
Ghala, sangat marah dan kesal, usahanya untuk meyakin, kan ibunya sia-sia. Terpaksa Ghala, pergi dari rumah saat akan bertunangan dengan wanita yang di pilih, kan ibunya. Ghala, tak peduli dengan semua orang yang mencarinya sekarang, yang ada dalam pikirannya hanyalah Kanza.
"Jika ucapanku, tidak meluluh kan hatinya akan aku tunjukan dengan cara yang lain, agar kamu mengerti bahwa wanita yang aku cintai hanyalah Kanza," ucapnya.
****
Di sebuah ruangan gelap Kanza, terbaring di atas tempat tidur yang berukuran besar, tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka.
"Dia tertidur karena pengaruh bius," ucap seorang pria di belakangnya.
"Kalian tidak menyentuhnya, kan!"
"Tidak!"
"Tidak ada orang yang melihat?"
"Tidak ada, keadaan taman saat itu sangat sepi,"
"Bagus, kamu boleh pergi."
"Baik, bos." kedua pria itu pun pergi. Setelah kedua anak buahnya pergi, pria itu menutup rapat-rapat ruangan itu lalu menyala, kan lampu untuk menerangi ruangan itu, yang memperlihat, kan sebuah kamar mendominasi putih, membuat kamar itu menjadi lebih bercahaya.
Pria, itu berjalan menghampiri Kanza, yang masih tertidur. Wajah cantiknya terlihat sangat jelas, bibir ranumnya yang begitu manis, memancar, kan senyumannya.
Di elusnya dengan lembut wajah Kanza, pria itu tersenyum bahagia melihat wajah sang kekasih, yang ia rindu, kan selama ini. "Maaf, terpaksa aku melakukan ini," ucap pria itu yang tak lain adalah Ghala.
Sentuhan tangannya mampu membangun, kan tidur lelap sang kekasih. Kanza, mengerjap, kan matanya dia terkejut saat melihat Ghala, di depannya.
"Ghala," ucap Kanza, yang langsung bangun dari tidurnya.
"Dimana aku? Apa kau yang menculikku?" pekik Kanza.
"Maaf,"
"Gila kamu, kamu pikir aku seorang tawanan!"
"Aku, terpaksa melakukannya, karena aku tahu kamu tidak akan menemuiku."
"Aku selalu menunggumu Ghala, selalu menunggumu, hanya saja kamu tak pernah datang."
"Aku, pergi dari rumah karena hari ini adalah hari tunanganku. Aku sudah bicara pada mama, tapi dia tidak mengerti."
"Mungkin, putus jalan yang terbaik untuk kita berdua, Ghala, lebih baik kamu lupakan aku, percuma kita paksa, kan kalau kita memang tidak berjodoh. Lebih baik kamu pulang dan bertunangan dengan wanita yang ibumu pilih, kan."
__ADS_1
"Tidak! Aku hanya mencintaimu Kanza," ucap Ghala, yang menahan Kanza, untuk pergi.
"Biarkan aku pergi Ghala,"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan mu pergi," ucap Ghala, yang memeluk Kanza, dari belakang. Sebenarnya Kanza, tidak ingin pergi dan masih ingin tetap disini namun apalah daya, Kanza, harus tetap tegar dan pergi dari tempat ini.
"Ghala, lepaskan! Aku harus pergi." Kanza, mencoba melepaskan pelukan Ghala, bukannya melepas, kan Ghala, malah menariknya membuat tubuhnya berbalik menghadap Ghala.
"Ghala, apa yang kamu lakukan! Biarkan aku pergi."
"Aku, tahu kamu masih mencintaiku Kanza, kamu masih mencintaiku, kan!" Ghala, terus memeluk Kanza, mendekapnya dengan erat, menatapnya penuh arti.
"Ghala, aku mohon kamu mengerti! Cinta kita tidak bisa bersatu,"
"Katakan padaku Kanza, kamu masih mencintaiku." Kanza, hanya bisa menangis hatinya tidak bisa berbohong bahwa dirinya masih mencintai Ghala.
"Tangisanmu itu aku anggap iya, Kanza, aku ingin memilikimu seutuhnya saat ini,"
"Maksud mu? Tidak, Ghala, aku tidak mau,"
"Dengarkan aku, lihat aku, hanya ini satu-satunya cara agar ibuku merestui hubungan kita, Kanza, aku tidak ingin berpisah denganmu, tidak ingin. Hanya kamu wanita yang aku cinta,"
"Tapi um ..." ucap Kanza, tertahan karena Ghala, langsung mengunci bibirnya. Rasa rindu yang selama ini tertunda, dua tahun lamanya keduanya harus menahan rindu, dan saat ini juga rindu itu akan terlepas, kan.
Ghala, mulai menjelajahi tubuhnya dengan jari jemarinya, hingga Kanza, mengeluarkan keluhan-keluhan manja yang keluar dari mulutnya. Ghala, tak pernah melepas, kan genggaman tangannya, bibirnya terus mengunci mulut Kanza, sampai Kanza, tak bisa bergerak dan tak bisa bernafas.
Seperkian detik, aktifitas panas pun berlangsung. Tanpa di ingin,kan dan tanpa sadar kekuatan cinta mereka telah membuat mereka khilaf, akan perbuatan yang mereka lakukan. Di hari ini, di detik ini, Kanza, harus rela kehilangan kesuciannya yang sangat berharga.
****
Di tempat lain, Shila, sangat mencemas, kan Kanza, yang tak pulang-pulang bahkan, hari mulai gelap telepon pun tidak dia angkat. Shila, terus mengulang lagi dan lagi, untuk menghubungi putrinya, namun tetap tidak ada jawaban.
"Dimana kamu Kanza," Shila, semakin khawatir saat tahu bahwa Kanza, sudah pergi dari rumah sakit tiga jam yang lalu, tapi Kanza, belum juga kembali ke rumahnya.
"Ada, apa? Kenapa khawatir seperti itu?" tanya Vero, yang melihat Shila begitu gelisah.
"Aku, mengkhawatir, kan Kanza, dia belum pulang."
"Mungkin pergi ke rumah temannya, atau mungkin sedang di jalan. Ayo, masuk kita tunggu di dalam," ajak Vero, yang memeluk Shila, dan membawanya masuk.
****
Di depan jendela Kanza, duduk termenung seraya memeluk kedua lututnya. Tanpa di ingin, kan air matanya pun menetes. Kanza, sangat menyayangkan perbuatannya dan sangat menyesalinya. Kanza, harus kehilangan kesuciannya, Kanza, takut jika mami dan papinya mengetahui hal ini, apa yang harus dia katakan.
__ADS_1
Tiba-tiba Ghala, memeluknya dari belakang, mengecupnya dengan lembut, Ghala, terlihat bahagia tidak seperti dirinya yang merasa menyesal.
"Ada, apa kenapa kamu menangis?"
"Kamu, tega Ghala, kamu tega melakukan itu padaku, aku takut ... aku takut." Suara Kanza, terdengar marau.
"Apa yang kamu takut, kan!"
"Aku takut mami dan papiku tahu, aku takut mereka marah padaku," ucap Kanza, yang terisak.
"Kamu, jangan takut ada aku. Aku, akan bertanggung jawab aku akan menikahimu,"
"Bagaimana kalau aku hamil? Aku, tidak mau jika hamil saat kita belum menikah, aku takut ... aku sangat takut Ghala," Kanza, terus menangis namun Ghala, terus memeluk Kanza, untuk menenang, kannya.
Mereka tahu ini perbuatan yang sangat di larang dan berdosa, tapi karena keegoisan cinta, membuat Ghala, harus melakukan itu.
Kanza, akhirnya pulang wajahnya begitu ketakutan, dan tubuhnya bergetar hebat, namun Kanza, mencoba untuk tenang agar Shila, dan Vero, tidak curiga.
"Kanza, kamu dari mana saja? kenapa baru pulang?" tanya Shila, khawatir.
Kanza, menarik nafas sejenak untuk menetralkan detak jantungnya, lalu berkata. "Kanza, tadi ke rumah teman dulu," ucap Kanza, sedikit tenang.
"Kenapa kamu tidak mengangkat telepon mami?".
"Handphone Kanza, lobet saat Mami, telepon mungkin sedang di charcer,"
"Ya, sudah tidak apa sekarang masuk kamar dan mandi," titah Shila, yang menuntun Kanza, menuju kamarnya.
Setelah masuk kamar Kanza, mengunci pintu itu rapat-rapat Kanza, kembali terisak, tubuhnya melorot duduk terkulai di bawah lantai, dengan punggung yang bersandar pada daun pintu di belakangnya.
"Maaf, kan Kanza, Mami. Kanza, sudah berbohong, maaf, kan Kanza."
Sakit, sangat sakit saat dirinya harus membohongi kedua orang tuanya, tubuhnya kini masih terasa sakit saat Ghala, merenggut kesuciannya. Yang hanya bisa di lakukannya saat ini hanyalah menangis dan menangis.
Di tempat lain, Ghala, pasrah saat di pukuli oleh orangtuanya karena dirinya sudah mempermalukan mereka, yang pergi di hari pertunangannya.
"Apa yang ada di pikiranmu, kamu tidak memikirkan Mama, Papa, yang harus menahan malu di depan semua tamu. Apa yang harus Mama katakan! Keluarga Naira, pasti sangat kecewa dan marah pada Mama."
"Seandainya Mama, tahu perasaanku sebenarnya mungkin ini tidak akan terjadi, dan Mama tidak perlu menanggung malu di depan banyak orang."
"Kamu, bukannya meminta maaf,malah menyalah, kan Mama. Ini semua karena wanita itu,"
"Kanza, tidak ada hubungannya dengan semua ini, jangan pernah lagi menyalah, kan Kanza, dan aku tidak akan menikah dengan siapa pun kecuali Kanza, wanita yang aku pilih," ucap Ghala, lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Ghala, Ghala, tunggu," teriak Mamanya. Namun Ghala, tak menghirau, kan sama sekali.