
Keluarga Alvero, sedang di landa duka. Hari ini semua keluarga mengantarkan Kanza, ke tempat istirahat terakhir. Ikhlas atau tidak, mereka harus merelakan kepergian Kanza.
Semua keluarga begitu terpukul juga terkejut terutama bagi ketiga kakaknya triple J yang tidak tahu menahu masalah adiknya, dan saat di berikan kabar bahwa adik mereka meninggal. Semua merasa sedih.
Shila, terus menyendiri di dalam kamarnya. Kesaksian pahit yang tidak pernah ia bayang, kan harus melihat putrinya sendiri mati dengan cara mengenaskan.
Vero, berjalan menghampiri istrinya yang duduk melamun di dalam kamarnya. Kesedihan pun terlihat dimatanya, melihat istrinya yang lemah seperti tidak mendapatkan semangat hidup lagi, karena putrinya tiada.
"Dulu, aku pernah melakukan hal yang sama padamu. Jika aku tahu putri kita akan mendapat, kan karmanya mungkin aku tidak akan pernah melakukan itu."
"Aku, membiarkanmu mengandung dan membesarkan anak kita sendirian, di negri orang. Kamu wanita yang sangat kuat tapi Kanza, tidak sekuat dirimu," ucap Vero, yang terisak begitu pun dengan Shila.
"Seharusnya dia tidak melakukan ini, tanpa Ghala, dia masih bisa melahirkan dan membesarkan bayinya. Ada aku yang akan merawat cucuku, tapi kenapa putri kita melakukan itu, kenapa?" tanya Shila, dengan suara maraunya.
Bulir-bulir air mata terus menetes, getaran punggung bergetar hebat karena tangisannya. Vero, sebagai suami hanya bisa menenangkannya dengan memeluknya.
Di tempat lain, Kenzie, terus memandangi sebuah foto yang memperlihatkan gadis cantik yang ceria. Bayangan Kanza, pun kembali terlintas.
Senyumannya, bibir moncongnya saar dia cemberut, bahkan kenakalannya masih terlintas, membuat hatinya kembali bergetar tanpa diinginkan bulir-bulir air mata pun menetes.
Kenzo, duduk terkulai di bawah lantai, kepergian Kanza, membuatnya terpukul.
"Kenzo, kalau kamu punya pacar siapa yang akan memperhatikanku? Dan menyayangiku."
"Tidak ada gadis yang aku sayangi selain kamu adikku ini,"
"Benar ya! Janji hanya aku yang kamu sayangi!"
Bayangan Kanza, kembali terlintas di pikirannya. Kanza, yang selalu ceria dan manja kepadanya kini gadis itu telah pergi meninggalkannya.
"Kanza, argh ....," teriak Kenzo,
****
"Nyonya Tuan, semua orang sudah menunggu, jenazah non Kanza, akan segera di makam, kan," ujar Bi Inem yang memberitahukan Vero dan Shila.
Dengan berat hati Vero, dan Shila, pun melangkah untuk mengantarkan putrinya ke tempat istirahat terakhir.
Tangisan keluarga semakin pecah saat jenazah Kanza, di masukan ke dalam liang lahat, namun mereka harus tetap ikhlas, karena ini sudah takdir Tuhan.
Masing-masing mulai menaburkan bunga di atas tanah merah yang memuncung. Sebuah batu nisan pun tertulis jelas nama Kanza, di sana. Perlahan para ziarah pun pergi dengan sendirinya. Hanya ada keluarga saja yang masih setia bertengger disana.
"Tante, aku turut berduka cita yang sabar ya tante!" ucap Amber, yang sedang melayad.
"Terima kasih Amber, sudah mengantarkan Kanza, sampai tempat peristirahatan yang terakhir," ucap Shila
"Yang sabar ya Tante," Amber memeluknya.
"Kematian tidak bisa kita hindari, yang hanya bisa kita lakukan ikhlas dan merelakan. Semoga Kanza, tenang di sisinya. Kamu yang sabar ya! Aku tahu ini pasti berat untukmu," ucap Nisa, pada Kenzie
"Terima kasih," hanya itu yang Kenzie, katakan.
Sedangkan Kenzo, dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu, hingga akhirnya Kenzo, melangkah pergi.
"Kenzo!" panggil seseorang yang menghentikan langkahnya.
Kenzo, pun berbalik namun dia terkejut karena saat berbalik seorang wanita memeluknya, yang ternyata Lusi.
"Aku, tidak menyangka Kanza, akan pergi secepat ini. Kenzo, maafkan aku yang sempat melupakanmu," ucap Lusi, yang masih memeluk Kenzo.
"Lusi!" Kenzo, merasa heran.
"Aku Lusi, Lusi, yang dulu yang mencintaimu."
"Kau, sudah ingat? Ingatanmu kembali?" Lusi, hanya mengangguk lalu kembali memeluk Kenzo.
"Terima kasih Kenzo, kamu masih menungguku," ucap Lusi, Kenzo, pun terlihat bahagia dan memeluk Lusi.
__ADS_1
Kita akan merasa kehilangan, di saat kehilangan akan ada seseorang kembali hadir membawa kebahagiaan untukmu.
****
Kematian Kanza, menyisakan dendam. Vero, sangat ingin menghancurkan orang yang telah membuat keluarganya hancur. Apapun akan dilakukan demi membalaskan dendamnya.
Namun itu dulu, sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa segala sesuatu baik kematian, rezeki, jodoh hanya Tuhan dan takdir yang sudah menentukan.
Pergaulannya dengan para mafia, membuat dirinya nekad untuk melakukan kekerasan atau apa pun itu. Dan membuat dirinya lupa bahwa masih ada kehidupan setelah kematian, yang dimana semua perbuatan akan di pertanggung jawabkan kelak.
Jalan hidup tak selamanya lurus dan benar, bertahun-tahun keluarganya hidup dalam lembah hitam, mereka menjauhkan diri dari Tuhannya, dan mendekatkan kepada dunianya.
Inilah saatnya mereka kembali lagi kepada jalan yang benar, jalan lurus yang semestinya harus di lalui.
"Assalamualaikum,"
"Assalamualaikum,"
Untuk pertama kalinya, Vero, menjadi imam sholat untuk anak dan istrinya. Sungguh indah dunia ini, dan juga begitu tentram dan damai jiwa ini. Akhirnya, keluarga Alvero bisa kembali pada jalan yang benar.
****
Sebulan sudah berlalu, mereka semua sudah ikhlas untuk kepergian Kanza. Hari ini mereka akan menikahkan Kenzo dengan Lusi, mereka semua menyambutnya dengan bahagia.
Ketegangan pun di rasakan oleh Kenzo, yang mulai gugup saat berhadapan dengan pak penghulu. Kedua tangan saling berjabat, terdengar sudah kata-kata sakral yang di ucapkannya begitu lantang tanpa ada jeda sedikit pun.
Semua tamu pun riuh mengucapkan kata 'Sah' setelah kata sakral itu di ucapkan. Dengan kehendak Tuhan kini pasangan kedua sejoli sudah resmi dan sah menjadi suami istri.
Cincin putih pun melingkar di jari manis keduanya, kebahagiaan pun terpancar pada raut wajah mereka, yang terus tersenyum bahagia.
****
Satu bulan berlalu, Kenzie, sudah rapi dengan pakaiannya sesekali ia menghembuskan nafasnya kasar karena kegugupannya.
"Kamu yakin?" tanya Vero, yang menyetir.
"Jangan gugup, semua pasti di lancarkan," ujar Shila, yang memeluk Kenzie. Tak berselang lama Vero, pun menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang kecil, mereka pun turun dari mobilnya.
Kenzie, memimpin jalan melangkah lebih dulu menuju rumah itu.
Tok, tok, tok,
"Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam," sahut seorang wanita dari dalam rumah. Tak, lama kemudian pintu rumah pun terbuka memperlihatkan seorang wanita tua, yang berhijab seraya menatapnya heran.
"Kenzie!" ucap wanita itu
"Kami ingin bertemu Nissa, Tante,"
"Oh, silahkan masuk. Maaf rumah kami terlalu kecil,"
"Tidak apa-apa Tante," ucap Kenzie, yang melangkah masuk di ikuti Shila dan Vero.
"Sebentar, saya panggilkan putri saya dulu," ucap wanita itu yang melangkah menuju kamar putrinya. Tak, berselang lama Nissa, pun muncul Nissa, terlihat heran ada apa Kenzie, dan orangtuanya datang ke rumahnya.
Nissa, pun mengucap salam dan salim kepada Shila, dan Vero, lalu duduk berhadapan dengan Kenzie. Ketegangan pun di rasakannya.
"Kenzie, Tante, Om, ada apa ya? Apa ada sesuatu hal penting, padahal kalian bisa menghubungiku biar nanti Nissa, saja yang datang ke rumah."
"Tante, kemari memang ada yang ingin di katakan ini sangat penting sekali, tentang Kenzie," ucap Shila.
"Apa ini berhubungan dengan Nissa?" tanya Nissa,
"Tentu, sangat berhubungan," jawab Shila, membuat Nissa dan ibunya semakin gugup.
"Sebelumnya saya ingin bertanya, apa kamu sudah ada yang meminang atau melamar?" tanya Vero, Nissa, hanya menggeleng.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya sebagai ayah dari Kenzie, ingin menyampaikan niat Kenzie, putra kami yang ingin melamarmu." ucap Vero, membuat Nissa, terkejut.
"Melamar!"
"Nissa, kedatangan ku kemari dengan niat untuk melamarmu, menjadikan mu menjadi istriku,"
"Apa kamu menerima lamaranku Nissa!"
Nissa, terdiam dan masih tidak percaya dengan apa yang Kenzie, katakan. Apa ini mimpi? Seorang Nissa, yang hanta anak seorang penjual di kantin di lamar oleh seorang lelaki yang berdarah biru berasal dari keluarga konglomerat.
"Nissa, kami sudah setuju dengan keinginan Kenzie, kami memilihmu karena kami yakin kamu wanita yang terbaik untuk Kenzie. Setelah apa yang telah kamu lakukan untuk kami, kamu merubah keluarganya juga sikap dan sifatnya menjadi lebih baik," ucap Shila.
"Tapi, keadaan kita berbeda, aku hanya wanita biasa, bukan darah biru seperti kalian," ucap Nissa.
"Semua kedudukan dan derajat kita terlihat sama jika di pandang Tuhan. Apa salah jika Kenzie, ingin menikahimu? Nissa, mungkin inilah jodoh yang Tuhan berikan untukmu.", ucap Shila.
" Jadi bagaimana keputusanmu, terima atau tidak?" tanya Shila,
Nissa, pun bingung namun Nissa, akan menjawab sesuai istikharahnya. Karena sebelumnya Nissa, beristikharah untuk menentukan mana yang baik untuk dirinya nanti.
"Bismillah, in sya Allah, Nissa siap."
"Jadi?"
"Nissa, menerima lamarannya."
Seketika, kebahagiaan pun terpancar dari wajah Kenzie. Nissa, menerima lamarannya.
Alhamdulillah ...
...----------------...
Terima kasih untuk para reader yang sudah setia, memberikan dukungan untuk putra-putri mahkotanya. Novel ini murni dari imajinasi author sendiri jika ada kesalahan dari segi tulis, kata, dan bacaan mohon di maaf,kan, In sya Allah untuk kedepannya akan lebih baik lagi.
Setiap cerita dan kisah pasti ada hikmah tertentu, ambilah sisi positifnya dan buanglah sisi negatifnya. Berakhirnya novel ini bukan berarti berakhirnya karya author sendiri. Masih banyak karya author yang lainnya dan jangan lupa untuk mampir juga.
Untuk lebih kenal dekat dengan author kalian bisa follow ig author
www.instagram.com/dini_rtn @dini_rtn
untuk tahu novel author terbaru bisa kalian follow ya😊, yang sudah follow bisa dm nanti othor follow balik ☺, hehe biar tambah banyak teman.
Jangan lupa mampir ke novel baru thor
The Magic Face Brush , ceritanya gak kalah seru, kok 😊
Sebelum tutup ada Quotes untuk kalian nih!
...----------------...
Harapan kadang tidak sesuai dengan kenyataan, namun percayalah kebahagiaan akan datang pada akhirnya.
Pesan dan kesan
Hargailah setiap tulisan orang lain,
Mau itu buruk atau pun bagus,
Karena setiap manusia pasti ada kekurangan,
Jangan menuntut orang lain untuk menjadi sempurna, karena di dunia ini tidak ada yang sempurna.
Terima kasih 🙏😊
Sampai jumpa di novel thor terbaru ya 😉
__ADS_1