Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Dosa Istri


__ADS_3

Indra terkejut, saat Tissa tiba-tiba pingsan, Indra panik lalu membawa Tissa ke ruang UGD untuk dilakukan tindakan. Di ujung lorong Lira dan Arman melihat perlakuan Indra pada Tissa, bahkan Lira sampai mengabadikan dengan ponselnya. Lira sangat senang, ini pertama kalinya melihat Indra yang peduli pada wanita. Hari-hari sebelumnya Lira pun memperhatikan mereka berdua, yang sering mengobrol bahkan sampai berdebat, dan Lira sering melihat Indra duduk berdua dengan Tissa, yang tidak pernah Indra lakukan selama ini.


"Dokter Arman, aku yakin kita pasti berhasil, dokter Indra pasti jatuh cinta sama wanita itu."


"Jangan senang dulu, belum tentu. Sebagai seorang dokter Indra pasti panik saat melihat ada orang yang pingsan di depannya."


"Issh kau ini bukannya mendukungku, lihatlah ...mereka sering bertemu bahkan berbincang." ujar Lira yang memperlihatkan beberapa foto Indra dan Tissa.


"Kamu penguntit ya, sampai tahu mereka sedang berduaan begini."


"Aku tidak sengaja melihatnya, tapi ini bagus itu berarti dokter Indra melanggar janjinya, sepuluh hari lagi pencarian cinta sejati berakhir, kalau dokter Indra jatuh cinta pada wanita ini, itu berarti misi kita berakhir, aku akan bebas selama seminggu dari shif malamku." ujar Lira yang kegirangan.


"Cuti selama seminggu. Waktu kita tinggal 10 hari lagi, kan! Semangat pantau terus Indra, aku mau ke kantin dulu mau makan." ujar Arman yang berlalu pergi meninggalkan Lira.


"Issh dasar, giliran makan aja cepet. Ya ampun aku lupa." ujar Lira yang menepuk jidatnya "Tadi aku, kan mau ke ruang lab, kenapa bisa nyangkut disini. Gara-gara lihat mereka jadi lupa." gerutu Lira yang berlalu pergi.


****


Jenazah Rani langsung di semayamkan di pemakaman. Semua keluarga besar Shila ikut mengantarkan termasuk Vero. Tissa terduduk lemah di bawah tanah yang masih merah, tangannya dia usapkan pada nisan yang bertuliskan nama Rani. Air matanya sudah tak terbendung lagi, Tissa benar-benar kehilangan dan terpukul. Dengan pelan Tissa menaburkan bunga di atas tanah merah itu yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi Rani. Tissa mengecup nisan itu dalam waktu yang cukup lama.


Para pelayad satu persatu mulai pergi meninggalkan pemakaman, hanya keluarga Shila yang tersisa.


"Aku tidak menyangka, bahwa aku akan mengantar kepergiaan nenek Rani ke tempat peristirahatannya, aku kira kita tidak akan bertemu lagi dengan mereka." ujar Joy yang berdiri sambil menatap kearah Tissa.


"Ya ... dunia ini memang sempit, tapi aku bersyukur mereka sudah menyesali perbuatannya." ujar Anna yang berdiri di samping Joy dengan Kemi di sampingnya.


"Kita doakan saja, semoga dosa nya diampuni, dan nenek Rani tenang di surga sana." ujar Jolie yang berdiri di samping Kemi, di temani oleh Elang di sampingnya.


"Kalau aku mati kemarin, mungkin sekarang aku sudah berada di dalam tanah itu, beruntung aku tak jadi mati, karena tuhan masih memberikanku kesempatan untuk hidup." gumam Jolie lirih namun terdengar oleh Elang.


"Kenapa takut? Karena kamu terlalu banyak dosa pada suamimu." Jolie terbelalak, dan langsung menoleh kearah Elang.


"Kenapa berbicara begitu," sanggah Jolie


"Memang kenyataannya."


"Tapi sekarang aku sudah berubah, aku sudah menjadi istri yang baik."


"Benarkah? Memang kamu tahu menjadi istri yang baik itu seperti apa? Kamu tahu kamu sudah melakukan dosa besar." bisik Elang dengan nada mencekam.


"Dosa besar apa? Sudah aku bilang aku sudah berubah,"

__ADS_1


"Kamu tahu apa dosa besar mu?" tanya Elang yang menatap Jolie, dan Jolie menatap Elang heran.


"Apa? Apa sebesar itukah dosaku, sampai tidak bisa di ampuni."


"Ya ... pertama tidak di ampuni suami mu, dan kedua tidak di ampuni tuhan."


"Apa katakan, biar aku perbaiki dosaku."


"Sekarang aku tanya, apa kamu pernah melayaniku."


"Setiap hari, aku membuatkanmu kopi, sarapan, aku mencoba jadi istri yang baik apa itu kurang."


"Kamu belum memenuhi kewajibanmu sebagai seorang istri."


"Elang katakan saja jangan bertele-tele."


"Apa kamu pernah melayaniku di atas ranjang? Memberikan hakmu sebagai seorang istri? Itulah dosa terbesar seorang istri pada suaminya, kamu pikir hanya dengan membuatkan kopi, menyiapkan pakaian dan menyiapkan sarapan sudah menjadi istri yang baik."


"Kamu, menyinggungku."


"Tidak, aku hanya memberitahumu bahwa percuma saja kamu menyiapkan kopi, dan sarapan setiap hari karena itu tidak menjamin kamu menjadi istri yang baik. Karena kamu belum memenuhi kewajibanmu yang sesungguhnya."


"Itu sudah kewajibanku, bahkan tanpa izin dari mu aku bisa melakukannya,"


"Lalu kenapa kamu tidak memaksaku."


"Saat aku tak sengaja menyentuh dadamu saja, teriakan mu memekakan telingaku, bisa-bisa rumahku roboh karena teriakanmu."


"Apa kau menginginkannya? Bukankah kau tidak mencintaiku,?" ucapan Jolie membuat Elang bisu.


"Kamu tahu, pernikahan yang di jodohkan? Apa mereka menikah karena cinta tidak, kan. Tapi kewajiban seorang istri tetaplah kewajiban. Sudahlah jangan bicarakan itu lagi lebih baik kita pulang." ajak Elang yang melangkah pergi. Jolie masih diam merenungkan ucapan Elang.


"Jolie, apa kau tidak akan pulang." seru Anna yang mengejutkan lamunan Jolie. Jolie pun melangkah mengikuti saudaranya. Perlahan para ziarah pun meninggalkan pemakaman. Amber dan Tissa tak sengaja saling bertatap muka.


"Amber." Panggil Tissa namun Amber malah mengabaikannya dan pergi.


"Ini kartu namaku, ada alamat rumahku disini, jika kau ingin bertemu dengannya, datanglah ke rumahku di apartemen X kamu bisa menemui Amber disana." ujar Indra yang memberikan kartu namanya pada Tissa.


"Terima kasih." ucap Tissa yang mengambil kartu itu.


"Amber butuh waktu, bicaralah perlahan dengannya, aku yakin Amber pasti memaafkanmu." ujar Indra yang melangkah pergi meninggalkan Tissa.

__ADS_1


****


Sepanjang jalan Jolie merenungkan perkataan Elang, Jolie melamun tanpa berkata apapun Jolie hanya melihat ke arah luar jendela menatap pohon-pohon, dan gedung-gedung tinggi bergerak mundur.


Ckiiiittt ... dugh


Suara decitan mobil terdengar, mobil Elang tak sengaja menabrak mobil yang berhenti di depannya.


"Akh ... sial." umpat Elang kesal.


"Kau menabrak mobilnya."


"Bukan salahku, mobilnya saja yang berhenti mendadak." Sanggah Elang. Pemilik mobil di depan pun keluar dia seorang wanita, wanita itu terlihat marah saat melihat mobilnya terdapat goresan. Wanita itu pun memukul-mukul kaca mobil Elang dan memintanya untuk segera turun, Elang pun turun menghadapi wanita itu.


Elang bersikap tenang dan santai, namun tidak dengan wanita itu yang awalnya marah tiba-tiba wanita itu memeluk Elang membuat Jolie terkejut melihatnya. Jolie membulatkan kedua bola matanya, hatinya terasa panas, emosi pun mulai menyala. "Siapa wanita itu beraninya memeluk suamiku." gerutu Jolie yang langsung turun.


"Elang, itu kah kau?"


"Siapa kamu?"


"Kamu lupa, aku Anjani teman kuliah mu dulu,"


"Issh ... genit." gumam Jolie kesal


"Maaf, aku tidak ingat." ujar Elang datar


"Aku akan mengganti kerugiannya, berapa semuanya."


"Tidak perlu, ini tidak terlalu parah. Tapi ... begini saja aku meminta nomor ponselmu saja, nanti kalau ada apa-apa aku akan menghubungimu." Elang pun langsung memberikan kartu namanya dan langsung membuka pintu mobilnya namun wanita itu mencegahnya menutup pintu mobil Elang kembali.


"Begini saja Elang, bagaimana kalau kita mampir ke cafe dulu, untuk makan siang sambil mengobrol masa kuliah dulu."


"Akh ... aduh." teriak Jolie yang memegang bahu kirinya, bekas operasi. Elang yang mendengar teriakan Jolie langsung mengitari mobilnya menuju arah Jolie.


"Ada apa? Kenapa tanganmu?"


"Akh ... tadi ada pemotor yang menyerepetku, dia menyenggol bahuku aduh sakit ... hiks ...." ringis Jolie.


"Ini bekas luka operasimu, kan. Ayo masuk ke mobil kita ke rumah sakit sekarang." ujar Elang panik lalu mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil. Elang langsung melajukan mobilnya tanpa menoleh ke arah Anjani yang diam mematung menatap kepergian Elang.


Sedangkan Jolie dia tertawa kecil, karena berhasil mengerjai Anjani. "Syukurin di cuekin, abis ganjen." batin Jolie sambil terkekeh dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2