
Kisah cinta Kanza, Kenzie, dan Kenzo memang rumit. Badai angin terus menerpa hubungan mereka. Kenzo, yang galau karena Lusi, masih belum mengingatnya. Kenzie, yang gundah karena Nissa, mulai menghindarinya. Dan Kanza, yang terluka karena cintanya harus berakhir di tengah jalan.
"Kanza, kenapa kau tidak memakan sarapanmu!" tanya Shila, yang berjalan ke arah Kanza, yang berbaring di tempat tidurnya.
"Kita ke rumah sakit ya! Wajahmu sangat pucat."
"Tidak, Mami. Aku, baik-baik saja." Jawab Kanza, yang menggeleng.
"Ya, sudah Mami, akan menyuapimu."
"Aku, belum lapar Mami," sanggah Kanza.
"Tapi ...." ucap Shila, terhenti karena di sanggah Kanza.
"Kanza, ingin istirahat Mami, bisakah Mami, tinggalkan Kanza, sendiri! Nanti, Kanza, makan kok, Mami, jika Kanza, sudah lapar." Pinta Kanza.
"Baiklah, Mami keluar dulu kalau ada apa-apa panggil Mami, ya!" Kanza,hanya mengangguk menjawab ucapan Maminya. Shila, merasa heran ada apa dengan anak-anaknya, sikap mereka mulai berubah.
Shila, senang melihat perubahan Kenzie, yang sering terlihat melakukan sholatnya, bahkan Shila, sempat tergerak hatinya. Shilla, melangkah menuju lemari bajunya, dia ambil lipatan lain putih yang ternyata adalah sebuah mukena, yang selama ini ia simpan. Shila, mulai merenungkan dirinya, yang sudah lama jauh dari Tuhannya. Kebahagiaan dunia membuatnya lupa akan ibadah pada sang pencipta.
"Ya, Tuhan, selama ini aku sudah khilap dan melupakanmu, mukena ini masih bersih seperti baru karena tak pernah aku pakai, sungguh aku telah berdosa padamu Tuhan. Apa, masih ada kesempatan untukku, apa kau akan mengampuni dosaku." Batin Shila, yang memeluk erat mukenanya
Tok, tok, tok,
Shila, mengetuk pintu kamar Kenzie, tak berselang lama pintu itu pun terbuka.
"Mami," ucap Kenzie.
"Boleh Mami, masuk?"
"Tentu saja Mami." Jawab Kenzie, yang membuka, kan pintu. Shila, pun masuk ke dalam kamar putranya. Keduanya duduk di atas tempat tidur milik Kenzie.
"Kenzie, Mami, pernah melihatmu sedang melakukan sholat, Mami, senang kamu sekarang mulai melaksanakan sholat."
__ADS_1
"Iya, Mami. Ini semua berkat Nissa. Nissa, yang telah membuka hidayahku untuk kembali mendekatkan diri pada Tuhan. Nissa, yang selalu membantuku, mengajariku tentang bacaan sholat juga tata cara melakukan-Nya."
"Nissa? Siapa Nissa? Apa dia pacar barumu?" tanya Shila, yang merasa tak kenal dengan nama Nissa, karena setiap gadis yang Kenzie, kencani akan selalu datang ke rumahnya, dan berlomba-lomba mengambil hatinya.
"Bukan Ma, Nissa, temanku dia penjual di kantin kampus, Nissa, sangat menjaga hati, pandangan juga sikapnya berpacaran itu bukanlah sifat dirinya. Saat bertemu denganku saja dia selalu menunduk. Bila duduk dengannya harus ada jarak yang memisahkan, Nissa, tidak pernah mau duduk berdua dengan laki-laki apalagi berdekatan, takut menjadi fitnah itu alasan-Nya."
"Sepertinya Nissa, ini orang yang paham agama," ucap Shila.
"Bisa di bilang seperti itu Mami. Hatiku mulai tergerak saat melihatnya sholat. Aku bertanya padanya, 'Apa yang kamu rasakan setelah sholat?' Nissa, bilang. Sholat adalah salah satu kewajiban umat muslim, perintah Tuhan, yang harus di lakukan. Selain kewajiban kita sebagai muslim, dengan sholat hati kita menjadi tenang, damai dan tentram." jelas Kenzie.
"Dan aku sudah merasakannya Mami, hatiku selalu tenang setelah melaksanakan sholat."
"Kenzie, hati Mami, sepertinya sudah tergerak Mami, sadar selama ini sudah melupakan Tuhan, kita semua telah melupakannya. Mami, ingin memperbaiki semuanya, tapi ... apa dosa Mami, selama ini akan di ampuni? Apa jika Mami, kembali sholat, apa sholat Mami, akan di terima?"
"Aku tidak tahu Mami, tapi ... Nissa, pernah bilang Tuhan itu maha pengampun, Tuhan akan selalu menerima setiap tobat hambanya, yang bersungguh-sungguh."
"Kenzie, apa kamu bisa mempertemukan Mami, dengannya! Mami, ingin sekali bertemu dengannya mendengar ceritamu sepertinya Nissa, bukan gadis biasa. Dia mampu mengubah dirimu menjadi pribadi yang lebih baik."
"Akan Kenzie, usahakan. Besok Kenzie, akan bicara padanya semoga Nissa mau ya Mami."
****
"Nissa," Panggil Kenzie, pada Nissa, yang baru saja keluar dari kelasnya. Tetapi Nissa, malah melangkah pergi saat Kenzie, memanggilnya.
"Nissa, tunggu." Teriak Kenzie, dengan langkah sedikit berlari. "Kenapa Nissa, selalu menghindariku," gumamnya lirih.
"Nissa," Langkah Nissa, semakin cepat. Entah kenapa Nissa, seperti menjauh dari Kenzie. Mungkin Nissa, menjaga gunjingan-gunjingan para mahasiswa lainnya yang sering membicarakan-Nya. Saat Nissa, berlari tiba-tiba kakinya tersandung dan membuat semua buku-buku yang dibawanya jatuh berantakan. Nissa, pun segera memungut satu persatu bukunya.
"Nissa," Panggil Kenzie, saat sudah mendekat. Nissa, akan melangkah pergi namun langkahnya terhenti karena di cekal Kenzie.
"Tunggu, aku ingin bicara denganmu," ucap Kenzie, yang menggenggam tangan Nissa.
"Bicara apa?" tanya Nissa, yang langsung melepaskan tangannya yang di genggam Kenzie.
__ADS_1
"Kenapa kau menghindariku Nissa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Kenzie, yang menatapnya nanar.
"Aku sedang sibuk Kenzie, maaf aku harus kembali ke kantin."
"Apa kau tidak ingin mengajariku lagi? Ada yang tidak aku pahami itu sebabnya aku ingin bicara denganmu."
"Kamu bisa belajar dengan seorang ustadz, kamu bisa memanggilnya tidak harus aku."
"Tapi aku inginnya dirimu." ucap Kenzie, yang membuat Nissa, terdiam. Dan akhirnya Kenzie, pun dapat berbicara dengan Nissa. Seperti biasa duduk di tengah taman yang di beri jarak antar keduanya.
"Nissa, mamiku ingin bertemu denganmu," ucapan Kenzie membuat Nissa, terkejut.
"Untuk apa?" tanya Nissa, yang terus menunduk menjaga pandangannya dari Kenzie.
"Apa harus ada alasan untuk bertemu denganmu?" tanya Kenzie, yang terus menatap Nissa. "Nissa, aku merasa kamu menghindariku sekarang, kenapa? Apa aku melakukan salah?" lanjut Kenzie.
"Kenzie, sepertinya aku tak pantas menjadi temanmu, kenapa kamu ingin berteman denganku? Jika kamu ingin belajar lebih banyak tentang agamamu kamu bisa memanggil seorang ustadz untuk menjadi gurumu."
"Siapa yang bilang tak pantas?" tanya Kenzie, membuat Nissa, gugup.
"Kita berbeda Kenzie, banyak orang tak suka melihat kita berteman, apalagi berbicara berdua seperti ini. Kita berbeda Kenzie, aku hanyalah anak seorang penjual di kantin sedangkan kamu, kamu anak dari keluarga terhormat, berada bahkan ayahmu seorang pengusaha besar."
"Apa ada seseorang yang mengganggu pikiranmu? Bukankah kamu yang bilang, dimata Tuhan semua terlihat sama, tidak ada derajat yang tinggi atau pun rendah semua sama rata. Tidak ada perbedaan derajat di mata tuhan. Yang miskin, kaya, semua sama. Mulya-Nya seseorang tidak bisa di nilai dari seberapa besar kekayaannya. Dan, hina-Nya seseorang tidak di lihat dari miskinnya orang itu. Bahkan orang miskin mungkin lebih mulya derajatnya di bandingkan orang kaya."
"Nissa, tidak ada yang melarang kita untuk berteman. Jika, ada orang yang berbicara tentang diriku, apalagi melarangmu untuk berteman denganku, biarkanlah jangan dengarkan mereka. Bagiku kamu lebih baik dari mereka." Nissa, pun terdiam merenungkan setiap ucapan yang Kenzie, lontarkan.
"Mamiku ingin bertemu denganmu apa kau mau? Mami, sangat antusias dan memintaku untuk membawamu ke rumah memperkenalkanmu pada Mami." ujar Kenzie.
"Nissa, apa kau mau?" Kenzie, kembali bertanya. Nissa, pun mengangguk sebagai jawaban.
...----------------...
Mana like dan votenya 🤗
__ADS_1
Kok, sepi komen-nya juga dong biar rame 🙈ðŸ¤