Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Memenuhi kewajiban seorang istri


__ADS_3

Jolie mondar-mandir tak jelas seperti setrikaan. Kedua tangannya ia lipatkan di bawah dadanya, satu telunjuk tangannya ia ketuk-ketukan di bawah dagunya.


Jolie seperti sedang memikirkan sesuatu, kedua kakinya ia gerakan ke kanan dan ke kiri, lama sudah berpikir akhirnya Jolie pun duduk di atas ranjang king size nya lalu Jolie mengambil ponselnya di atas naskah, jari tangannya langsung menari-nari di atas layar keyboard ponselnya.


Google Searching


"Cara membasmi pelakor." ketik Jolie pada layar keyboardnya. Entah apa yang dipikirkannya tiba-tiba Jolie searching tentang pelakor, mungkinkah karena pertemuannya dengan Anjani.


"Puaskan suami di atas ranjang." ucap Jolie yang membaca artikel tentang pelakor.


"Apa tidak ada cara lain? Apa harus seperti itu? Gimana caranya aku belum pernah melakukannya." gumam Jolie sambil berpikir.


"Aaargh ... dasar gara-gara cewek itu aku jadi mikir kaya gini." umpat Jolie sambil mengusap wajahnya kasar.


Jolie diam sejenak, merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memikirkan perkataan Elang tadi sore saat di pemakaman. Tentang Dosa istri yang tak pernah melayani suami nya


"*Apa kamu pernah melayaniku di atas ranjang? Memberikan hakmu sebagai seorang istri? Itulah dosa terbesar seorang istri pada suaminya, kamu pikir hanya dengan membuatkan kopi, menyiapkan pakaian dan menyiapkan sarapan sudah menjadi istri yang baik."


"Kamu, menyinggungku."


"Tidak, aku hanya memberitahumu bahwa percuma saja kamu menyiapkan kopi, dan sarapan setiap hari karena itu tidak menjamin kamu menjadi istri yang baik. Karena kamu belum memenuhi kewajibanmu yang sesungguhnya*."


Perkataan itu terus terngiang-ngiang di pikirannya. Perkataan itu sangat mengganggunya. "Apa Elang akan tergoda sama wanita itu, kalau aku belum melakukan kewajibanku."


"Ucapan Elang sepertinya tidak main-main, dia seperti mengancamku, bagaimana ini apa yang harus aku lakukan."


"Coba aku searching lagi deh!" ujar Jolie yang kembali mengutak-atik ponselnya. Kini Jolie mencari artikel tentang kewajiban seorang istri pada suami, mata Jolie fokus menatap layar ponsel, jari tangannya ia gerakan ke atas dan ke bawah.


Jolie kembali termenung, ternyata melayani suami memenuhi hasrat suami sudah menjadi kewajibannya sebagai istri, bahkan akan mendapat pahala yang besar dan jika tidak melakukannya apa lagi melarang suami untuk menyentuhnya itu adalah dosa besar bagi seorang istri.


Jolie kembali merenungkan setiap perkataan demi perkataan yang baru saja di bacanya. Semenjak menikah Jolie tidak pernah melakukannya bahkan sampai saat ini, saat pernikahannya sudah berjalan dua bulan. Awalnya Jolie memang takut, dan berniat hanya menjalani pernikahan sementara, karena terpaksa. Namun hari demi hari Jolie merasakan hal yang berbeda, Jolie ingin menjadi istri yang baik dan mencobanya sebaik mungkin dan sekarang apa Jolie harus menyerahkan dirinya sepenuhnya?


"Kamu tahu, pernikahan yang di jodohkan? Apa mereka menikah karena cinta tidak, kan. Tapi kewajiban seorang istri tetaplah kewajiban."


Perkataan Elang kembali terngiang.


Jolie berjalan ke arah lemari, membuka pintu lemari itu dengan pelan, Jolie mengambil satu pakaian lingeria transfaran yang di belikan Nyonya Endra untuknya, yang tak pernah Jolie sentuh ataupun di pakai. Jolie menatap pakaian itu, ternyata mertuanya tidak salah, Nyonya Endra memberikan pakaian itu untuknya, untuk malam pertamanya, Nyonya Endra ingin Jolie terlihat cantik di depan Elang.


****

__ADS_1


Di tempat lain Tissa duduk termenung di dalam kamar, yang pernah di tempati Rani. Manik matanya menatap setiap sudut kamar lalu Tissa berjalan keluar, menatap setiap sudut ruangan di rumahnya. Tatapan Tissa tertuju pada sebuah meja panjang yang dimana meja itu adalah meja makan, bayangan-bayangan kembali terlintas, Saat Rani dan Amber juga Tissa makan bersama, saking bercengkrama, namun sekarang rumah ini sangat sepi, tidak ada kehidupan di dalamnya, semuanya seakan mati. Hanya dirinya seorang. Tissa kembali ke kamarnya, berjalan menuju ranjang tidurnya, lalu Tissa teringat kartu nama yang di berikan Indra, Lalu Tissa menghubunginya.


"Halo dengan siapa?" tanya Indra di ujung sana.


"Maaf kalau aku mengganggu, ini aku Tissa." jawab Tissa demikian. Dokter Indra sepertinya sedikit terkejut karena tidak ada pembicaraan sejenak.


"Apa putriku sudah tidur?"


"Belum, dia tidak berhenti menangis, aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan tangisan anak gadis." ucap Indra yang kembali terdengar suaranya.


"Apa kau mau membantuku? Dia akan berhenti menangis setelah melihat neneknya. Amber memang sangat dekat dengan neneknya, aku akan mengirimkan sebuah video apa kamu bisa memberikannya padanya? Semoga itu bisa menghentikan tangisnya."


"Baiklah kirimkan saja."


"Sudah aku kirimkan, nanti tolong berikan kepada putriku."


"Ya."


"Mm ... soal ucapan mu tadi, apa benar kamu mengizinkanku untuk menemui Amber?"


"Kenapa minta izin, kau ibunya kau berhak menemuinya."


"Terima kasih, besok aku akan datang ke rumahmu."


"Semoga saja. Terima kasih telah menjawab teleponku, aku sudahi dulu, tolong jangan lupa berikan video itu pada Amber."


"Iya."


"Baiklah terima kasih, aku tutup dulu teleponnya terima kasih atas waktunya" ujar Tissa yang langsung di sanggah oleh Indra


"Tunggu dulu."


"Iya ada apa?" tanya Tissa


"Apa kau baik-baik saja? Maksudku kau sendirian atau bersama Shila. Jangan salah paham aku hanya ..."


"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah peduli padaku."


"Oh iya. Apa besok aku perlu menjemputmu?

__ADS_1


"Tidak perlu, aku akan datang sendiri. Baiklah sudah dulu ya maaf aku sudah menganggumu."


Tut ... tut ... sambungan telepon pun terputus.


"Aku, tahu apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku, dan jika itu yang membuat kamu bahagia Amber, aku akan melakukannya, hukuman yang harus aku dapatkan adalah hukuman yang setimpal." batin Tissa seraya menulis sebuah surat.


Sedangkan Amber akhirnya bisa tertawa dan tertidur setelah melihat video yang di kirim oleh Tissa.


****


Jolie duduk bersandar di atas ranjangnya, seluruh tubuhnya ia tutup dengan selimut sampai ke atas lehernya. Tak lama kemudian Elang masuk ke dalam kamar, Elang merasa aneh melihat tingkah Jolie yang terdiam.


"Kenapa kau belum tidur? Apa tanganmu masih sakit? Coba aku lihat."


"Jangan." teriak Jolie saat Elang ingin membuka selimutnya. Lagi-lagi Jolie berteriak Jolie merasa bersalah.


"Maaf, aku tidak bermaksud berteriak."


"Aku hanya ingin melihat lukamu."


"Jangan dulu." tahan Jolie yang memegang kuat selimutnya, namun tenaga Elang lebih kuat, dengan sekali tarikan selimut itu pun melorot ke bawah, refleks Jolie langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Elang terpaku melihat tubuh Jolie yang sedikit terekspose karena hanya memakai lingeria transfaran saja, yang biasanya Jolie selalu menggunakan kais oblong atau pakaian tidur yang tertutup.


Elang sampai menelan salivanya, apalagi tubuh Jolie begitu mulus bagaikan porselin. Jujur sebagai lelaki dewasa Elang tergoda, dan benar saja juniornya sudah mulai bangun.


"Jolie apa yang kau lakukan, ganti pakaianmu,"


"Kenapa? Bukankah kau bilang ingin melihat tubuhku."


"Aku tidak akan memaksamu, cepatlah ganti pakaianmu jangan sampai aku khilaf." ujar Elang yang memalingkan wajahnya.


"Aku, akan melakukan tugasku sebagai seorang istri, aku tidak ingin menanggung dosa karena tidak melayanimu." Elang lansung berbalik menatap Jolie yang masih menutup wajahnya. Elang tak percaya perkataannya tadi membuat hati Jolie tergerak.


...----------------...


Jangan lupa dukungannya ya 🤗


like dan Vote plus komentarnya 🙏😊

__ADS_1


Mau kenal lebih dekat follow IG ku juga ya, biar tahu kapan aku up yuk saling follow 🙏😊


👉👉👉 dni_rtn


__ADS_2