
Di sebuah ruangan gelap , di depan sebuah meja panjang , di temani para pria berseragam , Joy duduk di antara mereka , setelah kejadian tadi siang Joy langsung mendatangi kantor polisi , untuk membicarakan tentang penyelidikan nya itu .
"Tuan Joy , anda tidak perlu khawatir , kami akan melindungi mu , walau pun kami tidak tahu apa yang akan di lakukan nya pada mu ." ucap seorang komandan polisi.
"Saya tidak takut apa pun , saya bisa jaga diri baik - baik , namun yang saya khawatirkan adalah keluarga saya , saya tidak ingin mereka terlibat dalam masalah ini ."
"Apa anda akan menjamin keluarga saya aman ?" wajah Joy begitu serius , dia tidak ingin keluarga nya ikut terlibat dalam masalah nya . Namun pihak berwajib juga tidak bisa berjanji karena orang yang di hadapi nya saat ini bukanlah orang sembarangan , dia orang yang tak punya perasaan , karena mafia tidak pernah memakai perasaan dalam melakukan apa pun .
Siapa yang mencoba mengusik hidup nya , menghalangi jalan nya , dia tidak akan segan - segan membunuh musuh nya .
"Jadi kalian tidak bisa melindungi keluarga ku ?" para pria berseragam itu hanya saling pandang ketika mendapat pertanyaan itu dari Joy .
"Orang yang kita hadapi ini bukan orang sembarangan , untuk selama ini tidak ada satu pun pihak militer yang bisa menangkap nya atau pun melawan nya , dan dia akan terus mencari siapa saja orang yang telah mengusik kehidupan nya ." jelas seorang pria berseragam.
"Mulai besok tim kami akan mengawal keluarga mu , rumah mu akan di jaga ketat oleh TIM kami ,"
"Tidak , jangan mengirim siapa pun ke rumah ku , aku tidak ingin keluarga ku panik , kalian bisa mengawasi nya saja dari jauh ."
"Baiklah , kalau itu keinginan mu "
"Apa aku bisa mendapatkan satu senjata api ? aku butuh untuk berjaga - jaga , bila sewaktu - waktu mereka datang kembali , aku tidak mungkin kan menghadapi mereka dengan tangan kosong ." Joy meminta sebuah senjata untuk melindungi diri nya .
Si komandan pun mengisyaratkan para anggota nya , untuk memberikan sebuah pistol .
"Apa kau tahu cara menggunakan nya ? " ucap si komandan sembari meletakkan pistol itu di depan Joy .
"Tentu ." jawab Joy singkat seraya mengambil pistol itu dari atas meja .
"Bagaimana soal penyelidikan nya ? apa kalian akan berhenti ? sudah sejauh ini , mari kita sama - sama melawan nya ." ucap Joy tersenyum devil .
__ADS_1
"Aku suka semangat mu Tuan , tidak salah kami merekrut mu , kau adalah pria tangguh , senang bekerja sama dengan mu." sang komandan tersenyum sembari menjabat tangan Joy . Setelah itu Joy memutuskan untuk pergi dari ruangan itu .
Joy berjalan menyusuri koridor , melewati beberapa ruangan di sana , dan sampai di ruang tunggu , Joy melihat Stella yang tertidur menyimpan kepala nya di atas meja , mungkin Stella lelah karena lama menunggu diri nya .
Joy berjalan menghampiri Stella menundukkan kepala nya agar lebih dekat dengan wajah Stella , di tatap nya dalam - dalam wajah Stella , wajah yang begitu tenang dan damai .
"Maafkan aku Stella , karena aku kau jadi terlibat ." ucap Joy yang terus menatap wajah Stella , Stella tertidur begitu lelap sampai Joy tidak tega membangunkan nya , Joy pun menggendong tubuh Stella sampai ke dalam mobil nya .
Merasa tubuh nya melayang dan bergerak Stella pun membuka mata nya perlahan , pemandangan pertama yang di lihat nya adalah seorang pria tampan yang menggendong nya saat ini ,
Apa ini mimpi ? ini benar - benar terasa mimpi , Stella masih belum sadar sepenuhnya , dia pikir ini adalah mimpi. Sesampai nya di dalam mobil baru lah Stella tersadar bahwa ini bukan mimpi tapi nyata ,
Joy
"Kau sudah bangun ? " Joy mendudukkan Stella pada kursi lalu memasang seatbelt nya .
"Apa urusan nya sudah selesai ?" tanya Stella , karena seingat nya tadi Joy masih berada di dalam kantor polisi.
"Joy aku lapar ." Joy langsung menoleh ke arah Stella yang duduk di samping nya .
"Lapar !" Joy menatap Stella datar.
"Joy kau sudah membuat ku berlari maraton hari ini , kau melupakan itu ? setelah berlari aku kehabisan tenaga , aku menunggu mu sangat lama , kau berbicara apa saja dengan mereka sampai melupakan ku ."
"Maaf Stella , aku melupakan mu , aku membiarkan mu menunggu ku sampai kamu tertidur , kalau begitu kau mau makan apa ? "
"Malam - malam begini makan apa ? Pizza ." ucap Stella yang sumringah
"Pizza ? "
"Hmm "
"Oke , kita makan Pizza ."
__ADS_1
Yeay..
Joy melajukan mobil nya menuju tempat makanan saji yang menyediakan pizza . Setelah sampai Joy memparkirkan mobil nya , setelah itu barulah mereka turun . Joy dan Stella berjalan bebarengan memasuki tempat itu , Stella langsung memesan satu porsi pizza untuk diri nya dan juga Joy , Stella begitu semangat , rasa lapar nya sudah tidak tertahan lagi , Stella langsung duduk di sebuah meja kosong yang sudah ada Joy di sana .
Tempat ini adalah merupakan tempat favorit nya saat jalan bersama Joy , Joy selalu menemani Stella kemana pun dia pergi , bisa di bilang persahabatan mereka dari kecil berjalan baik sampai dewasa , walau pun Joy dan Stella kadang seperti kucing dan anjing .
Mereka berdua sering jalan bareng , sekolah bareng , kerja bareng , bisa di bilang Stella selalu mengikuti Joy kemanapun , namun tidak ada yang tahu bagaimana status mereka ? dari dulu mereka berdua sering melakukan kegiatan bersama , dan Joy tidak pernah menolak , dia selalu siap menemani Stella kemana pun seperti sekarang ini , mungkin Joy merasa kasihan pada Stella karena dari dulu Stella sangat kesepian , kedua orang tua nya selalu saja sibuk , tak pernah memperhatikan nya .
Namun apa Joy hanya merasa kasihan saja ? tidak kah ada perasaan lain pada Stella seperti cinta ? Entahlah , hanya hati Joy yang tahu , namun sampai saat ini Joy masih menganggap Stella sebagai teman kecil nya tidak lebih .
Waw..
Mata Stella berbinar - binar, senyuman nya mengembang , ketika pesanan nya sudah datang , tanpa menunggu lama Stella langsung mengambil sepotong pizza lalu di lahap nya , begitu pun dengan Joy .
"Ini enak sekali Joy ." ucap Stella yang mulut nya penuh dengan pizza .
"Pelan - pelan , kau seperti anak kecil saja ." cibir Joy .
"Mmmm.. ini enak , "
"Stella ." panggil Joy , Stella pun menoleh .
"Mmm.."
Stella tertegun , ketika Joy mulai mendekat , tangan Joy mulai mengusap lembut bibir Stella yang di penuhi saus , membuat jantung Stella berdetak tak menentu .
Joy please jangan seperti ini ,
Batin Stella , karena Stella tidak tahan dengan perhatian yang Joy berikan , Stella takut , takut kalau dia akan menyukai Joy bukan hanya sebatas teman namun lebih dari itu .
Dengan tenang Joy , masih mengusap bibir Stella dengan tangan nya , sampai tak menyadari wajah mereka berjarak sangat dekat hanya beberapa centi saja , kedua mata nya saling pandang kini mata kedua saling bertatapan .
__ADS_1