Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Penyesalan Tissa


__ADS_3

Di tengah teriknya matahari Tissa terus mencari Amber, dari kemarin Amber pergi dan tidak pulang. Tissa bingung harus mencari kemana karena dia tidak pernah tahu tempat-tempat yang selalu Amber kunjungi.


Sesekali Tissa bertanya pada orang-orang yang lewat seraya menunjukan foto Amber pada mereka, namun diantara mereka tidak ada yang melihat putrinya. Tissa duduk di bawah pohon beringin untuk berteduh, karena panas matahari begitu terik, peluh keringat bercucuran membasahi pipinya.


Baru kali ini Tissa merasakan kehilangan, kekhawatiran, kecemasan, pada putrinya. Semenjak Amber kecil Tissa tidak pernah memperhatikannya, memperdulikannya, bahkan hanya sebatas mengobrol, hobi dan makanan kesukaan pun tidak tahu.


Huffft


Tissa menghela nafas, tatapannya begitu kosong. Hari sudah sore Amber masih belum juga di temukan, Tissa sudah putus asa. "Mungkin benar apa kata mama, Amber sudah mengetahui kebenaran-Nya itu sebabnya dia tidak pulang, dia membenciku karena aku adalah orang yang telah membunuh ayah-Nya." ucap Tissa menyesal.


"Kamu dimana Amber, maafkan aku yang tak pernah memperdulikan mu, aku menyesal hiks ... hiks ..."


"Seharusnya aku tidak boleh menyalahkan Amber atas kehancuran hidupku, Amber tidak salah, tidak seharusnya dia tahu kenyataan pahit ini, aku menyesal ... aku menyesal." Tissa menyesali perbuatannya, Tissa mulai merasakan kehilangan saat Amber tidak bersamanya.


****


Sedangkan di tempat lain Amber terbaring lemah, kepalanya di perban, dan tubuh lainnya di penuhi alat medis lainnya.


CKLEk!!


Seorang dokter membukakan pintu, lalu masuk di ikuti oleh seorang suster. Dokter itu melangkah menghampiri ranjang Amber untuk mengontrolnya, mengecek keadaannya.


"Bagaimana tekanan darahnya?


"Normal dok,"


"Pantau terus keadaannya, jika ada apa-apa panggil saya" ujar dokter pada si suster.


"Baik dokter" jawab suster sambil mengangguk. Dokter itu pun keluar dari kamar Amber.


"Arman bagaimana keadaan-Nya? Apa sudah sadar?" tanya seorang pria yang baru saja datang memanggil dokter tadi yang baru saja mengecek keadaan Amber.


"Sejauh ini keadaan-Nya baik, namun dia belum sadar." jawab Arman


"Syukurlah dia baik-baik saja, apa ada keluarga-Nya yang datang?"


"Tidak ada, lagi pula anak itu tidak membawa identitas, sepertinya kita akan tahu siapa nama-Nya setelah dia sadar."


"Ya, benar semoga saja anak itu cepat sadar, kalau tidak aku tidak akan memaafkan diriku"


"Kamu sudah bertanggung jawab, tidak perlu khawatir kita akan berusaha, anak itu akan baik-baik saja." ujar Arman yang menepuk bahu pria itu.


"Pakaianmu rapi sekali dari mana?" tanya Arman


"Oh, ini aku dari undangan temanku anaknya menikah"


"Undangan mulu, kapan kamu nikah?"

__ADS_1


"Gak ada pertanyaan lain apa? Sudah, aku mau ganti baju dulu." ucap pria itu yang berbalik membelakangi Arman


"Hei Indra, aku tunggu undangan mu" teriak Arman. Dokter yang tadi bersamanya adalah Indra, dokter Indra sahabat sekaligus dokter pribadi keluarga Alvero.


Flasback on


Semalam hujan begitu deras, angin begitu kencang, Indra yang baru saja selesai praktek akan pulang ke rumahnya, Indra terlihat begitu lelah, mata-Nya setengah mengantuk, sesekali ia memejamkan mata-Nya membuat mobil-Nya bergerak tanpa arah. Hari ini Indra sangat sibuk dia melakukan operasi tiga kali operasi, sama sekali tidak ada waktu untuk beristirahat. Jalanan sepi, penerangan yang gelap, juga derasnya air hujan menghalangi pandangannya.


Saat jalan berbelok tid ... tid ... tid ... Indra membunyikan klakson, jaga-jaga jika ada kendaraan lain yang melintas dari lawan arah. Jalanan terlihat sepi dan tak ada kendaraan yang melintas, namun mata Indra sudah tidak bisa lagi menahan kantuknya sampai hal tak terduga pun terjadi


Ckittt ... dugh ...


"Apa yang aku lakukan? Apa aku menabrak seseorang." Indra langsung keluar dari dalam mobilnya, tidak peduli air hujan membasahi tubuhnya, Indra sangat terkejut ketika membuka mata ada sekelebet bayangan yang melintas di depan mobilnya.


Mata Indra membulat sempurna, Indra terhenyak, melihat Amber yang tergeletak di bawah mobilnya."Ya tuhan, aku sudah menabrak orang." ucap Indra yang mulai berlutut tangannya mulai membalikan badan Amber yang sudah tak sadarkan diri.


Indra langsung memopong tubuh Amber membawa-Nya ke dalam mobil, lalu Indra berjalan memutar masuk ke dalam mobil duduk di bagian kursi kemudi, setelah itu Indra langsung melajukan mobilnya dengan cepat kembali ke rumah sakit.


Flashback off


Indra sudah mengganti pakaian-Nya, memasuki kamar rawat Amber. Indra mengecek kembali keadaan Amber. "Dia seusia Kanza, kasihan sekali karena aku dia terluka." ucap-Nya yang menatap Amber sendu.


"Dokter, tangan-Nya bergerak." Perkataan suster membuat Indra terkejut, juga lega karena akhir-Nya Amber sadar juga. Mata Amber mulai terbuka dengan perlahan di lihatnya sekeliling ruangan Amber seperti bingung, seolah bertanya ada dimana dia.


"Kamu sudah sadar?"


"Kamu ada di rumah sakit, siapa nama mu? Apa kamu ingat?" tanya Indra.


"A-m-ber"


"Amber!, nama yang bagus." ujar Indra


"Apa kamu ingat siapa keluargamu? Ibu, ayah, atau siapa saja yang bisa aku hubungi?" tanya Indra yang menatap Amber, berharap jawaban dari-Nya.


Amber mengingat dimana sebelum diri-Nya mengalami kecelakaan, yang Amber ingat hanya ucapan-Nya dengan Shila dan terakhir saat Vero mengatakan bahwa Tissa adalah pembunuh ayah-Nya.


Huh ... huh ... huh ...


"Amber, Amber." Panggil Indra yang melihat Amber tiba-tiba kejang-kejang, dan nafas-Nya terasa sesak. Indra langsung mengambil tindakan, Indra terlihat sangat panik dan gelisah.


****


Tissa kembali ke rumah-Nya pada malam hari, ia berjalan lunglai, tubuh-Nya begitu lemas, Tissa langsung melempar tubuh-Nya di atas kursi.


"Tissa, kau tidak apa-apa?" tanya Rani yang panik.


"Aku tidak menemukan-Nya, aku tidak menemukan putriku."

__ADS_1


"Apa kau sudah mencari di sekolah nya?"


"Belum, aku tidak memikirkan itu."


"Aku akan menghubungi nya sekarang." lanjut nya. Namun di sanggah oleh Rani


"Sekarang sudah malam, tidak ada siapa pun disana." Tissa kembali terdiam.


"Mama memang benar, Amber pasti membenciku sekarang, dia tidak akan pulang, dia tidak akan sudi tinggal bersama ibunya yang sudah membunuh ayahnya hiks ... hiks ..." Tissa menangis, Rani memeluk Tissa untuk menenangkan nya.


"Aku ibu yang buruk, aku bukanlah ibu yang baik, hiks ... hiks ...."


"Tenangkan dirimu, Amber pasti akan pulang, dia tidak punya keluarga selain kita, kan! Mungkin saat ini Amber butuh waktu untuk sendiri." Rani menenangkan Tissa.


****


Amber sudah kembali membaik, dia sudah sadar, dan sekarang sedang di berikan makan oleh suster.


"Malam Amber." Indra datang lagi


"Malam dokter."


"Makanlah dengan banyak, biar kamu cepat sembuh." ucap Indra sambil tersenyum "Apa ada yang terasa sakit? Kepalamu tidak sakit, kan?" lanjut Indra Amber hanya menggeleng.


"Sudah habis, kamu pintar Nak, dokter saya permisi." ucap suster yang merapikan tempat makan Amber tadi.


"Terima kasih suster." ucap Indra


"Sama-sama." jawab suster ramah lalu pergi meninggalkan Indra dan Amber.


"Maafkan aku." ucap Indra tiba-tiba.


"Untuk apa?" tanya Amber heran.


Indra pun menjelaskan kenapa Amber bisa sampai di rumah sakit, dan Indra pun mengatakan bahwa dirinya yang menabrak Amber sampai seperti ini.


"Aku tidak marah dokter, terima kasih karena dokter sudah merawatku."


"Sudah tugasku sebagai dokter." ucap Indra yang mengusap lembut kepala Amber.


"Kalau kamu sudah membaik besok atau lusa kamu bisa pulang. Oh iya, apa ada keluarga yang bisa saya hubungi? Aku takut ibumu mengkhawatirkan mu."


Amber terdiam. "Tidak ada yang mengkhawatirkan ku." ucapnya demikian.


"Tidak mungkin, orang tuamu pasti mencemaskanmu."


"Aku tidak punya orang tua."

__ADS_1


__ADS_2