Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Tissa dan Shila bertemu


__ADS_3

Sebelum lanjut baca part ini, silahkan baca kembali part sebelumnya sudah author revisi 🙏🤗. Maaf karena jaringan erorr jadi kemarin up double.


...****************...


"Mami ada yang ingin bertemu." seru Kanza yang baru saja pulang sekolah.


"Siapa?" tanya Shila heran. Sepersekian detik Shila terkejut, Shila diam melihat Tissa yang datang dan ada di hadapannya.


"Tissa." ucap Shila.


"Mami ini ibunya Amber, temanku yang kemarin datang kesini, dia ingin berbicara dengan Mami."


"Kanza kamu pergi ke kamarmu sekarang ya." Titah Shila, Kanza pun mengangguk lalu pergi ke kamarnya.


Tissa dan Shila saling bertatapan, tidak ada percakapan diantara mereka yang ada hanyalah keheningan. "Tissa kau sudah kembali? Kenapa kau ingin menemui ku?" tanya Shila datar.


"Apa kamu tidak akan menanyakan kabar ku? Kamu pasti terkejut melihat kedatangan ku kemari."


"Ya, tentu! Aku sangat terkejut setelah sekian lama kamu menghilang tanpa kabar, hidupku merasa tenang, dan sekarang kamu kembali datang."


"Tenang saja aku tidak akan mencari masalah. Aku kesini ingin menanyakan putriku."


"Apa! Kenapa bertanya padaku, bukankah kau ibunya, apa kau tidak tahu dimana putrimu."


"Aku mendengar dari Kanza, tiga hari lalu Amber datang kemari dan berbicara denganmu, aku ingin tahu apa yang kalian bicarakan, karena pada hari itu aku tidak melihatnya sampai detik ini."


"Apa yang ingin kamu ketahui? Pembicaraan ku dengan Amber? Kamu tenang saja aku tidak sepicik kamu, yang tega meracuni pikiran anakmu sendiri." Tissa mendongak, menatap Shila lekat.


"Kamu tahu kenapa dia datang padaku? Tidak lain hanya ingin tahu siapa ayahnya. Aku katakan padanya, aku pun tidak tahu, karena memang kenyataannya begitu. Saat Amber menyebut nama Vicky, aku baru ingat saat, itu aku melihat kematian Vicky di berita, Vicky terbunuh oleh seorang wanita. Di waktu bersamaan meninggalnya Vicky polisi datang ke rumah papa mencari mu Tissa."


"Apa kau membunuhnya? Kenapa? Karena kamu hamil dan Vicky tidak bertanggung jawab begitu. Sebelum kejadian itu aku melihatmu di dokter kandungan, aku bertanya dalam hatiku untuk apa kamu ke dokter kandungan? Aku tidak berpikir kamu sedang hamil saat itu, tapi setelah kejadian Vicky aku yakin bahwa kamu hamil olehnya dan itu sebabnya kamu membunuh Vicky, benarkan!"

__ADS_1


Tissa terdiam


"Kamu tega membunuhnya, tapi wajar saja karena Vicky juga salah. Tapi ... apa kamu harus memanipulasi keadaan, kamu racuni pikiran anakmu Tissa, kamu bilang padanya bahwa aku yang membunuhnya, seolah aku yang salah dan anakku yang terhina, untuk apa Tissa? Untuk apa?"


"Seberapa banyak kebencian yang kamu tanamkan? Hati kamu penuh dengan dendam Tissa, apa kamu tidak kasihan pada putrimu sendiri, dia harus menanggung dosa mu, penderitaan mu."


"Sekarang katakan saja apa yang kamu bicarakan dengan putriku, apa kamu mengatakan aku yang membunuh ayahnya. Kamu tahu Shila putriku belum kembali sampai saat ini, dia pergi entah kemana, seharusnya kamu tidak katakan itu padanya, ini masalahku biar aku dan putriku yang menyelesaikannya." teriak Tissa.


"Kamu bilang masalahmu, lalu kenapa kamu membawaku dan putriku ke dalam masalahmu. Kamu sendiri yang bermain api, kamu sendiri yang memulai. Asal kamu tahu Tissa, aku tidak pernah mengatakan itu pada putrimu, kenapa? Karena aku tidak sepicik dirimu, aku seorang ibu aku masih punya hati, sebelum berkata aku


akan berpikir dahulu. Aku tidak ingin melukai hati Amber, itu sebabnya aku tidak mengatakannya."


"Lalu kenapa Amber pergi, dimana putriku sekarang." ujar Tissa yang tubuhnya mulai melorot terduduk di atas lantai. Membuat Shila tak tega melihatnya.


"Duduklah di atas jangan begini." ujar Shila yang memapah Tissa untuk duduk di sofa. Lalu Shila mengambilkan minum untuk Tissa.


"Tissa, seandainya dulu kamu tidak membunuh Vicky, mungkin saat ini Vicky masih hidup dan bersama mu juga putrimu."


"Semua butuh waktu Tissa, dulu aku juga mengalami hal yang sama denganmu, aku hamil lalu aku di usir dari rumah, aku tidak punya tempat tujuan dan aku tidak punya siapa-siapa."


"Aku juga mengalami depresi, putus asa dan akan menggugurkan kandunganku, tapi aku berpikir aku tidak bisa, anakku tidak bersalah, sampai akhirnya aku memutuskan untuk melahirkannya. Bahkan aku tidak tahu siapa ayah dari anakku saat itu, aku membesarkan anak-anak ku penuh kasih sayang, dan tanpa di duga mereka mempertemukan ku dengan ayah mereka."


"Begitu juga Vicky, dia pasti butuh waktu tapi seharusnya kamu yakin, Vicky pasti bertanggung jawab dan menikahimu."


"Ini karma ku Shila, dulu aku yang menjebak mu dengan Vicky, sampai kamu salah kamar, dan hamil oleh Vero."


"Sekarang aku menyadari semua kesalahanku, maafkan aku Shila, maafkan aku, aku tidak akan lagi mengganggu kebahagiaan mu, aku kesini hanya ingin menanyakan putriku itu saja, aku pikir kamu tahu dimana Amber."


"Aku sudah memaafkan mu dari dulu Tissa, tidak ada lagi yang perlu di maafkan, semua itu sudah berlalu, sekarang kita jalani hidup kita tanpa ada rasa dendam." ucap Shila membuat Tissa terdiam.


"Makasih Shila, kamu pantas bahagia."

__ADS_1


"Kamu juga pantas bahagia Tissa."


"Oh iya, bagaimana kabar papa? Mama Rani ingin sekali bertemu dengan papa, kami ingin meminta maaf atas perbuatan kami dulu."


"Papa sudah tenang di surga." Tissa tercengang mendengar ucapan Shila.


"Papa meninggal?"


"Sudah dua tahun yang lalu. Kalau kamu ingin ziarah, pergi saja ke pemakaman melati papa di semayamkan disana." ujar Shila yang membuat Tissa spechlees.


"Atau kalau kau mau aku bisa temani, besok kita pergi sama-sama."


"Aku pikir, masih ada kesempatan untuk ku bertemu dengan-Nya, dan meminta maaf padanya, tapi semua sudah terlambat."


"Papa sudah memaafkanmu juga mama. Jadi ... tidak ada lagi yang harus di sesali." ucap Shila yang memegang bahu Tissa. Tissa pun memeluk Shila kini keduanya saling berpelukan.


"Kenapa mereka berpelukan? Ada apa dengan mereka mami dan tante itu?" gumam Kanza yang melihat dari atas.


Semua butuh waktu,


Ya ... benar semua butuh waktu, begitu pun dengan penyesalan. Saat kita menyesal atas kesalahan kita semua itu butuh waktu, butuh waktu untuk merenung dan menyadari kesalahan itu sendiri.


Shila merasa lega akhirnya, semua sudah selesai tidak ada lagi dendam diantara mereka. Shila senang melihat Tissa yang sekarang, Tissa sudah mulai berubah. Shila berharap Amber akan segera di temukan.


Dalam waktu bersamaan Anna dan Joy datang, melihat Tissa yang berpelukan dengan Shila. Mereka bertanya-tanya siapa wanita itu? Shila pun mengatakan dia tante mu Tissa. Joy dan Anna terhenyak, Tissa si nenek lampir pikir keduanya, Namun Shila meyakinkan bahwa Tissa sudah berubah. Awalnya Joy dan Anna ragu dan tidak percaya namun berkat keyakinan yang Shila berikan akhirnya mereka percaya.


Tak hanya Anna dan Joy, Kanza juga terkejut ketika tahu bahwa Amber dengannya adalah saudara sepupu.


"Jadi aku dan Amber adalah."


"Sepupu." ujar Anna dan Joy kompak

__ADS_1


"Oh tidak, bagaimana bisa air dan api bersatu." celoteh Kanza karena baginya Amber adalah api yang terus menyerangnya.


__ADS_2