Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Amarah Amber


__ADS_3

Amber merenung ... dia duduk di sendirian di taman sekolah. Memikirkan setiap perkataan Shila padanya, Shila begitu lembut berbicara dengannya walaupun tahu dialah yang menghina putrinya tapi ... tidak ada ucapan kasar padanya. Shila berbicara begitu tenang, bahkan Shila memuji nya anak yang baik seumur hidup Amber tak pernah mendengar ibunya berkata seperti itu, yang selalu ibunya katakan hanyalah kebencian, penyesalan, karena sudah melahirkannya.


"Hei ember" Teriakan Kanza mengejutkan lamunan nya. Kanza dan Lusi sudah berdiri di hadapan nya bahkan teman-temannya yang lain mengelilinginya, semua mata tertuju padanya.


Amber berdiri


"Kalian semua dengar, aku Rey Kanza Alvero Wallandou adalah putri kandung dari Alvero Wallandou. Kalian bisa lihat ini bukti tes DNA yang menyatakan bahwa darah kami 99% cocok." jelas Kanza pada semua temannya sambil menunjukan bukti tes DNA.


"Dan kau ember, lihat ... dan baca dengan jelas, apa perlu aku bacakan! Agar kau tidak bicara omong kosong lagi tentangku pada semua orang" ujar Kanza yang memberikan bukti tes DNA itu, begitu pula dengan Lusi yang membagikan foto copy bukti tes DNA pada teman-teman yang lain.


Amber meremas kertas itu, wajahnya sudah mulai memerah semua orang menatap sinis padanya, saling berbisik.


"Ya tuhan, aku tidak nyangka kamu benar-benar licik Amber bisa-bisanya memutar balikan fakta padahal kau sendiri yang anak haram."


"Iya, aku juga tidak nyangka. Awalnya aku merasa kasihan padamu karena tidak ada teman tapi ... setelah melihat kelakuan mu aku merasa jijik."


Ocehan teman-temannya membuat Amber malu, matanya mulai berkaca-kaca, Amber sangat malu bertemu teman-temannya. Tanpa berkata apa-apa Amber berlari pergi meninggalkan semua orang.


****


Shila sedang duduk termenung di atas sofa memikirkan apa yang sudah terjadi, Shila merasa kasihan pada Amber, anak seusianya sangat mudah di pengaruhi dan ini di pengaruhi ibunya sendiri. Dari kecil Amber pasti tersiksa karena tidak mengetahui siapa ayahnya, Shila juga merasakan hal itu karena Shila juga pernah mengalaminya, saat anak-anaknya Joy, Anna, dan Jolie mereka lahir tanpa ayah, saat kecil ketiga anaknya selalu mencari tahu siapa ayahnya karena bagaimana pun seorang anak pasti ingin bertemu ayahnya termasuk Amber.


"Apa yang kau lamunkan?" ucapan Vero mengejutkannya.


"Tidak ada" jawabnya singkat.


"Apa kamu tahu siapa Amber? Apa dia anak baru? Aku harus menemui orang tuanya bisa-bisanya dia menghina putriku, dan juga menghinamu"


"Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi, dia masih anak-anak"


"Anak-anak! Tidak ada anak-anak yang berani menghina seperti itu, dia sudah mencemarkan nama baik istri dan putriku, ini tidak bisa di maafkan, aku sudah memutuskan mengeluarkannya dari sekolah." ujar Vero yang membuat Shila terhenyak.

__ADS_1


"Sudah aku bilang jangan bicarakan itu, lebih baik kita fokus saja pada pernikahan putri kita besok, dan aku tidak setuju jika kamu mengeluarkannya dari sekolah."


"Kenapa? Dia tidak pantas berada di sekolah itu,"


"Aku tidak suka jika kamu menggunakan kekuasaan mu seperti ini. Tidak semua kejahatan bisa di balas dengan kejahatan, lagi pula aku sudah bicara padanya, dia begitu karena dia mendapat pengaruh dari seseorang, kalau tidak tidak mungkin berbicara seperti itu, jadi ... biarkan saja jangan ungkit masalah ini" ucap Shila dengan tenang.


Vero tahu istrinya ini begitu baik, tapi ... Vero tidak bisa tinggal diam, bagaimana pun juga dia harus tahu tentang Amber.


"Aku ke kamar dulu" ucap Vero yang berlalu pergi. Shila menyandarkan kepalanya dia begitu lelah dan pusing.


"Mas Vero tidak boleh tahu kalau Amber adalah anak dari Tissa. Aku harus bertemu dengan Tissa ya ... aku harus menemuinya." gumam Shila


"Kepalaku sangat pusing sekali, bi ... bibi" Shila memanggil Bi Inem.


"Mami, ada apa?" seru Stella


"Stella. Mami memanggil Bibi untuk buatkan teh kepalaku rasanya pusing." ucap Shila yang memijit pelipisnya.


"Tadi Stella lihat Bibi sedang mengantar minuman ke kamar Anna dan Jolie, biar Stella saja, Stella buatkan teh jahe ya biar kepala Mami enakan"


"Tentu Mami, aku sering membuatnya jika kepalaku sedang pusing, Mami tunggu disini ya" ucap Stella yang melangkah pergi ke dapur, Shila hanya mengulum senyum.


Lima menit kemudian Stella kembali membawa secangkir teh di tangannya, Stella duduk di samping Shila lalu memberikan teh itu pada Shila.


Shila menyeruput teh nya sambil menghirup aroma jahe dalam teh. "Ini enak, Mami tidak tahu kamu pintar membuat teh"


"Karena terbiasa tinggal sendiri, apa-apa selalu sendiri. Waktu itu kepala ku sangat pusing karena tugas kuliah yang menumpuk aku coba buat teh dengan jahe setelah aku minum pikiran ku jadi rileks"


"Iya benar, kepala Mami tidak terasa pusing lagi" Shila dan Stella pun tertawa bersama.


****

__ADS_1


Amber baru saja pulang di lihatnya seisi rumah tidak ada mama atau pun nenek nya, Amber benar-benar sangat marah dia ingin segera mencari Tissa untuk menanyakan hal ini.


Sebenarnya siapa yang benar dan yang salah. Tapi tes DNA ini membuktikan bahwa Kanza dia memang anak kandungnya, lalu ... apa maksud semua ucapan mamanya, apa tujuannya berkata seperti itu.


BRAKK!!


Tissa terkejut, saat Amber membanting pintu kamarnya dengan keras.


"Amber kamu sudah pulang? Apa kau sudah makan?"


"Jangan basa-basi" ketus Amber "Lihat ini, apa tujuan mu sebenarnya? Aku bodoh mendengar ucapan mu kamu telah membuatku di permalukan di sekolah." ujar Amber dengan nada tinggi.


Tissa membaca tulisan pada kertas itu yang membuktikan bahwa Kanza adalah putri kandung Vero. Tissa terbelalak ini di luar dugaannya, Tissa tidak berpikir bahwa Kanza akan melakukan ini.


"Kamu tahu aku di permalukan di depan semua orang, semua orang membenciku karena ini, kamu bilang dia anak haram tapi ... ini jelas tertulis bahwa darah mereka cocok."


"Sekarang katakan siapa pembunuh ayahku atau memang aku tidak punya ayah, aku anak di luar nikah hasil perzinahan mu, itu sebabnya kamu menyesali kelahiranku ke dunia"


"Ada apa ini" Tiba-tiba Rani datang karena mendengar keributan di dalam kamar Tissa.


"Dia membohongiku, dia bilang ayahku di bunuh, dan orang yang telah membunuh ayahku adalah tante ku sendiri Shila ibu dari temanku Kanza. Dia juga bilang tante Shila membunuh ayah karena cemburu dan sakit hati karena ayah tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya, dan saat itu tante Shila sedang mengandung Kanza, dia juga bilang Kanza anak haram."


"Aku mengatakan semua yang dia katakan, tapi ... ternyata aku yang di permalukan, perkataannya bohong, tante Shila bukanlah pembunuh"


"Kanza memang bukan anak haram tapi Shila dia memang yang membunuh ayahmu." tegas Tissa. Yang masih mengelak.


"Tanteku bilang aku akan terkejut jika tahu siapa pembunuh ayahku, itu yang dia ucapkan" timpal Amber yang menatap sinis ke arah Tissa lalu keluar dari kamarnya.


Tissa terduduk lemah, niatnya ingin balas dendam justru malah sebaliknya, sekarang Amber semakin membencinya.


"Aku tidak tahu, kalau Kanza akan melakukan tes DNA, aku pikir Amber tidak akan mengatakan itu pada Kanza." ucapnya demikian

__ADS_1


"Masih beruntung kamu Tissa, Shila tidak mengatakan siapa yang membunuh Vicky sebenarnya." ucap Rani dengan nada kesal.


"Aku sudah mengatakan dari awal hentikan tapi kamu tidak mendengarkan, inilah akibat dari ulahmu sendiri" sambung Rani dan berlalu pergi


__ADS_2