
Kehadiran Indra membuat hubungan Tissa dan Amber menjadi lebih baik, Indra selalu bisa mencairkan suasana, Indra menjadi suami yang pengertian juga perhatian kepada istri dan putrinya. Indra selalu bisa mengayomi Tissa, merendahkan amarahnya, dan memberikan pengertian. Indra selalu bisa merendam emosinya.
Hari ini Indra mengajak Amber dan Tissa untuk pergi makan di luar, Indra mengajaknya ke sebuah restoran dengan harap Amber dan Tissa bisa saling bicara, karena setelah kejadian semalam Amber dan Tissa masih saling diam.
"Aku permisi angkat telepon dulu, kalian mengobrol saja dulu, untuk makanan sudah saya pesankan. Aku tinggal sebentar ya!" Ujar Indra yang menyentuh lembut tangan Tissa, Tissa hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan. Setelahnya Indra pun pergi menjauh dari mejanya, Indra sengaja pergi, Indra hanya ingin memberikan kesempatan pada Tissa juga Amber untuk saling bicara.
"Maaf, untuk semalam aku tidak bermaksud memarahimu," ucap Tissa memecah keheningan. "Aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk padamu, semoga kamu tidak salah paham," lanjut Tissa.
"Aku juga minta maaf, aku salah pergi tanpa izin hingga membuatmu khawatir." Ucap Amber yang menunduk. Tiba-tiba datang seseorang yang mengejutkan Amber juga Tissa.
"Amber, kau disini?" tanya seorang pria yang tak lain adalah Ghali. Amber mendongak juga terkejut melihat Ghali di depannya,
"Iya, aku sedang bersama keluargaku." Jawab Amber gugup, manik matanya melirik ke arah Tissa yang duduk di hadapannya.
"Halo Tante, aku Ghali temannya Amber," ujar Ghali ramah. Tissa hanya tersenyum.
"Amber, Tante aku pergi duluan," ujar Ghali yang di angguki Tissa dan Amber. Ghala pun melangkah pergi.
"Dia laki-laki yang semalam jalan denganmu?" tanya Tissa tiba-tiba. Amber hanya mengangguk. "Kelihatannya dia anak baik, tapi lain kali jangan pergi tanpa izin," ujar Tissa, membuat Amber mendongak.
"Mama tidak marah? Apa aku boleh pergi main lagi dengan temanku?" tanya Amber.
__ADS_1
"Aku tidak melarangmu untuk pergi bermain, tapi jangan pernah ulangi lagi kejadian kemarin, setidaknya aku harus tahu dengan siapa kamu pergi." Amber tersenyum mendengar ucapan Tissa, benar apa kata Indra, bicaralah dengan perlahan dan baik-baik dengan itu mereka akan mengerti. Hati Amber sangat lega, akhirnya tidak ada lagi beban dalam hatinya. Tak lama kemudian Indra pun kembali, Indra senang melihat Amber dan Tissa yang kini sudah saling bicara dan tersenyum.
****
Di tengah mansion yang mewah, Kanza dan Kenzie duduk malas di bawah tangga, raut wajahnya begitu muram, rumah pun terlihat begitu sepi, hanya ada mereka berdua saja. Semua orang meninggalkan Kanza dan Kenzie karena mereka masih menjalani hukuman. Di hari libur semua orang pergi ke rumah sakit karena hari ini Stella akan melahirkan, Shila dan Vero sudah tak sabar menyambut cucu pertamanya. Sedangkan Kanza dan Kenzie mereka di larang pergi sebelum menjalani hukuman dari Shila, Kenzie dan Kanza harus membersihkan rumah, juga menjalankan tugas-tugas Bi Inem, seperti menyapu, mengepel, dan banyak lagi. Itu sebabnya Kanza sangat bete, Kanza ingin sekali melihat ponakan pertamanya, tapi malah menjalani hukuman.
"Kenzie kau bersihkan sana?" ujar Kanza
"Malas," jawab Kenzie.
"Jam berapa ini?" tanya Kanza,
"12.00." Jawab Kenzie yang melihat arlojinya. Tiba-tiba Kanza dan Kenzie teringat sesuatu, jam 12.00 sebentar lagi Mami-Nya akan kembali, kalau mereka tidak menyelesaikan hukumannya bisa-bisa hukuman mereka di tambah. Dengan segera Kanza dan Kenzie memulai kerjaannya, dari menyapu, mengepel, mencuci piring, membersihkan kamar dan lain-lain. Kanza dan Kenzie membagi pekerjaan tapi tetap saja pekerjaannya belum juga selesai.
"Aku bersumpah aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Kanza dengan nafas ngos-ngosan.
"Iya, kau benar. Aku lebih baik di kunci di kamar dari pada harus membersihkan rumah ini, sungguh melelahkan," ujar Kenzie.
"Tapi para pelayan tidak pernah mengeluh, bibi juga. Mereka begitu senang saat membersihkan rumah bahkan sambil menari-nari," ucap Kanza.
"Mungkin mereka sudah terbiasa." ujar Kenzie.
__ADS_1
"Hey Kenzie kita, kan sudah selesai, bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit? Aku ingin melihat ponakan ku," ajak Kanza, Kenzie pun mengangguk.
"Ayo!" Ajak Kenzie yang langsung berdiri di ikuti oleh Kanza.
****
Sedangkan di rumah sakit Shila terlihat senang, dan tersenyum saat menggendong seorang bayi yang masih mungil, bayi itu tersenyum begitu manis, tak hanya Shila Vero juga terlihat bahagia. Karena cucu pertamanya sudah lahir ke dunia. Stella melahirkan bayi laki-laki yang berparas tampan,dan murah senyum tidak seperti Joy yang dingin dan kaku.
"Owh ... lucunya, cucu Oma," ucap Shila.
"Joy, Stella apa kalian sudah memberikan nama?" tanya Shila, Joy dan Stella hanya saling pandang. Lalu kembali menatap Shila.
"Nataya Shaquille, seperti namanya shaquille yang artinya tampan, sepertinya anakmu akan mengalahkan ketampananmu," ucap Stella sedikit menyinggung Joy. Joy hanya tersenyum tipis.
"Owh, baby Nata selamat datang sayang, ini Oma, dan ini Opa, gak sabar ingin segera bawa pulang," ujar Shila yang menciumi cucunya.
"Sini sayang di gendong Mama dulu," ujar Stella yang kembali menggendong Nata. Nata begitu manis, bibir mungilnya terus saja tersenyum, kedua tangan dan kakinya terus saja bergerak begitu menggemaskan. Joy dan Stella kini sudah menjadi ayah dan ibu, keduanya terlihat begitu bahagia Joy terus memainkan jari tangan putranya yang masih sangat kecil.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Dulu, Joy dan Stella masih sangat kecil, masih teringat bagaimana hubungan keduanya dulu. Stella yang manja dan selalu mengejar Joy, sedangkan Joy yang selalu berlari dan menghindari Stella. Sungguh tak menyangka bahwa keduanya di takdir, kan untuk bersama bahkan sudah menjadi seorang ayah dan ibu bagi putra mereka.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukungannya like dan vote nya ya 🤗