
Tissa menghentikan mobil nya di depan sebuah apartemen lalu turun dan masuk ke dalam apartemen itu. Tissa berjalan dengan pandangan lurus ke depan mata nya memerah menahan amarah, tangan nya mengepal geram.
Brukk ...
Tissa mendobrak sebuah kamar apartemen mengejutkan kedua orang yang berada di dalam nya. Dua orang sejoli seorang pria dan wanita yang sedang tidur bersama, seperti akan melakukan olah raga panas nya namun, kegiatan itu terhenti karena suara pintu yang di dobrak Tissa .
"Kau," ucap pria itu menahan amarah nya.
Tissa masuk ke dalam kamar tanpa di minta dan menyuruh wanita itu keluar dari kamar ini.
"Keluar kau." titah Tissa pada wanita itu, wanita itu pun langsung memungut baju- baju nya lalu ke luar dari kamar.
"Hey, jangan pernah mengusir wanita ku." tegas pria itu yang menunjuk Tissa di hadapannya.
"Kenapa? Aku tidak punya urusan dengan wanita itu, aku hanya punya urusan dengan mu." ucap Tissa dengan nada tajam
"Apalagi? Hah, kau butuh uang lagi? Aku tahu apa mau mu uang, kan! Setiap kali kau datang pasti butuh uang." cibir pria itu.
"Kamu mau tahu apa maksud kedatangan ku ?"
"Tanpa kau beri tahu aku sudah tahu, sudah pasti uang." timpal pria itu .
"Aku kesini untuk meminta pertanggung jawaban mu."
Pria itu mengerutkan dahi nya "Apa? tanggung jawab ck, dasar! Memang nya apa yang aku lakukan?"
"Kamu harus tanggung jawab atas bayi ini." tegas Tissa sembari menunjuk pada perut nya.
"Apa? Bayi?"
"Ya, bayi dalam perut ku . Aku hamil oleh mu Vicky dan kau harus tanggung jawab ." teriak Tissa dengan tegas . Pria yang di panggil Vicky itu pun terbelalak mendengar ucapan Tissa.
"Hamil ?" gumam Vicky terkejut. Lalu dia ingat apa yang dilakukannya pada hari itu.
"Untuk apa aku harus bertanggung jawab? Bukankah kamu sudah menerima uang nya." cibir Vicky sedikit menusuk.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu ya Vic , kamu sudah membuat ku hamil dan sekarang kamu tidak mau tanggung jawab Vicky . Aku benci kamu." Tissa meronta-ronta, memukul tubuh Vicky penuh amarah.
"Kamu yakin anak itu anak ku?" Tissa terbelalak mendapat pertanyaan itu dari Vicky.
"Bisa saja itu anak laki-laki lain kan! Bilang saja kamu ingin melabui ku agar mendapatkan uang dari ku, Tissa aku tidak bisa kamu bohongi."
Plak,
Satu tamparan mendarat pada Vicky. Tissa menampar nya dengan keras bisa- bisa nya Vicky mengatai nya.
"Jangan sama kan aku dengan wanita yang sering kau sewa, aku bukan wanita murahan. Kamu harus tanggung jawab Vicky." teriak Tissa memenuhi ruangan.
"Aku hanya akan menikahi satu wanita yaitu Shila bukan kamu ." Tissa tak terima dan sangat marah, Tissa meluapkan amarahnya dengan memukul-mukul dada bidang Vicky.
"Stop, berhenti memukuli ku." bentak Vicky ."Aku akan tanggung jawab." ucap Vicky demikian .Tissa pun menghentikan pukulan nya .
"Diam disini." titah Vicky .
Vicky berjalan ke arah lemari, Tissa duduk di atas tempat tidur sembari menenangkan emosi nya. Tak lama kemudian Vicky pun kembali dan..
Vicky melempar beberapa lembar uang pada Tissa bahkan mengenai wajah nya. "Apa ini?" tanya Tissa saat mendapat lemparan uang dari Vicky.
"Kamu bilang aku suruh tanggung jawab kan! Nah itu ... tanggung jawab ku, aku sudah memberi mu uang, sekarang kamu bisa pergi"
"Ini yang kamu sebut tanggung jawab?" ucap Tissa yang melempar kembali uang itu pada Vicky.
Plakk,
Satu tamparan kembali mendarat di pipi mulus Vicky, Tissa kembali menamparnya. "Kamu pikir, kehamilan ku bisa di tutupi dengan uang! Gila kamu ya Vic, sudah melakukannya tapi tidak mau tanggung jawab, ini anak kamu Vic, kamu yang membuat aku hamil dan kamu harus tanggung jawab Vicky." pekik Tissa.
"Apa susah nya,kamu tinggal gugurin saja tuh kehamilan mu beres kan."
"Benar-benar gak punya hati kamu ya Vic,"
"Sekarang aku ngerti , kenapa Shila gak pernah mau sama laki - laki macam seperti mu, ternyata kamu laki - laki bajingan, laknat, gak pantas di cintai ."
__ADS_1
"Kamu pikir kamu wanita suci , sudahlah sekarang pergi dari apartemen ku dan jangan ganggu hidup ku lagi."
"Brengsek kamu Vicky , bajingan kamu ."
Tissa dan Vicky terus berdebat sampai Tissa tersungkur ke lantai . Vicky benar - benar memperlakukan Tissa seperti binatang, dia memukuli nya, memakinya, namun Tissa tidak bisa tinggal diam di perlakukan seperti itu . Tissa geram, lalu berdiri dari duduk nya dan ...
A ...a ... a ...
Brukk,
Vicky tergeletak di lantai dengan berlumuran darah pada perut nya, sampai Vicky tak sadarkan diri. Tubuh Tissa gemetar, ketakutan menghantui nya lalu pergi dari apartemen itu dengan mengambil kunci card yang terdapat pada atas nakas.
Flashback off
Tissa terduduk lemas di atas tanah, begitu pun juga Amber yang sudah mendengarkan masalalu ibunya. Tanpa diinginkan air mata pun menetes di keduanya. Kenyataan pahit yang baru saja di ketahuinya. Ayah yang selama ini Amber inginkan tidaklah pernah menginginkannya, malah menyuruh ibunya untuk membunuhnya saat masih dalam kandungan.
Apa yang dikatakan semua orang tak ada bedanya Amber memang anak haram, anak dari luar nikah dan sampai ayahnya meninggal pun tidak pernah menikahi ibunya, ayah yang tak bertanggung jawab.
"Semua orang tidak menginginkanku, apa salahku, kau juga tidak menginginkanku, bahkan ayahku sendiri. Apa karena itu kau menyalahkanku, kau menganggapku anak pembawa sial,"
Tissa menggeleng cepat "Tidak, itu tidak seperti yang kau katakan, aku menyayangimu."
"Kalau kau menyayangiku kau tidak mungkin membunuh ayahku. Setidaknya kau berusaha untuk membujuk ayahku agar menikahimu bukan membunuhnya." ujar Amber yang berlinang air mata, lalu berlari pergi. Melihat Amber pergi Tissa pun mengejarnya, Tissa harus jelaskan agar Amber tak salah paham padanya. Mungkin inilah hukuman untuknya, disaat Tissa mulai menyayangi Amber di saat itu Tissa harus berjuang mendapatkan Amber kembali, dan meyakinkan putrinya untuk percaya lagi padanya.
Indra yang melihat Tissa mengejar Amber, Indra pun ingin mengejarnya namun langkahnya terhenti karena Nita memanggilnya.
"Dokter, ibu Rani harus segera di operasi, kapan kita akan mengoperasinya? Apa yang dokter lakukan disini?" tanya Nita.
Indra hampir saja melupakan pasiennya, Indra pun bergegas pergi ke ruang operasi bersama Nita. Sepanjang jalan pikirannya berkecamuk, Indra tidak sengaja mendengar perkataan Tissa tentang masalalunya. Entah kenapa hati Indra merasa iba pada mereka berdua, seorang anak yang di sakiti ibunya, dan seorang ibu yang di sakiti oleh pria yang tak mau bertanggung jawab atas anaknya. Sungguh masalah yang rumit.
****
Di tempat lain Joy fokus mencari bahan-bahan, untuk membuat brownies, cara membuatnya ia searching di google. Joy benar-benar di uji, kenapa ibu hamil tidak bisa mengganti kemauannya, kenapa kalau sudah punya keinginan hanya itu saja keinginannya dan tidak bisa di rubah atau pun di tawarnya.
Ini pertama kalinya bagi Joy untuk memasak, apalagi membuat kue. Jujur Joy menyesal, kenapa saat kecil dulu dia tidak pernah membantu Shila memasak yang selalu membantunya hanyalah Anna kakaknya, sedangkan Joy dan Jolie mereka hanya membantu cara bersih-bersih rumah, itu pun Joy lakukan dengan alat yang di buatnya jadi ... Joy hanya duduk manis sambil mengendalikan remote kontrolnya.
__ADS_1