Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Paman


__ADS_3

Di ruang tamu Joy menatap kedua tamu di hadapannya. Dua orang pria yang tidak di kenalnya, kedua orang itu terlihat angkuh dan juga sombong.


"Siapa kalian? Dan ada keperluan apa datang kemari?" tanya Joy dingin.


"Kami ingin bertemu dengan Stella." jawab salah seorang pria yang bertubuh tegak, yang duduk dengan bertumpang kaki.


"Siapa kalian, ada urusan apa kalian ingin bertemu dengan Stella?"


"Sudah jangan banyak tanya dimana Stella, aku ingin bertemu dengannya." tanyanya sedikit membentak.


"Jaga ucapanmu, ini rumahku bicara lebih sopan padaku." hardik Joy yang tak terima di bentak. "Kalian lebih tua dariku, tapi sikap kalian sungguh tidak bermoral." sindir Joy tegas. Membuat pria itu berdiri.


"Duduklah kak, biar masalah ini cepat selesai." ujar seorang pria yang lebih muda dari pria yang berdebat dengan Joy. Pria itu pun kembali duduk.


"Saya Arka pamannya Stella, adik dari lucifer ayahnya Stella." ucap pria itu sedikit merendahkan suaranya.


"Sekarang dimana Stella panggilkan dia untukku." ujar Arka, membuat Joy kesal sampai mengepalkan tangannya. Paman macam apa dia, bicara saja tidak sopan, apa semua keluarga Stella seperti ini, sama sekali tidak ada tatakrama.


"Saya suaminya, jika ada yang ingin disampaikan katakan saja padaku, Stella sedang tidak sehat aku tidak mengizinkan kalian untuk bertemu dengannya."


"Kamu ...." Arka mulai geram dan ingin melayangkan pukulan, namun pria di sampingnya selalu menenangkannya.


"Begini, maaf kalau kami mengganggu, saya dan kakak saya sangat ingin bertemu Stella, ini penting. Kami tidak akan mengganggunya, kami hanya ingin bicara dengannya sebentar saja. Karena ini masalah keluarga kami tidak bisa menyampaikannya pada anda." ujar pria yang berada di samping Arka.


"Paman." sahut Stella yang membuat Joy juga kedua pamannya terkejut. Tiba-tiba Stella sudah berada di belakang Joy.


"Stella, kenapa kamu turun." tanya Joy yang khawatir.


"Aku mendengar suara keributan, dan kata Bibi ada tamu yang ingin bertemu denganku." jawab Stella.


"Paman ada apa paman datang kemari?" tanya Stella pada Arka.


"Akhirnya kamu datang juga, suamimu ini mencegahku untuk bertemu denganmu."

__ADS_1


"Ada apa? Apa sangat penting sehingga paman ingin bertemu denganku?" tanya Stella yang kini sudah duduk di samping Joy menatap kedua pamannya.


"Tanda tangan ini." ujar Arka tanpa basa-basi membuat Stella juga Joy menatap heran sebuah map di depannya.


"Apa ini?" tanya Stella.


"Ini adalah pengalihan perusahaan juga seluruh aset lucifer, karena setelah lucifer meninggal semua aset jatuh padaku, kamu hanya tanda tangan disini saja." ujar Arka yang membuka map itu yang berisi sebuah berkas perusahaan yang di pimpin lucifer.


Lucifer adalah seorang pengusaha sukses, tidak heran jika waktunya sangat sibuk, sampai tidak ada waktu dengan Stella, karena perusahaannya bercabang dimana-mana. Dan Arka yang selama ini menjadi direktur di salah satu perusahaan Lucifer, meminta hak nya atas bagian properti dan aset perusahaan juga lainnya.


"Kalian benar-benar tidak tahu malu." cibir Joy yang tersenyum sinis.


"Kalian meminta hak, atas seluruh aset perusahaan, dan property lainnya kepada Stella anak kandung dari tuan Lucifer kakak kalian sendiri. Ingat ya, tuan Lucifer memang sudah meninggal tapi ... anaknya Stella masih hidup yang sekarang ada di hadapan kalian, kalian tidak berhak meminta apa pun karena itu haknya Stella."


"Kamu tahu, anak gadis tidak berhak sepenuhnya atas harta peninggalan atau warisan, karena yang berhak dan kuat adalah saudara laki-laki, karena Lucifer tidak memiliki keturunan laki-laki itu artinya semua kekayaannya adalah milik ku jatuh padaku dan adik ku." ujar Arka dengan bangga.


Joy tidak habis pikir, keluarga Stella benar-benar gila harta, tidak ada sedikit pun dari mereka yang peduli pada Stella.


"Maaf paman, aku tidak akan mendatangani ini, apa lagi rumah ku aku tidak akan memberikan rumah itu pada siapapun termasuk paman." ucap Stella dengan tegas membuat Arka kesal.


"Paman Reyhan, paman Arka bahkan sampai saat ini aku belum melihat jasad mommy dan daddyku, jadi ... aku tidak yakin bahwa mommy dan daddy meninggal."


"Stella, paman sudah bilang mommy dan daddy mu meninggal saat kecelakaan pesawat, aku sudah memberitahumu, kan."


"Kalau begitu bawakan jasad mommy dan daddyku biar aku percaya." sanggah Stella.


"Apa kamu tidak dengar? Seluruh dunia tahu, semua korban kecelakaan pesawat X tidak ada yang di temukan dan tidak ada yang selamat. Kamu harus ikhlas dan terima kenyataan bahwa mommy dan daddy mu sudah tiada."


"Aku sudah ikhlas dan merelakan kepergian orangtua ku. Tapi ... untuk ini aku tidak bisa, aku masih sanggup memimpin perusahaan." ujar Stella


"Kamu yakin? Aku tidak yakin kamu sanggup memimpin perusahaan dengan baik, dan setelah semua orang tahu masalalu mu aku tidak yakin kamu di terima sebagai direktur perusahaan karena kamu punya keterbelakangan mental." ujar Arka yang tersenyum licik.


"Apa maksud paman? Apa aku tidak normal?"

__ADS_1


"Seorang yang punya gangguan psikis sama dengan orang yang gangguan jiwa, menghadapi masalah kecil saja kamu tidak bisa apalagi mengalami masalah besar sebagai pemimpin." Hati Stella terasa sesak, mendengar ucapan sindiran dari Arka yang menganggapnya gangguan jiwa. Tangan Stella mulai mengepal, merasakan dadanya yang sesak, Joy yang tak terima Stella di hina langsung mengusir kedua orang itu dari rumahnya.


"Kalian sudah menghina istri saya pergi sekarang juga." bentak Joy namun Arka belum puas, Arka terus memancing emosi Stella, agar Stella menunjukan kelemahannya karena Arka tahu Stella masih belum pulih. Namun Stella berusaha tenang.


"Apa paman pikir aku tidak tahu kebusukan paman, aku tahu dari dulu paman menginginkan semua kekayaan daddy, sampai paman mau meracuni daddyku tapi sayangnya tidak berhasil." ucap Stella yang menatap sinis pada Arka.


Flashback off


Saat kecil, Stella pergi ke dapur untuk mengambil air minum, karena saat itu Stella merasa dahaganya haus karena habis berlari. Di dapur Stella melihat Arka menuangkan serbukan putih ke dalam satu cangkir, Stella terus mengintip sampai Arka membawa minuman itu.


"Apa yang paman masukan ke dalam minuman itu ya?" tanya Stella dalam hati. Karena penasaran Stella pun menghampiri Arka dan bertanya.


"Paman itu minuman untuk siapa? Aku haus boleh aku minta." ucap Stella


"Kamu ambil saja, ini untuk daddy mu." ujar Arka yang berlalu pergi membawa minuman itu pada Lucifer. Karena masih penasaran Stella kembali mengikuti Arka, sampai akhirnya Stella melihat Arka berbicara dengan Reyhan dan Stella mendengar itu.


"Apa racun itu sudah di masukan?" tanya Reyhan sedikit berjalan.


"Sudah, ini kamu bawakan dan pastikan lucifer meminumnya sampai habis." ucap Arka yang memberikan cangkir itu pada Reyhan.


"Racun? Bukankah racun itu berbahaya? Kalau begitu daddy ...."


Prangg ... hampir saja Lucifer meminum tehnya, cangkir teh sudah jatuh terlebih dulu karena sebuah bola.


"Maaf daddy aku tidak sengaja." ujar Stells yang mengambil bolanya.


"Kamu ini anak perempuan kenapa main bola."


"Aku lagi latihan aja daddy, aku juga mau jago main bola biar aku bisa mengalahkan Joy."


"Ya sudah, tidak apa-apa lain kali main bola di luar jangan di dalam."


"Baik daddy, aku ganti tehnya ya, Stella ambilkan lagi teh untuk daddy." Lucifer pun mengangguk Stella pun pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Reyhan terlihat begitu kesal dan geram.


Flashback off


__ADS_2