Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Menikahlah denganku


__ADS_3

Kinan kembali lagi, Kinan terus mengganggu Indra, Kinan seperti sedang mengemis cintanya. Padahal Indra sudah tidak mencintainya lagi.


"Indra, aku tahu kamu masih mencintaiku, itu sebabnya kamu tidak pernah menikah lagi." ujar Kinan penuh percaya diri.


"Indra jawab aku!"


"Indra!"


"Bisakah kau pergi! Jangan ganggu aku. " ucap Indra lalu pergi.


"Siapa wanita itu?" tanya Kinan membuat langkah Indra terhenti.


"Siapa dia? Sampai kamu tega menamparku di depan semua orang, karena membela wanita itu!"


"Jawab Indra." Sentak Kinan, karena Indra terus diam.


"Memang kamu pantas di tampar. Kamu tidak malu? Kamu selalu saja mempermalukan dirimu sendiri,"


"Aku tahu, kamu masih mencintaiku Indra, setelah 15 tahun lamanya kau tidak pernah menikah lagi itu karena aku, aku minta maaf karena aku telah mengkhianatimu saat itu, tapi jujur, aku tidak ada niat untuk itu, Farhan yang memaksaku, bukan aku."


"Percuma kau jelaskan sekarang, tidak ada artinya."


"Indra aku mencintaimu, aku ingin kita kembali lagi seperti dulu, kita memulai lagi dari awal, aku mohon. Indra aku tahu kau masih mencintaiku," ucap Kinan yang meraih tangan Indra.


"Tidak, aku tidak lagi mencintaimu." ujar Indra yang menepis tangan Kinan.


"Tidak, aku tidak percaya."


"Aku, mencintai wanita lain."


"Siapa? Wanita itu? Wanita yang kamu bela kemarin?"


"Kalau iya kenapa?"


"Aku tidak percaya, aku tahu kamu Indra tidak mudah bagimu mencintai seorang wanita, dari dulu hanya aku yang kamu cinta." Indra menyunggingkan bibirnya.


"Terserah, mau kau percaya atau tidak."


"Aku minta bukti, kalau kau mencintai wanita itu." ucap Kinan penuh penekanan.


****


Tissa dan Amber sedang mengemas barangnya, karena hari ini Tissa, sudah di perbolehkan pulang. Ada Nita juga Lira yang menemani.


"Nit, ssst."


"Kamu aja?


" Kamu aja, ayo cepet tanya."


Lira dan Nita saling senggol siku, sebenarnya Nita dan Lira ingin sekali tahu hubungan Tissa dan Indra, apa Indra sudah mengatakan cintanya atau belum? Apa mereka sudah resmi pacaran atau belum, namun Nita dan Lira bingung harus memulai pertanyaannya darimana.


"Dimana dokter Indra ya! kok belum datang padahal pasiennya pulang hari ini." ujar Lira sambil melihat ke arah pintu.


"Mungkin dokter Indra sedang sibuk, tak apa aku pamit sama kalian saja," ujar Tissa


"Eh, jangan. Mm ... maksudku jangan buru-buru, kita belum kenal dekat kita ngobrol-ngobrol dulu aja, sambil nunggu dokter Indra, iya, kan Lira?" ujar Nita yang berkedip pada Lira.


"I-iya, jangan buru-buru." timpal Lira.


"Mah, ayo sudah siap." ucap Amber yang baru mengemas semua barang Tissa ke dalam tas.

__ADS_1


"Eh, jangan dulu Mamamu masih belum sembuh total, harus ada yang mengantar, dokter Indra juga belum datang." tahan Nita.


"Nanti saja kita mampir ke ruangannya sekalian pamit, iya, kan Mah." ujar Amber yang di angguki Tissa.


"Eh, tunggu." tahan Lira


"Ada apa?" tanya Amber


"Itu dokter Indra." ujar Lira yang melihat Indra di ambang pintu.


Tissa, Amber dan Nita pun menoleh. Indra berjalan ke arah Tissa yang duduk di atas ranjangnya. Indra menatap Tissa, tak seperti biasanya dan saat di hadapan Tissa, Indra hanya diam tanpa kata.


"Dokter, sebelumnya aku mau ucapkan terima kasih, selama ini aku dan putriku selalu merepotkanmu. Tapi mulai hari ini Amber akan pulang bersamaku, Amber tidak akan merepotkan mu lagi." ujar Tissa.


"Kenapa? Aku tidak sama sekali tidak di repotkan." ujar Indra datar.


"Saya yang tidak enak dokter."


"Kalian berdua tinggallah bersamaku." ucap Indra tegas, matanya tak berpaling dari Tissa.


Tissa dan Amber saling tatap. "Maksud dokter? Itu tidak mungkin," sanggah Tissa.


"Kenapa? Kau tidak ingin tinggal bersamaku?" tanya Indra dengan tegas.


"Bukan begitu, ma-maksud ku ...." ucap Tissa tertahan karena Indra langsung mengunci bibirnya tiba-tiba.


Nita dan Lira tak percaya melihatnya, mata mereka membulat sempurna, mulutnya menganga. Sedangkan Amber langsung menutup matanya saking kagetnya. Dan Tissa, dia diam mematung saat aliran-aliran listrik terasa menyengat tubuhnya, matanya membulat sempurna, jantungnya berdegup tak menentu, hatinya dag dig dug tak karuan, bibirnya terasa beku, sampai tak bisa bergerak, seolah menerima sentuhan lembut yang di berikan Indra pada bibir ranumnya.


"Menikahlah denganku." pinta Indra


Deg, deg, deg,


Detak jantung berpacu lebih cepat, terpompa tanpa henti, ucapan Indra seolah menampar dirinya, kali pertamanya ada seorang lelaki mengucapkan kata itu untuknya.


Di depan pintu sana, Kinan melihatnya penuh amarah, lalu pergi dari tempat itu.


"Dokter, apa tidak lihat ada aku di sini, setidaknya kalian tidak berciuman di depanku." teriak Amber yang langsung di bekap oleh Nita.


Lalu Nita dan Lira membawa Amber keluar, memberikan Indra dan Tissa waktu berdua.


Plakk,


Satu tamparan mendarat di pipi Indra, nafas yang menggebu, amarah yang memuncak, Tissa benar-benar sangat marah, Tissa merasa di lecehkan karena Indra menciumnya tiba-tiba. Tanpa terasa bulir-bulir air mata pun berlinang.


"Kamu pikir aku tidak tahu! Kamu menciumku karena Kinan, bukan? Lalu kamu bilang 'menikahlah denganku' itu hanya alasan agar Kinan menjauh darimu," ucap Tissa, yang memang tahu kehadiran Kinan.


"Kalau hanya sebatas sandiwara, aku juga bisa, aku bisa membantumu, tapi bukan berarti kamu bisa menciumku seenaknya."


"Maaf, kalau aku membuatmu tak nyaman. Tapi aku serius dengan ucapanku tadi." ucap Indra yang menatap Tissa.


Tissa dan Indra saling menatap


"Menikahlah denganku." ucap Indra lagi.


"Cukup dokter, aku bukan boneka mainanmu, sudah cukup satu tamparan yang aku terima, aku tidak ingin berurusan lagi dengan mantan istrimu." ucap Tissa, yang langsung turun dari ranjang dan akan melangkah pergi, namu Indra menahannya.


"Menikahlah denganku." ucap Indra lagi.


Langkah Tissa terhenti, namun bukan karena ucapan Indra tetapi karena sebuah cincin yang Indra perlihatkan kepadanya.


"Indra?"

__ADS_1


"Menikahlah denganku." ucap Indra datar.


"Tidak ada alasan aku menciummu, bukan Kinan yang membuat aku melakukan itu, tapi ... karena hatiku, karena hatiku yang mendorongku untuk melakukan itu. Hatiku yang memilih mu."


Tissa terdiam


"Kamu yang bilang, kalau cinta tidak pernah salah, pepatah cinta itu selalu benar. Dan aku mengerti sekarang, hatiku juga tidak salah bahwa aku memilihmu."


"Kamu yang bilang, wanita tidak semua buruk, dan jika itu benar maukah kau menjadi wanita itu? wanita yang mampu mengisi hatiku, meyakinkanku, bahwa cinta itu tidak salah, dan wanita itu tak seburuk yang aku kira."


Indra melangkah ke depan, menghadap Tissa, Indra bersimpuh di hadapannya, satu tangannya Indra angkat dihadapannya, satu tangannya lagi membuka kotak kecil diatas tangan kirinya, yang memperlihatkan sebuah cincin yang indah nan mengkilap.


"Menikahlah denganku." ucapnya demikian.


Tissa masih diam, Tissa bingung jawaban apa yang harus dia berikan.


''Apa kau yakin? Kau tahu masalalu ku, aku bukanlah wanita yang baik, dan aku juga sudah memiliki putri, aku tidak pantas bersanding denganmu." ucap Tissa gugup.


"Kau juga tahu masalalu ku, apa aku laki-laki yang baik? Mungkin aku bukan suami yang baik karena itu Kinan mencari laki-laki lain. Jika kita terus melihat masalalu, kapan kita akan melihat masa depan, dan melangkah maju untuk memulai hidup baru."


"Tidak ada manusia yang sempurna, jika tuhan menciptakan manusia yang sempurna bagi setiap pasangan, kapan mereka akan saling melengkapi, dan saling menerima setiap kekurangan. Mari kita saling melengkapi dan memulai hidup baru, kita perbaiki masalalu kita sama-sama, untuk menjadi manusia lebih baik lagi."


"Jika kau sudah memiliki seorang putri, biarkan aku menjadi ayah dari putrimu. Mari ... kita lupakan masalalu dan membuka lembaran baru."


"Tissa, menikahlah denganku."


Tissa masih ragu dan belum yakin, namun, saat matanya melihat Amber yang berdiri di ambang pintu, menatapnya penuh dengan harap. Amber mengangguk dengan pelan, seolah memberikan jawaban bahwa Tissa harus menerima lamaran Indra.


Amber kembali tersenyum dan mengangguk. Tissa kembali menatap Indra yang masih bersimpuh dan menatapnya penuh harap. Tissa menghirup nafas sejenak, untuk menetralkan detak jantungnya lalu Tissa pun berkata.


"Maaf bila aku bukan wanita yang sempurna, tapi ... biarkanlah aku menyempurnakan hidupmu, mari kita memulai hidup baru dan lupakan masalalu."


Ucap Tissa yang mengulurkan tangannya pada Indra, meminta Indra untuk memasangkan cincin itu ke jari manisnya. Indra tersenyum, Indra tak menyangka dengan jawaban yang Tissa berikan.


Dengan bahagia Indra memakaikan cincin itu, lalu berdiri dan memeluk Tissa.


Prok, prok, prok,


Suara tepuk tangan pun riuh terdengar Lira, Nita, Amber, bahkan Arman mereka terlihat begitu bahagia.


Cie ... cie ... cie ... sorak Lira, Nita dan Arman. Amber berlari menghambur memeluk Tissa juga Indra.


"Pak Dokter, ingatnya cuti seminggu." ujar Nita


"Bebas shift malam selama seminggu." ujar Lira


"Liburan kita, ingat! Perjanjian." ujar Arman.


Indra pun hanya bisa menghela nafas, mau tidak mau Indra harus menuruti permintaan Arman, Nita dan Lira.


...----------------...


Top fans banyak tapi like nya kok dikit 😭


Mohon dukungannya πŸ™ beri like setelah membaca, dan jika ada koin lebih jangan lupa sisihkan untuk votenyaπŸ™ jangan biarkan rankingnya turun oke.


Untuk yang baru mampir jangan lupa klik favorit ya πŸ€—


Luv you All, 😘😘


Happy valentine πŸ’–

__ADS_1


Mampir juga yuk ke novel temanku



__ADS_2