
Kanza, begitu gugup sesekali menghela nafasnya panjang. Kanza, terus menatap dirinya pada pantulan cermin dirinya sudah sangat dewasa dan akan menikah, walaupun karena terpaksa keadaan.
Tok, tok, tok,
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, tak berselang lama pintu pun terbuka memperlihat, kan dua wajah tampan kedua kakaknya Kenzie, dan Kenzo.
Mereka berjalan menghampiri Kanza, yang terduduk di bibir ranjangnya.
"Kau terlihat cantik, sebentar lagi kau akan menikah," ucap Kenzo, yang menatap sedih Kanza. Kanza, pun memeluknya.
"Kanza, setelah ini mulailah hidup baru, lupakan masalah sebelumnya, jangan ulangi lagi kesalahan yang sama." ucap Kenzie, kini ketiganya saling berpelukan.
Kanza, pun tidak bisa menahan air matanya, dari kecil mereka bersama suka duka mereka lalui, setelah ini mereka akan berpisah.
"Kenzo, Kenzie, maaf jika aku bukan adik yang baik. Dan aku juga bukan anak yang baik untuk mami dan papi. Kesalahanku tidak patut di tiru, jangan lakukan kesalahan yang sama denganku."
"Kalian harus menjadi anak yang berbakti, bertanggung jawab, dan sayang pada mami dan papi. Jadilah lekaki yang baik untuk wanita yang kalian pilih, Kenzo, jangan lakukan hal yang sama pada Lusi, aku yakin cepat lambat Lusi, akan mengingatmu."
"Kenzie, aku senang melihatmu berubah, jangan pernah permainkan wanita lagi, jadilah laki-laki yang setia, dan Nisa, aku setuju jika kau dengannya dia wanita yang baik dari yang terbaik."
"Kalian harus ingat kata-kataku ini, jangan seperti aku, jangan lakukan itu ya!" ucap Kanza, yang berderai air mata. Kenzo, dan Kenzie, pun memeluknya.
****
Dua jam sudah berlalu, keluarga masih tak kunjung datang. Vero, sudah terlihat marah dan Shila, begitu gelisah. Kanza, masih setia menunggu dengan perasaan cemas.
Di tempat lain, Ghala, terkurung di dalam kamarnya, semua pintu dan jendela terkunci. Ghala, terus berusaha mendobrak pintunya.
__ADS_1
"Mama, mama buka pintunya," teriak Ghala, namun tak, di dengar oleh ibunya.
Ibunya sengaja melakukan itu karena, tidak ingin pernikahan ini terjadi. Bahkan, sudah berencana untuk kembali ke amerika saat ini juga.
Ayah Ghala, tidak bisa berkutik karena di ancam istrinya jika tidak, istrinya mengancam bunuh diri. Benar-benar tidak masuk akal dengan alasannya.
"Mama, mama," Ghala, kembali berteriak. Ghala, terus mencoba membuka pintu kamarnya hingga akhirnya terbuka.
Ghala, berlari menuruni anak tangga menuju pintu utama. " Ghala, mau kemana kamu?" teriak ibunya yang melihat Ghala, pergi.
Ghala, langsung menaiki motornya. Mendengar suara motor ibunya pun langsung keluar mengikuti Ghala.
"Ghala," teriak ibunya saat Ghala, pergi.
"Papa, cepat kita ikuti Ghala," titah ibunya pada suaminya. Mereka berdua pun mengikuti Ghala, pergi.
"Ghala," teriak ibunya yang histeris melihat motor yang Ghala, gunakan masuk ke bawah truk, dalam seketika jalanan pun menjadi padat.
Ghala, yang masih bernafas sudah lemah tak berdaya. Sekujur tubuhnya penuh dengan darah, yang terlihat hanyalah kelopak matanya.
"Ka-Kanza, ma-maaf, kan a-aku." ucap Ghala, sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
****
Di tempat lain Kanza, sudah sangat gelisah, menunggu Ghala, belum juga datang. Shila, mencoba menahan pak penghulu agar tidak pergi namun penghulu itu tetap pergi, karena sudah menunggu terlalu lama.
Vero, begitu marah begitu pun dengan Kenzo, dan Kenzie. Shila, hanya bisa menangisi nasib putrinya. Kanza, melihat kegaduhan di lantai bawah, Kanza, pun sudah berputus asa dan menyerah mungkin Ghala, tidak akan datang pikirnya.
__ADS_1
Vero, ingin sekali menghajar Ghala dan keluarganya, hingga Vero, akan pergi menemui mereka namun sebelum itu Vero, mendapat telepon dari orang kepercayaannya yang memantau Ghala, bahwa Ghala, mengalami kecelakaan dan di nyatakan meninggal.
Tubuh Vero, mendadak lemas Shila, pun bertanya apa yang terjadi Vero, hanya menjawab dengan suara rendah bahwa Ghala, kecelakaan dan meninggal.
Shila, begitu syok, kenapa ini terjadi pada putrinya. Kenzo, dan Kenzie, pun merasakan hal yang sama.
"Apa, Kanza, sudah tahu? Bagaimana dengan Kanza? Bagaimana?" Shila, benar-benar mengkhawatirkan Kanza, dan juga bayi dalam kandungannya.
"Bagaimana pun juga Kanza, harus tahu hal ini, Kanza, pasti bisa terima dan ikhlas dia pasti kuat, pasti kuat." Shila, pun bergegas menuju kamar Kanza. Namun, saat Shila membuka pintu
"Kanza!" teriak Shila, histeris membuat Vero, Kenzie, dan Kenzo, terkejut. Ketiganya langsung berlari ke lantai atas dimana letak kamar Kanza.
Mereka, terbelalak melihat Shila, yang menangis seraya memeluk Kanza. Darah kental yang menetes di pergelangan tangan Kanza, membuat Shila, semakin histeris.
Bahkan, Vero, Kenzie, dan Kenzo pun langsung terduduk lemah, menyaksikan kematian putrinya yang tragis. Entah sejak kapan Kanza, melakukan percobaan bunuh diri dan entah mengapa Kanza, melakukan itu hingga melukai dirinya.
Tangisan pun pecah di antara kedua keluarga. Hari yang di nantikan, wajah sudah di rias dan terlihat cantik, gaun yang indah yang sudah di pakainya ternyata hanya untuk menyaksikan kematiannya.
****
Bertahun-tahun di pertahankan
Jarak antara dua negara pun terabaikan
Kisah cinta mereka tetaplah kuat dan kokoh. Bahkan, tentangan orangtua pun tidak mereka hiraukan, tetapi saat kematian datang tak bisa mereka hindari, tapi ... apakah harus seperti ini akhir cerita cinta mereka yang harus mengakhiri nya dengan kematian.
Cinta sehidup semati.
__ADS_1