
Stella duduk termenung di dalam kamar, tiba-tiba dahaganya terasa kering. Stella keluar dari kamar, berjalan menuruni anak tangga, di saat semua orang tertidur, Stella malah berjalan-jalan menyusuri setiap sudut rumah lamanya. Sambil mengenang masa-masa kecilnya dulu.
Bayangan-bayangan mommy dan daddy-Nya pun kembali terlintas, tanpa diinginkan bulir-bulir air mata pun menetes. Rumah ini sudah sangat lama namun ada yang tidak berubah 'keheningan' dari dulu rumah ini sangat hening, begitu sepi bagaikan tak berpenghuni. Stella berjalan ke sebuah ruangan yang dimana banyak buku-buku yang tertata rapi di sana, Stella berjalan ke arah meja yang berbentuk persegi empat, meja itu adalah tempat orangtuanya bekerja. Tangan Stella memainkan kursi kerja yang berputar, satu bayangan terlintas di benaknya saat kecil dulu Stella sering bermain di kursi ini, dia berputar-putar dengan kursi ini, melihatkan tawanya yang manis, yang ceria.
"Daddy, daddy aku sudah cantik, apa kita jadi pergi ke pesta?"
"Tentu sayang, tapi tunggu dulu daddy ya, daddy selesaikan pekerjaan daddy dulu."
"Oke, daddy." jawab Stella kecil, yang periang, saat itu Stella dan daddy-Nya akan pergi ke pesta ulang tahun triple J saat itu, yang mempertemukannya dengan Joy.
Pandangan Stella beralih pada sebuah sofa panjang di sana, bayangan masalalu-Nya pun kembali terlintas. Bayangan mommy-Nya yang sibuk dengan pekerjaannya, sampai tak menghiraukan Stella yang saat itu ingin memberitahukan hasil nilai ujiannya, berharap dapat kecupan atau selamat dari mommy-Nya.
Hiks ... hiks ... hiks ... mommy daddy aku rindu kalian, Stella terduduk lemah dengan berderai air mata.
Kadang masalalu menyakitkan, dan tak seindah yang di bayangkan. Namun sesakit apa pun masalalu tidak akan pernah hilang dari ingatan. Mommy dan Daddy Stella memang tidak pernah memperhatikannya namun, bukan berarti tidak ada kasih sayang antara mereka.
Mata Stella terlihat begitu sembab, wajahnya begitu pucat, jam dinding sudah menunjukan pukul 03.00 WIB. Sudah pukul tiga dinihari, Stella masih belum bisa memejamkan mata, rumah lamanya yang penuh dengan kenangan membuatnya kembali teringat masalalu yang penuh dengan duka. Tubuh Stella terlihat lemah, Stella berjalan pelan seraya berpegangan pada tembok dinding. Mungkin karena seharian ini Stella lupa tidak mengontrol pola makannya, entah Stella sudah makan atau tidak.
Stella sampai di sebuah dapur, dia menyapu setiap sudut dapur yang tak berubah sama seperti dulu. Stella berjalan ke arah lemari es lalu membukanya, Stella mengambil satu botol air minum lalu ia tuangkan ke dalam gelas, setelah itu Stella meneguknya sampai habis. Tiba-tiba bayangan masalalu kembali terlintas, Bayangan itu muncul kembali, yang dimana saat Stella akan di lecehkan oleh supir pribadinya pak Ardi, di tempat ini, di dapur ini Stella mengalami hal buruk itu.
Prang,,
Stella berjalan mundur, tanpa sengaja menjatuhkan gelasnya, tubuhnya mendadak gemetar, nafasnya terasa sesak, tiba-tiba Stella merasa takut, bayangan itu terlihat jelas di depannya. Perlahan tubuhnya melorot, Stella duduk sambil memeluk kedua lututnya, rasa takut kembali menyelimuti dirinya.
"Tidak ... tidak ... tidak ...." teriak Stella histeris
"Jangan ... jangan mendekat ... aku mohon jangan ... hiks ... hiks ...." Stella menangis dalam ketakutan. Stella menutup telinga, seolah tidak ingin mendengar apa pun.
"Jangan ... jangan ...." Stella terus berbicara dengan ketakutan, kedua tangannya terus memeluk kedua lututnya, air mata terus berlinang, wajahnya semakin terlihat pucat, pandangannya mendadak kabur dan gelap.
****
__ADS_1
Gelap sudah berganti terang. Matahari sudah memancarkan sinarnya, menyilaukan seorang wanita yang tertidur pulas.
"Sayang bangun," ujar Kemi sambil mengecup wajah istrinya.
"Mm ...." Anna menggeliat
"Apa ini sudah pagi?" tanya Anna yang bangun dari tidurnya.
"Apa kau bermimpi begitu indah, sampai tidak ingin terbangun dari tidurmu?" ujar Kemi yang berjalan ke arah almari mengambil jasnya lalu di pakainya.
"Apa sudah ada kabar dari Joy? Bagaimana keadaan Jolie apa Jolie sudah sadar? Aku akan menghubungi Joy." ujar Anna yang mengambil ponselnya di atas nakas namun di ambil kembali oleh Kemi.
"Aku yang akan menghubungi Joy, sekarang istriku ini mandilah, kita akan kembali ke jakarta." ucap Kemi lalu mengecup Anna sejenak setelah itu Anna pun pergi ke kamar mandi.
Kemi dan Anna sudah di beritahu keadaan Jolie, karena semalam Anna merasa tidak enak hati, Anna terus mencemaskan Jolie dan Joy saudara kembarnya. Anna mencemaskan terjadi hal buruk kepada saudaranya itu sampai akhirnya Anna menghubungi Joy pada malam tadi, Anna begitu syok saat mendengar tragedi yang di alami Jolie, Anna meminta pada Kemi untuk segera kembali ke jakarta, bahwa Anna sangat mengkhawatirkan Jolie saudara kembarnya. Dan hari ini mereka berdua akan kembali ke jakarta. Kemi menghubungi Joy pagi ini.
"Halo Joy, bagaimana keadaan Jolie? Anna sangat cemas."
"Baiklah aku akan menghubungi mami, ada apa denganmu? Suara mu terdengar panik." tanya Kemi namun Joy tidak menjawab Joy malah mengkahiri teleponnya.
"Kemi sudah dulu ya, aku tutup teleponnya dulu." Tut ... tut ... sambungan telepon pun di tutup secara sepihak.
Joy memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, lalu Joy melangkah masuk ke sebuah kamar, di dalam kamar terlihat seorang dokter sedang memeriksa keadaan Stella.
"Dokter bagaimana keadaannya?" tanya Joy pada dokter yang memeriksa keadaan Stella.
"Sepertinya dia mengalami traumanya kembali."
"Kenapa bisa? Bukankah Stella sudah sembuh?"
"Begini pak Joy, hal seperti ini bisa saja terjadi, trauma mendalam yang di alami Stella menyisakan luka yang amat dalam, itu membuat psikisnya terganggu. Seseorang yang psikisnya terganggu bisa sembuh dengan perlahan selain meminum obat sesuai anjuran dokter namun tetap harus di bantu dengan melupakan, menghilangkan bayangan-bayangan masalalunya, seperti berdamai dengan masalalu. Mungkin semalam Stella teringat kembali pelecehan itu. Saat dirinya hampir saja di perkosa." Jelas dokter psikiater.
__ADS_1
"Ya Allah, apa non Stella teringat saat si Ardi itu, hampir melecehkannya? Iya Non Stella pasti teringat itu, karena kejadian itu di lakukan di dapur." ujar Bi Ijah yang baru menyadari alasan Stella pingsan.
"Den Joy, maafin Bibi, ya Bibi gak tahu kalau Non Stella mau ambil minum ke dapur, Bibi cuma dengar suara pecahan gelas baru Bibi bangun." ucap Bi Ijah yang merasa bersalah.
Flashback on
Prang,, suara gelas terjatuh terdengar begitu nyaring, membuat Bi Ijah terbangun dari tidurnya. "Suara apa itu ya? Kaya dari dapur, jangan-jangan maling." Bi Ijah segera turun dari tempat tidur, mengambil sapu untuk jaga-jaga takut ada maling, lalu keluar dari kamar menuju dapur.
"Bi Ijah." Panggil seseorang Bi Ijah pun menoleh ke sumber suara.
"Den, Joy? Bibi kira teh ada maling, kapan den Joy datang?" tanya Bi Ijah
"Baru saja, apa Bibi melihat Stella? Aku mencarinya ke kamar tapi tidak ada?"
"Kalau gak ada di kamar dimana dong? Jangan-jangan!"
"Jangan-jangan apa Bi?"
"Tadi Bibi denger suara barang pecah gitu, Bibi pikir ada maling itu sebabnya Bibi bawa sapu, suaranya berasal dari dapur den, jangan-jangan non Stella,"
Joy dan Bi Ijah berlari menuju dapur, mereka terkejut melihat Stella yang ketakutan juga menangis.
"Stella."
"Non Stella."
Sampai akhirnya Stella jatuh pingsan, beruntung Joy langsung menangkap tubuh Stella sebelum tubuh Stella jatuh ke lantai.
Kegundahan, kegelisahan, dan kegalauan Joy membuat teringat terus pada Stella, Joy mencemaskan Stella dan tidak bisa tenang akhirnya Joy memutuskan untuk datang ke rumah Stella malam itu juga. Sesampainya di rumah Stella beruntung pak Bokir belum tidur jadi bisa membukakan gerbang untuknya. Joy masuk ke dalam berlari menuju kamar Stella namun tak mendapat Stella di dalam kamar sampai akhirnya Joy kembali turun dan bertemu dengan Bi Ijah.
Flashback off
__ADS_1