
Saat pulang, Kanza, di suguhkan dengan pemandangan yang tak, biasa. Di tengah rumah Mami dan kedua kakaknya Kenzie dan Kenzo, duduk terdiam yang menatapnya tajam.
Dengan penuh ragu, Kanza, melangkah menghampiri Mami, dan kedua kakaknya, walau pun tidak tahu apa yang terjadi.
"Mami, Kenzo, Kanza kalian sedang menunggu siapa?" tanya Kanza, sedikit gugup.
"Apa benar kamu hamil?" tanya Kenzo dingin. Kanza, merasa terkejut dengan pertanyaan Kenzo.
"Apa maksudmu Kenzo?"
"Apa ini?" Kenzo, melempar sebuah tespeck ke arahnya. Membuat Kanza, semakin tegang. Dengan tubuh gemetar Kanza, mengambil hasil tes pecknya itu.
"Siapa yang menghamilimu?" Kenzo, kembali bertanya dengan tegas.
"Apa Ghala!" ucap Kenzie, tiba-tiba.
"Ma-Mami, da-dari mana dapatkan ini?" tanya Kanza, yang begitu gugup.
"Kamu tahu! Karena ini Mami, hampir tak sadar,kan diri. Sekarang aku tanya apa ini punyamu? Siapa yang menghamilimu," tanya Kenzo, penuh amarah.
Kenzo, sangat menyayangi Kanza, adiknya. Apapun akan dia lakukan demi menjaganya. Kenzo, merasa gagal menjadi seorang kakak yang tak bisa menjaga Kanza.
Kanza, menatap Shila, yang kini sedang menangis. Seorang ibu yang merasa kecewa dengan putrinya, Kanza, tidak berani mengatakan apa pun karena takut dan merasa bersalah.
"Aku, tahu pasti laki-laki itu yang menghamilimu," ucap Kenzo, yang berlalu pergi.
"Kenzo, kamu mau kemana Kenzo?" teriak Kanza, namun Kenzo, terus melangkah dengan penuh amarah.
"Mami, Mami maafin Kanza," Kanza, terisak dan menunduk bersimpuh di bawah kaki maminya. Shila, tak menjawabnya sama sekali membiarkan Kanza, yang bersimpuh di bawah kakinya.
Begitupun dengan Kenzie, yang memalingkan mukanya seolah tak mau melihat Kanza.
"Maaf, kan aku Mami, maaf, kan aku. Aku, sudah salah, aku sudah melakukan dosa besar, maafkan aku Mami," Kanza, terus memohon namun Shila, dan Kenzie, tetap bergeming.
"Katakan pada Mami, siapa yang menghamilimu? Siapa?" tanya Shila, sedikit membentak.
__ADS_1
"Gh-Gha-Ghala-Ghala," jawab Kanza, gugup.
"Beraninya anak itu menghamilimu, kapan kamu melakukan itu kapan? Kanza, Mami benar-benar kecewa, Mami, merasa gagal menjadi orangtua. Mami, sudah gagal," ucap Shila, yang semakin terisak.
****
Dengan penuh amarah Kenzo, menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah dengan pintu gerbang yang tinggi.
Kenzo, tidak memperdulikan seorang security, dan orang yang ada di dalam rumah itu, dengan amarah yang memuncak Kenzo, menerobos masuk ke dalam rumah itu hingga menabrak pintu gerbang sampai hancur. Teriakan security pun tidak ia hiraukan.
"Siapa tuh main tabrak rumah orang saja," umpat seorang security.
Sesampainya di dalam, Kenzo, langsung turun keluar dari mobilnya. Dengan berteriak, Kenzo, memasuki rumah itu, teriakannya mampu mengejutkan kedua orang yang berada di dalam rumah itu.
"Ghala, Ghala, dimana kau, keluar kau!" Teriak, Kenzo.
Ghala, dan ibunya pun sangat terkejut mendengar seruan Kenzo. "Siapa dia, tidak sopan sekali," gerutu Ibunya.
"Ghala," teriak Kenzo,
Bugh,
Ah, Ibu Ghala berteriak saat Kenzo, yang memukuli putranya. "Hei, apa yang kau lakukan," teriak Ibu Ghala, yang mencoba melindungi Ghala.
Bugh, bugh, bugh,
Kenzo, terus memukuli Ghala, dengan sekuat tenaganya, tidak menghiraukan ucapan seorang wanita yang terus menjerit. Hingga akhirnya Ghala, pun berhenti.
"Ghala," wanita itu langsung memeluk putranya, yang wajahnya sudah penuh dengan luka lebam.
"Dasar, laki-laki bejad kamu. Kamu telah menghajar anakku, aku tidak akan biarkan ini aku akan menuntutmu sekarang juga."
"Silahkan jika anda berani. Sebelum itu terjadi anak anda yang akan di tangkap terlebih dulu karena telah menghamili adikku," Wanita itu pun terdiam setelah mendengar perkataan Kenzo.
"Ingat! Kamu harus tanggung jawab pada adikku Kanza, kalau tidak, aku akan menghancurkan mu juga anda," tunjuk Kenzo, pada ibu Ghala.
__ADS_1
****
Di tengah ruangan yang besar kedua keluarga duduk saling berhadapan. Malam ini Shila, kedatangan Ghala, ibu dan ayahnya. Ayah Ghala, terlihat gugup dan takut saat bertatapan dengan Vero, salah satu tokoh terpandang juga terkenal di kalangan bisnisnya.
Vero, yang terkenal dingin dan tegas juga galak kini ia rasakan, dan melihat seberapa tajam tatapannya. Ghala, hanya menunduk, seperti menyesali perbuatannya.
Jika, ibunya menyetujuinya mungkin Ghala, tidak akan melakukan hal ini. Lain halnya dengan anak dan suaminya Ibunya masih tetap bersikeras tidak setuju, dan bukannya meminta maaf ibu Ghala, malah menatap sinis pada Shila. Dan malah mengungkit masalalu putranya yang meninggal.
"Lalu, apa yang anda ingin, kan? Anda menganggap ini hukuman putriku karena putramu meninggal? Sekarang saya tanya, apa putriku Kanza, yang membunuh putramu, jika memang benar aku yang akan membunuh putriku sendiri. Jawab, apa karena putriku putramu meninggal?" tegas Vero.
"Maaf Tuan, maaf,kan istri saya. Dia, masih belum merelakan kepergian Ghali, putra kami," ucap seorang pria yang tak lain ayahnya Ghala.
"Kalian pikir saya rela, putri saya di hamili oleh putra, kalian!" tegas Vero.
"Putri anda saja yang kegatelan, bukan salah putra saya," sanggah ibunya Ghala.
"Ghala, apa benar perkataan ibumu?" tanya Shila yang tak mau kalah karena anaknya di salah, kan. Ghala, hanya menunduk.
"Apa kau seorang ibu? Aku rasa bukan. Apa kau seorang wanita? Aku rasa juga bukan, jika kau adalah keduanya kata-kata itu tidak akan muncul dari mulutmu."
"Siapa pun yang salah, anakmu tetap harus tanggung jawab. Dan kamu akan mengerti perasaan putriku saat ini."
"Jika saya harus memilih, saya tidak ingin berbesan dengan anda apalagi berhubungan dengan keluarga kalian apalagi wanita sepertimu, yang tak punya tata krama, takdir tuhan pun kamu tantang," tegas Shila, dengan nafas yang memburu.
"Maaf, maafkan istri saya, saya janji Ghala, akan bertanggung jawab dan akan menikahi Kanza."
"Papa," ucap Ibu Ghala, seperti yang tak setuju dengan ucapan suaminya.
"Baiklah, besok kita langsungkan pernikahan, apa kamu siap Ghala?" tanya Shila, Ghala pun tersenyum dan mengangguk begitu pun dengan Kanza, yang berdiri di depan pagar pembatas lantai dua.
Shila, melihat kebahagiaan dari raut wajah keduanya. Melihat ketulusan dari mata Ghala, juga pancaran cinta dari keduanya.
****
Keesokan paginya wajah Kanza, sudah di rias begitu cantik. Mengguna, kan gaun putih yang indah. Begitu pun dengan Ghala, yang sudah memakai tuxedo hitam yang membuatnya semakin tampan dan berwibawa.
__ADS_1
Pernikahan hanya akan di ada, kan secara sederhana hanya keluarga saja. Karena mereka hanya akan melakukan ijab kabul saja. Shila, berharap semuanya berjalan dengan lancar.