Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Darah


__ADS_3

Nino ... nino ... nino ... nino ...


Suara ambulance terdengar nyaring, mobil ambulance itu pun berhenti di depan rumah sakit.


Brugh ... pintu ambulance terbuka, beberapa perawat dan dokter menghampiri mobil itu, dalam waktu bersamaan Indra keluar dari dalam mobil ambulance di bantu para perawat untuk menurunkan seorang pasien yang baru saja di bawanya.


Kemeja Indra penuh dengan darah, di belakang Indra terlihat Amber menangis sambil mengikuti brankar pasien yang baru saja di turunkan dari ambulance.


"Bawa dia ke ruang operasi." titah Indra pada kedua orang perawat.


"Indra ada apa ini? Apa yang terjadi?" tanya Nita


"Nanti akan aku jelaskan , sekarang panggil Arman juga Lira untuk ke ruang operasi sekarang." Nita mengangguk lalu berlari untuk memanggil Arman juga Lira.


"Hiks ... hiks ... mama ... mama ... dokter selamatkan mamaku dok, aku mohon" ujar Amber di iringi dengan tangisan.


"Kamu tenang ya, aku akan menyelamatkannya, kamu jangan khawatir." ujar Indra yang memegang bahu Amber agar Amber tenang, Lalu Indra meminta seorang perawat untuk menemani Amber dan membawanya ke ruangannya. Setelah itu Indra berlari menuju ruang operasi.


Flash back on


Seperti biasa sebelum pergi ke sekolah Amber selalu merapikan tempat tidurnya, saat menggeser boneka bearnya Amber tak sengaja melihat sebuah surat di bawahnya. Amber mengambil surat itu dan bertanya milik siapa surat ini.


"To Amber." ucap Amber yang membaca tulisan pada surat itu. Amber duduk lalu membukanya.


Amber, ini aku ibumu. Aku tahu kesalahanku tidak bisa kamu maafkan, selama ini aku bukanlah ibu yang baik untukmu, kamu menderita karena aku. Kamu pantas membenciku. Jujur aku senang saat kamu memanggilku 'mama' aku harap aku bisa mendengar panggilan itu lagi untuk yang terakhir kalinya. Aku telah membunuh ayahmu, aku menyesalinya sangat menyesalinya, kamu pasti malu lahir dari wanita pembunuh, hingga kamu harus menerima hinaan-hinaan dari temanmu, yang kamu katakan benar, jika aku bisa membujuknya saat itu mungkin kamu akan punya papa sekarang, tapi ... yang aku lakukan malah membuat kamu kehilangan papamu. Amber aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu, kamu adalah harta terindah yang aku punya selain mama Rani. Aku sudah berjanji akan menebus kesalahanku pada papamu, aku harap kamu memaafkanku. Aku akan lakukan apa yang aku lakukan terhadap papamu saat itu, apa yang papamu alami, dan rasakan akan aku alami juga, aku janji ini janjiku.


Putriku tersayang, semoga kamu hidup bahagia, maaf aku hanya bisa menulis surat untukmu, mungkin ini surat terakhirku, sebelum aku pergi jaga dirimu baik-baik, jadilah dokter yang baik jangan kecewakan orang yang sudah baik padamu.


I love you


Tissa


Srekk ... dengan tangan gemetar, Tissa menusukan sebuah pisau kater pada perutnya, darah mulai menetes membasahi lantai kamarnya.


Prang ... pisau kater itu terjatuh, tangan Tissa semakin gemetar, hingga tak mampu menggenggam pisau kater itu lagi, bibirnya terlihat begitu pucat, tangan kirinya ia tumpukan pada luka di perutnya, sampai di penuhi darah.


Bugh ... sepersekian detik, tubuhnya pun terjatuh, Tissa tergeletak di atas lantai, dengan mata yang masih terbuka berharap Amber akan datang menemuinya untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


Apa yang Tissa lakukan adalah gambaran di masalalu, saat Tissa menusuk Vicky dengan pisau katernya.


Dokter ... dokter ...


Teriakan Amber memekakan telinga, Amber panik mencari-cari Indra di dalam kamarnya.


"Ada apa? Kenapa berteriak." sahut Indra yang keluar dari kamar mandi sambil merapikan kemeja yang baru saja di pakainya.


"Dokter antar aku pulang sekarang aku mohon." teriak Amber yang menarik tangan Indra


"Tunggu aku selesai merapikan pakaianku"


"Tidak dokter aku ingin sekarang, aku tidak ingin kehilangan mama." ujar Amber dengan tangisan membuat Indra heran. Karena melihat Amber menangis seperti ini Indra tidak tega, lalu menurut apa yang Amber katakan. Indra dan Amber langsung pergi ke rumah Tissa.


Mama ...


Tissa tersenyum, saat Amber datang. Inilah yang Tissa inginkan, Amber memanggilnya mama.


"Mama ... mama aku mohon, jangan tinggalkan aku hiks ... hiks ...." Amber menghambur memeluk Tissa tak peduli darah mengotori pakaiannya.


"Dokter ... dokter tolong, mama ... hiks ... hiks ... aku mohon bangun, maafkan aku, maafkan aku."


Tissa ...


Indra terkejut melihat darah yang bercucuran dan Amber yang menangis sambil memeluk Tissa.


"Amber, apa yang terjadi?"


Bukannya menjawab Amber malah menangis, tangisannya semakin keras. Indra mengangkat tubuh Tissa dan mencari dari mana darah itu berasal, Indra langsung melepas dasi di kerah kemejanya, lalu Indra ikatkan dasi itu pada perut Tissa untuk mencegah darah yang terus keluar. Dengan cepat Indra menghubungi rumah sakit untuk mengirim ambulance.


Flash back off


Tit ... tit ... tit ...


Suata monitor kembali terdengar, Indra dan ketiga temannya kembali melakukan operasi. Namun kali ini Indra tidak bisa fokus pada tugasnya, setiap kali mengambil pisau bedah tangan Indra gemetar, sampai pisau itu terjatuh.


Arman, Lira dan Nita menatap Indra heran, tidak biasanya Indra tidak fokus dalam melakukan operasi. Berulang kali Indra mencoba namun tetap sama.

__ADS_1


Arrghh ... Indra menggeram, sesekali menghela nafasnya kasar, Indra mengoyang-goyangkan tangannya agar tidak gemetar, lalu Indra mencobanya lagi.


"Huuuftt, pisau bedah." pinta Indra pada Nita, Nita pun memberikannya.


Prang ... Indra kembali menjatuhkan pisau itu, Nita, Arnan, dan Lira hanya saling pandang. Indra berjongkok dan akan mengambil pisau itu namun, Nita langsung mencegahnya.


"Hentikan, dokter Indra. Kamu tidak bisa melakukannya." ujar Nita yang menggenggam tangan Indra.


"Dokter Arman ambil alih." perintah Nita pada Arman agar memimpin operasi ini. Arman pun mengangguk.


"Tenangkanlah dirimu dulu, biar aku Lira dan Arman yang melakukan operasi."


"Tidak bisa, aku harus melakukannya."


"Indra." bentak Nita. Baru kali ini Nita membentak atasannya itu pun karena terpaksa.


"Nyawa pasien lebih penting dan utama, kamu tidak bisa gegabah. Kamu percayakan pada kami, aku Arman dan Lira akan berusaha untuk menyelamatkan pasien."


"Pergilah tenangkan dirimu, aku tahu kamu tidak bisa kosentrasi, kamu butuh waktu sendiri." Indra pun menurut apa kata Nita, Indra berjalan keluar dari ruang operasi. Indra duduk di tengah lorong yang sepi, sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding tembok.


"Apa yang kamu pikirkan, kenapa kamu nekad lakukan itu." gumam Indra yang menyayangkan Tissa yang nekad bunuh diri.


"Aku punya satu permintaan"


"Apa?"


"Jagalah putriku, aku titipkan putriku padamu, aku percaya kamu bisa membahagiakan putriku."


"Apa maksudmu? Apa kau tidak akan membawa putri mu kembali."


"Aku akan pergi itu sebabnya aku titipkan Amber padamu."


"Kamu akan meninggalkannya? Apa kamu tega?"


"Kalau itu yang bisa menebus semua kesalahanku, akan aku lakukan. Dengan itu Amber akan memaafkanku."


"Pergi dari masalah itu bukan hal yang baik."

__ADS_1


"Namun itu adalah akhir yang baik." ucap Tissa.


Indra kembali teringat percakapannya dengan Tissa kemarin, Tissa menitipkan Amber padanya seolah akan pergi jauh, dan inilah jawabannya. Tissa mengakhiri hidupnya untuk menebus kesalahannya.


__ADS_2