Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Jodoh tidak akan kemana


__ADS_3

"Kanza," teriak seorang pemuda yang berdiri di tengah-tengah ramainya pengunjung bandara. Kanza, tersenyum wajahnya berbinar melihat seseorang yang selama ini ia rindukan.


Ghala, yang baru menyelesaikan pendidikannya di luar negri kini kembali. Setelah kepergian Ghali, saudara kembarnya. Ghala, dan keluarga sangat terpukul dan merasa kehilangan terutama sang ibu yang tak bisa melupakan semua kenangannya dengan putranya.


Saat itu mereka memutuskan untuk meninggalkan tanah air, untuk sementara waktu, dan Ghala terpaksa harus ikut bersama kedua orangtuanya. Tinggal di negri paman sam. Kanza, yang saat itu harus merelakan kepergian Ghala, untuk sementara waktu dan menjalani LDR selama 2 tahun lamanya. Sekarang Kanza, senang dan bisa bertemu lagi dengan Ghala, kekasihnya.


"Kanza,"


"Ghala,"


Rasa haru dan bahagia menjadi satu. Ghala, berlari menghampiri Kanza, yang sudah menunggu kepulangannya mereka pun saling mengeratkan pelukan satu sama lain. Saling melepas kerinduan yang lama tertunda.


"Aku merindukanmu," ucap Ghala, yang menangkup wajah Kanza.


"Aku juga merindukanmu," ucap Kanza, yang kini sudah mulai menitikan air mata. Keduanya pun kembali berpelukan.


"Ayo, kita pulang." ucap seorang wanita yang menarik tangan Ghala, dia adalah ibunya Ghala.


"Tante," sapa Kanza, yang ingin mencium tangannya namun, wanita itu menepisnya.


"Mama, apa yang Mama lakukan." tegur Ghala, yang tak suka dengan sikap ibunya, namun wanita itu malah memalingkan wajahnya.


"Ayo, kita pergi Ghala, dan kamu jangan dekat-dekat lagi anakku,"


Deg!


Kanza, merasa sakit hati mendengar ucapan wanita itu. Semenjak kepergian Ghali, wanita itu mulai melarang Ghala untuk berhubungan dengannya. Wanita itu selalu menyalahkan Amber, atas kematian Ghali. Karena Amber dan Kanza, masih hubungan keluarga wanita itu menganggap Kanza, juga pembawa sial dan akan membuat putranya celaka.


"Tante, apa salahku? Kenapa Tante melarangku bertemu Ghala,"


"Karena kamu dan keluargamu pembawa sial. Kalau bukan karena saudaramu itu Ghali, tidak akan pergi dan masih ada denganku saat ini. Dan aku, tidak ingin Ghala, juga mengalami hal yang sama, yang harus kehilangan nyawa untuk wanita yang tidak berguna.


"Tante, itu semua kecelakaan. Amber tidak salah," bantah Kanza.


"Kalau gadis itu tidak meminta Ghali, untuk datang menemuinya kecelakaan itu tidak akan terjadi."


"Ayo, kita pulang." Ajak wanita itu yang menarik paksa tangan Ghala.

__ADS_1


"Kanza,"


"Ghala,"


Kanza, pun hanya pasrah saat genggaman tangannya terlepas. Kanza, tidak mampu lagi menggenggam tangan Ghala, Kanza, hanya bisa menatap kepergiaan Ghala, yang pergi meninggalkannya.


"Sudah lama aku merindukanmu Ghala, aku pikir setelah dua tahun ibumu akan berubah, dan akan merestui hubungan kita, tapi ternyata tidak. Dua tahun itu tidak merubah apapun. Ghala, apa yang harus aku lakukan? Apa kita harus menyerah, dan mengakhiri hubungan ini? Jawab aku Ghala, apa yang harus aku lakukan." batin Kanza, yang berlinang air mata.


****


"Mama, apa yang Mama lakukan? Kanza, tidak ada hubungannya dengan semua ini. Mama harus ikhlas, kalau Ghali, sudah pergi dan itu sudah takdirnya." umpat Ghala, kepada Ibunya.


"Jangan pernah membela anak itu." ucap Ibunya.


"Ma, tidak ada artinya Mama, membenci Kanza juga Amber, apa dengan membenci mereka Ghali, akan kembali? Tidak, akan Ma, itu tidak akan merubah apapun. Hidup dan Mati, takdir yang menentukan jika Ghali, harus pergi meninggalkan kita itu sudah takdir, bukan salah kita,"


"Kamu sudah berani membantah Mama, hanya demi wanita itu. Sekarang sudah jelas, wanita itu membawa pengaruh buruk untuk mu. Lebih baik tinggalkan wanita itu, karena Mama, sudah memilihkan wanita yang lebih baik untukmu." tegas Ibunya. Lalu melangkah pergi menuju kamarnya.


Ghala, benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Ghala, tidak bisa menentang sang ibu tapi juga tak bisa meninggalkan Kanza, Karena Ghala sangat mencintai Kanza.


****


"Ghala, apa kita bisa ketemu?" Kanza, mengirim pesan Namun tak ada jawaban.


"Ghala, apa kau sibuk sehingga kau tak membalas pesanku?" tanya Kanza, yang kembali mengirim pesan.


Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit masih belum ada jawaban dari Ghala. Kanza, tidak bisa seperti ini sepertinya Kanza, harus lebih tegas untuk memberi keputusan.


"Kanza?" seru Nissa, Kanza pun menoleh.


"Nissa," sahut Kanza.


"Apa aku boleh duduk disini?"


"Iya, boleh." Nissa, pun duduk setelah di persilahkan oleh Kanza. Mereka duduk di tengah taman kampus.


"Kanza, aku lihat kamu seperti sedang gelisah? Ada apa? Dari tadi kamu melihat layar gawaimu terus." tanya Nissa.

__ADS_1


"Aku tidak tahu Nissa, aku juga bingung." jawab Kanza.


"Bisa cerita? Aku siap mendengarkan kok,"


Kanza pun mulai bercerita tentang kegelisahannya saat ini. Tentang hubungannya dengan Ghala, tentang kebenciannya ibu Ghala dan kematian Ghala, semua Kanza, ceritakan kepada Nissa, berharap setelah bercerita seperti ini Kanza, menjadi lebih tenang.


"Jodoh, rezeki dan maut hanya Tuhan yang tahu. Kematian seseorang tidak bisa menyalahkan siapapun, karena itu sudah takdir. Yang bisa kita lakukan hanyalah ikhlas, mengikhlaskan kepergian keluarga kita yang memang sudah waktunya untuk berpulang kepada Tuhan." ucap Nissa.


"Begitu juga dengan jodoh. Sekuat apapun kita pertahankan sebuah hubungan kalau memang tidak berjodoh, pada akhirnya akan tetap berpisah. Dan jika berjodoh sekeras apa pun kita menjauh, menghindar, menolak jodoh yang sudah Tuhan, tentukan untuk kita. Pada akhirnya mereka akan tetap bersatu, tidak ada yang bisa menolak atau mengubah takdir yang sudah Tuhan berikan."


"Dan harus kamu ingat! Restu orangtua itu lebih penting." ucap Nissa, membuat Kanza merenung. Nasehat dari Nissa, membuat Kanza, yakin dengan keputusannya saat ini.


"Makasih ya Nis, atas sarannya."


"Sama-sama, jangan gelisah lagi percayakan semuanya pada Tuhan, ingat! Jodoh tidak akan kemana," ucap Nissa, yang mengusap lembut pundak Kanza.


"Aku, pergi dulu ya Kanza," ucap Nissa,


"Iya, Nis," jawab Kanza. Nissa pun melangkah pergi meninggalkan Kanza, sendirian. Kanza, kembali melihat gawainya berharap ada balasan pesan dari Ghala, akan tetapi Ghala tetap tidak membalas.


"Ghala, aku ingin bertemu denganmu karena ada yang ingin aku sampaikan. Jika, memang kamu tidak ada waktu, baiklah terpaksa aku harus mengatakannya lewat pesan ini." Tulis Kanza, lewat pesannya.


"Ghala, aku sudah memikirkannya. Sudah cukup kita pertahankan hubungan ini, Ibumu tidak akan pernah merestui hubungan ini, dan kita juga tidak mungkin menentang ibumu. Aku sudah memutuskannya lebih baik kita akhiri hubungan ini, saat ini juga. Maaf, jika aku tidak bisa lagi bertahan karena bagiku hanya akan menyakitkan."


"Aku menyerah Ghala, lebih baik kita putus demi kebaikan kita juga ibumu."


"Maafkan aku Ghala, maaf." Tulis Kanza, pada pesan terakhirnya. Dengan terpaksa Kanza, mengatakan ini walaupun sebenarnya hatinya sangat sakit saat ini.


...----------------...


Jika thor jarang up harap maklumi karena thor juga punya kesibukan di Rl ( dunia nyata ) tapi akan selalu thor usaha, kan untuk up walaupun kemarin sempat malas dan tak semangat karena satu komentar reader.


Sebenarnya yang membuat para author malas untuk nulis itu tak lain dari komentar netizen, mungkin banyak dari kalian yang baca novel tapi ada yang lambat atau gak di lanjut upnya. Sebenarnya itu masalahnya komentar-komentar negatif yang membuat hilang semangat.


Jadi tolong, buat reader jika, kalian tidak suka tinggal skip tak perlu di baca sudah cukup. tanpa harus meninggalkan komentar negatif.


Terima kasih buat kalian reader yang selalu membuat thor semangat dan selalu mendukung untuk likenya, vote, komentar positif dan favoritnya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan votenya ya 🙏🤗


__ADS_2