
Indra mengajak Amber lagi untuk berbelanja. Amber begitu antusias memilih beberapa pakaian, juga perlengkapan sekolah lainnya. Berbeda dengan Indra dia duduk termenung. Jujur ... dulu Indra bercita-cita kalau mempunyai anak dia akan menjadikan anaknya seorang dokter juga, tapi sampai sekarang dia belum punya anak jangankan anak istri saja tidak punya.
"Paman." panggilan Amber mengejutkannya.
"Paman, aku sudah memilih sepatuku, apa ini cocok untukku?"
"Iya." jawab Indra singkat
"Ya sudah aku pilih ini saja." ucap Amber yang memberikan sepatu itu kepada pelayan toko. Amber menunggu pesanannya sambil duduk di samping Indra. Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang melihat mereka berdua dia adalah Lira teman Indra.
Lira begitu heboh saat melihat Indra duduk berduaan bersama Amber, apalagi saat Indra memakaikan sepatu untuk Amber. Lira langsung mengabadikan dengan ponselnya.
"Ini benar-benar kejutan, dokter Indra bersama seorang gadis, siapa dia?" ucap Lira yang terus mengamati mereka berdua dari jauh.
"Tapi ... dia masih muda, masa iya Indra pacaran sama anak ABG, ya tuhan Indra, sebegitukah kamu benci pada wanita dan tak percaya cinta, sehingga kamu mencari anak ABG untuk pelanpiasan." gumam Lira sambil terus memantau Indra, sampai akhirnya Indra dan Amber pergi meninggalkan toko itu.
****
Jolie sudah di perbolehkan pulang, hari ini Jolie akan pulang ke rumah mertuanya, Elang membantu Jolie untuk duduk di kursi roda karena Jolie masih belum pulih, jadi belum diizinkan untuk berjalan. Anna, Kemi, Joy dan Stella mereka hanya mengantar Jolie sampai depan rumah sakit, mereka tidak ikut mengantarkan Jolie sampai ke rumah mertuanya.
"Kami berangkat dulu, apa kalian mau ikut?" tanya Elang
"Lain kali saja, kami akan berkunjung hari ini aku harus ke kantor ada banyak pekerjaan." jawab Joy datar.
"Iya, kami harus segera pergi." ujar Kemi dan Anna.
"Baiklah, sampai jumpa aku pergi dulu."
"Ingat, jaga Jolie baik-baik, jangan sampai dia terluka lagi." tegas Joy
"Tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan." ujar Elang lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Joy, Stella, Anna dan Kemi pun pergi dengan mobil mereka masing-masing.
****
Di dalam mobil Joy dan Stella hanya diam tanpa kata, Joy pun tetap fokus menyetir. Stella menyandarkan tubuhnya pada kursi, beberapa hari ini Stella memang kurang sehat, Stella selalu merasakan pusing di kepalanya, kadang rasa pusing itu di barengi rasa perut yang bergejolak membuat rasa mual muncul. Seperti saat ini Stella mencoba menahannya, namun semakin di tahan perutnya semakin bergejolak.
Stella menutup mulut dengan tangannya , satu tangannya memegangi perutnya.
"Ada apa? Kamu kenapa?" Joy baru menyadari ada yang aneh dengan Stella
"Aku mau muntah." Joy langsung menepikan mobilnya, dengan cepat Stella keluar dari mobil dan benar saja Stella langsung memuntahkan semua isi dalam perutnya.
__ADS_1
Hoek ... hoek ... hoek ...
Hoek ... hoek ... hoek ...
Joy menghampiri Stella,Joy membantu memijat-mijat tengkuk lehernya, sampai Stella berhenti memuntah. Joy merasa kasihan melihat keadaan Stella, wajah Stella begitu sangat pucat. Joy membantu Stella masuk kembali ke dalam mobil.
"Minumlah." Joy memberikan sebotol air mineral pada Stella lalu di minumnya.
"Akhir-akhir ini kamu tidak sehat, dan sering sekali muntah, apa kamu sudah makan sesuatu? Apa mungkin lambung mu kambuh lagi? Kita harus kembali ke rumah sakit." ujar Joy yang akan memutar balik arah mobilnya namun di tahan Stella.
Stella menyentuh tangan Joy, lalu menggeleng."Aku hanya perlu istirahat." ucapnya demikian.
"Kamu demam." ujar Joy yang menyentuh tangan Stella. "Kita harus ke rumah sakit sekarang."
"Tidak perlu, sebentar lagi kamu ada meeting, kan? Aku tidak apa-apa aku hanya masuk angin saja nanti juga sembuh." ucap Stella dengan nada lemah. Joy membuka jasnya lalu menjadikan jasnya untuk menutupi tubuh Stella.
"Tidurlah," ucap Joy sambil mengusap lembut kepala Stella.
Joy kembali melajukan mobilnya dengan sangat lambat.
"Halo, dokter bisakah ke kantorku sekarang, istriku sedang sakit, kepalanya sangat pusing, dan muntah-muntah juga aku takut asam lambungnya kambuh. Baiklah aku tunggu." Tut ... baru saja Joy menghubungi dokter untuk segera datang ke kantornya.
****
"Ada apa dengan mba Stella?"
"Iya, kok di gendong."
"Pak bos romantis juga ya, aku kira kaku dan beku ternyata sama istrinya sangat lembut dan romantis."
"Beruntung banget mba Stella, udah dapetin yang ganteng, pinter, romantis pula,"
Para karyawan saling berbisik
Brakk,, sontak mereka semua kaget saat Joy kembali keluar, mereka semua langsung duduk kembali ke mejanya masing-masing dan pura-pura fokus pada pekerjaannya.
"Mytha."
"Ah iya pak bos." jawab Mytha tegas.
"Buatkan, teh hangat untuk istri saya bawa ke dalam."
__ADS_1
"Untuk mba Stella?"
"Kamu pikir saya punya berapa istri? Memangnya ada yang lain selain Stella." ujar Joy yang menatap tajam.
"Maaf, pak bos." ucap Mytha gugup. Joy langsung berlalu pergi.
"Huuuffffft, aduh ... kenapa aku pake salah ngomong sih! Marah, kan bos." gerutu Mytha
"Kamu lagian Myt, pake tanya Stella atau bukan, semua orang juga tahu Stella itu istrinya pak Joy." hardik temannya.
"Kalau sama kita pak Joy galak, ngomong aja gak pernah lembut."
"Udah sana buat, kan teh, jangan sampai saat pak Joy kembali tehnya belum jadi." Mytha langsung berlari ke pantry untuk membuatkan teh untuk Stella.
****
Joy sudah kembali, Joy melihat Stella masih tertidur bahkan teh yang di buatkan Mytha belum di minum, teh itu sudah sangat dingin. Joy menghampiri Stella yang tertidur di sofa, Joy menyentuh kening Stella apa masih demam atau tidak, Joy melihat arah jarum jam di tangannya, sudah dua jam lamanya dokter belum juga datang, Joy kembali menghubungi dokter, sayang ... dokter sedang menangani pasien yang darurat jadi tidak bisa datang. Namun dokter itu akan datang setelah pekerjaannya selesai, Namun Joy menolak jika dokter itu masih banyak pekerjaan dan tidak bisa meninggalkan prakteknya, Joy tidak keberatan jika dokter itu tidak datang.
Stella mengerjapkan matanya setelah tertidur cukup lama, Stella melihat Joy yang tertidur bersandar pada dinding kursi dengan kedua tangan yang di lipat.
Stella terbangun, Stella menatap wajah Joy yang terlihat tampan walaupun sedang tertidur.
Stella senyum-senyum sendiri, sambil memperhatikan wajah Joy, tiba-tiba perutnya kembali bergejolak, rasa mualnya kembali datang. Dengan cepat Stella berlari ke dalam kamar mandi
Hoek ... hoek ... hoek ...
Hoek ... hoek ... hoek ...
Joy membuka matanya, dia tidak melihat Stella yang tertidur di atas sofa, namun Joy mendengar suara di dalam kamar mandi, Joy segera berlari ke kamar mandi, di lihatnya Stella yang sedang memuntahkan isi dalam perutnya, namun hanya cairan bening saja yang keluar. Joy terlihat panik Joy membantu memijat tengkuk leher Stella.
"Sekarang kita ke rumah sakit, jangan membantah kali ini kamu harus nurut padaku," ujar Joy panik.
"Aku tidak mengerti kamu sakit apa? Akhir-akhir ini kamu selalu saja muntah, dari pagi kamu sama sekali tidak memakan apapun, aku takut kamu sakit parah, kita ke rumah sakit sekarang." ujar Joy yang memapah Stella duduk di sofa.
"Mytha ... Mytha ..." teriak Joy, tak berselang lama Mytha pun datang
"Ambilkan air hangat sekarang,"
"Iya pak "
"Cepat." bentak Joy
__ADS_1
"Iya pak ini juga cepat." sontak Mytha di buat kaget dengan bentakan Joy.