Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Kegelisahan


__ADS_3

Alvin berdiri tegak di depan kantor polisi untuk menunggu Joy yang belum datang. Alvin terlihat tegang dia terus melihat jarum jam di tangannya.


"Huuuuuft, kenapa aku harus melakukan ini lagi." gumam Alvin yang terlihat gelisah. Tak lama kemudian Joy pun datang Joy menepikan mobilnya lalu turun menghampiri Alvin.


"Paman ada apa? Apa yang papi perintahkan?" tanya Joy


Alvin pun berbisik, menjelaskan apa dan maksud tujuannya datang ke kantor polisi. Joy terbelalak mendengar penjelasan Alvin yang memerintahkan Joy untuk memberikan suntikan pada Christ seperti yang di lakukan Vero 17 tahun lalu pada Bagas.


Suntikan itu berisi cairan toxin yang mematikan, setelah toxin itu di suntikan dalam waktu kurang lebih 15 menit orang itu akan mati.


"Gila, papi pernah lakukan itu 17 tahun yang lalu, aku tidak mau lakukan hal itu, itu sama saja aku seorang pembunuh."


"Tapi ini perintah, lakukan saja jangan takut."


"Kalau begitu paman saja yang lakukan." Mental Alvin langsung menciut.


Nino ... nino ... nino ...


Tak lama kemudian, datang sebuah mobil ambulance dan berhenti di depan kantor polisi. Beberapa perawat turun dari dalam mobil lalu menurunkan sebuah brankar. Sedangkan dari dalam beberapa anggota kepolisian memopong seorang tahanan untuk di bawa menuju mobil, tahanan itu adalah Christ.


Joy terkejut melihat Christ yang di bawa menuju mobil ambulance, "Ada apa ini?" ucap Joy yang melihat Christ di bawa masuk ke dalam ambulance.


"Joy." Seru seorang anggota kepolisian, yang tak lain adalah Sharoon. Joy pun menoleh ke arah Sharoon.


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa di bawa ke dalam mobil ambulance?" tanya Joy


"Dia meninggal, dia melakukan bunuh diri."


"Apa?" Joy tak percaya.


"Sepertinya orang itu mengalami gangguan mental, itu sebabnya dia melakukan itu pada Jolie, setelah itu dia sendiri mengakhiri hidupnya." jelas Sharoon.


"Lalu apa yang akan kalian lakukan?"


"Kami sudah menghubungi kepolisian di australia, mereka akan menjemputnya, dia akan di antar ke keluarganya di australia." jelas Sharoon. Joy kembali terdiam menatap kepergiaan ambulance itu. Lalu Joy menghampiri Alvin.


"Bilang pada papi kita tidak perlu membunuhnya, karena dia sudah mati."


"Kapan?" tanya Alvin


"Orang yang baru saja di bawa ambulance, itu adalah Christ orang yang telah menculik Jolie." jawab Joy.


"Baiklah aku akan memberitahu papimu. Kalau begitu kita pulang sekarang, tidak ada lagi yang akan kita lakukan." ajak Alvin Joy pun mengangguk. Namun saat Joy akan pergi melangkah Sharoon memanggilnya membuat langkahnya terhenti.

__ADS_1


"Joy" Panggil Sharoon. Joy pun menoleh


"Paman duluan saja," titah Joy pada Alvin. Alvin pun mengangguk lalu pergi.


"Bagaimana keadaan Jolie?" tanya Sharoon saat sudah mendekat.


"Operasinya berjalan dengan lancar, hanya saja belum siuman." jawab Joy datar lalu akan melangkah pergi namun di tahan oleh Sharoon.


"Joy, aku dan yang lain akan pergi makan malam kau ikut ya? Ada komandan juga," ajak Sharoon namun Joy masih berpikir.


"Mm ... lain waktu saja aku harus kembali ke rumah sakit." Lagi-lagi Joy menolak, namun saat Joy ingin kembali melangkah seseorang memanggilnya.


"Joy." Panggil seorang pria berseragam, dan berwibawa. Pria itu melangkah menghampiri Joy dan Sharoon.


"Joy, kau ada disini." tanya pria itu


"Ya, tadi ada keperluan sedikit." jawab Joy singkat


"Komandan bagaimana kalau Joy ikut bersama kita," saran Sharoon pada pria tersebut.


"Ya tentu, ayo Joy kita akan pergi makan malam, sekali-kali kapan lagi kita akan bertemu iya, kan?"


"Tidak sekarang, lain waktu saja."


"Ayo, ikut saja." ajak Sharoon yang menarik tangan Joy.


"Baiklah kalau begitu aku ikut denganmu." ucap Sharoon yang pergi menaiki mobil Joy.


Sedangkan di rumah sakit, Stella masih menunggu Joy yang belum kembali. Stella menghubungi Joy namun tidak di angkat juga. Pikiran Stella semakin berkecamuk, hatinya tak tenang memikirkan pesan Sharoon saat tadi siang.


"Kau belum pulang Stella?" tanya Elang yang baru saja keluar dari ruang ICU melihat Stella yang bersandar di kursi tunggu.


"Aku mau menunggu Joy."


"Joy belum kembali juga?"


"Mungkin Joy masih ada urusan di kantor polisi."


"Biar aku hubungi Joy." Elang mencoba menghubungi Joy namun tidak aktif.


"Ini sudah malam, kamu harus pulang biar aku yang mengantarmu."


"Tidak perlu, aku akan naik taksi. Kalau kamu mengantarku siapa yang akan menjaga Jolie."

__ADS_1


"Kamu yakin?"


"Iya. Kalau Jolie sudah siuman kabari aku."


"Iya." jawab Elang. Stella pun pergi meninggalkan ruang ICU.


Kenapa ponsel Joy tidak aktif, apa mereka sedang makan malam? Tapi kenapa Joy tidak memberitahuku, setidaknya Joy memberikan kabar kalau memang dia ada keperluan lain, aku juga tidak akan marah, batin Stella sambil berjalan gontai keluar rumah sakit.


Stella menunggu taksi, tatapannya kosong, Stella melamun membayangkan sedang apa Joy sekarang. Tak lama kemudian taksi pesanannya datang, Stella pun memasuki taksi tersebut, taksi itu pun melaju meninggalkan rumah sakit.


Malam semakin larut, jalanan cukup ramai dan macet, taksi yang di tumpanginya pun berjalan merayap. Stella hanya duduk melamun sambil melihat ramainya ibu kota malam ini.


Sedangkan di sisi lain Joy sedang gelisah karena tidak bisa mengabari Stella, karena ponselnya dalam keadaan mati. "Apa Stella masih menungguku? Aku lupa memberi kabar padanya, ponsel ku mati lagi." gerutu Joy kesal.


"Ada apa? Kau kelihatan gelisah?" tanya Sharoon


"Ponselku mati aku tidak bisa menghubungi istriku." jawab Joy dingin tanpa menoleh ke arah Stella Joy tetap fokus menyetir.


"Kau bisa hubungi istrimu lewat ponselku saja." ujar Sharoon yang memberikan ponselnya.


"Tidak usah." jawab Joy dingin. Namun tanpa sepengetahuan Joy Sharoon mengirim pesan pada Stella, karena Sharoon pernah menyimpan nomor Stella yang ia dapatkan pada data korban penculikan saat itu.


"Stella ini aku Sharoon, Joy sedang bersamaku sekarang jangan khawatir, kita hanya makan malam saja, aku mengirim pesan ini supaya kau tidak mengkhawatirkan Joy."


Isi pesan dari Sharoon. Stella membaca pesan itu dalam diam, namun hatinya sangat sakit saat tahu Joy sedang bersama Sharoon.


"Kenapa Sharoon? Kenapa tidak Joy saja yang menghubungiku. Dia tidak malu apa mengirim pesan seperti ini padaku, dia jalan dengan suami orang lain." gerutu Stella dalam hati. Stella berpikir kalau Joy hanya makan malam berdua, padahal mereka makan malam bersama anggota polisi lainnya.


Tanpa di duga mobil yang Stella tumpangi, berhenti di lampu merah dan tepat di samping mobil milik Joy. Stella melihat Joy yang fokus menatap ke depan dengan tangan di atas bundaran stir, Joy belum menyadari keberadaan Stella yang berada di taksi samping mobilnya.


Stella terus membuka kaca jendela untuk memastikan bahwa itu benar Joy, Stella melihat ada Sharoon di dalam mobil, Joy masih fokus menatap ke depan sampai akhirnya Joy melihat Stella di balik kaca spion. Stella yang saat itu terus melihat ke arah mobil Joy.


"Stella." gumam Joy lirih, Joy langsung menoleh ke arah Stella, keduanya sama-sama diam sampai akhirnya mobil yang di tumpangi Stella melaju terlebih dulu, Joy dan Stella sama-sama menatap sampai akhirnya taksi yang di tumpangi Stella melaju sangat jauh.


Tid ... tid ... tid ...


Suara klakson mengejutkan Joy. Suara klakson saling bersautan di belakang mobilnya, meminta agar Joy segera melajukan mobilnya, karena lampu hijau sudah menyala.


"Joy, ada apa? Kenapa kamu masih diam ayo cepat lajukan mobilnya." ujar Sharoon, Joy pun langsung tancap gas.


Joy melajukan mobilnya begitu cepat dia ingin mengejar taksi Stella yang sudah melaju sangat jauh. Namun taksi yang di tumpangi Stella sudah tidak terlihat mungkin sudah pergi jauh.


...----------------...

__ADS_1


Happy reading 🌷


Jangan lupa untuk dukungannya ya 🙏😊


__ADS_2