_1


"Amber tidak ada di rumah, aku akan menyuruhnya untuk pulang." ujar Indra namun di tahan oleh Tissa.


"Tidak perlu, aku takut dia tidak mau menemuiku. Aku kesini ingin memasak untuk putriku apa boleh?" ujar Tissa sambil memperlihatkan barang belanjaan yang dia bawa.


"Tentu, ayo duduklah dulu." Titah Indra Tissa pun duduk di sofa sambil melihat-lihat sekeliling ruangan.


"Apa kau tidak ke rumah sakit?" tanya Tissa


"Tidak ada jadwal." jawab Indra sambil menuangkan air minum ke dalam gelas.


"Apa Amber berhenti menangis semalam?"


"Ya ... berkat video mu itu, dia tertawa sampai tertidur." ujar Indra yang menaruh segelas jus di hadapan Tissa.


"Apa kau mau melihat kamarnya?"


"Apa boleh?"


"Tentu, ayo aku tunjukan kamar Amber." Tissa mengikuti langkah Indra menuju kamar Amber. Indra membuka pintunya perlahan, memperlihatkan sebuah kamar yang minimalis, dan terlihat rapi. Tissa berjalan memasuki kamar menyapu semua sudut ruangan, sampai pandangannya terhenti pada sebuah boneka bear yang terdapat pada ranjang.


"Aku membelikannya saat pertama kali Amber masuk ke rumahku, aku melihat Amber terus menatap boneka itu, aku tidak tega melihatnya jadi aku belikan saja." jelas Indra saat Tissa menatap boneka itu.


Tissa berjalan ke arah boneka itu, Tissa jadi ingat saat Amber kecil dulu, Tissa merusak bonekanya sampai Amber menangis dan memohon pun Tissa tidak peduli, padahal itu boneka kesayangan Amber sama percis dengan boneka ini.


"Kau menyayangi putriku melebihi aku, aku bahkan tidak tahu apa yang Amber inginkan." ucap Tissa sambil terus memandangi boneka itu.


"Mungkin ini hanya kebetulan." ucap Indra yang melangkah pergi keluar meninggalkan Tissa sendirian di dalam kamar. Tissa membuka tas-Nya lalu mengambil sebuah surat yang baru saja Tissa tulis semalam. Tissa menyelipkan surat itu di bawah boneka bear itu, berharap Amber akan membacanya.


"Aku akan menebus kesalahanku besok. Aku harap kamu memaafkan ku." ucap Tissa yang menyapu air matanya.


Tissa kembali keluar berjalan ke arah dapur. "Kau yang mengurus rumah mu sendiri?" tanya Tissa pada Indra yang sedang merapikan belanjaannya.


'Ya, aku mengurus rumahku sendiri kenapa?"


"Kamu cukup cekatan dan rapi, rumah mu sangat bersih, pantas saja putriku sangat nyaman disini. Apa kau tidak pernah berpikir untuk menikah? Maksudku tidak mungkin tidak ada wanita yang tertarik padamu, kau seorang dokter, pintar dan kau memiliki semuanya."

__ADS_1


"Aku tidak perlu menjelaskannya lagi, kan." ujar Indra dingin. "Apa yang akan kau masak?" tanya Indra mengalihkan pembicaraan.


"Masakan makanan kesukaannya." jawab Tissa yang mulai memasak dan di bantu oleh Indra.


__ADS_2