
Hari H tinggal beberapa hari lagi, persiapan pernikahan sudah di siapkan dengan matang. Dari WO, gedung, cathering, dan lainnya. Untuk gedung mereka akan mengadakan pesta di hotel milik Endra group yang sudah di hias, semewah mungkin oleh Nyonya Endra.
Nyonya Endra sangat antusias menyambut pernikahan kembar ini, yang akan di laksanakan secara bersamaan antara Jolie dan Anna. Nyonya Endra tidak akan salah pilih dalam memilih konsep pesta, karena itu sudah bidangnya.
Di balik kesibukan untuk persiapan pernikahan, para lelaki tetap sibuk bekerja terutama Vero yang selaku pemilik Wallandou group. Di karenakan putrinya akan menikah, jadi Anna tidak pernah datang ke perusahaan selama seminggu ini otomatis Vero sebagai papinya harus turun tangan.
Di sela-sela kesibukannya ada saja masalah yang datang dan mengganggunya seperti saat ini, Vero mendapat telepon dari Indra bahwa putrinya ada di rumah sakit memintanya untuk datang. Sebagai seorang ayah pasti akan merasa cemas jika mendengar putrinya berada di rumah sakit.
"Alvin batalkan meeting hari ini"
"Ada apa?" tanya Alvin
"Aku harus ke rumah sakit, putriku ada di sana" jawab Vero yang berlalu pergi meninggalkan Alvin.
****
Shila sudah sampai di rumah sakit terlebih dulu, rasa panik seorang ibu tidak bisa dia sembunyikan apalagi ketika mendengar putrinya ada di rumah sakit. Shila berlari menyusuri lorong melewati beberapa pintu ruangan, sesampainya di sebuah ruangan Shila melihat Kanza yang duduk di atas brankar sambil menangis. Indra yang melihat Shila datang hanya menggeleng seakan menjawab bahwa tidak tahu apa yang terjadi pada Kanza.
"Kanza" panggil Shila
"Mami" rengek Kanza yang langsung memeluk Shila.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Apa kamu terluka? Dimana? Dokter kenapa dengan putri saya"
Indra hanya menggeleng "Aku tidak tahu, dia datang sambil menangis" ucapnya demikian
"Tapi Kanza tidak terluka kan!" Indra menggeleng karena memang Kanza baik-baik saja.
"Kanza, ceritalah ada apa? Kenapa kamu menangis?" Shila menatap mata Kanza di hapusnya air mata yang membasahi pipinya.
"Mami, apa aku bukan anak papi?"
DEG!! Shila terkejut, tidak hanya Shila namun Indra juga terkejut. Shila merasa sedih atas pertanyaan putrinya itu, apa maksud pertanyaannya? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Kanza apa yang kamu katakan! Omong kosong apa ini, tentu saja kamu anak mami dan papi"
"Hiks...hiks... Aku memang anak mami tapi papi ku bukan papi, apa itu benar? Mami katakan itu bohong, aku anak papi kan aku bukan anak haram kan"
DEG!! Hati Shila terasa sakit, apa tadi dia bilang anak haram! Siapa yang telah mempengaruhi putrinya sehingga berkata seperti ini.
"Sayang, lihat mami kamu anak kandung mami dan papi, bukan anak haram"
"Iya nak, aku saksinya saat ibu mu melahirkan mu, tapi aku tidak melihat saat mereka membuat mu" Di saat seperti ini bisa-bisanya Indra bergurau. Indra menyengir kuda setelah mengatakan itu.
__ADS_1
"Stella, siapa yang mengataimu seperti itu siapa?"
"Siapa lagi mami orang yang benci padaku siapa lagi kalau bukan si ember cucian itu." ucap Kanza yang terus menangis.
"Pokoknya aku mau tes DNA sekarang mami"
"Tes DNA siapa?" tanya Vero yang baru saja datang. Semua menoleh ke arah nya. Kanza berlari menghampiri Vero yang baru saja datang.
"Papi aku ingin tes DNA sekarang juga" Vero terbelalak
"Untuk apa?" tanyanya heran
"Untuk membuktikan kalau aku adalah anak papi"
DEG!! Vero sama terkejutnya, apa ini artinya putrinya meragukannya. Bertahun-tahun mereka hidup bersama, untuk pertama kalinya ada putrinya yang meminta tes DNA karena meragukannya sebagai orang tuanya.
"Kamu meragukan papi? Untuk apa, kamu anak papi butuh bukti apa lagi" gertak Vero sedikit meninggi.
"Kamu, Kenzie dan Kenzo kalian lahir kembar, ibumu mengandung kalian selama sembilan bulan, kamu tahu papi yang menyaksikan kelahiran mu, mami melahirkan mu sampai mempertaruhkan nyawanya"
"Kamu tahu, mami hampir meninggal saat melahirkan mu, sekarang kamu meragukan kami sebagai orang tua mu"
"Stop" Shila menahan tangan Vero yang hampir saja memukul putrinya. Vero sudah sangat marah, dan untuk pertama kalinya Vero memarahi Kanza putrinya.
"Lakukan saja" ucap Shila demikian
"Untuk apa?" bantah Vero
"Untuk anak mu"
"Omong kosong apa ini,"
"Jadi benar aku bukan anak papi"
"Kanza" bentak Vero
"Lalu kenapa papi tidak ingin tes DNA, apa takut aku mengetahuinya" Kanza terus merengek, dia sudah termakan ucapan Amber yang membuatnya histeris seperti ini.
"Aku malu, semua di sekolah mengataiku aku anak haram, dan ibuku seorang pembunuh"
DEG!! Lagi-lagi perkataan yang menyayat hati kembali Shila dengar. Vero dan Indra pun terhenyak, apa lagi ini seorang pembunuh apa maksudnya, omong kosong macam apa ini.
"Apa, kamu bilang apa? Berani kamu hina ibumu" ucap Vero yang tersulut emosi. Shila hanya diam di tidak bisa berkata apapun, tubuhnya sudah sangat lemas, tak kuat lagi untuk berpijak.
__ADS_1
"Justru itu aku ingin tahu jawabannya, apa benar aku anak haram? Dan mami adalah seorang pembunuh, semua teman-teman ku mengataiku"
"Mami jawab, mami jawab, siapa yang sudah mami bunuh?"
"Kanza...." Hampir saja Vero menampar Kanza, namun itu tertahan karena Shila jatuh pingsan. Dengan sigap Vero langsung menangkap tubuh istrinya.
"Mami...." Kanza terkejut melihat Shila yang jatuh dalam pelukan sang papi, semua orang panik begitu pun Indra.
"Shila, Shila bangun" Vero terus menepuk-nepuk pipi istrinya
"Indra cepat periksa istri saya" Vero langsung mengangkat tubuh Shila, langsung ia tidurkan di atas brankar. Vero sangat panik, karena akhir-akhir ini Shila terlalu lelah, bahkan berkali-kali dokter menyarankan agar banyak beristirahat.
Kanza terus menangis sambil memanggil-manggil maminya.
"Hiks... Mami" Vero melihat Kanza menangis, Vero menghampiri putrinya lalu memeluknya.
"Mami akan baik-baik saja, jangan khawatir" ucapnya dengan lembut. Karena emosinya saat ini sudah meredah. Vero menepuk-nepuk punggung Kanza, sampai tak terasa Kanza tertidur di pelukannya.
Vero benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada putrinya. Di saat dirinya sedang menepuk-nepuk punggung putrinya lembut, Indra datang menghampirinya. Melihat Indra datang Vero langsung menidurkan Kanza di atas sofa.
"Bagaimana keadaan istriku?"
"Dia hanya kelelahan, dan stres juga"
"Mungkin karena akhir-akhir ini Shila kurang istirahat. Kamu juga tahu kan sebentar lagi kami akan menikahkan kedua putri kami, mungkin itu yang membuatnya lelah dan stres.
"Ngomong-ngomong aku jadi penasaran apa yang di bilang Kanza apa itu benar?"
"Indra, kau ..." Lagi-lagi Indra memancing emosinya.
"Aku kan tidak melihat kalian membuatnya"
"Indra..."
"Iya, iya, aku bercanda" Indra terkekeh
"Kalau kamu ingin tahu buat saja sendiri"
"Dengan siapa?"
"Dengan pasien mu"
"Gila, kamu pikir aku apa psikopat"
__ADS_1
Begitulah Vero dan Indra yang selalu bergurau dalam perdebatannya.