Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Ibumu pembunuh


__ADS_3

Sehari sebelumnya


Semua murid di sekolah pagi ini berkerumun di depan mading sekolah, entah apa yang mereka lihat namun semua murid saling berbisik.


Kanza yang baru saja datang di antar papinya dia terlihat sangat ceria dan gembira bagaimana tidak sebentar lagi di rumahnya akan ada pesta besar kedua kakaknya akan menikah. Tiba-tiba semua murid tertuju pada Kanza mereka melihat Kanza seperti jijik, dengan tatapan yang sangat sinis.


Kanza berjalan menuju kelasnya sepanjang perjalanan Kanza merasa aneh pada teman-temannya, mereka melihatnya sinis dan saling berbisik.


"Ini dia anaknya sudah datang" ujar Sela teman satu kelasnya.


"Beruntung banget ya lo hidup di keluarga kaya, apa pun yang lo minta pasti akan terpenuhi walaupun lo bukan anak kandung" cibir teman satu kelasnya.


"Apa maksud lo, lo pikir gue bukan anak kandung papi gue? Gue anak pungut gitu maksud nya!" ucap Kanza dengan nada tinggi karena tersulut emosi.


"Lebih tepatnya anak haram"


"Jaga mulut lo ya"


"Wow, dia marah. Teman-teman lihatlah putri mahkota kita marah karena rahasianya terbongkar" cibir Sela pada teman-teman di kelasnya.


"Hei Sela lo jangan asal ngomong ya gue bisa aduin lo ke kepala sekolah"


"Aku bicara berdasarkan fakta" ucap Sela dengan enteng.


"Ini pasti Amber, dia yang telah bicara omong kosong pada kalian"


"Aku, kenapa kau membawa - bawa namaku" ucap Amber yang tiba-tiba datang.


Kanza menatap Amber sangat tajam, amarahnya sudah memuncak dan ingin sekali menjambak rambutnya namun Kanza mencoba untuk tenang.


"Kamu bilang aku anak haram, bukankah kamu yang anak haram karena kamu lahir tanpa ayah, kamu iri pada ku karena aku punya segalanya terutama ayahku."

__ADS_1


"Dan sekarang kamu membalikan fakta, bilang pada semua orang kalau aku anak haram, bilang saja kalau kamu iri karena kamu tidak punya ayah" teriak Kanza


"Diam kau" bantah Amber dengan nada tinggi. Semua orang diam termasuk Sela yang sedari tadi mencibir Kanza. Suasana kelas menjadi hening seketika tidak ada satupun yang bicara, mereka hanya diam melihat kedua temannya yang saling menatap tajam. Tiba-tiba


Lusi datang dengan jalan bergontai sambil menyanyi-nyanyi tanpa menyadari keadaan kelasnya.


Lala....lala...lala.... Aduh!


Ringis Lusi saat tubuhnya menabrak punggung Amber. "Siapa sih ini berdiri di tengah jalan" gerutu Lusi sambil mengusap-ngusap keningnya.


"Kanza" panggil Lusi yang melihat Kanza di depannya. Lusi langsung berjalan ke arah Kanza berdiri di sampingnya. "Ada apa?" bisik Lusi pada Kanza namun Kanza masih diam matanya fokus menatap tajam pada Amber di depannya.


"Ahh.... Pantesan nenek lampir. Hei ember kamu ngapain cari masalah lagi? Gak ada bosen-bosen nya lo ya cari masalah mulu."


"Lusi kamu gak baca apa mading di depan" seru Sela. Lusi hanya menggeleng. Sela berjalan ke arah Lusi lalu memperlihatkan foto mading yang dia ambil, Lusi terbelalak melihatnya emosinya kini mulai memuncak dalam sekejap matanya menatap tajam mata Amber di depannya.


"Hei, kalian.... Kalian percaya dengan kabar ini? Dan kalian lebih percaya pada nenek lampir ini, sekarang aku jelaskan ya, Rey Kanza Alvero Wallandou putri dari Tuan Alvero Wallandou pewaris Wallandou group kalian semua pasti tidak asing dengan nama itu, kalau masih ragu kalian buka handphone kalian sekarang dan search google siapa Alvero Wallandou dan siapa saja putra-putri nya."


"Semua asal - usul Kanza jelas tidak seperti dia yang tak jelas siapa ayah nya bahkan wajah ayahnya saja dia tidak tahu, jadi siapa menurut kalian yang anak haram" tegas Lusi pada semua temannya, mereka pun saling berbisik.


"Apa kamu tahu masalalu ibu mu? Kamu hanya anak yang tak di harapkan, demi menutupi semua itu ibumu menikah dengan pria yang sekarang menjadi ayahmu sehingga kamu mendapatkan gelar dan di akui sebagai pewaris wallandou group. Dan satu lagi ibumu seorang pembunuh"


"Jaga mulutmu" teriak Kanza yang sudah tak tahan dengan ocehan Amber.


"Hei nenek lampir, omong kosong apa ini tidak akan ada yang percaya pada ucapan mu" hardik Lusi yang tak terima Kanza di hina.


"Kamu pikir aku berbohong aku tahu hal ini dari orang yang terpercaya, ibumu Arshila Anatasya dia adalah orang yang telah menghancurkan hidupku dia yang menyebabkan ayahku mati, dia pembunuh, ibumu pembunuh"


PlAKK!!!


Semua orang terkejut melihat Kanza yang menampar Amber, Lusi sampai menutup mulut dengan tangannya.

__ADS_1


"Berani kau menghina mamiku, tanganku akan kembali mendarat di pipimu" ucap Kanza penuh penekanan.


"Kalau kau tidak percaya tanyakan pada papi dan mamimu aku ingin dengar apa jawabannya"


Nafas Kanza sudah menggebu, amarahnya semakin memuncak, pikirannya berkelana kemana-mana, Kanza berjalan keluar kelas tak menghiraukan seruan dari Lusi temannya. Pikirannya kosong, tubuhnya sedikit gemetar seketika bayangan masa kecilnya terlintas saat - saat dimana dirinya sedang bermain bersama dengan kedua saudara kembarnya Kenzie dan Kenzo, dia teringat gurauan teman masa kecilnya.


"Kanza kamu kok beda sih gak mirip sama kenzo dan Kenzie"


Kata - kata itulah yang membuat Kanza menjadi ragu dan termakan ucapan Amber. Kanza memang tidak seperti kedua kakaknya yang sangat mirip satu sama lain, tapi bukan berarti Kanza bukan saudara kandungnya.


Anak kembar tidak akan selalu sama dan mirip karena ada kembar identik dan ada kembar yang tak identik. Namun ucapan Amber membuatnya ragu akan hal itu. Amber berjalan dengan berseok - seok tatapan nya kosong, pandangannya terus ke depan seperti orang yang tak tahu jati dirinya.


Kanza masuk ke dalam kelas yang menjadi kelas kakaknya, dia mencari sosok Kenzo yang selalu ada untuknya namun Kanza tak melihatnya


"Dimana Kenzo? Kenzo" teriaknya membuat semua murid di dalam kelas itu menoleh ke arahnya


"Kanza, kau mencari Kenzo dia tidak ada disini" ujar seorang murid laki - laki temannya Kenzo.


Kanza berjalan keluar menuju kelas Kenzie namun Kenzie juga tidak ada, Kanza benar - benar frustasi, dia berjalan ke arah lapangan dengan langkah yang berseok - seok seperti orang yang linglung. Kanza menangis histeris bagaimana kalau ucapan Amber itu benar lalu siapa ayahnya.


Kanza kembali teringat ucapan Amber yang mengatakan kalau tidak percaya tanyakan saja pada mami mu apa jawabannya aku ingin dengar. Kanza langsung pergi meninggalkan lapangan berjalan ke arah gerbang.


"Kenzie bukankah itu adikmu mau kemana dia" ucap salah seorang teman Kenzie yang kebetulan sedang berada di rooftop sekolah. Kenzie yang melihat itu berteriak memanggil nama Kanza namun Kanza tidak mendengar dia malah menerobos gerbang sekolah. Kanza sempat berdebat dengan pak satpam karena tak membukakan pintu gerbangnya sampai akhirnya Kanza mengancam akan melaporkan pada papinya, semua orang di sekolah tahu siapa Alvero Wallandou dia adalah donatur terbesar di sekolah ini, nyali pak satpam pun menciut lalu membukakan pintu gerbangnya dan Kanza pun keluar lalu menaiki taksi yang kebetulan lewat.


"Kanza kau mau kemana?" teriak Kenzie dengan nafas ngos-ngosan karena berlari dari atas rooftop.


"Hei, hei, hei, mau kemana kalian tidak boleh keluar" ujar pak satpam yang menjaga pintu gerbang.


"Pak, itu adik saya mau kemana? Kenapa bapak biarkan dia pergi"


"Loh malah nyalahin saya, anaknya yang mau pergi ya sudah saya izinin, dari pada saya yang di omelin"

__ADS_1


"Iss.... Dasar, awas kalau ada apa-apa sama adik saya, bapak tanggung jawab" hardik Kenzie sambil melengos


"Waduh, lah kok saya pula yang di marahin! Serba salah dah, ngadepin anak sultan mah" gerutu pak satpam yang kembali ke dalam pos nya.


__ADS_2