
Amber duduk termenung seraya memeluk boneka bearnya. Indra baru saja pulang dari rumah sakit, melihat Amber yang duduk merenung di dalam kamarnya. Amber menjadi pendiam semenjak kejadian tadi pagi.
Indra tak berani masuk ke kamarnya, Indra tahu Amber butuh waktu untuk sendiri karena tidak mudah bagi Amber untuk menerima semua kenyataan yang pahit itu. Indra berjalan ke kamarnya melepas semua pakaiannya, menggantinya dengan pakaian baru.
Indra kembali memikirkan kejadian tadi pagi di rumah sakit. Entah kenapa bayangan Tissa kembali muncul di benaknya. Banyak masalah dalam hidupnya, namun Tissa terlihat tegar dan tak memperlihatkan kesedihannya, Indra teringat ucapan Tissa tadi pagi padanya.
Flashback on
Setelah operasi selesai, Rani di bawa ke ruang rawat. Indra membersihkan dirinya, membasuh tangannya yang kotor karena melakukan operasi tadi. Saat ingin berjalan menuju ruangannya Indra melihat Tissa yang duduk di depan ruang kerja ya. Tatapan Tissa begitu kosong namun matanya masih terlihat sembab.
Indra berjalan pelan, Tissa pun menoleh ke arah Indra yang berjalan ke arahnya. Tissa bangun dari duduknya, berdiri menghadap Indra yang semakin mendekat.
"Ada apa kamu menunggu di depan ruangan saya?" tanya Indra datar.
"Terimakasih karena telah melakukan operasi pada ibuku."
"Sudah tugasku." jawab Indra dingin.
"Soal tadi, aku harap kamu tidak akan memberitahukan pada orang lain. Aku tahu kamu mendengar semuanya, anggap saja kamu tidak mendengar apa pun."
"Itu bukan sifatku, yang ikur campur dalam masalah orang lain."
"Baguslah, kalau kamu mengerti."
"Maaf, atas ucapanku tadi." lanjut Tissa membuat Indra mengerutkan dahinya.
"Sepertinya saya telah salah menilai kamu, kamu orang yang baik, kamu dekat dengan putriku, membuat putriku nyaman, bahkan dia memilih dirimu di banding denganku ibu kandungnya. Aku titip putriku padamu, tolong jaga dia." ucap Tissa yang membuat Indra terdiam.
"Ini adalah makanan kesukaan putriku tolong berikan ini padanya, jangan katakan ini dariku karena dia tidak akan memakannya." ucap Tissa yang memberikan sebuah paper bag pada Indra setelah itu Tissa pergi."
Flashback off.
Tok ... tok ... tok ...
Indra mengetuk pintu kamar Amber, tak lama kemudian Amber pun keluar.
Cklek!! Pintu kamar terbuka, terlihat Amber yang membukakan pintu.
"Waktunya makan, aku sudah siapkan makanan untukmu." ujar Indra Amber pun mengangguk. Indra dan Amber duduk di meja makan berdua. Indra memperhatikan Amber yang lahap memakan makanan yang di berikan Tissa.
"Paman ini enak sekali, ini makanan kesukaanku, paman beli ini dimana?"
"Di restoran. Kau suka? Kalau begitu aku akan membelikannya tiap hari."
"Tidak usah paman, jangan merepotkan."
__ADS_1
"Tidak merepotkan sama sekali."
"Apa kamu tidak takut, tinggal denganku?"
"Kenapa harus takut paman baik, bahkan aku sangat nyaman tinggal disini. Paman memperhatikanku, membeli makanan kesukaanku, membelikan aku boneka, pakaian, dan menyekolahkanku. Aku merasa di perhatikan papaku." celetuk Amber membuat Indra terbelalak.
"Maaf paman, aku tidak bermaksud."
"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu sangat merindukan seorang ayah bukan, aku tidak keberatan jika kau memanggilku papa, terserah kau saja mau panggil aku apa."
"Terimakasih paman." ucap Amber tersenyum.
"Apa kamu tidak ingin kembali ke rumah mu?" tanya Indra membuat Amber diam
"Amber, dengar ... kadang kehidupan ini menyakitkan, namun kita harus tetap melangkah bukan. Tidak ada gunanya menyimpan dendam, karena itu akan membuat kita sakit. Ibumu sangat menyayangimu, apa kamu tidak ingin memaafkannya?"
"Dokter tidak mengalami apa yang aku alami, aku butuh waktu untuk semua ini." ucap Amber yang pergi meninggalkan meja makan. Indra hanya membuang nafas kasar, cukup sulit untuk membujuk anak perempuan. Namun Indra teringat ucapan Rani padanya Rani memohon agar Indra dapat menyatukan kembali Amber dengan Tissa.
****
keesokan paginya, Indra kembali bekerja dan Amber kembali bersekolah Indra akan mengantar Amber sebelum pergi ke rumah sakit. Sebelum Amber masuk ke dalam sekolah Amber berpamitan pada Indra, sekaligus memberitahukan bahwa hari ini Amber akan pulang terlambat karena ada praktek.
Di rumah sakit Indra kembali mengecek, kondisi mama Rani yang semakin membaik setelah operasi.
"Dokter, apa anda sudah membujuk cucuku." ucap Rani dengan nada lemah.
"Saya tidak tahu, kapan saya akan mati. Saya sudah tua, usia saya sudah tidak lama lagi."
"Nyonya jangan berpikir seperti itu. Anda akan kembali sehat."
"Aku hanya mencemaskan putriku. Kalau aku tiada siapa yang akan menjaga putriku juga cucuku. Selama ini aku yang selalu melindunginya, memanjakannya, menasehatinya, dia tidak mempunyai siapapun disini, saya takut jika saya tiada Tissa akan sendirian, dan saat sendirian tidak akan ada orang yang menemaninya, apa lagi menasehatinya."
"Dokter aku mohon ... tolong satukan kembali cucu dan anakku." Pinta Rani sambil menggenggam tangan Indra.
"Anggap ini adalah permintaan terakhirku, aku mohon berjanjilah, jika kau berjanji aku akan pergi dengan tenang."
"Baiklah aku janji."
"Terimakasih," ucap Rani dengan nada lemah.
"Mama," Seru Tissa yang datang bersama Shila dan Bi Inem. Sebelumnya Rani meminta Tissa untuk membawa Shila, Rani sangat ingin bertemu dengan Shila juga Bi Inem. Rani ingin meminta maaf atas kesalahannya dulu.
Tissa membiarkan Rani berbicara dengan Shila dan Bi Inem. Sedangkan Tissa dan dokter Indra menunggu di luar. Mereka saling mengobrol namun tatapannya sama-sama fokus ke depan.
"Amber sangat menyukai masakanmu, dia memakannya dengan lahap."
__ADS_1
"Aku senang kalau dia menyukainya."
"Amber sekolah di sekolah kesehatan, aku yang mendaftarkan nya. Jika kamu ingin melihatnya datanglah kesana." ujar Indra.
"Kamu orang asing bagiku, dan bagi putriku, namun kamu begitu baik sampai menyekolahkan putriku."
"Aku hanya ingin, dia mendapatkan masa depan yang cerah, setidaknya setelah lulus Amber akan mendapatkan pekerjaan yang mulia."
"Kamu benar-benar mengerti segalanya, mengerti kebahagiaannya, masa depannya, dan tahu mana yang baik untuknya. Aku tidak percaya kalau kamu belum berkeluarga, karena melihat sikapmu pada putriku kamu seorang ayah yang baik, memahami apa yang di inginkan putrinya."
"Aku pernah menikah sekali, hanya sekali dalam hidupku. Usia pernikahanku saat itu hanya berjalan tiga bulan saja, sebelum akhirnya dia mengkhianatiku, bercumbu dengan temanku sendiri."
"Setelah itu kau tidak menikah lagi?" tanya Tissa Indra hanya menggeleng.
"Berapa lama?"
"Maksudmu berapa lama aku menjomblo?" tanya Indra yang menoleh ke arah Tissa. Tissa pun mengangguk.
"15 tahun." Tissa terbelalak. Bukan karena terkejut karena masalah hidup menyendiri Tissa lebih lama lagi 17 tahun. Namun Tissa tidak menyangka bahwa seorang laki-laki bisa menahan hasratnya dan sanggup hidup sendiri selama 15 tahun.
"15 tahun itu waktu yang cukup lama, kamu cukup hebat dan kuat."
"Maksudmu?"
"Ya ... biasanya seorang lelaki tidak akan sanggup hidup sendiri, karena tidak bisa menahan hasratnya, laki-laki di luaran sana bahkan sering menyewa wanita untuk memuaskan hasratnya, tapi kamu ... sungguh luar biasa."
"Kau mengejekku, kalau begitu apa bedanya denganmu, kau hidup sendiri selama 17 tahun. Setidaknya kamu menikah dengan seorang pria, untuk menjadi ayahnya Amber."
"Aku punya alasan sendiri."
"Aku juga sama, punya alasan sendiri."
"Aku, tidak percaya lagi cinta apalagi wanita." Lanjut Indra.
"Menurutku cinta tidak salah, pepatah cinta itu selalu benar, namun laki-lakilah yang selalu menodai cinta, kadang laki-laki hanya mementingkan egonya, tanpa memikirkan perasaan wanita." ucap Tissa.
"Kau tidak tahu apa yang aku alami, bagiku wanitalah tak menghargai cinta, mereka menodainya begitu saja."
"Kamu tidak bisa menyalahkan wanita. Semua wanita itu tidak buruk semua." ucap Tissa tak terima saat seorang wanita yang selalu di salahkan.
"Kamu juga tidak bisa menyalahkan lelaki, hanya karena pria di masalalu mu lari dari tanggung jawabnya."
Indra dan Tissa saling pandang
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukungannya ya🙏😊