
Terpaksa Kanza dan Kenzie harus ikut pulang bersama Vero, mau membantah juga tak berani. Kanza dan Kenzie duduk di kursi belakang, sedangkan Vero duduk di kursi depan samping pak supir.
Kanza dan Kenzie terlihat begitu bete, sampai lupa memberi kabar pada teman-temannya.
"Aku lupa kasih kabar." Ujar Kanza seraya menjitak keningnya sendiri.
"Aku juga lupa memberitahu Tiara." Ujar Kenzie yang langsung membuka ponselnya. Dengan segera, Kenzie dan Kanza mengirim pesan pada teman-temannya, ketikan mereka pun sangat ngebut.
"Amber, aku pulang duluan ya, maaf aku tak bermaksud meninggalkanmu, tapi aku bertemu papiku jadi, aku tak bisa mengelak." Tulis Kanza pada pesan yang di kirimkan pada Amber.
"Tiara, maaf aku harus pulang. Ada urusan mendadak." Tulis Kenzie pada pesan yang dikirim untuk Tiara.
Sedangkan, di sebuah cafe Amber seperti kesal membaca pesan dari Kanza, kalau tahu Kanza pulang mungkin Amber juga akan pulang.
"Ghali, Ghala, aku pamit pulang ya! Sudah malam," ucap Amber.
"Biar aku antar," ujar Ghali.
"Tidak usah, aku akan naik taksi." Ujar Amber yang bangkit dari duduknya lalu pergi.
"Ali, kenapa kau diam saja, antarkan dia." Perintah Ghala yang kesal karena melihat Ghali yang hanya diam saja.
"Tapi tadi bilang Amber tidak mau di antar." ucap Ghali polos
"Astaga, Ghali kau ini tidak mengerti wanita, namanya wanita pertama akan malu-malu, dan jual mahal mencoba untuk menolak namun hatinya tidak, kau ini tidak peka!" hardik Tiara. Ghala hanya menggeleng saja. Ghali memang anak yang polos juga pendiam, Ghali tidak pernah tahu menahu tentang wanita, berbeda dengan Ghala, apalagi Tiara.
"Ayo cepat kejar, antarkan sana." Tiara kembali memerintah matanya melotot ke arah Ghali. Ghali pun menurut apa kata Tiara Ghali mengejar Amber sebelum Amber menaiki taksi.
"Amber tunggu," Teriak Ghali yang berlari. "Ini sudah malam, biar aku antar," ujar Ghali.
"Tidak perlu, aku akan pulang sendiri."
"Amber," Panggil Ghali yang menarik tangan Amber. Amber merasa tak nyaman, dan langsung melepas genggaman Ghali.
"Maaf aku tak bermaksud," ujar Ghali yang tak enak hati.
"Aku hanya ingin mengantarmu pulang, aku yang mengajakmu jalan, jadi aku yang harus mengantarmu pulang, apa kau mau?" Amber hanya diam, padahal hatinya dag dig dug tak karuan, suhu tubuhnya mendadak panas dingin, apalagi saat tangannya di sentuh Ghali tadi. Amber menghela nafas sejenak mencoba untuk menetralkan detak jantungnya, yang terpompa lebih cepat.
"Tenang saja aku tidak akan macam-macam, kau tidak perlu takut." ujar Ghali mencoba meyakinkan bahwa dirinya tidak akan macam-macam.
"Iya, ayo ini sudah malam." Ujar Amber yang berjalan mendahului Ghali. Sedangkan Ghali hanya tersenyum tipis, seakan bahagia karena Amber tidak menolak ajakannya. Hanya mengantarkan pulang saja sudah bahagia, bagaimana kalau di terima cintanya.
Di tempat yang sama, terlihat tiga sahabat yang sedang menikmati masa liburnya, mereka bertiga adalah seorang dokter yang sangat sibuk, jangankan liburan pergi ke cafe saja mereka sangat jarang, itu sebabnya ketiga dokter itu terlihat bahagia malam ini, walaupun Jomblo tetap happy.
"Akhirnya, kita bisa malam mingguan," ujar Nita.
"Untung saja operasinya cepat selesai," ujar Arman.
__ADS_1
"Hooh, jadi kita bisa makan disini, cafe terkenal." ujar Lira.
"Eh, ngomong-ngomong sepi juga ya gak ada Indra, biasanya kita berempat, kan," sambung Lira.
"Sepi, atau gak ada yang traktir kalian!" Sindir Arman yang mendelik ke arah Lira yang hanya cengengesan.
"Sekarang Indra sudah punya istri, ya pasti makan masakan istrinya, enak juga ya punya istri ada yang masakin, mijitin," ujar Arman.
"Sekarang yang traktir kita adalah," ujar Nita dan Lira seraya menunjuk ke arah Arman.
"Dasar, wajah gratisan." Sindir Arman yang melirik Nita juga Lira.
"Dasar dokter pelit, sekali-kali lah traktir kita-kita, jangan Indra mulu," cibir Nita.
"Iya ayo masuk, jangan ngomong terus kapan kita makannya, mau nunggu cafe tutup." Ketus Arman, sambil melangkah masuk kedalam cafe. Saat Nita dan Lira akan masuk, Nita tak sengaja melihat Amber yang akan naik ke atas motor Ghali.
"Eh, Lira bukankah itu Amber? Anaknya Indra." Ujar Nita yang menunjuk ke arah Amber.
"Iya benar, dengan siapa dia?" tanya Lira.
"Mana aku tahu, pacarnya kali."
"Iya kali ya," ucap Lira.
"Udah ayo ah masuk, jangan sampai gak jadi di traktir nanti." Ajak Nita, sambil menarik tangan Lira untuk masuk ke dalam cafe.
****
Flashback on
Kanza, panik karena lupa memberitahukan Kenzo bahwa dirinya sudah dalam perjalanan pulang bersama papinya, sebelum terlambat Kanza langsung mengirim pesan pada Kenzo yang berada di rumah Lusi.
Sedangkan Kenzo, sedang duduk santai di belakang rumah Lusi. Lusi sengaja membawa Kenzo ke halaman belakang rumahnya karena takut Zeni melihatnya, bisa-bisa Zeni memberitahu Shila kalau Amber tidak ada di rumahnya.
Sedangkan di dalam, Zeni sedang mencari Lusi putrinya, karena tidak ada di dalam kamarnya. "Mas, apa kamu melihat Lusi?" tanya Zeni pada Alvin.
"Mungkin sudah tidur," jawab Alvin.
"Tidak ada, aku sudah cari di kamarnya tidak ada Lusi." Ujar Zeni, yang manik matanya menyapu keseluruh ruangan. "Dimana anak itu." Sambung Zeni. Zeni lebih cerewet dari Alvin, apalagi pada putrinya jika sudah bicara terus saja nyerocos, apalagi kalau marah. Berbeda dengan Alvin, dia tak banyak bicara, malah selalu kalah sama Zeni.
"Lusi ... Lusi ...." teriak Zeni memanggil putrinya. Lusi yang sedang di halaman belakang pun terbelalak mendengar panggilan ibunya dari dalam rumah.
"Mama." Ucap Lusi sedikit kaget.
"Kenzo, sembunyi." Titah Lusi yang menarik tangan Kenzo.
"Ada apa? Kenapa tarik-tarik tanganku." bantah Kenzo.
__ADS_1
"Kamu gak dengar tadi ada teriakan mamaku? Mamaku manggil, jangan sampai dia lihat kamu, ayo sembunyi."
"Kenapa harus sembunyi? Mama kamu, kan sudah kenal aku kenapa harus takut."
"Kenzo kamu gak mikir ya! Nanti kalau mamaku tanya tentang Kanza bagaimana? Udah ayo ikut aku." Uhar Lusi yang menarik tangan Kenzo.
"Kamu, sembunyi di sini jangan berisik." Ujar Lusi yang menyuruh Kenzo untuk duduk di bawah semak-semak.
"Kamu pikir aku kucing."
"Anggap saja seperti itu, jangan bergerak dan jangan berisik." Titah Lusi, dan langsung pergi begitu saja.
"Lusi,"
"Iya Mama."
"Kamu dari mana?"
"Dari taman,"
"Ngapain?"
"Nyari angin, duduk - duduk aja di taman," ujar Lusi.
Namun ada satu yang mengalihkan perhatian Zeni, Zeni melihat sesuatu yang bergerak di bawah semak-semak, Zeni curiga, kalau Lusi sedang bersama seseorang.
"Apa itu? Apa ada orang disana?" Ujar Zeni yang melangkah menuju semak-semak.
"Mama, ngapain disitu gak ada apa-apa."
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu?"
"Tidak," Lusi langsung menggeleng.
"Awas saja, kalau berani menyembunyikan laki-laki." Ujar Zeni yang menatap tajam. Zeni pun berjalan ke arah semak-semak yang bergerak tadi, hati Lusi benar-benar tidak tenang, takut Zeni melihat Kenzo. Tapi saat Zeni melihatnya, raut wajah Zeni biasa-biasa saja. Zeni pun kembali ke tempat semula.
"Tidak ada apa pun. Ayo masuk!" ajak Zeni pada Lusi.
"Iya Ma, nanti aku menyusul." Ujar Lusi, yang kembali mengecek tempat persembunyian Kenzo tadi. Lusi kebingungan karena tidak melihat Kenzo. "Dimana Kenzo?" pikirnya dalam hati. Lalu Lusi mendapatkan sebuah pesan yang ternyata dari Kenzo.
"Aku sudah pulang." Tulis Kenzo pada pesannya. Lusi pun akhirnya bisa bernafas lega.
Flashback off
...----------------...
Terima kasih dukungannya jangan lupa untuk likenya ya 🤗, komentnya jangan lupa .
__ADS_1
Mampir juga yuk ke novel temanku