
Seisi rumah sakit, membicarakan dokter Indra. Karena kabar Indra yang jalan dengan anak ABG pun sudah tersebar keseluruh rumah sakit. Semua perawat dan dokter pun sudah tahu.
"Apa Indra masih waras, dia memacari anak ABG."
"Bayangkan saja berapa jauh umur mereka, ini sih pantas jadi anaknya."
"Iya, dokter Indra kaya pedofil aja."
Bisik para perawat. Gosip itu pun sudah sampai di telinganya, Indra sangat marah dan akan mencari tahu siapa orang yamg sudah memfitnahnya dan menyebarkan rumor itu.
Di ujung lorong Nita berlari ke ruangan Indra karena ada pasien yang harus segera di tangani. Walau pun mood Indra sedang tidak bagus, tetap saja sebagai seorang dokter Indra harus profesional, membedakan masalah pribadi dan masalah kerjaannya. Indra dan Nita berlari ke ruang UGD, dimana ada seorang wanita paruh baya sedang meringis kesakitan.
"Ini dokter, sepertinya ibu ini mengalami usus buntu, jadi kita harus segera mengoperasinya." ujar Nita.
"Kamu sudah memeriksanya?"
"Sudah dokter." jawab Nita.
"Apa keluarganya setuju."
"Sebentar dokter aku akan panggilkan keluarganya, keluarga ibu Rani." teriak Nita, tak lama kemudian datanglah seorang wanita sebagai keluarga ibu Rani.
"Iya, saya anaknya." sahut wanita itu yang tak lain adalah Tissa. Nita terbelalak melihat Tissa.
"Bukankah, dia wanita yang kemarin? yang di jodohkan dengan dokter Indra, oh ... tuhan apa ini yang namanya jodoh! Engkau telah mempertemukan mereka berdua, terimakasih tuhan." batin Nita yang bersyukur Tissa dan Indra bertemu walaupun tanpa sengaja.
"Semangat Nita 15 hari mencari cinta, kamu harus membuat dokter Indra tergila-gila pada wanita ini, waktumu hanya 15 hari." lanjut Nita dalam hati.
"Dokter, bagaimana keadaan mama saya apa baik-baik saja?"
"Kami harus segera melakukan operasi pada usus buntunya." jawab Indra
"Apa itu tidak akan membahayakan mama saya?" tanya Tissa pada Indra.
"Mari ke ruangan saya, saya akan menjelaskan semuanya." Indra mengajak Tissa ke ruangannya. Sebelum pergi Tissa berbicara sebentar kepada Rani.
"Mah, Tissa tinggal dulu, tenang ya Mah Tissa akan segera kembali." ujar Tissa yang berlalu pergi.
...Mencari cinta sejati...
p
p
p
^^^Apa?^^^
Apa kalian sedang sibuk?
^^^Tidak,^^^
Kita ketemu di ruangan dokter Indra sekarang.
^^^Ada apa?^^^
Ada kejutan.
Nita, Lira dan Arman saling membalas chat dari grup. Setelah itu bergegas pergi ke ruangan Indra. Sedangkan Rani Nita titipkan pada suster sebentar, karena Nita sudah memberikan obat pereda nyeri.
****
Di luar ruangan Nita, dan Lira mengintip pembicaraan Indra dan Tissa.
__ADS_1
"Ini wanitanya?"
"Iya, menurutku mereka cocok."
"Tapi dokter Indra sudah ada yang punya."
"ABG maksudmu? ABG zaman sekarang mana mau dinikahi sama om-om paling, cuma mau duitnya aja."
"Iya juga ya, yang ada nanti Indra malah di khianati lagi."
"Begini saja, kita tidak punya banyak waktu, kita harus bisa buat dokter Indra jatuh cinta sama wanita itu."
"Oke, semangat pencari cinta sejati." ucap Lira dan Nita saling berbisik.
"Permisi." seruan seseorang mengejutkannya Nita dan Lira, membuat Nita terperangah.
Lira terkejut melihat seorang gadis di depannya, seorang gadis yang berseragam sekolah, Lira masih ingat bahwa gadis ini yang di lihatnya kemarin di mall bersama Indra. Tak hanya Lira, Nita juga terkejut Nita merasa tidak asing dengan gadis ini, lalu Nita pun ingat dia gadis yang ada di foto wanita itu, wanita yang bersama Indra sekarang dia anak wanita itu yang tak lain adalah Amber.
"Permisi dokter, aku mau tanya ini ruangannya dokter Indra, kan?" tanya Amber lagi. Lira dan Nita saling pandang.
"Nit, ini gadis ABG itu?"
"ABG pacarnya dokter Indra?"
"Iya."
"Kamu salah kali, aku kenal dia, gadis yang pernah di rawat disini dan gadis ini anak dari wanita itu?"
"Maksudmu wanita yang ada di dalam itu, ibunya gadis ini?"
Nita mengangguk.
"Aduh ... ini yang bener yang mana sih! Masa ibu sama anak di pacarin." bisik Lira.
"Kamu siapanya dokter Indra?"
"Saya keponakannya, dokter Indra adalah paman saya."
"Paman?" Nita dan Lira saling menatap
"Aduh gimana ini maksudnya, paman berarti emaknya itu adik nya dokter Indra dong."
"Dokter, apa dokter Indra ada di dalam?"
"Ah iya."
Cklek!! Suara pintu mengejutkan mereka bertiga, Tissa dan dokter Indra baru saja selesai bicara.
"Amber." Panggil Tissa, Indra terperangah kenapa Tissa bisa tahu nama Amber.
"Amber tunggu." Tissa mengejar Amber yang berlari Indra, Nita dan Lira hanya menatap kepergian Tissa heran.
****
Stella berbaring sambil menonton tv, Stella menonton drama, di dalam drama itu memperlihatkan seorang pria membuatkan kue untuk kekasihnya. Stella jadi tergiur dengan makanan yang di buat di sana, pria itu dengan sepenuh hati membuatkan kue itu untuk kekasihnya.
"Jadi pengen, enak kali ya makan kue brownies." ucap Stella sambil mengusap-ngusap perutnya yang rata.
Stella langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Joy.
"Joy, kapan kamu pulang?"
"Ada apa? Aku tidak bisa pulang sekarang masih ada kerjaan. Apa kamu pusing lagi?"
__ADS_1
"Tidak."
"Mual lagi?"
"Tidak, aku mau makan brownies."
"Ya ampun, kirain aku apa. Ya sudah nanti aku belikan kamu brownies ya."
"Tapi aku mau nya yang baru, baru bikin."
"Kamu minta Bi Inem untuk buatkan ya."
"Nggak mau, aku mau nya kamu yang buat." ucap Stella manja
"Apa? Aku buat kue?" suara Joy terdengar terkejut.
"Iya, kamu pulangya sekarang kita buat brownies."
"Stella, aku gak bisa bikin kue. Beli saja gampang, kan mau berapa pun aku belikan."
"Nggak mau aku maunya kamu yang buat."
"Stella sayang, aku bisa nya meretas akun bukan membuat kue, jadi ... minta Bi Inem aja ya yang buat."
"Nggak mau, pokoknya cepat pulang kita bikin kue."
"Stella ...."
"Pokoknya aku gak mau makan, kalau gak makan kue butanmu." Tut. Stella langsung menutup teleponnya, dengan bibir mengerucut.
"Mau kue, hiks ... hiks ...." Stella merengek manja.
****
Tissa mengejar Amber namun Amber tidak berhenti berlari. Sepertinya Amber tidak ingin bertemu dengannya.
"Amber tunggu, Amber maafkan aku, aku tahu aku salah, tapi tolong jangan pergi ."
"Amber, "
"Aku tidak ingin berbicara denganmu."
"Amber, nenek sakit." Barulah langkah Amber berhenti karena mendengar Rani sakit.
"Nenek."
Amber berlari ke ruangan UGD yang dimana ada Rani disana. Amber menghambur memeluk Rani, Amber tak kuasa menahan tangis karena Ranilah orang yang paling dekat dengannya.
"Nenek."
"Amber kamu sudah pulang Nak, nenek mengkhawatirkanmu apa kamu baik-baik saja? Kamu tinggal dimana Nak." Rani mengusap lembut kepala Amber
"Nak, pulanglah ibumu selalu menunggumu, dia selalu mencarimu, pulang ke rumah kita kumpul lagi,"
"Tidak nenek, aku tidak mau tinggal bersama seorang pembunuh." ucapan Amber membuat Tissa sesak, hatinya begitu sakit.
"Dia telah membunuh ayahku, karena dia aku tidak punya ayah."
"Amber ... ada yang tidak kamu ketahui, apa alasan ibumu membunuh ayahmu. Itu ada alasannya, ibumu terpaksa melakukannya,"
"Apa pun alasannya dia tetap pembunuh."
Tissa berlari pergi dengan berderai air mata, Tissa tidak bisa menahan lagi air matanya. Perkataan Amber membuat hatinya sakit. Anaknya sendiri memanggilnya pembunuh. Tissa berlari tanpa melihat jalanan di sekitarnya, tangannya terus menyapu air matanya.
__ADS_1
Indra yang tak sengaja melihat Tissa, merasa heran ada apa sebenarnya? Siapa Tissa? Indra pun menghampiri Tissa yang sedang duduk di taman.