Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Menikahlah!


__ADS_3

Hoek ... hoek ... hoek ...


Pagi ini Joy di hantui rasa khawatir, karena Stella kembali mengalami mual dan muntah-muntah. Setiap makanan yang masuk langsung di keluarkan lagi. Stella mulai tak berselera makan lagi. Kalau begini Joy tidak tega meninggalkan Stella. Akhirnya Joy memutuskan untuk tidak masuk ke kantornya, dan melakukan pekerjaan di rumahnya saja.


"Bi pada kemana semua orang, rumah begitu sepi." tanya Joy pada Bi Inem yang baru saja membereskan meja makan.


"Kalau adek-adek pergi sekolah, dan kalau non Shila, tuan dan Amber mereka pergi ke rumah sakit."


"Amber? Ada Amber disini?"


"Iya, semalam non Shila membawanya. Den Joy tidak ke kantor?"


"Tidak Bi, aku harus jaga Stella, dia kembali mual-mual dan muntah."


"Itu biasa Den, kalau orang hamil emang gitu jangan khawatir. Den Joy perhatian banget sama non Stella, calon papi idaman dan suami idaman."


"Kalau bukan saya yang perhatian siapa lagi Bi."


"Den, Joy membutuhkan sesuatu?"


"Aku, mau ambil buah untuk Stella."


"Tunggu disini saja biar Bibi ambilkan." ujar Bi Inem yang pergi mengambil aneka buah di dalam kulkas lalu memberikannya kepada Joy.


"Terima kasih Bi." ujar Joy yang mengambil buahnya lalu kembali ke kamarnya. Tiba-tiba seorang pelayan memanggilnya.


"Maaf Tuan, di luar ada tamu katanya mau bertemu non Stella." ujar pelayan wanita.


"Siapa?"


"Saya tidak tahu Tuan, dia bilang dia pamannya."


"Suruh tunggu saja nanti aku temui." titah Joy pelayan itu pun mengangguk dan kembali keluar.


"Paman Stella? Aku baru dengar bukannya Stella tidak punya siapa-siapa lagi, selama ini aku tidak pernah melihat Stella dekat dengan keluarga yang lain, dan Stella juga tidak pernah bicara tentang pamannya." batin Joy lalu melangkah ke ruang tamu untuk menemui mereka.


****


Di rumah sakit Shila melihat Indra yang tertidur tepat di samping Tissa, sepertinya Indra menemani Tissa semalaman, dan tak meninggalkan Tissa sedetik pun.

__ADS_1


"Mas, lihatlah Indra begitu perhatian pada Tissa, aku tidak pernah melihat seorang dokter yang begitu perhatian pada pasiennya." ujar Shila yang merasa heran. Vero pun berpikiran yang sama apalagi selama ini Indra tidak pernah seperhatian itu pada wanita.


"Semalam pasien sempat drop, kondisinya kadang stabil kadang menurun. Detak jantungnya juga sempat menurun tapi beruntung dokter Indra terus memantau pasien, sampai dokter Indra tak bergerak sedikit pun, dokter Indra tidak pernah meninggalkan pasien sampai dokter Indra tidur disini." jelas seorang perawat yang membuat Shila dan Vero saling pandang. Apalagi Shila melihat dengan jelas Indra begitu erat menggenggam tangan Tissa.


"Kami juga dengar, dokter Indra dan pasien cukup dekat banyak dari kami yang sering melihat mereka berdua, duduk berdua kadang ngobrol berdua,"


Shila semakin yakin ada sesuatu diantara Indra dan Tissa. Shila dan Vero kembali saling memandang seakan mereka berpikiran yang sama tentang Indra.


"Mas, apa Indra menyukai Tissa?"


"Entahlah."


"Tapi selama ini aku tidak pernah melihat Indra sepeduli ini pada wanita, kamu juga tahu, kan semenjak pernikahan yang gagal itu, Indra tak pernah lagi peduli pada wanita apalagi sedekat ini."


"Kamu ingat! Saat kita terus membujuk Indra menikah lagi namun apa jawaban Indra, untuk apa menikah! Indra selalu menjawab itu, tapi sekarang aku merasa ada yang aneh dengan Indra, dia begitu peduli pada Tissa padahal mereka baru bertemu."


"Setidaknya Indra tak lagi trauma, itu lebih bagus semoga saja Indra bisa menjalani hidupnya yang baru, dan semoga Indra bisa membuka hatinya lagi untuk wanita." ucap Vero datar sambil menatap Indra yang masih tertidur.


"Mas, aku tahu apa yang harus kita lakukan," ujar Shila yang menatap Vero.


"Maksudmu?" tanya Vero yang kembali menatap Shila, lalu mata keduanya kembali tertuju pada Tissa juga Indra, setelah itu Shila dan Vero kembali bersitatap seolah tahu apa yang sedang di pikirkan.


****


"Bagaimana keadaan Tissa?" tanya Shila


"Sudah lebih baik." jawab Indra singkat.


"Bagaimana Amber apa dia baik-baik saja?" tanya Indra


"Kamu begitu mengkhawatirkannya, apa sedekat itu hubunganmu dengan Amber?"


"Jangan salah paham, aku melakukan dia seperti putriku, aku menyayanginya seperti aku menyayangi Kanza. Tidak lebih."


"Kenapa kamu tidak menjadikannya putrimu saja, aku yakin kamu bisa menjadi ayah yang baik untuknya."


"Maksudmu?"


"Indra, aku melihat kamu berbeda sangat berbeda, kamu begitu peduli kepada Tissa, sampai kamu rela tidur di sampingnya,"

__ADS_1


"Aku, hanya ingin dia sembuh, aku juga sudah janji pada Amber untuk menyembuhkan ibunya."


"Lalu, saat di ruang operasi? Kamu begitu cemas dan khawatir sampai kamu tidak bisa melakukan operasi. Sebenarnya apa hubungan kalian berdua?"


"Itu sudah biasa, kegugupan , kekhawatiran saat melakukan operasi semua dokter pasti pernah merasakannya."


Shila dan Vero kembali saling menatap. Lalu Vero berkata. "Begini Indra, kamu sudah lama hidup sendiri, apa tidak ada keinginan untuk menikah lagi?" tanya Vero yang menatap Indra, Indra yang di tatap seperti itu langsung memalingkan muka.


"Kenapa kalian bertanya hal itu lagi, aku kan sudah pernah menjawabnya."


"Apa kau tidak ingin berkeluarga? Menjadi ayah sesungguhnya?" tanya Vero


"Ada apa dengan kalian, Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu padaku."


"Karena kamu, karena kita melihat perlakuanmu pada Tissa juga Amber."


"Sudahku bilang aku tidak akan menikah lagi."


"Kalau Tissa yang menjadi istrimu apa kau mau?" tanya Tissa membuat Indra diam seketika.


"Baiklah, anggap saja ini permintaanku, menikahlah dengan Tissa, jadilah ayah yang sesungguhnya bagi Amber."


Deg, Indra langsung diam, Indra tidak tahu apa yang harus dia katakan, Indra juga tidak tahu apa yang dia rasakan.


"Aku, akan sangat bahagia juga tenang jika kau yang menjadi suami Tissa, aku percaya kau akan menjaganya, dan Amber juga sudah sangat nyaman berada di dekatmu."


"Indra pikirkanlah baik-baik perkataan istriku. Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, namun jika kau sudah siap katakanlah pada kami." ujar Vero yang beranjak dari duduknya di ikuti oleh Shila.


"Kami pergi dulu." ujar Vero, yang menuntun Shila pergi dari sana, meninggalkan Indra yang masih diam terpaku.


Indra berjalan melamun sambil memikirkan perkataan Shila dan Vero, Indra menghentikan langkahnya saat di depan ruang ICU. Indra melihat Tissa, yang masih terbaring lemah dengan tubuh yang di penuhi alat medis.


Indra kembali terbayang senyuman Tissa yang begitu indah, jujur Indra mengagumi lebih tepatnya terpesona melihat senyuman Tissa. Dan Indra kembali mengingat saat dirinya begitu khawatir melihat darah yang melumuri tubuh Tissa, dan rasa khawatir itu membuat Indra tak bisa melakukan operasi dengan konsentrasi dan fokus. Tiba-tiba Indra teringat ucapan Rani padanya.


"Aku hanya mencemaskan putriku. Kalau aku tiada siapa yang akan menjaga putriku juga cucuku. Selama ini aku yang selalu melindunginya, memanjakannya, menasehatinya, dia tidak mempunyai siapapun disini, saya takut jika saya tiada Tissa akan sendirian, dan saat sendirian tidak akan ada orang yang menemaninya, apa lagi menasehatinya."


"Dokter aku mohon ... tolong satukan kembali cucu dan anakku." Pinta Rani sambil menggenggam tangan Indra.


"Anggap ini adalah permintaan terakhirku, aku mohon berjanjilah, jika kau berjanji aku akan pergi dengan tenang."

__ADS_1


Indra sekarang ingat, Indra sudah berjanji pada Rani untuk menyatukan kembali Amber dan Tissa.


__ADS_2